
Pagi hari di sebuah pedesaan yang berada di Jawa Tengah, kabut putih menyelimuti pagi itu, udara terasa sangat sejuk hingga menusuk tulang, tapi tidak membuat para warga desa bermalas-malasan untuk memulai aktivitas mereka. Sama halnya dengan Irina yang sudah siap berangkat ke terminal.
“Ibu sudah menyiapkan bekal untukmu makan di jalan,” ucap Ibu panti seraya menyerahkan kantong plastik hitam pada Irina.
“Makasih, Bu.” Irina tersenyum sambil mengintip isi platik tersebut. Ada dua bungkus sayur matang yang di bungkus dengan plastik bening dan satu kotak bekal yang bersisi nasi. Irina kembali mendongak, menatap Ibu panti dengan lembut. “Aku berangkat ya, Bu.” Irina memeluk ibu panti sangat erat.
“Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan dan pulang ke sini dengan selamat, amin.” Selanjutnya, Ibu panti memberikan beberapa nasehat pada Irina sambil membalas pelukan wanita hamil itu.
“Amin.” Irina menimpali, lalu mengurai pelukan tersebut. Irina memasukkan kantong plastik yang berisi bekalnya ke dalam tas selempangnya. Kemudian memundurkan langkahnya, seraya melambaikan tangannya pada Ibu panti dan anak-anak yang mengantarkannya di halaman rumah. Irina tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju jalan besar untuk mencari tukang ojek yang mau mengantarkannya ke terminal.
*
*
Masih di belahan bumi yang sama, hanya saja berbeda Kota. Aslan di bawa ke rumah sakit tadi malam karena mengalami dehidrasi sebab tidak ada makanan atau air yang masuk ke dalam perutnya, di tambah lagi dia mual parah, membuat kondisinya semakin buruk.
Allegra dan Gerry sangat cemas dan khawatir melihat Aslan terbaring di rumah sakit dengan kedua tangan yang di pasang infus.
“Kondisi Aslan membuatku mengingat masa lalu saat kamu hamil ketiga anak kita,” ucap Gerry pada istrinya.
“Maksud kamu?” tanya Allegra tidak paham dengan ucapan suaminya, lebih tepatnya dia lupa.
“Tunggu sebentar! Apakah Aslan juga mengalami hal yang sama seperti dirimu waktu itu?” tanya Allegra menatap suaminya dengan serius ketika mereka sudah berada di ruang ruangan. Pasalnya, dokter sudah mengecek kesehatan Aslan, tapi dokter mengatakan tidak ada penyakit apa pun di badan Aslan.
“Bisa jadi, tapi Aslan ‘kan difungsi ereksi,” ucap Gerry dengan segala keheranannya.
“Putramu sudah sembuh!” sahut Allegra.
“Benarkah?” Gerry bertanya serius. Allegra menjawab dengan anggukan kepala beberapa kali.
“Yang menyembuhkan adalah Irina. Apakah kamu lupa kalau Aslan pernah menjelaskan semua ini kepada kita?!” sungut Allegra, menatap sebal pada suaminya yang sudah mulai pikun.
“Irina?!” Otak Gerry langsung loading cepat ketika mendengar nama wanita tersebut. “Alle, jangan-jangan wanita yang telah di hamili Aslan adalah Irina?” tanya Gerry pada istrinya.
“Bisa jadi, tapi masalahnya di mana Irina sekarang? Kita sudah berusaha mencarinya tapi tidak menemukan jejaknya,” jawab Allegra dengan lesu. Jika benar kalau Irina tengah hamil benih Aslan, maka dia akan langsung menikahkan mereka berdua.
“Semoga Tuhan menunjukkan kekuasaannya,” ucap Gerry seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Allegra mengaminkan doa suaminya, kemudian ia kembali masuk ke dalam ruang rawat tersebut saat mendengar Aslan memanggilnya.