You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Hadiah Untuk Salina.



Sepanjang perjalanan Salina terus saja menampilkan wajah cemberutnya, bibir bawahnya yang melengkung sampai tiga meter, matanya yang menyorot kesal, dan gerakan tubuhnya yang ogah-ogahan, tapi pria yang menyetir disebelahnya itu bukannya menyesal apa lagi minta maaf, dia malah menikmati tingkah merajuk Salina yang baginya begitu menggemaskan.


Berkali-kali Abrisam mengutuk dirinya bahwa dia sudah gila karena menyukai tingkah-tingkah Salina yang selalu menunjukka dirinya apa adanya. Bahkan ketika gadis itu berteriak marah-marah, atau saat manyun mode merajuk seperti ini.


“Mau sampai kapan kau melipat bibirmu seperti itu?” tanya Abrisam.


“Sampai aku bertemu ibu peri yang dapat membebaskanku dari kutukan ciuman bibirmu itu.”


Di luar kendali, jawaban Salina malah membuat Abrisam tertawa. Tertawa untuk kali pertama didengar oleh Salina.


Kenapa tiba-tiba ada kupu-kupu dalam perutku ini begitu si Dementor gila ini tertawa? Batin Salina.


“Ish, apanya yang lucu?”


“Kau. Lagi pula kenapa kau begitu kesal?”


“Menurutmu apa aku harus senang bersuka cita jika kau mencuri kesempatan dalam kesempitan? Padahal aku sempat berpikir kau masih manusia yang masih mempunyai hati yang tulus dan baik, tapi ternyata… zonk!”


Lagi-lagi Abrisam tertawa.


“Lagi pula, bagaimana bisa kau mencium seorang wanita yang bukan tipemu, dan disaat bersamaan kau masih mencintai wanita lain? Apakah semua laki-laki begitu, ya? Enteng saja mempermainkan hati wanita?”


Abrisam tidak langsung menjawab karena harus menyalip mobil minibus hitam yang berjalan begitu lelet di depan mereka padahal mereka berada di lajur cepat.


“Jadi kau merasa hatimu kupermainkan?” tanya Abrisam santai begitu mereka sudah berhasil menyalip minibus yang lelet tadi.


“Cih!” Salina membuang muka.


“Apa mulai tumbuh rasa dalam hatimu?”


“Ya! Rasa benci, kesal, sebal, gondok, keki, dan kawan-kawannya!”


“Hei, hati-hati, kau sebagai penulis pasti tahu kalau batas antara benci dan cinta itu setipis tisu yang dibelah dua.”


“Tidak jika orang itu adalah kau.” Ketus Salina.


Bisa-bisanya aku berpikir kalau si dementor gila ini menyukaiku. Runtuk Salina dalam hatinya.


Tidak banyak lagi yang menjadi bahan pembicaraan mereka, karena Salina memilih untuk tidur dari pada meladeni Abrisam yang selalu meledek dan menggodanya hingga membuatnya kesal.


Sampai akhirnya Abrisam membangunkan Salina dengan cara paling epic, yaitu berhenti mendadak hingga membuat kepala Salina kejedot kaca jendela.


“AW!” Ia mengeluh sambil mengusap keningnya yang jadi korban.


“Bangun, Tuan puteri. Kita sudah sampai.” Ujar Abrisam seraya keluar dari dalam mobilnya.


Sambil memberengut karena keningnya yang tersakiti, Salina menyadari sesuatu.


“Ini kan….” Salina segera keluar dari dalam mobil dan menyusul Abrisam yang sudah lebih dulu berjalan. “Hei, tunggu. Untuk apa kita di perumahan ini lagi?”


“Untuk mengecek sesuatu.” Jawab Abrisam. Ia melangkah menuju teras dari salah satu rumah yang ada disana.


“Hei, tunggu dulu! Kau mau kemana? Ini rumah siapa?” Salina menahan tangan Abrisam.


“Apa ada orang di dalam sana?” tanya Salina lagi.


“Ada.”


“Siapa?”


“Kau akan tahu nanti.”


“Heh! Tidak bisakan jawab yang benar? Aku perlu tahu siapa yang akan kita temui, apakah kita harus bersandiwara atau tidak?”


Abrisam hanya menyunggingkan senyuman seraya mengacak puncak kepala Salina. Kemudian berlalu.


Kembali Salina merasakan ribuan kupu-kupu berkembang biak di dalam perutnya.


