You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Kejutan Tak Terduga.



“Kenapa kau membawaku ke makam? Bukankah seharusnya kau membawaku pulang ke apartemen?” tanya Salina bingung ketika siang ini, setelah sehari dirawat di rumah sakit dan akhirnya diperbolehkan pulang tanpa bertemu dengan Abrisam lagi setelah percakapan terakhir mereka, Galih justru mengantarnya ke makam.


“Kak Abi menunggu Kakak Ipar disana.”


Salina menaikkan kedua alis matanya. “Di makam? Dia menungguku di makam?” Salina mendengkus. “Apa pada akhirnya dia memutuskan untuk menghabisiku dan langsung menguburku?”


“Sebaiknya Kakak Ipar cari tahu sendiri. Aku akan menunggu disini.”


“Kau akan menunggu untuk membantunya mengubur jasadku nantinya, begitu?” tanya Salina sinis.


Namun Galih hanya terkekeh ringan.


Salina akhirnya keluar dari dalam mobil, ia memasuki area pemakaman siang itu, matanya menyapu sekitar pemakaman sembari meneruskan langkahnya. Ia cukup curiga dengan keadaan siang itu. Ini bukan kali pertama Salina datang ke pemakaman ini. Biasanya di siang hari pun, banyak pedagang kembang di depan pintu pemakaman itu, tapi siang ini begitu sepi. Bahkan tidak ada satu orang pun peziarah di sana.


Satu-satunya yang terlihat kontras pada pandangan mata Salina adalah sosok pria berdiri dengan tubuhnya yang tinggi tegap mengenakan pakaian serba hitamnya, lengkap dengan kaca mata hitamnya. Salina segera menghampirinya, dan memelankan langkahnya ketika ia mulai menyadari di depan makam siapa Abrisam tengah berdiri.


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Berbicara dengan abangmu.” Jawab Abrisam tanpa melihat kedatangan Salina.


Mata bulat Salina melihat satu ikat bunga krisan segar berada di bawah batu nisan Faris. Kemudian kembali melihat Abrisam dengan tatapan bingung.


“Bagaimana bisa kau tahu kalau Kak Faris adalah kakakku?”


“Sudah kukatakan aku akan mencari tahu.”


“Kau bilang, kau akan menyuruh Galih untuk mencari tahu, tapi seharian kemarin di hanya berdiam di rumah sakit.”


“Aku melakukannya dengan cara yang lain.”


Salina menghela napas. Ia tahu, Abrisam tidak akan memberitahukan padanya bagaimana dia bisa mengetahui tentang Faris. Ia sudah terlalu lemah untuk bertengkar dan berdebat dengan pria itu. Salina akhirnya memilih untuk berjongkok di sebelah nisan kakaknya. Mengusapnya lembut dan penuh kesedihan yang ditahannya.


“Kakak… Sal datang.” katanya dengan suara bergetar. “Maaf beberapa hari ini Sal tidak datang. Sal sangat dibuat sibuk oleh seseorang yang sangat menyebalkan.” Matanya melirik sinis pada Abrisam yang terlihat tetap tenang seperti permukaan danau. Tapi justru itu membuat Salina harus meningkatkan kewaspadaannya.


“Ya, orang itu yang sudah membuatku sibuk, Kak. Dia juga sangat menyebalkan. Tapi…” Salina menghela napas lagi, “Dia juga sudah menyelamatkan nyawaku dua kali, meski kali terakhir aku masuk rumah sakit gara-gara dia.”


Abrisam menoleh pada Salina, melihatnya dari balik kaca mata hitamnya.


“Kali ini, aku baik-baik saja, Kak. Aku janji, aku akan baik-baik saja. Aku akan bertahan.” katanya.


Setelah selesai mengobrol seorang diri dengan batu nisan bertuliskan nama kakaknya dan Abrisam yang hanya berdiri dan diam tanpa bicara, akhirnya Salina berdiri, mendekati pria itu.


“Terima kasih untuk bunganya.” Ujar Salina. "Omong-omong kenapa hari ini sepi sekali?"


"Aku sudah membayar pengurus pemakaman untuk menutup pemakaman sementara. Sampai urusan kita selesai disini."


"Urusan kita?" Salina mengernyit.


“Aku masih punya kejutan lain untukmu.”


“Eh, kejutan?”


Abrisam bergerak, berjalan meninggalkan makam Faris menuju tempat yang lain, masih dalam area pemakaman. Agak jauh dan paling belakang. Jika tadi, Salina tidak melihat orang lain selain Abrisam yang berdiri di depan makam Faris, kali ini mata Salina memicing begitu melihat beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian yang sama seperti Abrisam, serba hitam. Lengkap dengan kaca mata hitam mereka.


“Siapa mereka?”


