You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Aku Menemukanmu.



“Duduk di belakang.” Titah Abrisam pada Liona yang langsung mengambil tempat di samping Abrisam, mengambil tempat Salina ketika keesokan paginya Abrisam dan Salina yang akan mengantar Liona pulang.


“Tapi, Kak, aku ingin duduk di depan.”


“Duduk-di-belakang.” Setiap kata yang mempunyai suhu minus yang membekukan.


Liona hanya bisa memberngut ketika ia akhirnya tak bisa melawan untuk pindah ke jok belakang dan membiarkan Salina duduk di samping Abrisam.


Akhirnya mobil itu melaju meninggalkan lokasi apartemen menuju rumah kediaman Hadran. Tidak banyak perbincangan yang terjadi sepanjang perjalanan mereka. Sesekali Liona nyeletuk untuk mendapatkan perhatian Abrisam, tapi gagal.


Yang paling memuakkan sepanjang perjalanan bagi Liona adalah melihat bagaimana Abrisam meraih tangan Salina, menggenggamnya, sesekali menciumnya, dan melihat bagaimana senyuman Salina merespon setiap tindakan romantis yang dilakukan Abrisam. Sementara setiap kali Liona bertanya, Abrisam selalu menjawabnya dengan dingin.


Menyebalkan!


Ya, juga menyebalkan untuk Salina, ia ingin sekali menendang Liona dari dalam mobil agar sandiwara menjijikan itu tidak terus-terusan. Oh, Salina berjanji akan menggosok punggung tangannya dengan sikat kawat.


Mereka sampai di rumah Hadran, kedatangan mereka telah ditunggu oleh Winda dan Hadran.


Windas seperti biasa selalu menyambut keduanya dengan senyuman lebar dan pelukan hangat, setidaknya pelukan pada Salina. Karena Abrisam selalu menolak sentuhan Winda.


“Keina mana, Tan?”


“Oh, masih tidur. Tadi habis menyusu.”


“Ayo masuk. Kalian sudah sarapan?”


“Tidak perlu, kami akan langsung pergi lagi, hanya mengantar Liona saja.” Tolak Abrisam dengan nada suaranya yang datar.


“Baiklah. Terima kasih ya sudah membiarkan Liona menginap di tempat kalian.” kata Winda.


“Ya, tapi tidak ada lain kali.” Ujar Abrisam. “Pastikan saja keamanan untuk Liona terjaga dengan baik, aku tidak mau dia menganggu malamku dengan istriku lagi.” Ia menatap tajam pada Hadran yang disambut dengan senyuman tipis.


Tanpa berbasa basi lagi, Abrisam menarik tangan Salina untuk pergi dari rumah. Salina hanya bisa tersenyum singkat dan melambaikan tangan pasrah pada Winda, tidak pada Hadran.


“Tidak disangka, gadis itu bisa mencairkan pria yang hatinya sedingin salju pada musim dingin.” Ujar Winda.


Abrisam masih menarik Salina, membuka pintu mobil dan mendorong Salina masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang cukup halus. Kemudian dia sendiri juga masuk ke dalam mobil di balik kemudi. Tanpa berkata apa apa lagi, ia membawa mereka keluar dari rumah Hadran.


“Apa kau tidak akan bertanya kemana aku akan membawamu?” tanya Abrisam.


“Tidak. Dari pada aku mendapatkan kecupan jahanammu lagi.” Ketus Salina sembari melihat keluar.


Abrisam terkekeh mendengar jawaban Salina yang selalu diucapkan dengan kata-kata kiasan yang sarkas, tapi entah bagaimana Abrisam mulai menyukai ke-sarkas-an gadis itu. Ia kemudian menekan tombol pada setirnya dan sebuah musik mengalun sendu malah cenderung terdengar sedih.


Salina langsung menengok melihat Abrisam dengan tatapan tak percaya.


“Kenapa melihatku seperti itu?”


“Lagu apa ini?”


“Tidak tahu, aku pernah mendengarnya, lalu aku mencarinya, dan aku menyukainya. Lagunya menenangkan.”


“Apa? Menenangkan? Wah, apa aku tidak salah dengar?”


“Kenapa memangnya?”


“Kupikir orang sepertimu lebih menyukai lagu-lagu keras, seperti musik rock, metal atau mungkin lagu pemujaan setan."


Abrisam hanya tersenyum tipis. “Kau terlalu banyak mendua-duga.”


.


.


.


Laju mobil melambat ketika mereka memasuki area sebuah perumahan, cukup jauh dari kota. Dari iklan yang pernah Salina lihat pada sebuah majalah, perumahan ini memiliki pemandangan alam yang indah. Pernah suatu kali, Salina ingin tinggal di perumahan ini, menulis pada balkon yang menghadap gunung sebagai pemandangan utama, sambil mendengarkan musik-musik kesukaannya dan segelas es kopi.


