
Allegra dan Irina keluar dari ruangan dokter Obgyn setelah selesai melakukan pemeriksaan. Allegra bertepuk tangan kecil ketika melihat hasil USG yang di tangannya. Dia menatap Irina lalu mengelus pucuk kepala Irina dengan lembut. “Jadi benar ‘kan kalau janin ini milik Aslan? Maaf, bukannya ragu, tapi Mama hanya ingin memastikan, terlebih lagi saat itu kamu sudah memilik suami,” ucap Allegra pada Irina dengan serius.
Irina sangat terkejut ketika mendengar ucapan Allegra, dan akhirnya meminta penjelasan pada wanita paruh baya itu untuk mengurai rasa penasarannya.
“Mama tahu latar belakangku?” tanya Irina.
“Hem ... Aslan sudah mengatakan semuanya. Aku dan suamiku tidak masalah dengan latar belakangmu, karena aku yakin kalau kamu adalah wanita yang baik, dan berhati mulai, juga sudah berhasil menyembuhkan Aslan dari difungsi ereksinya, aku sangat senang sekali, karena Aslan sudah kembali menjadi pria normal. Terima kasih Irina,” ucap Allgra seraya menggandeng tangan Irina, berjalan menuju kamar rawat Aslan.
Irina tersenyum dan mengangguk, kemudian berkata, “janin ini murni benih Aslan, Ma,” jelas Irina menahan rasa malu, karena dia harus menjelaskan kronologi saat dirinya dan Aslan pertama kali melakukan hubungan ‘itu, sekaligus menjelaskan kalau dia tidak pernah berhubungan dengan Yoga—mantan suaminya selama beberapa bulan hingga akhirnya mereka bercerai.
“Tidak perlu menjelaskan se-detail itu karena Aslan saat ini sedang mengalami sindrom Couvade atau kehamilan simpatik,” jelas Allegra sambil tertawa pelan.
“Maksudnya bagaimana, Ma?” tanya Irina, tidak paham.
“Sindrom Couvade, atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Misalnya mengalami mual, muntah hingga mengidam, itulah yang di rasakan Aslan saat ini.” Allegra menjelaskannya dengan sabar pada Irina.
Irina menganggukkan kepala, bertanda kalau dia paham dan mengerti dengan penjelasan tentang sindrom couvade.
*
*
Sampai di dalam kamar rawat Aslan, kedua wanita berbeda usianya terkejut saat melihat Aslan tergolek lemah di atas sofa.
“Aslan, kamu mual lagi?” Allegra bergegas menghampiri putranya yang tak berdaya. Bagitu pula dengan Irina melakukan hal yang sama, cemas dengan keadaan Aslan.
“Ma, pusing,” rengek Aslan yang tak mampu mengangkat kepala.
“Ya ampun, kamu ini manja sekali!” omel Allgra pada putranya yang seperti anak kecil.
Kedua mata Aslan yang terpejam mulai terbuka sedikit demi sedikit, tatapannya terpaku pada wajah cantik Irina. “Bisa mendekat? Aku ingin memelukmu,” pinta Aslan dengan manja, entah kenapa dia sangat ingin menghirup aroma Irina.
Allegra melihat pemandangan itu pun tersenyum senang, dia meletakkan foto USG di atas meja lalu memundurkan langkahnya, keluar dari sana karena dia tidak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua.
Aslan membalas pelukan Irina tak kalah erat, seraya menghirup aroma tubuh Irina yang mampu menengkan dan meredakan rasa mualnya.
“Sudah baikan?” tanya Irina, namun Aslan menjawab dengan gelengan kepala.
“Irina, apakah benar kamu sedang hamil?” tanya Aslan tanpa melepaskan pelukan tersebut.
“Iya,” jawab Irina singkat, seraya merasakan suara detak jantung Aslan yang berdebar dengan cepat, terdengar sangat indah ditelinganya.
“Apakah benih itu milikku?” tanya Aslan membuat Irina lansung melepaskan pelukan tersebut, menjauhi Aslan, dan menatap pria tersebut dengan tajam.
“Kamu ragu? Bukankah dulu kamu dengan sengaja menabur benih di rahimku?!” geram Irina, wajahnya terlihat memerah bertanda kalau dia sangat marah.
“Irina, bukan seperti itu, hanya saja kamu ‘kan pernah bertemu dengan Yoga, jadi aku ...” ucapannya terhenti ketika Irina memotong perkataannya.
“Selama Yoga sakit berbulan-bulan, aku tidak pernah tidur dengannya!” jawab Irina beranjak berdiri, berniat pergi dari sana akan tetapi tangannya segera di tarik olah Aslam hingga membuatnya terhuyung dan akhirnya terjatuh di atas pangkuan Aslan.
“Sayang, jangan marah dan jangan pergi lagi. Maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu,” bisik Aslan seraya mendekap tubuh Irina dengan erat.
“Ish, lepaskan aku! Aku malas sama kamu!” tolak Irina seraya meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Aslan.
***
Irina ngambek 'kan, semoga aja kabur lagi biar kalang kabut si Aslan. 🤣
Dukunganya bestie jangan lupa yess ...