Apa-apaan sih orang itu! Kenapa akhir-akhir ini dia selalu membuat jantungku berdebar. Menyebalkan! Omel Salina dalam hatinya.


“SURPRISE!” Dua orang wanita berbeda generasi berdiri di tengah ruang tamu dengan sebuah kue ulang tahun yang mereka bawa.


“Bunda? Iris?” Bibir Salina hampir tidak bergerak ketika memanggil dua orang terkasihnya itu.


“Apa kau akan terus berdiri mematung disini sampai besok?” Bisik Abrisam. Kedua mata Salina berkaca-kaca menatap Abrisam yang kini tersenyum padanya. Tidak ada ejekan, tidak ada godaan pada senyum dan sorot mata pria itu.


“Abi…”


“Ini hadiahmu. Selamat ulang tahun.” Kemudian tanpa ragu, Abrisam membungkukkan tubuhnya sedikit lalu cup… ia mengecup – kali ini – pipi Salina.


“Kakak!” Iris berlari menghambur dan memeluk kakak yang sangat ia rindukan.


Dua bersaudara itu pun saling berpelukan erat. Air mata menetes pada keduanya. Saling melepaskan rindu, melepaskan penyesalan juga kesedihan dan suka cita. Semua rasa bercampur dan berbaur menjadi satu kesatuan.


Kemudian mereka saling melepaskan, saling mengusap air mata mereka. Tertawa. Berpelukan lagi. Dan tertawa lagi. Setelah itu Salina menghampiri Bundanya, ia langsung memeluk wanita paruh baya itu. Menangis sesegukan dalam pelukan yang ia sangat rindukan. Aroma tubuh Bunda, pelukan hangat Bunda, belaian lembut Bunda, juga


suara teduh Bunda yang tak pernah sedetikpun tak dia rindukan.


“Bunda….”


“Maafkan Bunda, Nak, maafkan Bunda…” Ujar Bunda dengan suaranya yang begitu getir, menyuarakan rasa sesalnya yang teramat dalam pada putri sulungnya.


Salina menggeleng, mempererat pelukannya pada tubuh paruh baya Bundanya. “Bunda tidak salah, Bunda tidak salah apa-apa.”


“Kau pun juga tidak salah apa pun, Nak. Kau mengorbankan dirimu untuk kami.” Ujar Bunda.


Salina kembali sesegukan. Tak kuasa ia menahan air matanya. Iris pun pada akhirnya ikut bergabung bersama mereka.


Abrisam hanya berdiri di tempatnya, menyaksikan suasana mengharu biru penuh air mata. Hatinya begitu tersentuh. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Hadran sampai menyentuh tiga wanita itu. Mungkin Abrisam akan benar-benar memunculkan sisi monsternya untuk membalas setiap sentuhan Hadran pada tiga wanita itu.


“Apa aku melewatkan sesuatu, Kak?” Galih muncul di sebelah Abrisam.


.


.


.


“Benarkah?” Hadran menaikkan sebelah alis matanya ketika menerima laporan dari orang suruhannya. “Jadi, Abi membeli rumah untuk Salina? Dan sekarang mereka berkumpul bersama keluarga Salina?”


“Benar Tuan.” Sahut orang suruhan Hadran dari seberang panggilan telepon.


“Siapa lagi yang ada disana?”


“Galih saja, Tuan. Dia baru datang.”


“Bagaimana keadaan disana? Apa yang mereka lakukan?”


“Keadaannya terlihat baik-baik saja, Tuan. Mereka terlihat seperti sedang merayakan sesuatu.”


“Baiklah, kau pantau terus.”


Sambungan pun diakhiri oleh Hadran. Tangannya meraih gelas wine, memutar isinya seraya kemudian menghidu aromanya sebelum menyesapnya dan merasakannya di ujung lidah sebelum menelan cairan kemerahan itu.


Punggungnya disandarkan pada sandaran kursi kerjanya yang besar dan empuk, otaknya berputar, ia berpikir juga menduga-duga apa yang dilakukan Abrisam dan Salina dengan keluarga Salina.


“Mereka terlihat baik-baik saja? Dan merayakan sesuatu? Tapi, bukan kah Abrisam bilang orang tua Salina tidak menyetujui hubungan dan pernikahan mereka? Lalu apa ini? Apa yang membuat mereka akhirnya menyetujui dan terlihat akur? Apa selama ini Abrisam hanya membodohiku? Apa gadis itu yang membutakan Abrisam? Ini tidak bisa dibiarkan!”


.


.


.


TBC~