
Pukul satu siang, Salina dan Abrisam sampai di sebuah kafe yang telah menjadi tempat janjian pertemuan Salina dan Bagas.
“Oh Tuhan…” Ucap Salina pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh Abrisam.
“Atur ekspresimu. Pegang tanganku.” Bisik Abrisam.
Meski muak, tapi Salina menurut. Ia memasang ekspresi manja dengan bergelendotan dan menggenggam tangan Abrisam seraya mereka berjalan mendekat pada meja yang telah ditempati seseorang.
“Kau sudah datang.” Kata Salina memberitahukan keberadaannya dengan suaminya pada Bagas.
Ekspresi Bagas tepat seperti yang dikhawatirkan Salina. Pria itu melihat Salina dan Abrisam dengan tatapan keterkejutan, menolak untuk percaya, kecewa juga kesedihan yang terdalam.
“Sal… apa dia… dia…”
“Ya, dia suamiku.”
Abrisam dapat merasakan Salina menggenggam tangannya lebih kuat, ia menyadari Salina begitu kuat menahan diri. Ekspresi wajah gadis itu bertolak belakang dengan kekuatan genggaman tangannya.
“Sudah kukatakan aku sudah menikah, Gas.”
“Tapi… apa salahku, Sal?! Kenapa kau tega melakukan ini padaku?”
“Kau… kau tidak salah apa-apa, sejak awal aku yang salah. Aku hanya memanfaatkanmu saja. Kupikir kehadiranmu dapat menghilangkan perasaan cintaku padanya, tapi ternyata aku salah. Dan kemarin, takdir kembali mempertemukan kami. Jadi, kami tidak akan membuang waktu lagi. Maaf. Tapi ini lah kenyataannya. Kau tidak pernah ada di dalam… hatiku.”
“Apa?” Suara Bagas begitu berat dengan kekecewaan. Amarah pun terpancar jelas dari kedua sorot matanya menatap Salina juga Abrisam. “Kau mempermainkanku selama ini? Apa tidak ada sedikit pun hatimu yang kau berikan padaku selama ini?”
“Aku berusaha, tapi maaf, rupanya aku tidak pernah bisa memberikan hatiku padamu.”
“Lalu semua janji-janji kita, semua perkataanmu, cintamu, apa itu semua hanya kebohongan?”
Tidak! Semua itu nyata, Gas. NYATA!
“Ya, semua hanya kebohongan, lebih untuk membohongi perasaanku sendiri. Tapi ternyata usahaku untuk menghilangkan jejak rasa cinta pada Abi selalu gagal. Kau tidak pernah bisa menggantikannya di hatiku.” Salina mengalihkan pandangannya dari Bagas untuk melihat Abrisam dengan gelagat mesra yang diperlihatkan pada Bagas. Tapi Abrisam dapat melihat sorot mata itu tak sanggup lagi untuk menyakiti Bagas lebih jauh.
“Sal aku-”
“Cukup!” Abrisam akhirnya bersuara. Ia menatap Bagas tajam dan dingin. “Aku rasa istriku tidak perlu menjelaskan apapun lagi padamu. Hubungan kalian tidak nyata, dan telah berakhir. Jadi, kuingatkan kau untuk tidak lagi menganggu istriku dan rumah tanggaku.”
“Kau tidak akan pernah bisa merebutnya dariku!”
“Apa kau tidak mendengarkan perkataan Sal? Ia tidak pernah mencintaimu, karena cintanya selalu ia simpan untukku. Jadi, aku tidak merebut siapa-siapa.”
Bagas mengeraskan rahangnya, matanya menatap nyalang pada Abrisam, kedua tangannya mengepal, ia bangkit berdiri, mensejajarkan pandangangan matanya pada Abrisam yang menantap balik tatapan penuh amarah itu dengan tatapan tajam.
“Aku tidak akan menyerah!” Bagas keras kepala.
“Kau sebaiknya menyerah. Atau kau akan menyesal jika kau terus mengganggu istriku.”
“Memangnya kau akan apa, hah?!”
“You have no idea what can I do for you.” Ucap Abrisam dengan setiap kata yang penuh dengan penekanan. Salina sampai merinding sendiri mendengarnya. Ia melihat bagaimana kedua mata tajam Abrisam menatap dingin dan menusuk pada Bagas.
