
Perawat yang diminta datang untuk menemani Salina tiba-tiba keluar dari unit apartemen, Galih melihatnya berjalan dengan tenang, ia langsung mengejar perawat itu.
“Kenapa kau meninggalkan Nona?”
“Nona minta dibelikan kopi di kedai yang ada diseberang sana.” Jawab si perawat, membuat Galih mengerutkan keningnya.
“Kopi? Apa boleh minum kopi? Memang perutnya sudah tidak mual lagi?”
“Nona bilang dia sudah merasa sangat baik dan ingin minum kopi juga makanan manis di kedai itu.” Galih akhirnya membiarkan perawat itu melanjutkan langkahnya, namun firasatnya terasa tidak nyaman. Dia segera menuju unit apartemen seraya menghubungi nomor ponsel Salina yang tidak terdengar nada sambung sama sekali, sesampainya di depan pintu, Galih mengetuk berkali-kali tapi tidak ada sahutan atau pun pergerakan pintu.
Firasatanya semakin buruk, ia langsung menghubungi Abrisam, tidak perlu terlalu lama menduga-duga.
Lima belas menit Galih mencoba memanggil Salina, tapi tetap tidak ada jawaban. Perawat yang akhirnya datang membawa kopi da makanan manis pesanan Salina pun ikut tidak bisa masuk karena tidak membawa kunci, yang itu artinya pintu terkunci dari dalam.
Mereka berdua menjadi khawatir. Terlebih perawat itu takut dengan reaksi Abrisam jika terjadi sesuatu pada Salina karena ia meninggalkan Salina.
Empat puluh menit kemudian, Abrisam datang dengan langkahnya yang tergesa, sepasang mata tajamnya menghunus si perawat yang berada di luar bersama Galih.
“Kenapa kau ada di luar?” tanyanya dengan nada suara dingin.
“Maaf Tuan, tapi Nona minta dibelikan kopi.” Jawab si perawat itu takut-takut, Abrisam langsung mengeluarkan kunci cadangan dan membuka pintu.
“Salina! Sal!” Panggil Abrisam dengan suara beratnya, namun kesunyian yang menyambutnya, tidak ada jawaban sama sekali.
Abrisam langsung menuju kamar Salina dan seketika itu juga badannya langsung melesat cepat.
Galih di dapur membaca secarik kertas, sebuah pesan tertulis disana dengan inti pesan yang meminta agar Abrisam tidak menyakiti keluarganya, dan membiarkan dirinya pergi dengan cara yang dia pilih.
“GALIH!” Suara teriakan Abrisam menyentak Galih dan segera meninggalkan tempat menuju tempat dimana Abrisam berada.
“Kakak! Kakak Ipar!”
Abrisam tengah memeluk kedua kaki Salina yang menggantung di udara.
“Cepat bantu aku lepaskan ikatan pada lehernya!” Titah Abrisam.
Galih dengan cepat menaiki kursi yang sebelumnya terbalik untuk melepaskan ikatan kain pada leher Salina. Abrisam dengan sigap menangkap tubuh Salina yang sudah begitu lemas.
“Salina! Salina!” Abrisam menepuk-nepuk pipi Salina, tapi tidak ada respon sama sekali. Ia langsung melakukan CPR. Perawat langsung menghubungi seseorang untuk mengirimkan ambulan. Galih pun turut khawatir dan takut. Ini adalah kali kedua Galih melihat ekspresi wajah itu. Wajah Abrisam yang ketakutan.
Ia terus melakukan CPR namun tetap tidak ada respon. Tidak ada denyut nadi. Tidak ada hembusan napas.
“Tidak! Kau tidak boleh mati! Bahkan mati untuk mati pun kau harus mendapatkan ijin dariku! Bangun! Bangun! SALINA!” Abrisam mengguncang tubuh Salina, hingga ia akhirnya membisikkan sesuatu pada Salina. Entah apa yang dibisikkan Abrisam pada Salina, tapi yang Galih yakin bisikan itu bukan kata-kata cinta.
.
.
.
Bunyi monoton dari layar moninor yang menunjukkan detak jantung yang berdegup normal, selang infus, oksigen, dan tirai putih yang menutup sebagian jendela.
