
Salina membantu Abrisam keluar dari IGD setelah Galih menyelesaikan administrasi, pemandangan pertama yang dilihat Salina begitu pintu IGD bergerak terbuka adalah Hadran, Winda dan Liona yang tengah menunggu. Hadran terlihat lebih tenang dibandingkan Winda yang sangat mengkhawatirkan keduanya, sementara Liona tentu saja hanya mengkhawatirkan Abrisam.
“Galih sudah menceritakan kalau kalian terjebak dalam tawuran warga.” kata Hadran sebagai pembuka. “Apa yang kau lakukan disana?”
“Apa tidak bertanya dulu bagaimana atau apa yang dirasakan keponakanmu dari pada mencari tahu apa yang kami lakukan disana?” Salina tidak bisa menahan dirinya jika sudah bertemu dengan Hadran, ia selalu membiarkan mulutnya berbicara ketus.
“Sal.” Tegur Abrisam pelan.
Salina hanya mendengkus.
Hadran memilih untuk mengabaikan perkataan Salina, dan tetap menunggu jawaban atas pertanyaannya sendiri.
“Aku ada urusan disana, Om.”
“Apa ada pekerjaan kita disana?”
Abrisam menggeleng. “Hanya urusan pribadiku.”
“Apa itu?”
“Urusan pribadi itu tandanya privasi. Apakah aku dan suamiku tidak boleh mempunyai privasi rumah tangga kami?” Lagi-lagi Salina nyeletuk yang membuat Abrisam kembali menatapnya tajam.
“Sal.” Kali ini teguran Abrisam penuh penekanan.
Salina memutar bola matanya, ia melepaskan tangannya dari lengan Abrisam, memutuskan untuk meninggalkan Abrisam dengan pamannya itu. Tapi, Abrisam malah menahannya, ia menggenggam tangan Salina agar tetap berada di sisinya.
“Baiklah, jika memang itu urusan pribadi kalian. Tapi, aku minta lain kali kalian lebih berhati-hati. Jangan sampai kejadian seperti ini mencelakai kalian.”
Salina hendak menyahut lagi dengan sarkasmenya, tapi Abrisam sudah lebih dulu menjawabnya dengan singkat.
“Kenapa kau tidak ke rumah sakit kita?” tanya Hadran lagi.
“Terlalu jauh.”
Hadran mengangguk.
“Bagaimana kalau sampai Abrisam sehat kembali, kalian menginap di rumah kami saja, ya?” Winda menawarkan yang didukung dengan anggukan penuh semangat dari Liona.
“Tidak, kami akan pulang langsung ke apartemen.” Jawab Abrisam datar.
“Tapi kan Kakak sedang sakit, menginap saja di rumah, supaya banyak yang bisa merawat Kakak.”
“Hei, adik sepupu, menurutmu aku tidak bisa merawat suamiku sendiri?” ujar Salina tak kalah ketusnya dari Liona.
“Aku yakin kau tidak bisa mengurus orang sakit.” Balas Liona.
“Hei, jangan sok tahu, aku-”
“Bisakah kalian diam? Kepalaku masih pusing.” Keluh Abrisam. “Bisa atau tidak bisa Salina mengurusku, itu tidak penting. Yang penting, aku nyaman hanya dengan berdua dengannya. Jadi, jangan menghalangi kami untuk kembali ke apartemen.”
Kata-kata Abrisam cukup menghantam Liona dengan kecemburuan.
“Baiklah.” kata Hadran akhirnya. “Kami akan pulang, begitu pun juga dengan kalian ke apartemen. Semoga lekas pulih. Dan Salina, tolong jaga dan rawat keponakanku dengan baik.” kata Hadran dengan gaya bijaknya.
Salina sangat muak.
.
.
.
Salina membuka pintu apartemen, sementara Galih membantu Abrisam untuk masuk ke dalam apartemen dan membawanya ke ruang tengah.
“Apa Kak Abi yakin aku tidak perlu menunggu disini?”
Abrisam mengangguk. Ia melihat Salina sudah langsung menyibukkan diri di dapur. “Sudah ada yang akan merawatku.” Ucap Abrisam pelan, tapi cukup jelas terdengar oleh Galih, bukan hanya suara yang terdengar olehnya, tapi juga setiap nada pada ucapan yang terucap dari bibir Abrisam membuat Galih tersenyum penuh arti pada Abrisam juga Salina.
“Baiklah,” katanya cukup peka. “Aku akan pulang.”
“Eh, kau sudah mau pulang?” tanya Salina yang membawa dua cangkir teh.
“Iya, Kak.”
“Minum dulu, sudah kubuatkan.”
Galih melihat pada Abrisam, butuh persetujuan dari Abrisam untuk menerima teh pemberian dari Salina.
“Astaga! Minum saja harus mendapatkan ijin darinya?” Salina menatap tak percaya.
Abrisam mengangguk lalu merebahkan dirinya di atas sofa. “Minum tehmu lalu pulang.” kata Abrisam.
Salina hanya menggelengkan kepala. “Kau setia pada orang seperti itu? Bukan main.”
