
“Eh, Liona?”
“Kenapa? Kau tidak suka aku datang ke rumah apartemen Kak Abi?” Sahut Liona dengan suaranya yang sinis dan tidak menyenangkan.
“Apartemenku adalah apartemen istriku juga, bersikap yang baik pada Kakak iparmu, atau kau bisa bersembunyi di tempat lain.” Tegur Abrisam memperingatkan Liona.
Salina tersenyum ala memaklumi sikap saudara iparnya yang menyebalkan. “Ayo masuk, Liona.” kata Salina.
“Aku mau mandi dulu.” kata Abrisam sambil lalu.
“Aku akan siapkan bajumu.”
“Apa?”
Salina langsung mengamit lengan Abrisam dan menarik pria itu masuk ke dalam kamar. Begitu pintu ditutup, Salina langsung melepaskan tangannya dari lengan Abrisam, tangannya berkacak pinggang, matanya melebar menatap galak Abrisam tanpa sungkan.
“Apa maksudnya ini? Kenapa Liona ada disini? Jangan bilang dia akan menginap?”
“Wah, apa kau mulai nyaman berduaan denganku? Kau bahkan menarikku masuk ke kamar. Luar biasa.”
Salina meringis. “Aku lebih baik berduaan dengan gorila. Masalahnya adalah, hanya di apartemen ini aku tidak perlu berpura-pura denganmu. Kalau ada Liona, itu artinya…”
“Artinya kau harus bersikap manis dan manja padaku.” Potong Abrisam sambil tersenyum tipis.
“Apa kau sengaja membawanya kesini untuk menyiksaku?”
Abrisam terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Apa kau selalu saja berprasangka buruk padaku?”
“Ya. Karena memang tidak ada yang baik darimu.”
Mendengar jawaban Salina membuat Abrisam mendekatkan langkahnya pada Salina, terus melangkah hingga Salina tersudut membentur dinding, kedua tangan Abrisam mengunci sisi kanan dan kiri Salina. Mata tajamnya menghunus tepat ke dalam mata gadis itu, ia mesejajarkan wajah mereka, mencoba mengintimidasi gadis yang menatapnya balik tanpa takut.
“Benarkah tidak ada yang baik dariku?” tanya Abrisam dengan suaranya yang rendah mengerikan.
“Ya!”
Abrisam tidak memungkiri sebuah hasrat yang menginginkan dan mendorong dirinya untuk menyentuh lagi bibir lembut milik Salina. Abrisam perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Salina, semakin dekat, semakin dekat, semakin de-
Bug!
“Akh!” Abrisam meringis pelan seraya membungkuk mengusap tulang kering kakinya yang ditendang Salina dengan kuat.
“Cepat mandi! Jangan membuatku berduaan terlalu lama dengan sepupumu itu. Dia tidak menyukaiku, begitu pun denganku.” Salina bergerak hendak meninggalkan kamar itu, tapi tangannya dicekal oleh pria itu.
Wajahnya sudah kembali pada ekspresi biasanya, datar.
“Apa?!”
“Pastikan anak itu tidak masuk ke kamar kerja, atau sandiwara kita akan terbongkar.”
“Ah! Benar juga! Hah! Merepotkan saja!” Buru-buru Salina keluar dari kamar.
Salina segera mengunci pintu kamar kerja Abrisam yang telah beralih fungsi sebagai kamar tidurnya.
Huh, untung saja anak itu masih anteng di ruang tengah. Oke, aku harus bersikap tenang.
Setelah memastikan pintu kamar kerja itu sudah terkunci aman, Salina menemui Liona yang duduk bosan di ruang tengah, ia melirik tidak suka pada Salina ketika istri kakak iparnya itu berusaha bersikap ramah dan baik.
“Mau minum apa?” tanya Salina ramah.
“Tidak perlu kau yang siapkan, aku bisa ambil minum dan camilan apa pun yang aku mau.” Jawab Liona dengan sangat ketus.
“Oh, tapi bukan berarti aku membiarkan tamu menyiapkan minumannya sendiri.”
“Tamu?” Liona tertawa meremehkan Salina. “Kak Abi bilang aku bisa melakukan apa pun seperti di rumah sendiri.”
“Oh ya?” Salina menaikkan kedua alis matanya, menatap Liona dengan tatapan tak percaya, “Aneh sekali, padahal barusan saja suamiku memintaku mengawasimu agar kau tidak bertindak sesuka hatimu disini.” Senyum sinis menghiasi wajah Salina kali ini.
Liona memalingkan wajahnya kesal, ia melipat kedua tangannya di depan dada.
Salina ikut duduk pada sofa, mencari posisi nyamannya untuk menghadapi gadis itu dengan tenang.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu tidak menyukaiku, tapi coba kau bayangkan apa yang akan dikatakan dan dilakukan kakak sepupumu itu jika tahu kau sama sekali tidak menghormatiku sebagai istrinya.”