Mobil mereka berhenti di depan gedung marketing perumahan tersebut, Abrisam menyuruh Salina untuk keluar dari mobil. Dan memberikan kebebasan Salina untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan atau bisa ikut bersamanya untuk menemui seseorang.


“Aku ingin jalan-jalan saja, dari pada harus berpura-pura di depan orang yang kau temui.” Jawab Salina.


“Baiklah, terserah kau saja, tapi jangan keluar dari perumahan ini.”


Mereka keluar dari dalam mobil dan langsung melangkahkan kaki mereka pada arah yang berlawanan.


Perumahan itu bergaya minimalis dengan sentuhan gaya industrial yang sederhana. Permukaan jalanan disana naik dan turun, udaranya sejuk dan menyegarkan, benar-benar menenangkan pikiran. Salina terus berjalan menikmati pemandangan, sesekali ia mengambil pemandangan gunung yang tersaji oleh alam. Kemudian di uploadnya dengan caption: Menyegarkan!


Setelah puas memutari dan melihat-lihat sekitar perumahan itu, Salina berpikir untuk membeli makan dan minum di warung kaki lima yang berada di luar perumahan sambil menunggu pertemuan yang dilakukan Abrisam dengan siapa pun itu.


Tak lupa menengok kanan dan kiri sebelum menyebrang jalan dan sampai pada warung kaki lima yang ditujunya. Ia langsung memesan semangkuk soto mie dan segelas es teh manis. Sambil menunggu pesanannya, ia mengeluarkan buku catatannya dan pena, menuliskan sebuah ide yang muncul pada kepalanya.


Ah, akhirnya setelah kejadian di rumah sakit, otaknya seperti membeku, ide yang semula muncul untuk membuat cerita seputar rumah sakit pun telah lenyap. Idenya menghilang, inspirasinya suram. Tapi, setelah menghirup udara segar pegunungan, kabut dan asap yang menutupi otaknya pun tersingkap.


Jemarinya bergerak lincah menorehkan tinta di atas kertas, lancar mengalir ide yang tertuang. Garis besar dari sebuah cerita yang nantinya akan dia kembangkan telah tertuang dengan tulisan tangannya sampai semangkuk soto mie dan segelas es teh tersaji.


Dia tidak khawatir Abrisam akan kehilangan dirinya atau mencari keberadaan dirinya, ia yakin, ponsel baru yang diberikan pria itu pasti telah dipasang alat pelacak. Lagi pula, Salina tidak melanggar poin-poin kesepakatan mereka. Tidak ada pria yang mendekatinya di warung kaki lima itu.


Setelah selesai mengisi perutnya, Salina memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, ia melihat ada sebuah toko buku kecil.


Ah! Surga! Pekiknya senang dalam hati. Dengan langkah kakinya yang ringan, ia berjalan menuju toko buku itu dan tepat sebelum ia melangkahkan kakinya pada langkah berikutnya, dirinya terlonjak, dikejutkan dengan kejadian yang di luar ekspektasi.


Salina terjebak!


.


.


.


Abrisam menjabat tangan salah seorang marketing perumahan itu, setelah menyepakati dan menandatangani segala macam bentuk perjanjian, kesepakatan dan pembayaran salah satu rumah di sana. Juga serah terima sebuah kunci beserta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan akad.


“Sisa pembayaran akan aku bayarkan setelah urusan semua surat-surat rumah selesai.” kata Abrisam.


“Siap, Pak. Kami akan segera urus semua surat-surat yang berkaitan dengan-”


“Tawuran! Tawuran! Jangan ada yang keluar dari perumahan dulu!” Seorang keamanan masuk ke kantor marketing untuk memberitahukan keadaan.


“Gerbang depan sudah ditutup!” kata petugas keamanan itu pada rekannya.


“Tadi ada perempuan yang keluar dari perumahan.” kata yang lain.


“Siapa? Warga sini?”


“Bukan, sepertinya tamu. Dia pakai baju biru tua dan celana cokelat panjang.” Jelas rekannya yang lain.


Seketika Abrisam tersentak, teringat pakaian yang dipakai Salina adalah blouse warna navy dan cenala kulot warna crème. Abrisam langsung mengeluarkan ponselnya, menekan nomor ponsel Salina, tapi tidak ada jawaban, hanya terdengar nada sambung yang tak kunjung terjawab.


Ia langsung mengecek aplikasi pelacakan GPS yang sebelumnya sudah dipasang pada ponsel Salina. Entah bagaimana, sinyal kurang bagus. Butuh waktu untuk menyelesaikan loading membuat jantung Abrisam berdegup cepat. Ia takut.


