1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Perpisahan



Beberapa menit lagi aka genap 1000 jam. Aslan sudah memikirkan keputusannya dengan matang. Dia membuang nafas kasar sambil menatap Irina yang berdiri di hadapannya. Saat ini mereka berdua berada di dalam kamar.


"Aku kembalikan kepadamu," ucap Irina seraya menyerahkan semua kartu kredit dan kartu debit yang pernah di berikan oleh Aslan. Dia sudah tidak berhak lagi atas dua benda itu. Bahkan dia tidak membawa barang-barang branded yang di belikan oleh Aslan, seperti tas, sepatu, pakaian dan perhiasan. Yang dia bawa adalah pakaiannya sendiri yang dia bawa dari rumahnya.


"Itu sudah menjadi milikmu," ucap Aslan datar seraya mendorong tangan Irina yang menyodorkan dua kartu tersebut.


"Tidak, aku tidak berhak. Terima kasih atas waktunya selama ini." Irina berjalan mendekati Aslan, kini jarak keduanya sangat dekat. Irina tersenyum tipis sambil mendongak menatap Aslan yang juga tengah menatapnya dingin. "Dan terima kasih atas semua bantuan yang sudah kamu berikan kepadaku," lanjut Irina dengan lirih, kemudian menundukkan pandangan saat kedua matanya berkaca-kaca. Hatinya sangat berat meninggalkan Aslan.


"Kenapa kamu berkata seolah tidak akan kembali lagi kepadaku?" tanya Aslan dingin, menaikan dagu Irina dengan jari telunjuknya, agar wanita itu menatapnya.


"Karena aku tidak yakin kalau takdir akan mempertemukan kita kembali," jawab Irina dengan bibir yang bergetar, menahan tangis dan sesak di dalam dada.


Aslan memalingkan pandangannya sesaat, kedua mata pria itu terlihat memerah bertanda kalau sedang menahan emosi, dan sedih yang bercampur menjadi satu di dalam dadanya.


Aslan menarik Irina ke dalam pelukannya. Dia memeluk wanitanya dengan sangat erat, seolah tidak rela melepaskan wanita tersebut.


Irina menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang selama ini selalu memberikan kenyamanan. Dia menumpahkan tangisnya di sana.


Aslan membuang nafas berulang kali seraya mengusap punggung Irina yang bergetar, seolah menenengkan wanita tersebut yang sedang menangis di pelukannya.


Mereka berpelukan dengan erat dengan durasi waktu yang cukup lama. Setelah puas, keduanya seling mengurai pelukan, dan saling menatap dalam, tak berselang lama wajah mereka semakin mendekat dan entah siapa yang memulai bibir mereka saling menyatu. Mereka berciuman dengan lembut dan hangat, mereka menyalurkan segala rasa yang ada di dalam dada, tanpa ada rasa gairah sama sekali.


Air mata Irina menetes di pipi, saat Aslan mulai memperdalam ciuman mereka, saat percikan api gairah mulai menguasai tubuh Aslan.


Aslan tidak akan melepaskan Irina begitu saja. "Tinggal bersamaku 1 jam lagi," bisik Aslan dengan suara berat dan dalam, terdengar begitu sexy di indra pendengaran Irina. Tanpa menunggu jawaban wanitanya, Aslan langsung menggendong tubuh Irina ala bridal style menuju ranjang.


Pagi itu akan menjadi pagi yang panas dan tidak akan pernah di lupakan oleh keduanya. Suhu di dalam kamar tersebut semakin panas, padahal AC menyala dengan suhu yang rendah, tapi sayangnya tidak mampu meredam hawa panas yang sedang menerpa kedua manusia berbeda gender yang sedang bergelut di atas ranjang.


"Ah ah." Suara dessahan Irina terus terdengar saat Aslan bergerak dominan di atas tubuhnya, menghujam bagian intinya dengan cacing besar dan perkasa milik pria itu.


Irina sadar kalau semua yang sudah di lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Tapi, sebuah rasa yang bergejolak di dalam dadanya telah mengalahkan segalanya termasuk akal sehatnya.


Aslan memejamkan mata sambil mencium bibir Irina dengan penuh gairah saat rintik-rintik kenikmatan telah memenjarakan tubuhnya. Dia melepaskan bibir Irina lalu beralih mencium dua gunung kembar itu dengan rakus, tidak lupa menyesap pucuk gunung tersebut secara bergantian, tanpa menghentikan hujamannya di bawah sana.


Keduanya menikmati percintaan panas itu yang nyatanya tidak cukup dengan waktu 1 jam.


Permainan panas tetap berlanjut sampai gelombang kenikmatan menerjang tubuh keduanya, hingga membuat keduanya menjadi lemas tidak berdaya saat mencapai pelepasan bersama-sama. Seperti biasa, Aslan menumpahkan semua benihnya ke dalam rahim Irina.


Irina mengatur nafasnya yang masih kembang kempis, dadanya naik turun tidak beraturan, kemudian dia meminta Aslan segera turun dari atas tubuhnya, akan tetapi pria itu menolak.


"Biarkan seperti ini dulu," ucap Aslan, lalu mengecup bibir Irina dengan lembut.


****


Sedih iya, kesel iya, panas juga iya, hikss 😭😭


Jangan lupa like dan dukungannya bestie.😚