
Dua hari telah berlalu. Dimas bernafas lega dan sangat bersyukur karena Meyda telah berhasil melewati masa kritis setelah di tempatkan di ruang ICU selama dua hari. Wanita itu telah di pindahkan ke ruang rawat VIP sesuai dengan keinginan Dimas.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Dok," ucap Dimas menjabat tangan dokter pria dan perawat yang baru selesai memeriksa kondisi Meyda.
"Sudah menjadi tugas kami memberikan yang terbaik untuk pasien. Selain itu, ini semua juga karena Anda sudah membawa pasien tepat waktu, telat sedikit mungkin nyawa pasien tidak akan tertolong," jelas dokter seraya tersenyum lalu izin pamit karena harus memeriksa pasien lain.
Dimas mengantarkan dokter dan perawat itu sampai di luar ruangan tersebut, kemudian dia kembali masuk dan mendudukkan diri di kursi yang di sediakan di samping tempat tidur pasien.
"Aku sangat bersyukur karena kamu selamat, Mey," ucap Dimas pada Meyda yang sudah sadar tapi kondisinya masih lemas.
"Tuhan masih sayang sama aku, Dim. Aku akan memenuhi janjiku, jika aku diberi kesempatan kedua, maka aku akan meninggalkan dunia malam." Meyda menyahut dengan nada pelan, air matanya mengalir deras, karena dia terharu dan sangat bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan doanya. Dia akan tobat, dan tidak akan menginjakkan kakinya lagi di dunia malam yang sudah lama dia geluti. Bahkan dia sudah berbicara dengan sopan, tidak lagi menggunakan bahasa 'lo-gue'.
"Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya, dan aku juga akan mendukung keputusanmu." Dimas tersenyum seraya mengusap air mata Meyda dengan lembut.
"Maafkan aku. Andai aku tidak melibatkanmu ke dalam masalah ini, kamu tidak akan mengalami kejadian naas yang hampir merenggut nyawamu," ucap Dimas penuh sesal dan sangat sedih, dia semakin erat menggenggam tangan Meyda yang tidak terpasang infus.
"Mungkin kejadian ini juga merupakan terguran untukku agar bertobat dari semua dosa yang sudah aku perbuat selama ini. Dari kejadian ini ada hikmah yang dapat aku petik," ucap Meyda seraya membalas genggaman tangan Dimas tak kalah erat.
"Irina bagaimana?" tanya Meyda menatap Dimas dengan lekat.
Dimas terdiam beberapa saat, setelah itu barulah dia buka suara.
"Irina menghilang, bahkan Aslan tidak dapat melacak keberadaannya," jawab Dimas.
"Bagaimana bisa?" Meyda sangat syok mendengarnya.
Kemudian Dimas menjelaskan kalau semua ini berawal dari Yoga mengusir Irina, setelah itu Irina pergi dan tidak tahu ke mana. Karena nomor ponsel Irina sudah tidak aktif, maka Aslan kesulitan untuk melacak keberadaan wanita tersebut.
"Lalu bagaimana dengan Yoga?" tanya Meyda lagi.
"Yoga berada di rumah sakit keadaannya kembali memburuk, yang terakhir aku dengar dia harus menjalani operasi, tapi karena tidak ada biaya, maka operasinya di tunda." Dimas kembali menjelaskan pada Meyda.
"Biar tahu rasa itu si Yoga!!!" geram Meyda, rasanya puas mendengar Yoga menderita kembali.
"Semoga Irina segera di temukan, amin." Meyda berdoa dengan sangat tulus untuk Irina.
"Amin," sahut Dimas.
Di sisi lain. Aslan saat ini berada di rumah orang tuanya. Dia meminta bantuan orang tuanya untuk menemukan keberadaan Irina.
"Ma, Pa, aku mohon bantu aku untuk menemukan Irina," pinta Aslan pada orang tuanya.
"Aslan, sebelum kami menjawab, katakan jujur kepada kami, apakah benar kalau Irina adalah wanita malam yang kamu sewa?" tanya Allegra pada putranya. Wanita yang usianya sudah tidak muda lagi itu menatap Aslan dengan lekat, dan menuntut sebuah penjelasan.
"Mama dapat informasi ini dari mana?" Aslan mengeraskan rahangnya, emosi mulai naik ke ubun-ubun saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari orang tuanya sendiri.
"Dari Sofia," sahut Gerry.
"Kalian percaya?" tanya Aslan dengan nada dingin.
"Aslan, tentu saja kami tidak percaya dengan bualan mantan istrimu itu!" jawab Allegra dengan nada sedikit jengkel.
Aslan bernafas lega mendengarnya, tapi selanjutnya dia menceritakan semua tentang Irina pada orang tuanya. Dia tidak ingin menutupi kebohongan yang selama ini disembunyikan.