“Orang-orangku.”


“Lalu hubungannya denganku? Apa mereka yang akan mengeksekusiku? Baiklah, aku siap.”


“Bukan mereka yang menjadi kejutan untukmu, tapi orang-orang di dalam lubang belakang mereka.” ujar Abrisam mengabaikan ucapan Salina.


“Lubang?” Salina mengernyit.


Abrisam memberikan kode dengan gerakan kepalanya agar orang-orangnya bergerak menyingkir dari tempat mereka hingga terlihat sebuah lubang besar pada tanah di belakang orang-orang tadi.


“Lubang apa itu? Apa kau akan menembakku dan melemparkan jasadku ke dalam lubang itu?”


“Lubang itu terlalu besar untukmu. Akan kubuatkan kau lubang yang lebih kecil.” Sahut Abrisam asal. Kemudian dia bergerak melangkah di depan Salina dan berdiri tepat di bibir lubang itu.


“Kemarilah, dan lihat sendiri kejutan untukmu.”


Salina menatap Abrisam dengan tatapan penuh kecurigaan, jantungnya berdegup cepat.


Kejutan apa? Apa yang ada di dalam lubang tanah itu? Apa sesuatu? Seseorang? Ataukah keluarganya? Ya Tuhan!


Salina mendekati Abrisam dan melihat ke lubang di depan matanya.


Mata Salina seketika membeliak kaget, bibirnya terbuka, ia bahkan sampai mundur beberapa langkah dan terhuyung, jika saja Abrisam tidak menangkap pinggangnya dengan sigap, mungkin Salina sudah terjatuh di atas tanah pemakaman itu.


“Mereka… mereka…”


Tiga orang pria yang babak belur, dengan tangan yang diikat di belakang, kaki pun diikat kuat serta mulut mereka yang dilakban.


“Mereka para bajingan yang sudah melakukan perbuatan keji padamu juga pada kakakmu.”


“Tapi… tapi bagaimana bisa…”


“Bertahun-tahun kau hidup dalam trauma yang membuatmu tersiksa karena bajingan-bajingan itu. Dan kau malah bilang apa yang terjadi padamu hanya masa lalu? Mereka sudah….” Abrisam menahan emosinya, hingga urat-urat pada pelipisnya menonjol.


“Mereka bahkan membayar oknum-oknum yang membuat hukuman mereka begitu ringan, apa kau pikir aku akan membiarkan mereka bebas, tertawa-tawa hidup bahagia dengan keluarganya, sementara kau hidup tersiksa dengan rasa traumamu dan rasa bersalah pada Kakakmu?”


Tangis Salina pun akhirnya pecah. Segala emosi pun tumpah di atas tanah pemakaman itu. Abrisam dapat merasakan sakit dan pedihnya tangisan gadis itu. Jika ia sudah mengenal Salina sejak dulu, dan tahu orang-orang ini telah melakukan perbuatan keji itu, Abrisam yakin, dia akan membunuh ketiga manusia itu dengan cara yang paling sadis.


Abrisam pun menarik Salina dalam dekapannya, membiarkan Salina membasahi kemeja hitam bagian depannya basah karena air matanya yang mengalir deras.


“Kenapa… kenapa kau harus mengetahuinya? Kenapa… kenapa kau harus mengungkitnya?” Pada sela-sela tangisnya, Salina bertanya.


“Aku harus tahu agar aku bisa memberikan balasan yang setimpal untuk mereka. Dan aku harus mengungkitnya agar kau bisa melepaskan rasa traumamu, emosimu, membalaskan rasa sakitmu. Semua kepedihan itu tidak akan membebaskanmu jika kau hanya memendamnya.” Ucap Abrisam dengan begitu lembut dan pelan.


“Tapi kenapa? Kenapa kau melakukan ini untukku? Untuk apa kau membantuku? Kenapa?” Salina melepaskan dirinya dari dekapan hangat Abrisam yang anehnya memberikannya ketenangan dan rasa… aman. Ia mendongak untuk melihat wajah pria itu.


“Apa mereka masih hidup?” tanya Salina akhirnya ketika tak kunjung mendapatkan jawaban.


Abrisam menganggukkan kepala pada dua orangnya, kemudian tiga pria berpakaian hitam itu menyiramkan tiga ember ke dalam lubang itu.


Ketiga pria yang mengenaskan itu akhirnya terbangun gelagapan karena air yang disiramkan pada mereka.


“Masih.” Abrisam menjawab pertanyaan Salina.


“Apa yang akan kau lakukan pada mereka?” tanya Salina.


“Terserah kau.” jawab Abrisam cuek. “Apa pun yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Kau hanya duduk manis dan melihat bagaimana mereka merasakan apa yang kau rasakan.”