Seseorang duduk dengan kedua mata yang terpejam, kedua tangannya terlipat di depan dada, kedua kakinya yang panjang diluruskan dengan salah satunya berada di atas kaki satunya.
Pria itu memakai pakaian serba hitam. Sweater hitam, jins hitam, sepatu boot hitam, bahkan jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya juga berwarna hitam.
Apa dia malaikat pencabut nyawa? Apa malaikat memakai jam tangan dan sepatu boot?
“Akh!” Salina meringis begitu ia bergerak untuk mengangkat kepalanya.
Saat itu juga, sosok pria yang diduga sebagai malaikat pencabut nyawa olehnya membuka mata. Dia segera bangkit dari duduknya dan mendekatinya. Begitu memastikan mata Salina terbuka, ia segera menekan tombol untuk memanggil perawat yang ada di samping tempat tidur pasien.
Pria itu tidak bicara apa pun, bibirnya terkatup rapat, matanya menyorotkan sinar yang redup. Namun ia menyambut kedatangan dokter dan perawat yang datang tak lama kemudian.
“Ia barusan saja siuman, Dok.” katanya pada dokter perempuan yang langsung memeriksa denyut nadi, menyorotkan senter kecil pada kedua mata Salina, dan menempelkan stetoskop pada dada Salina. Kemudian ia mengatakan sesuatu pada perawat yang datang bersamanya, si perawat pun mencatat apa pun yang dikatakan dokter padanya.
“Nona Salina, apa Anda bisa mendengar suara saya?” tanya Dokter itu dengan sangat lembut tapi juga tegas disaat bersamaan.
“Y-ya… i-ini dimana?” tanya Salina dengan suaranya yang serak dan lemah.
“Anda berada di rumah sakit. Beruntunglah, Anda mendapatkan pertolongan pertama dengan cepat.”
“Apa… yang ter… jadi?” tanya Salina lemah.
“Bodoh.” Gumam Abrisam yang ditujukan untuk Salina.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” tanya Abrisam pada dokter, memilih untuk mengabaikan pertanyaan Salina.
“Keadaannya sudah lebih baik. Tarikan napas dan denyut nadinya juga sudah normal, kita tunggu satu jam lagi untuk melepaskan selang oksigennya ya.”
Abrisam mengangguk. Setelah memberikan beberapa hal yang harus dilakukan Abrisam untuk merawat Salina, dokter dan perawat itu pun keluar dari kamar perawatan ruang VVIP itu.
“Apa… yang ter… jadi?” Salina mengulangi peratanyaannya.
“Jangan bicara padaku dulu, aku masih sangat kesal padamu!” jawab Abrisam seraya menghubungi seseorang untuk segera datang.
“Kakak ipar!” Galih langsung menghampiri tempat tidur dimana Salina berbaring disana. “Kau sudah siuman? Ah, syukurlah!”
“Gal, bereskan barang-barangnya, minta perawat wanita menggantikan pakaiannya, kita pulang sekarang. Aku akan mengurus administrasi.”
“Eh, pulang sekarang? Apakah sudah boleh?”
“Ya.”
“Kalau begitu, biar aku saja yang mengurus administrasi, Kak.” Galih menawarkan diri.
Tapi sorot mata Abrisam langsung menyorot tajam dan dalam hingga membuat Galih membeku di tempat. Dan dengan nada rendah ia berkata, “Kau yang disini, atau aku akan mengembalikannya pada lubang kematian.”
Galih langsung mengangguk mengerti tanpa bertanya-tanya lagi apa lagi sampai membantah titah Abrisam. Pria itu pun langsung meninggalkan kamar.
“Galih… bisa kah aku berikan aku minum, tenggorokanku… sangat… kering…”
Galih tersadar dalam keterkejutannya, ia segera mendekatkan air mineral dalam gelas dan memberikannya pada Salina untuk diminumnya perlahan dengan sedotan plastik.
“Apa yang terjadi?” tanya Salina, setelah membasahi tenggorokannya.
“Apa Kakak tidak ingat kalau Kakak… Kakak… berusaha untuk menggantung… menggantung…”
“Aku ingat yang itu.” Sahut Salina cepat. “Yang aku tidak mengerti, bagaimana aku bisa disini? Kenapa aku masih hidup?”
