1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Aslan Ragu



Aslan menelan ludahnya dengan kasar lalu memajukan wajahnya ingin mencium bibir Irina yang sangat dirindukannya, namun niatnya itu harus diurungkan saat mendengar suara pintu ruang rawat tersebut terbuka dari luar.


Aslan melepaskan pelukannya, seraya menatap ke arah pintu di mana Ibunya berdiri di sana sambil tersenyum kepadanya. Sedangkan Irina menundukkan kepala malu, kemudian menggeser posisinya, menjauhi Aslan.


“Kenapa kalian terlihat canggung? Apakah Mama mengganggu?” tanya Allegra berjalan mendekati dua sejoli itu yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur pasien.


“Sudah tahu tanyeak!” jawab Aslan dengan nada kesal, menatap ibunya sambil cemberut, seperti anak TK yang sedang marah pada ibunya.


Irina menoleh pada Aslan, bibirnya berkedut ketika melihat ekspresi pria tersebut. Tidak menyangka kalau Aslan yang garang dan dingin begitu manja kepada ibunya.


“Ya ampun! Kamu nggak malu sama Irina merajuk begitu sama Mama? Ish .. ish ...” Allegra menggoda putranya yang semakin terlihat jengkel kepadanya.


“Mama apaan sih!” Aslan berdecak dan semakin cemberut.


Allger terkekeh melihat putranya yang mengalami perubahan mood yang signifikan. Kemudian dia menatap Irina yang berdiri di sampingb Aslan.


“Irina, bisa ikut Mama sebentar?” ajak Allegra pada wanita yang sedang mengandung cucunya itu.


“Mama?” gumam Irina, menatap Allegra dengan bingung karena wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu memanggil dirinya sendiri dengan panggilan ‘Mama’ apakah ini artinya dia juga harus memanggil Allegra dengan panggil itu?


“Iya, mulai sekarang kamu harus memanggil aku dengan sebutan Mama, sama seperti Aslan,” jelas Allegra seolah tahu dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Irina.


“Iya, Ma,” jawab Irina sungkan, dan juga bingung, karena Allegra tiba-tiba berkata seperti itu kepadanya.


Bertanda apa ini? Tanya irina di dalam hati.


Sementara itu, Aslan sangat senang mendengar ucapan ibunya, bukankah ini bertanda kalau ibunya telah menerima Irina apa adanya, meski ibunya sudah tahu masa lalu Irina yang begitu kelam.


“Mama ingin mengajak Irina ke mana?” tanya Aslan sangat penasaran.


Allegra langsung menarik lengan Irina keluar dari ruangan tersebut, tanpa memedulikan seruan dan larangan Aslan. Irina terus berjalan mengikuti langkah kaki Allegra menuju suatu ruangan yang tak lain adalah ruangan dokter obgyn.


“Kenapa kita ada di sini?” tanya Irina pada Allegra yang mamaksanya masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Allegra.


“Tapi, Ma ... aku ...” Ucapan Irina terjeda ketika Allegra memotong ucapannya.


“Mama tahu kalau saat ini kamu sedang hamil benih Aslan. Jangan takut karena Mama hanya ingin memastikan saja,” jelas Allegra seraya mengusap lengan Irina dengan lembut.


Mendapatkan penjelasan yang begitu menenangkan perasaannya yang tidak karuan, akhirnya Irina mau di periksa oleh dokter obgyn.


*


*


“Huek!” Aslan kembali mual ketika Irina menjauh darinya. “Ah, sial! Kenapa mual lagi?” geram Aslan seraya mengerutkan wajah ketika tenggorokannya terasa panas dan perih karena keseringan mual dan muntah.


Aslan keluar dari kamar mandi, lalu mendudukkan diri di sofa ruangan tersebut. Memijat pelipis lalu beralih ke pangkal hidung untuk meredakan rasa pusing yang mendera, sambil mengingat perkataan Irina beberapa saat yang lalu.


“Apa benar kalau Irina sedang mengandung?” gumam Aslan di dalam hati. “Apakah benih yang dikandungnya itu adalah milikku?” lanjutnya ragu.


***


Jangan lupa like dan dukungannya ya bestie.