1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Rasa Rindu Yang Besar




Visual Aslan dan Irina❤🥰


Aslan menatap foto Irina yang tersimpan di galeri ponselnya. Sebuah rasa rindu yang begitu besar kembali muncul ke permukaan saat melihat wajah cantik Irina yang hias dengan senyuman lebar yang begitu manis dan penuh ketulusan. Sebenarnya dia bisa saja menemui Irina dan memaksa wanita tersebut kembali kepelukannya, akan tetapi dia tidak ingin egois. Dia menghargai keputusan Irina yang ingin berpisah sementara darinya. Dan dia yakin kalau suatu saat Irina akan kembali kepelukannya.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu dari luar ruangannya, menyadarkan Aslan dari lamunannya, dia segera mematikan ponselnya dan lalu meletakkannya di atas meja.


"Masuk!" jawab Aslan sedikit berseru. Tidak berselang lama, Dimas masuk ke ruangannya dengan wajah super masam.


"Sudah jam 10 malam. Apakah kamu ingin menyiksaku!" Dimas meletakkan berkas yang dia bawa ke atas meja dengan kasar.


"Kamu marah kepadaku?!" Aslan menegakkan duduknya, seraya melipat kedua tangannya di depan ada, menatap Dimas dengan tajam dan penuh ancaman.


GLEK!


Dimas menelan ludahnya dengan kasar saat melihat raut wajah bossnya seperti badak yang siap menyeruduk lawannya. Dia memundurkan langkahnya, sambil tersenyum kaku pada Aslan.


"Emh ... bukan seperti itu maksudku. Kamu salah paham menangkap ucapan yang aku sampaikan kepadamu. Maksudku, ini sudah malam, apakah kamu tidak lelah? Sedangkan besok kamu harus kembali bekerja dengan segala schedule yang sangat padat," jelas Dimas, sekaligus meralat ucapannya agar bossnya itu tidak jadi mengamuk.


Aslan berdecap lalu menghela nafas panjang, sebenarnya dia sangat ... sangat lelah, baik secara fisik atau pun batin. Tidak pernah dia merasakan selelah dan segalau ini sebelumnya. Bahkan saat mantan istrinya ketahuan berselingkuh, dia sama sekali tidak merasa seburuk ini. Tapi, saat bersama Irina? Baru berpisah selama 1 minggu sudah  membuatnya galau tujuh turunan dan tanjakan.


"Ayo pulang!" Aslan beranjak dari duduknya, seraya mematikan menutup laptopnya, lalu menyambar jasnya yang tersampir di sandaran kursi kebesarannya.


"Serius? Kamu tidak marah 'kan? Tidak akan menghukumku 'kan?" Dimas cemas saat melihat perubahan sikap Aslan.


"Ha ha ha, tentu saja tidak. Ayo ... pulang!" Dimas tertawa hambar sambil menepuk tangannya sekali di depan dada, lalu segera berjalan mendahului, membukakan pintu untuk Aslan.


"Dimas! Perintahkan Meyda untuk menemuiku besok pagi di rumah!" titah Aslan saat berada di ambang pintu sambil melirik Dimas dengan dingin.


"Tunggu dulu! Untuk apa kamu menyuruh Meyda menemuimu? Kamu ingin berkhianat?!" tuduh Dimas berpikiran macam-macam pada Aslan.


"Ada hal penting yang harus aku bicarakan kepadanya! Sepertinya kamu terlalu banyak nonton BF makanya otakmu kotor! Bersihkan dulu sana!" titah Aslan dingin, sekaligus mengolok asistennya itu, kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari ruangannya.


Dimas mengumpat berulang kali, jengkel dengan ujung kalimat yang di ucapkan Aslan.  "Jika dia bukan bossku, mungkin aku sudah menyantetnya! Arghh!!" Dimas mengepalkan kedua tanganya, gemas dengan sikap Aslan yang semakin hari semakin menjengkelkan.


"Kalau ingin mengumpatiku langsung saja di hadapanku sialan!" umpat Aslan sambil menoleh ke belakang, menatap tajam pada Dimas yang sangat terkejut lalu segera berlari ke arahnya.


"Ha ha ha, mana berani aku mengumpati boss sekaligus teman terbaikku!" Dimas tertawa sambil meninju salah satu lengan Aslan dari samping.


'Ternyata orang yang sedang patah hati mempunyai indra pendengaran yang sangat tajam, setajam silet!' gumam Dimas heran dengan sikap Aslan yang menjadi sangatpeka, padahal dia mengumpati bossnya itu dengan suara pelan.


"Cih! mulutmu manis sekali!" ketus Aslan, lalu memasuki lift dan diikuti oleh Dimas.


"Jika mulutku tidak manis, mana mungkin kamu bisa mendapatkan banyak klien. Berterima kasihlah pada mulutku yang manis ini sobat!" Dimas menepuk dadanya penuh bangga.


"Astaga! Kelamaan bergaul dengan Meyda kenapa kamu menjadi narsis seperti ini?!" cibir Aslan sambil geleng-geleng kepala. "Sepertinya kalian ini jodoh ya!" Lanjut Aslan, kali ini dia menggoda Dimas yang tampak kesal kepadanya.


***


Jangan lupa dukungannya ya❤❤