Galih menggelengkan kepala. Dalam lubuk hatinya, dia sangat mengerti dan memaklumi apa yang dilakukan Salina.
“Percayalah Kak, kami hampir terlambat menyelamatkanmu. Tapi, Kak Abi tidak menyerah. Ia terus melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk membawa Kakak ipar kembali.”
Salina memalingkan wajahnya. “Aku tidak memintanya untuk membawaku kembali pada kehidupan yang menyakitkan ini.”
"Tapi pada akhirnya, Kak Abi berhasil membawamu kembali, Kak. Kau kembali bernapas setelah Kak Abi membisikkan sesuatu padamu."
"Oh ya?"
Galih mengangguk. "Dan tadi adalah kali pertama aku melihat Kak Abi begitu terlihat khawatir dan takut."
"Penglihatanmu pasti bermasalah."
.
.
.
Salina dan Abrisam kembali ke apartemen. Masih dengan ekspresinya yang sedingin dan sedatar Wednesday, Abrisam menuntun Salina dengan hati-hati kembali ke dalam kamarnya.
Namun Salina dengan tenaganya yang tidak seberapa berusaha melepaskan tangan Abrisam dari lengan dan bahunya, meski tidak sedikit pun Abrisam mengedurkan pegangannya pada Salina.
Setelah memastikan Salina aman di dalam kamar, barulah Abrisam beranjak keluar.
“Kenapa…” Suara Salina yang lemah menghentikan langkah kaki Abrisam. “Kenapa kau harus menyelamatkanku? Kenapa tidak aku biarkan aku mati dengan caraku?”
“Kau tidak akan mati dengan cara seperti itu.” Sahut Abrisam dengan berdiri memunggungi Salina.
“Apa kau tidak mengerti? Tujuan hidupku sudah hancur. Ayah yang kuharapkan menjadi pelindungku ternyata mengkhianati kami. Bunda dan adikku membenciku karena kebohongan yang kulakukan untuk menyelamatkan mereka. Kekasihku ternyata hanya menjadikanku sebagai selingkuhannya, aku tidak tahu sama sekali kalau ternyata dia sudah berkeluarga!” Salina tertawa namun dengan begitu miris.
“Apa orang sepertimu bisa merasakan hancurnya duniaku? Aku bahkan tidak tahu lagi apa tujuanku untuk hidup?” Air mata mulai menetes lagi pada kedua matanya.
“Aku bahkan tidak bisa membuktikan bahwa diriku tidak bersalah, setidaknya pada Bunda dan Iris. Aku tidak lagi bisa memeluk ibuku. Pengorbanan macam apa yang aku lakukan? Katakan! Aku, keluargaku, kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi kenapa kau membuatku begitu menderita?”
Abrisam tetap diam ditempatnya, tetap berdiri memunggungi Salina.
“Jika dengan membunuhku akan membuat keluargaku curiga padamu hingga menyeret monster yang kau lindungi itu, maka aku akan mempermudah tugasmu, biarkan aku mengakhiri hidupku dengan cara yang aku pilih sendiri, itu akan menjadi baik untuk kita semua. Bukan kah kau juga menginginkan kematianku?”
Abrisam membalikkan tubuhnya, kini mereka saling bertatapan. Salina berdiri, menatap mata tajam Abrisam dengan sepasang matanya yang basah oleh air mata.
“Jangan menyelamatkan aku lagi jika kau-”
Salina tak lagi bisa melanjutkan kalimatnya, karena kini tubuhnya terkunci dalam dekapan Abrisam, dan bibirnya terkunci dalam ciuman dalam pria itu, tak peduli sekuat apa Salina mendorong tubuh Abrisam dari tubuhnya, ia tetap tidak bisa melepaskan dirinya dari Abrisam dan ******* bibirnya yang kasar namun perlahan menjadi begitu lembut.
Salina tak lagi melawan, tapi juga tidak membalas. Ia hanya kembali menangis dalam ketidakberdayaannya.
Abrisam melepaskan pagutannya dan pelukannya, sepasang mata tajamnya masuk hingga ke dalam hati Salina, napasnya berhembus berat, suaranya yang dalam mengucapkan beberapa patah kata dengan nada rendah, “Bahkan untuk mati, kau membutuhkan ijin dariku.”
.
.
.
TBC~