Sambil menunggu loading berputar, Abrisam bergegas keluar kantor marketing, mengabaikan panggilan petugas dan pegawai di kantor marketing itu. Dia melihat sekeliling kantor itu, tidak terlihat sosok Salina dimana pun. Dari tempatnya berdiri, tawuran di luar gerbang sangat kacau dan mengerikan, seperti ada peperangan kaum barbar.


Abrisam kembali melihat ponselnya, lingkaran loading pun selesai, Abrisam membesarkan layar, mencari titik merah keberadaan Salina. Matanya membeliak, jantungnya berdegup semakin cepat. Perasaan takut yang pernah dia rasakan itu muncul kembali. Perasaan takut yang dia pikir dia tidak akan merasakannya lagi.


Dengan jantungnya yang berpacu, Abrisam berlari menuju gerbang.


“Pak! Pak! Jangan keluar!” kata petugas keamanan.


Dua orang berusaha menangkap dan menahan Abrisam, tapi tidak berhasil. Abrisam memberontak, sampai terpaksa menghajar dua orang keamanan yang menahan dirinya.


“Lepaskan aku! Istriku diluar!” Bentaknya. “Buka gerbangnya atau aku akan memanjat dan memancing orang-orang itu untuk masuk ke dalam perumahan ini!”


Ancaman itu berhasil membuat salah satu keamanan memberikan celah untuk Abrisam keluar.


“Lapor polisi!” Titah Abrisam sebelum menghilang di balik gerbang.


Di luar keadaan benar-benar mengerikan. Orang-orang yang berseteru saling melayangkan senjata-senjata mereka untuk saling melukai tanpa takut. Tapi, bukan orang-orang itu yang ditakutkan Abrisam, bukan keselamatan dirinya yang dia takutkan, melainkan keselamatan Salina, keberadaan Salina.


Abrisam terus mengikuti arah panah, menerobos kekacauan yang mengelilinginya, mendorong, terdorong, sesekali ikut menendang orang yang menghalangi jalannya, tak elak ia juga terkena pukulan balok kayu, tapi Abrisam tetap menegakkan tubuhnya dan menggerakkan kakinya, sampai matanya melihat di sudut sebuah toko yang tutup, seseorang meringkuk ketakutan.


Salina…


Ia semakin melebarkan langkahnya, mendorong semua orang yang menghalau jalannya hingga ia tiba tepat di depan Salina.


“Sal!” Abrisam berjongkok, dan langsung memeluk Salina, membawanya dalam dekapannya.


"Kau baik-baik saja! Kau baik-baik saja!"


“Abi… aku takut…” Suara Salina bergetar ketakutan.


“Aku disini, jangan takut. Ayo kita pergi dari sini.” Abrisam membantu Salina berdiri, dengan tubuhnya yang tinggi, ia melindungi Salina untuk keluar dari kericuhan dan kekacauan yang ada. Tengan lengannya, Abrisam mendorong orang-orang, melindungi Salina. Mereka terombang-ambing untuk bisa keluar dari kerusuhan itu.


“Akh!” Suara Abrisam tertahan. Salina dapat melihat wajah itu menahan sesuatu. Tapi Abrisam tetap melindungi Salina. Tak lama, Abrisam kembali meringis.


“Darah! Abi, tanganmu berdarah!” Pekik Salina.


“Jangan khawatir, kita keluar dulu dari orang-orang bodoh ini!”


Ternyata bukan hanya tangan, tapi dari keningnya, Salina melihat darah mengalir.


“Ayo cepat!” Abrisam terus membawa Salina hingga mereka akhirnya bisa keluar dari kerusuhan itu dan bersembunyi melindungi diri dari kejadian anarkis yang tengah terjadi. Mereka berlindung pada pelataran ruko yang tutup.


“Tanganmu, kepalamu, berdarah!” Pekik Salina begitu ketakutan dan panik.


“Aku tidak apa-apa.” Abrisam mengerjapkan matanya, menghalau darah yang melewati matanya. Ia menggunakan ponselnya menghubungi seseorang sambil memunggungi Salina. Setelah selesai, ia kembali menghadap Salina.


Gadis itu sedang melihatnya dengan mata yang basah karena air mata, ketakutan, panik, cemas semuanya tercampur jadi satu dalam sorot mata gadis itu.


“Kau… tanganmu kena bacok…kepalamu kena pukulan balok... bagaimana ini?”


“Tenanglah, aku tidak apa-apa.” Abrisam mendekati Salina, mengusap air mata gadis itu.


“Maafkan aku… maafkan aku…”


.


.


.


TBC~