“Mmmm! Mmmm!”


“Mmmmm! Mmmmm!”


Orang-orang di dalam lubang itu sibuk bergumam dari balik lakban yang mengunci bibir mereka. Mata mereka menyorotkan penyesalan dan ketakutan di saat yang sama. Tapi, Salina tidak sanggup melihat tiga orang yang telah tertawa-tawa ketika mereka menyiksa dan merenggut mahkotanya dulu. Salina memalingkan wajahnya, menjauh dari lubang.


“Apa kalian ingat siapa dia?” tanya Abrisam dengan nada dinginnya.


Mereka menganggukkan kepalanya dengan cepat, sambil terus bergumam.


“Kalian ingat apa yang sudah kalian lakukan padanya juga pada kakaknya?”


Mereka lagi-lagi menganggukkan kepala dan bergumam tidak jelas.


“Apa kalian menyadari betapa hancur hidupnya dan hati keluarganya?”


Mereka kembali ribut bergumam.


“Ah, sekarang pun kalian sudah berkeluarga, bukan? Bagaimana jika apa yang kalian lakukan dulu pada Salina dilakukan juga pada… istri atau anak perempuan kalian?”


Seketika itu juga orang-orang itu bergumam lebih ribut, mereka meronta ingin melepaskan kaki dan tangan mereka dari ikatan kuat yang melilit tangan dan kaki mereka.


“Kurasa itu adalah hukuman yang setimpal, bukan? Kalian akan merasakan bagaimana hancurnya orang yang kalian sayang dan kalian juga akan merasakan hancurnya hati kalian. Adil bukan?”


Mereka terus bergumam penuh dengan nada permohonan.


“Dan, orang-orang yang melakukannya akan kubuat hanya dikenakan hukuman tiga bulan penjara, persis seperti kecurangan yang kalian lakukan. Bagaimana?”


Nada-nada permohonan terdengar menyedihkan dari dalam lubang itu.


“Kalian lihat ponselku ini? Hanya dengan menekan satu tombol, maka orang-orangku akan melakukan tugasnya untuk membalas kalian.”


“Mmmmmhhhmmm!” Teriak ketiga orang itu dalam gumaman tak berguna.


“Semua akan aku lakukan jika Salina menyetujuinya. Bagaimana, Sal?”


“Mereka mempunyai anak-anak perempuan?”


“Ya, mereka semua mempunyai anak perempuan yang sial karena mempunyai ayah bajingan seperti mereka.”


“Dan kau mau membalas mereka pada anak-anak mereka?”


“Persis seperti apa yang mereka lakukan padamu.”


“Apa kau tidak mempunyai hati nurani?”


“Mereka lebih tidak mempunyai hati. Aku hanya terinspirasi.”


Bug! Salina memukul dada Abrisam sambil melotot. “Anak-anak dan istri-istri mereka tidak tahu menahu. Tidak salah apa-apa? Kenapa harus mereka yang-”


“Kau juga tidak salah apa-apa! Kau tidak tidak tahu menahu dengan apa yang dilakukan ayahmu. Tapi kenapa kau yang diperlakukan seperti itu?!” Abrisam dengan nada tingginya mengguncang tubuh Salina dengan gemas.


“Lalu jika kau membalas perbuatan mereka kepada anak dan istri mereka, apa itu akan mengembalikan Kak Faris? Apa itu akan menarik kembali apa yang sudah mereka lakukan padaku? Apa akan mengembalikan apa yang sudah mereka renggut dariku?”


“Memang tidak! Tapi, setidaknya mereka merasakan apa yang kau dan Bundamu rasakan.”


Salina menggelengkan kepalanya.


“Atau kau bisa memilih pilihan lain.” Abrisam berusaha menenangkan emosinya.


“Pilihan apa?”


“Mereka akan mengakui perbuatan mereka, mengakui kecurangan mereka yang membayar jaksa dan oknum lainnya, dan menyerahkan diri mereka untuk dihukum seumur hidup atau menerima hukuman mati hingga membusuk di penjara, sesuai dengan apa yang mereka lakukan padamu dan kakakmu.”


Lagi terdengar suara nada permohonan dari dalam lubang itu.


“Lalu keluarganya?”


“Tidak akan terjadi apa-apa pada keluarganya, orang-orangku tidak akan menyentuhnya. Mereka


hanya akan hidup dalam penyesalan karena memilih pria-pria id1ot. Bagaimana? Pilihan satu atau pilihan kedua?”


“Apakah aku yang harus memilihnya?”


“Tentu saja, jika aku yang memilihnya, tentu saja aku akan memilih pilihan pertama.”


“Kau sama id1otnya jika kau melakukannya.”


“Lalu pilihan mana yang kau pilih?”


.


.


.


TBC~