“Gas,” Akhirnya Salina kembali bersuara. “Kumohon, terima kenyataannya. Aku tidak pernah mencintaimu. Dan sekarang aku sudah bersatu dengan seseorang yang selama ini aku cintai dan aku rindukan. Jadi kumohon berhenti mencariku dan jangan lagi menghubungiku. Biarkan aku menjalani kebahagiaanku.”
“Lalu bagaimana denganku? Apa kau membuangku begitu saja?”
“Aku tidak membuangmu begitu saja, aku mengakhiri hubungan ini, aku meminta kau untuk meninggalkan aku dan pergi lah cari kebahagiaanmu sendiri. Aku harap kau dapat bersama dengan seseorang yang dapat mencintaimu sepenuh hatinya.”
“Kau jahat sekali, Sal. Aku sama sekali tidak menyangka kau sejahat ini. Apa Bunda dan Iris tahu apa yang kau lakukan padaku?”
“Ya. Bunda mengusirku, dan Iris tidak menghubungiku sampai hari ini.”
“Dan kau tetap menikahi pria ini?”
“Ya. Karena dia pria yang aku cintai.”
Bagas menggeleng tak percaya. Tatapan sendu Bagas untuk Salina perlahan memudar, berubah menjadi tatapan jijik, benci dan kecewa yang teramat sangat.
“Kuharap kau tidak akan menemukan ketenangan dan kebahagian yang kau cari, Sal.” Ujar Bagas penuh kekecewaan.
“Jaga bicaramu!” Abrisam memperingatkan.
“Aku dapat bicara apa pun yang aku mau seperti dia yang dapat melakukan apa pun yang dia mau.” Sahut Bagas dengan nada menantang. “Dasar kau wanita menjijikan!” Tudingnya pada Salina.
“Kubilang jaga bicaramu atau aku akan mencabut lidahmu!”
“Lebih baik kita pergi, Abi. Karena kurasa tidak ada yang perlu kujelaskan lagi padanya.” kata Salina pada Abrisam. “Dan kuharap ini pertemuan terakhir kita, Gas.” Salina dan Abrisam bergerak hendak berbalik badan.
“Aku yakin kau telah melacur padanya sehingga kau dengan mudah meninggalkanku, iya kan?!”
Tanpa aba-aba lagi, Abrisam menyentak tangan Salina hingga terlepas dan langsung meraih krah kaus Bagas dan menghajarnya dengan tinju yang telak hingga membuat Bagas terjerembab ke lantai. Abrisam kembali menghajarnya tak peduli dengan teriakan Salina yang memintanya berhenti.
Tidak butuh waktu lama, orang-orang yang berada di kafe turun tangan untuk menarik tubuh Abrisam yang berada di atas Bagas, menarik tubuh tinggi besar itu menjauh dari Bagas yang babak belur. Beberapa orang sibuk merekam kejadian. Beberapa orang membantu Bagas untuk kembali berdiri.
Salina ingin sekali memeluk Bagas, tapi tidak bisa dan tidak boleh, jadi pada akhirnya, ia menghampiri Abrisam, memeluk pria itu dengan tujuan menahan agar Abrisam tak lagi menghajar Bagas.
Abrisam melepaskan pelukan Salina, kedua tangannya merangkum wajah gadis itu menatap matanya tajam kemudian membuang napas kasar. Kemudian ia mengeluarkan sebuah cek dan menuliskan sejumlah nominal dan memberikannya pada staf kafe.
“Berikan pada atasanmu, ini untuk biaya ganti rugi.” Staf kafe itu hanya bengong melihat sejumlah nominal pada lembar cek itu.
Setelah itu, Abrisam juga memberikan selembar cek pada Bagas.
Tapi Bagas langsung menyobeknya dan melemparkan kembali di depan wajah Abrisam.
“Aku tidak butuh uangmu!” Tepat ketika perkataannya berakhir, Bagas melayangkan tinju ke wajah Abrisam, pukulan itu tidak sampai membuat Abrisam terjatuh, hanya mundur satu langkah.
Salina kembali memekik. Orang-orang kembali mengamankan mereka, menarik Bagas dan Abrisam lebih menjauh.