Galih hanya cengengesan sambil menikmati tehnya.
“Apa kau akan menghabiskan secangkir itu sampai besok, Gal?” tanya Abrisam tajam.
“Baiklah, baiklah, aku akan pulang, Kak.” Galih bangkit, lalu menghampiri Abrisam, membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian berkata pelan, “Selamat menikmati peranmu sebagai pasien.”
“Pergi sana!”
Galih terkekeh kemudian berpamitan untuk pulang.
“Kenapa kau selalu kasar pada orang-orang yang peduli padamu, sih? Galih. Tante Winda. Liona.”
“Kau?”
“Cih, apa aku telihat peduli padamu?” Meski diucapkan dengan nada ketus, tapi sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan gadis itu sekarang, yaitu mebenarkan posisi bantal sofa yang bawah kepala Abrisam agar lebih nyaman.
“Apa yang sedang kau lakukan di dapur?”
“Masak. Aku lapar sekali seperti beruang grizzly yang belum makan dua hari.”
“Kau bisa masak?”
“Tentu saja. Bunda bilang, sebagai perempuan harus pandai masak, agar dicintai oleh suami dan mertua.”
“Kenapa kau tidak pernah masak sebelumnya? Apa kau tidak ingin dicintai oleh suamimu ini?”
“Dih!” Salina bergidik. Ia hendak berbalik meninggalkan Abrisam di ruang tengah. Tapi satu ucapan membuat Salina berhenti.
“Sal, terima kasih.”
Salina membeku. Otaknya nge-blank tiba-tiba.
Apa tadi? Abrisam berterima kasih?
“Terima kasih?” Salina menatap Abrisam bingung.
“Terima kasih sudah mendonorkan darahmu untukku.”
“Ap-apa? Hahah, kau pasti sedang berhalusinasi. Untuk apa aku mendonorkan darahku yang berharga pada orang yang selalu mengancam nyawaku dan keluargaku. Aneh!” Salina mengelak.
“Ya, aku pun berpikir demikian, kenapa Salina menyelamatkanku, padahal dia bisa meninggalkanku sampai aku kehabisan darah? Tapi, dia malah mendonorkan darahnya dan sekarang dia kelaparan seperti beruang.”
“Makanya, jangan berhalusinasi.”
“Tapi aku tahu kau mendonorkan darahmu. Jangan mengelak.”
Salina melanjutkan langkahnya tanpa merespon Abrisam lagi dan menyibukkan dirinya di dapur dengan perasaan aneh.
Satu jam berlalu, Salina sudah menyiapkan makan malam mereka. Soto ayam kuah bening sebagai menu pertama yang Salina masak.
Ia menghampiri ruang tengah dimana Abrisam berbaring dan tertidur di atas sofa.
Salina tertegun, ini adalah kali pertamanya Salina melihat wajah Abrisam yang tidur dengan jarak dekat. Ketika di rumah sakit tadi, ia tidak terlalu memperhatikan wajah pria itu. Kali ini, Salina membungkukkan dirinya, untuk melihat lebih jelas wajah maskulin Abrisam yang tidak diragukan lagi. Meski sehari-harinya pria itu sungguh menyebalkan, tapi ketika terlelap begini, ia bisa juga terlihat tenang.
“Tampan, bukan?”
Salina seketika terlonjak begitu mulut Abrisam bersuara. Salina bergerak mundur, menjauh dari Abrisam yang kini sudah melihatnya dengan sepasang matanya yang tajam itu.
“Ya.” Aku Salina yang membuat Abrisam cukup terkejut. “Tapi sayang, kau satu rumpun dengan Dementor, penghisap kebahagiaan.” Abrisam tersenyum, mulai terbiasa dengan ungkapan-ungkapan tak terduga Salina.
“Cepat bangun, aku sudah siapkan makan malam. Setelah itu kau minum obat dan tidur.”
“Bantu aku bejalan, kau harus memapahku.”
“Jangan manja, dokter bilang kondisimu sudah stabil. Jangan mengerjaiku.”
“Siapa yang mengerjaimu, kepalaku sungguh pusing, aku bisa terjatuh kalau tidak dipapah. Akan lebih merepotkan kalau nanti aku terjatuh.”
Salina membuang napas seraya memutar bola matanya, namun ia tetap membantu Abrisam berdiri dan berjalan menuju meja makan dengan memapah tubuh tinggi pria itu dengan membiarkan tangan Abrisam melingkar pada pundaknya.
“Hei,” Panggil Abrisam begitu mereka sudah duduk dan makanan tersaji pada piring masing-masing.
“Apa?”
“Tanganku tidak bisa kugerakkan untuk makan.”
“Gunakan tangan kirimu.” Sahut Salina cuek.
“Aku tidak bisa menggunakan tangan kiri untuk makan.”
Salina berdecak sebal, tapi pada akhirnya dia bergerak untuk menyuapi Abrisam makan.
“Wah, masakanmu lezat juga.” Pujian Abrisam mengundang tatapan penuh curiga pada Salina untuknya. “Apa kau sengaja membuatnya lezat agar aku mencintaimu?”
