1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Merasa gamang



Hari ini Irina sangat bahagia, karena dia akan bertemu dengan suaminya lagi. Dia melangkah penuh ceria di lorong rumah sakit menuju kamar suaminya. Kedua tangannya membawa goodie bag besar yang berisi makan siang dan buah-buahan. Sampai di depan kamar rawat suaminya, ia mengetuk pintu beberapa kali saat mendengar sahutan dari dalam ia segera masuk, tidak lupa bibirnya full senyum saat memasuki ruangan tersebut.


"Mas!" sapa Irina dengan penuh antusias dan bahagia, dia berjalan mendekati suaminya yang seorang diri di dalam kamar tersebut. Ibu mertuanya tidak ada di sana, mungkin  ada keperluan sebentar di luar.


Yoga menatap dingin pada istrinya, tidak ada rona bahagia di wajahnya.


Senyuman Irina yang lebar perlahan-lahan langsung mengendur, raut wajahnya bingung dan sedih, dia bertanya-tanya di dalam hati kenapa suaminya sedingin itu kepadanya. Perasaan Irina mulai tidak enak, dia meletakkan dua goddie bag dia atas meja yang letaknya di samping ranjang pasien. Dia berusaha bersikap biasa saja, dan tersenyum, untuk menutupi kesedihannya.


"Mas, apa kabar?" Irina menatap suaminya, tangannya terulur ingin mencium punggung tangan suaminya namun di tepis oleh Yoga. Sikap Yoga itu membuat Irina sangat terkejut dan sedih.


"Mas, kenapa?" Irina bertanya dengan suara yang bergetar, menahan kesedihan.


Yoga memejamkan kedua matanya dengan erat. Bayangan mimpi yang terasa nyata itu menggelayuti pikirannya, hingga membuatnya dikuasai emosi.


"Kamu masih ingat sama suamimu?" tanya Yoga dingin, tanpa menetap istrinya, tatapan tajamnya menatap lurus ke depan.


"Tentu aku selalu mengingatmu, Mas. Mohon maaf kalau aku hanya bisa menjengukmu 1 minggu sekali," jawab Irina dengan nada pelan dan dibalut dengan sebuah rasa bersalah yang begitu besar, karena harus berbohong kepada suaminya.


"Apakah betul ucapanmu itu? Bukan karena kamu menjadi simpanan pria kaya?!" Yoga menoleh, menatap tajam istrinya yang berdiri di samping tempat tidurnya.


DEG!


Jantung Irina seperti ditikam dengan ribuan belati tajam. Begitu mencelos dan sangat sakit. Wajahnya pun berubah pias lantaran sangat terkejut dengan pertanyaan suaminya.


"Ma-Mas, kamu ngomong apa sih?" Irina terbata, tersenyum pahit guna menutupi sebuah kebohongan besar  dan sudah setinggi gunung himalaya. Dalam hati Irina menangis dan menjerit, karena rasa bersalahnya kepada suaminya.


Yoga menggeleng pelan, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan, tak berselang lama terdengar isakan tangis yang lirih dan menyayat hati.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku, karena aku sudah mengkhianati pernikahan kita," ucap Irina namun hanya mampu ia ucapan di dalam hati. Lidahnya terasa kelu, dan nafasnya tercekat di tenggorokan. Air matanya terus menetes di pipi mulusnya. Dia tidak sanggup dan tidak kuasa melihat suaminya yang seperti ini.


Tangisnya mereda saat ibu mertuanya memasuki ruangan tersebut.


"Kalian kenapa? Dan kapan kamu datang, Rin?" Bu Wiwin berjalan mendekati anak dan menantunya.


Irina mengurai pelukannya, lalu mengusap air matanya yang membasahi pipi. Dia tersenyum getir lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan sopan.


"Baru datang, Bu. Ibu dari mana?" tanya Irina menatap ibu mertuanya yang membawa kantong kresek.


"Ibu beli buah. Yoga ingin apel katanya," jawab Bu Nining, menatap putranya yang masih terisak.


"Kenapa dengan Yoga, Rin? Apa dia berkata yang tidak-tidak sama kamu?" tanya Bu Nining menatap lekat putranya yang kembali merebahkan diri, karena sebelumnya posisinya duduk di atas tempat tidur.


"Nggak kok, Bu," jawab Irina di barengi dengan gelengan kepala.


"Jangan bohong, soalnya beberapa hari ini dia sering mimpi buruk tentang kamu yang sedang berselingkuh dengan pria lain. Jadi, mimpinya itu terbawa ke alam nyata. Jangan dengarkan ucapan Yoga. Ibu juga yakin kalau kamu tidak mungkin melakukan hal yang hina seperti itu," jelas Bu Nining panjang lebar.


Ya Tuhan, hati Irina menjerit ketika mendengar penjelasan ibu mertuanya.


Bagaimana jika nanti mereka tahu yang sesungguhnya? Mereka pasti kecewa dan sakit hati kepadaku. Haruskah aku mundur dan melepaskan diri dari jeratan Aslan. Tapi, jika aku mundur bagaimana dengan pengobatan Mas Yoga? Hati Irina saat ini sedang nelangsa, dan mempertimbangkan banyak hal besar menyangkut kesehatan suaminya.


Hati Irina merasa gamang, dan wajahnya tampak cemas, dia bingung harus memilih yang mana.