Salina menggenggam tangan Abrisam yang sudah mengepal kuat dan hendak bergerak untuk membalas Bagas, kemudian menarik wajah Abrisam untuk melihatnya dan memohon untuk menyudahi semua ini.
“Kumohon… kumohon…”
Abrisam kembali menatap tajam pada Bagas. “Berdoalah, kau tidak lagi bertemu denganku. Atau kau akan kehilangan tanganmu.” Ancam Abrisam. Kemudian ia meraih tangan Salina dan menarik gadis itu keluar dari kerumunan orang-orang juga keluar dari dalam kafe.
“Jangan lihat ke belakang! Jangan melihatnya lagi! Aku tidak mengijinkanmu!” Titah Abrisam pelan namun terdengar lantang dalam pendengaran Salina.
Begitu mereka sampai di pelataran parkir, seseorang menghampiri Abrisam, seorang pria bersetelan jas hitam dengan perawakan tinggi seperti algojo.
“Urus dia.” Titah Abrisam pada pria itu yang kemudian dibalas dengan anggukan dan pria itu meninggalkan tempat menuju ke dalam kafe.
“Ap-apa? Apa maksudmu? Apa maksudnya ‘urus dia’? Apa maksudnya?!” Teriak Salina dengan ketakutan mengguncang lengan Abrisam.
“Tenang saja, belum waktunya mantan kekasihmu itu mati, aku hanya meminta orangku memastikan mantanmu tidak membuatku kerepotan dengan melaporkanku pada polisi atau semacamnya.”
Salina akhirnya memecahkan tangisnya sambil berjongkok di samping mobil.
“Jangan menangis disini, kau akan membuat mata-mata Om Hadran curiga dan melaporkan kecurigaannya pada Om ku.” Abrisam juga ikut berjongkok dan mengusap puncak kepala Salina, berucap dengan suara pelan.
“Apa? Mereka juga ada disini?” tanya Salina, melihat Abrisam dengan mata bulatnya yang basah.
Abrisam mengangguk, seraya mengusap air mata Salina. “Sekarang berdiri, peluk aku, lalu masuk ke dalam mobil. Cepat!”
Salina menurut. Mengikuti skenario yang diperintahkan Abrisam.
Ia berdiri. Memeluk tubuh tegap Abrisam. Salina dapat merasakan pria itu mengusap kepalanya dengan lembut. Kemudian masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan, ponsel Abrisam berdering. Abrisam menghela napas panjang.
“Om menghubungiku.” Ucapnya. “Hentikan suara isak tangismu itu.”
Salina langsung menarik napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya.
“Ya, Om? Ya. Tidak apa-apa. Baik-baik saja. Baik. Ya.” Pembicaraan singkat yang dijawab dengan jawaban-jawaban singkat dari bibir tipis pria itu.
“Apa yang dikatakannya?”
“Apa lagi? Tentu saja ia membutuhkan klarifikasi atas kejadian tadi di kafe.”
Salina membuang napas kasar. Dadanya kali ini benar-benar sesak.
“Jika kita ketahuan, Om mu akan menghabisiku, keluargaku. Lalu apa yang akan dilakukannya padamu?”
“Membuatku tetap hidup dalam penyesalan dan kesedihan yang tidak akan pernah berakhir, hingga akhirnya dia akan membunuh jiwaku perlahan-lahan.”
Salina meringis. “Bagaimana mungkin ada Om yang tega melakukan hal itu pada keponakannya.”
“Ia tidak memandang bulu pada pengkhianatan.”
Salina kembali membuang napas kasar.
“Kalau saja kau bisa mengontrol dirimu, keributan tadi tidak akan terjadi.” Salina menoel pipi Abrisam yang mulai terlihat lebam.
“Dia menghinamu.” Abrisam menghindari sentuhan jari Salina pada pipinya.
“Lalu kenapa? Apa urusannya denganmu? Aku dapat memakluminya jika dia menghinaku, karena kebohonganku telah melukainya begitu dalam.”
“Menghinamu artinya menghinaku juga. Siapa pun yang menghina istriku, itu artinya berurusan denganku.”
“Wah!” Salina tercengang. “Apakah aku harus terharu dengan ucapanmu?”
.
.
.
TBC~