See? Dia selalu bisa menyebalkan.
“Jangan membuatku menyuapimu makan dengan sendok semen.”
“Wah, kau sudah pandai mengancam rupanya. Bagus, pertahankan itu.”
Salina hanya menggeleng, terlalu malas dan terlalu lelah untuk menyahut godaan Abrisam.
Tiba-tiba bel berbunyi, Salina pun bangkit untuk melihat siapa yang datang malam-malam seperti ini.
“Galih?” Salina membuka pintu.
“Maaf mengganggu lagi.” Ujar Galih.
“Tidak sama sekali. Ayo masuk.”
“Apa Kak Abi sudah tidur?” tanya Galih sebelum masuk.
“Belum kami sedang makan. Apa kau sudah makan? Sekalian saja kita makan bersama.”
“Terima kasih, Kak. Tapi mungkin lain kali. Aku harus menemui Kak Abi.”
“Baiklah, masuk saja.”
Galih akhirnya setelah memastikan Abrisam belum tidur. Ia langsung menghampiri Abrisam dan berbicara dengan berbisik pelan, sampai Salina yakin, jika diantara dua pria itu ada yang berkutu rambutnya, kutu itu tidak akan mendengar bisikan mereka.
Galih kembali menegakkan tubuhnya, ketika Salina dapat melihat perubahan ekspresi wajah Abrisam. Dari tenang menjadi tegang.
“Apa kau yakin?” tanyanya pada Galih.
Galih mengangguk mantap.
“Baiklah, kita berangkat sekarang.” Abrisam berdiri tanpa dibantu Galih atau pun Salina, padahal sebelumnya dia mengaku tidak bisa berjalan jika tidak dipapah.
“Eh, mau kemana kalian?” Tahan Salina menatap heran pada dua pria di depannya.
“Aku harus pergi.” Jawab Abrisam.
“Pergi?”
“Ada urusan yang harus segera aku tangani.”
“Urusan?”
“Kau tidak perlu tahu apa urusanku.”
“Aku memang tidak peduli dengan urusan apa yang akan kalian kerjakan. Tapi, barusan saja kau bilang tidak bisa berjalan kalau tidak dipapah, dan sekarang kau mau pergi? Yang benar saja! Kau harus istirahat meski kondisimu sudah stabil.” Salina berkacak pinggang, menatap galak Abrisam dan Galih bergantian.
“Apa kau tidak bisa mengurusnya sendiri? Apa harus Abrisam yang mengerjakannya?” Kini pertanyaannya dilimparkan kepada Galih.
“Maafkan aku, Kak. Tapi ini memang urgent, harus Kak Abi yang turun tangan.” Jawab Galih.
“Bisa kah kau ambilkan jaketku di ruang ganti?” Abrisam meminta dengan baik-baik pada Salina.
“Tidak bisa!” Tapi balasannya diiringi dengan pelototan galak.
“Galih, kau saja yang ambilkan jaketku di ruang ganti.”
Galih mengangguk, kemudian meninggalkan Abrisam dan Salina.
“Kau benar-benar keras kepala! Aku mendonorkan darahku bukan untuk kau sia-siakan!”
Abrisam menyeringai. “Akhirnya kau mengakuinya juga. Tenang saja, aku tidak akan menyia-nyiakan darah yang sudah kau berikan untukku.”
“Tapi jahitanmu masih rentan. Kau bisa berdarah lagi nanti!”
“Aku akan baik-baik saja.”
Galih datang dengan membawakan jaket hitam Abrisam dan membantu memakaikannya pada Abrisam. Melihat sepertinya Abrisam tetap akan berangkat, Salina akhirnya berdiri di depan Abrisam sambil merentangkan tangannya menunjukkan ketidaksetujuannya.
“Aku tidak mengijinkan kau pergi! Aku tidak-”
Lagi-lagi, gadis itu harus dibungkam dengan sentuhan lembut bibir Abrisam pada bibir Salina, dengan tangan kanan Abrisam yang bergerak naik untuk menahan bagian belakang leher Salina, sementara tangan kirinya mengusap lembut pipi gadis itu.
Galih langsung berbalik badan dengan senyuman lebar pada wajahnya.
Salina membuka matanya setelah sejenak ia memejamkannya dan menikmati sentuhan Abrisam. Ketika kesadarannya penuh, ia langsung mendorong kuat tubuh Abrisam hingga ciuman mereka berakhir.
“APA YANG KAU LAKUKAN?” teriak Salina sambil mengusap bibirnya kasar.
“Mulai sekarang, satu protes, satu ciuman. Mengerti?” jawab Abrisam santai.
“APA?”
“Tunggulah aku, jangan kemana-mana. Jangan bukakan pintu untuk siapapun, bahkan jika Galih datang tanpaku, jangan kau buka pintu. Mengerti?”
“Tapi-”
Cup!
“HEI!”
“Sudah kukatakan, satu protes, satu ciuman.”
“Kau sungguh menyebalkan!”
“Aku tahu. Jadi, diam dan tunggulah aku. Aku akan kembali. Ingat jangan buka pintu kecuali itu aku.”
.
.
.
TBC~