“Aku? Mengancammu? Tentu saja tidak. Aku hanya membuka pikiramu yang sepertinya ditutup oleh kebencian tak beralasan terhadapku.”
“Aku mempunyai alasan yang kuat untuk tidak menyukaimu.”
“Oh ya? Apa itu?”
“Karena kau telah merebut Kak Abi dariku!” ujar Liona dengan sorot matanya yang melihat Salina dengan tatapan sebal.
Merebut? Salina mengulang dalam kepala. Ambil saja pria itu kalau kau mau. Telan bulat-bulat kalau perlu, aku akan sangat mendukungmu! Huh, andai saja nyawa keluargaku tidak kupertaruhkan disini, dia akan menjadi sekutu yang paling kusukai.
“Wah,” Salina berpura-pura batuk karena berpura-pura kaget. “Merebut? Kau menyukai Abrisam?”
“Lebih dari sekadar suka. Aku mencintai Kak Abi dengan segenap hatiku, dan tiba-tiba kau wanita asing yang tidak jelas, langsung merebutnya, memupuskan semua harapan dan cintaku untuk Kak Abi. Kau pasti telah memeras Kak Abi, kau pasti mengancam Kak Abi, sampai-sampai Kak Abi terjebak pernikahan denganmu. Karena, kau sama sekali bukan tipenya!”
“Lantas seperti apa tipenya? Seperti kau?” Balas Salina dengan tatapan santai.
“Ya! Aku cantik dan stylish. Tidak seperti kau. Lihat apa yang kau kenakan itu? Kaus kebesaran, celana olahraga? Ya ampun! Kau sama sekali tidak cocok untuk Kak Abi-ku.”
Ambil saja pria itu untukmu, sungguh! Aku sama sekali tidak keberatan!
“Tapi tetap saja, kalian bersaudara. Apakah kau tidak aneh mencintai kakak sepupumu sendiri?”
“Bukan urusanmu aku merasa aneh atau tidak. Kau tidak tahu masa-masa yang telah kami lalui bersama. Kau tidak tahu sejarah kami. Jadi, kau diam saja.”
“Masalahnya, suka atau tidak, kenyataannya sekarang adalah aku istrinya. Jadi, aku tidak bisa diam saja jika kau menganggapku sebagai perebut pria yang kau cinta. Lagi pula, Abrisam tidak menyukaimu apa lagi mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihat dari caranya bersikap padamu? Kau hanya menginjak harga dirimu sendiri mengejar cinta kakak sepupu yang sudah menikah.” Jelas Salina panjang dan lebar dan masuk akal tapi sayangnya tidak diterima oleh akal Liona.
Sungguh, aku ingin menyeduh racun tikus sekarang untuk kunikmati sambil makan camilan!
“Tetap saja! Aku membencimu! Aku yakin pernikahan kalian tidak akan bertahan lama, karena kau tetap bukan tipe wanita yang Kak Abi suka.”
“Lantas seperti apa tipe wanita yang aku suka?” Suara Abrisam yang ngebas, dalam, dan dingin membungkam bibir Liona.
“Abi…” Salina berdiri, ia segera menghampiri Abrisam. Beberapa hari menyandang status sebagai istri dari pria itu, membuat Salina menyadari bahwa suara itu adalah tanda-tanda pria itu ingin menghajar seseorang yang telah membuatnya tersinggung.
“Liona dan aku hanya sedang bercanda. Jangan marah padanya.” Ujar Salina menenangkan Abrisam.
“Tidak perlu membela orang yang tak pantas dibela.” jawab Abrisam. Ia beralih melihat Liona yang duduk di sofa dengan ekspresi takut.
“Jika bukan adik sepupuku, aku sudah membuangmu di jalanan. Sekarang minta maaf pada istriku atau aku akan meminta sekuriti mengusirmu dari sini.”
“Tapi Kak-”
“Minta-maaf.” Nada rendah suara itu membuat siapa pun tidak mampu membantah.
Dengan sungkan Liona berdiri, menghampiri Salina, ia mengulurkan tangannya kemudian berkata, “Maaf, Sal.”
“Maaf Kak Salina.” Koreksi Abrisam dengan penuh penekanan sampai membuat Salina melirik pria itu tak percaya. Jika saja pria itu bukan Abrisam, Salina pasti sudah jatuh hati pada sikapnya yang begitu membela dan menghargai Salina di depan orang lain.
“Maaf Kak Salina.”
Salina menyunggingkan senyum, menerima uluran tangan Liona setengah hati.
“Bagus.” Abrisam bergerak meninggalkan dua gadis itu.
“Aku barusan saja ditelepon Om Hadran, kau belum bisa pulang hari ini, karena Om akan memeriksa kamar juga semua orang dan pengawalmu.”
“Apa?!” Respon Salina.
Abrisam tersenyum penuh arti, melihat Salina dan menyentuh pipi gadis itu dengan manis, kemudian berkata, "Malam ini kau tidur dengan Liona dulu, ya, sayang."
MENJIJIKAN!
.
.
.
TBC~