1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Mangga muda



Sedangkan Aslan sendiri saat ini sedang duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel dan menikmati mangga muda yang di suapkan ibunya. Allegra beberapa menit yang lalu datang ke rumah sakit sambil membawa satu kotak potongan mangga muda di lengkapi sedikit garam halus. Dia membawa mangga itu atas saran dari Gerry—suaminya.


“Enak?” tanya Allegra menatap putranya yang terlihat lahap dan tidak merasa masam sama sekali.


“Enak banget, pakai garam, Ma.” Pinta Aslan sambil membuka mulutnya dengan lebar.


Allegra segera mengambil potongan mangga lalu di cocolkan ke garam halus, kemudian menyuapkan ke mulut putra kesayangannya.


KRAUK ... KRAUK ...


Aslan mengunyah mangga muda tersebut dengan penuh semangat, badannya terasa lebih segar dan enteng, rasa mualnya kini sedikit mereda setelah makan mangga muda tersebut.


“Ish! Makannya pelan-pelan! Kamu yang makan mangga muda tapi Mama yang ngiler!” omel Allgra sambil bergidik dan wajahnya mengerut seolah turut merasakan mangga muda tersebut.


“He he he, habisnya enak, Ma,” jawab Aslan sambil tertawa pelan.


“Jangan hanya makan mangga muda ya, Mama tadi masak makanan kesukaan kamu,” ucap Allegra pada Aslan yang fokus bermain game di ponselnya.


“Nggak mau, Ma. Aku tidak menginginkan apa pun selain mangga,” jawab Aslan menatap sebal pada ibunya.


“Nanti kamu sakit perut.” Allegra berusaha membujuk putranya agar mau makan nasi.


“Nggak!! Sudah ... aku nggak mau makan mangga lagi!” kesal Aslan, merajuk seperti anak kecil, kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan diri di tempat tidur dengan posisi telentang, lalu menarik selimut untuk menutupi badannya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, tidak lupa kedua tangannya bersedekap di dada.


“Aslan, bangun! Jangan membuat Mama cemas!” Allegra menggoyangkan badan putranya berulang kali, dan berusaha menarik selimut yang di kenakan oleh Asla, akan tetapi tidak berhasil karena Aslan mempertahanlan selimut tersebut.


“Ya ampun, kenapa kamu kayak anak kecil sih?!” Allegra berkata sambil terus menggoyangkan badan Aslan.


“Aslan, bangun!” seru Allegra karena sudah tidak sabar lagi, bertepatan dengan masuknya Dimas dan Irina ke dalam ruang rawat tersebut.


“Aslan ...” ucapan Allgra terhenti ketika melihat Irina berada di sana, menangis sesegukan sambil menatap Aslan yang terbaring di atas tempat tidur.


“Na, akhirnya kamu kembali.” Allegra berkata pelan sambil menedekati Irina lalu memeluk wanita tersebut.


“Tante,” gumam Irina membalas pelukan Allegra, menumpahkan tangisnya, karena dia pikir kalau Aslan telah meninggoy.


“Terima kasih sudah kembali, Na. Terima kasih banyak.” Allegra sangat senang, kemudian mengurai pelukan tersebut, memandang wajah Irina yang sembab, lalu mengusap air mata Irina yang membanjiri pipi. “Jangan menangis, sekarang kamu bujuk Aslan agar dia mau bangun,” ucap Allegra membuat Irina sangat terkejut dan panik, karena dia juga berpikir kalau Aslan meninggoy, di tambah lagi  mendengar dari Dimas kalau Aslan meninum racun. Otaknya sudah tidak bisa berpikir positif.


Allegra menarik tangan Dimas, mengajak pemuda itu keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Irina dan Aslan berduaan di dalam sana.


“Aunty, kenapa kita keluar, Aslan bagaimana?” tanya Dimas sedih, menyesal karena sudah berkata yang tidak-tidak tentang Aslan pada Irina.


“Bagaimana apanya? Anak itu sedang marajuk karena tidak mau di paksa makan nasi,” jawab Allegra kesal.


“Hah?! Jadi Aslan tidak meninggoy?”


PLAK!


Satu pukulan keras mendarat di kepala Dimas, dan pelakunya adalah Allegra.


“Kamu menyumpahkan putraku meninggal!? Dasar sinting!” umpat Allegra menatap tajam Dimas.


“Eh ... bukan seperti itu Aunty, tapi ...” Dimas meringis sakit sambil mengusap kepalanya yang terasa nyeri akibat di pukul oleh Allegra.


“Hais! Dasar kurang ajar!” potong Allegra mengumpati Dimas, menumpahkan kekesalannya.