You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Kisah Salina Dari Cerita Memilukan



“Kak Abi? Mau kemana?” Galih bertanya begitu melihat Abrisam keluar kamar perawatan Salina.


“Jaga dia, jaga dia dengan nyawamu! Aku harus menemui seseorang.”


“Tapi Kak…” Abrisam langsung pergi begitu saja, meninggalkan Galih yang kebingungan di lorong. “Baiklah.”


Abrisam melangkah dengan langkah kakinya yang lebar-lebar, kedua tangannya masih mengepal kuat pada kedua sisi tubuhnya, dia memasuki mobilnya, tanpa banyak pemikiran apa-apa, Abrisam langsung melajukan mobilnya. Kini hanya ada satu tempat yang ada dalam pikiran Abrisam. Hanya ada satu hal yang akan dilakukan pria itu. Meski ia sendiri tidak mengerti untuk apa dia mengambil semua resiko demi gadis yang membencinya itu.


Tidak sampai satu jam, Abrisam sudah sampai pada Kota Hujan, ia langsung menuju alamat yang sudah pernah dia datangi. Sebuah rumah sederhana, tempat dimana dulu Salina tinggali bersama Bunda dan adiknya yang bernama Iris.


Abrisam berdiri tepat di depan pagar rumah, ia tidak tahu bagaimana cara untuk menyapa ibu mertuanya itu tanpa Salina. Ia bahkan tidak tahu bagaimana memulai percakapannya nanti.


“Aku tahu siapa kau.” Suara wanita dari sampingnya membuat Abrisam menoleh. Seorang wanita paruh baya tengah berdiri dengan belanjaan sayuran di tangannya, melihat Abrisam dengan tatapan tidak suka. “Mau apa kau datang?” Tanya Bunda dengan nada sinisnya.


“Bicara.” jawab Abrisam. Satu kata, namun mampu membuat Bunda tahu dan menyadari, akan adanya hal penting yang ingin dibicarakan oleh pria itu. Jadi, dengan menekan segala kekesalan hatinya, Bunda membukakan pagar dan mempersilahkan Abrisam untuk masuk, tapi tidak untuk duduk di dalam, Bunda hanya memperbolehkan Abrisam menunggu dan duduk di teras.


Abrisam sama sekali tidak keberatan. Karena sejujurnya ia cukup gugup, jadi udara terbuka mungkin akan sangat membantunya.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Bunda ketika ia kembali ke luar dan turut duduk pada kursi teras yang lainnya.


Abrisam menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum mengarahkan matanya untuk melihat Ibu mertuanya itu selama pembicaraan mereka berlangsung.


“Saya tidak tahu bagaimana saya harus memulainya, tapi pertama saya ingin memohon maaf dari Anda.”


“Maaf untuk?”


“Kesalahpahaman yang terjadi antara Anda dan Salina.”


“Apa maksudmu?”


“Kisah saya dan Salina di Bali, tidak sepenuhnya bohong. Kami memang berada disana, di hari yang sama. Tapi, sebenarnya kami tidak pernah bertemu sama sekali.”


“Apa?” Bunda mengernyitkan dahi. “Lalu untuk apa kalian membohongiku?”


“Untuk menyelamatkan nyawa Salina, Anda, Iris, bahkan saat itu juga untuk menyelamatkan nyawa Bagas.”


“Aku tidak mengerti.” Bunda menggelengkan kepalanya. “Apa hubungannya nyawa kami dengan kebohongan kalian?”


Abrisam kembali mengatur napasnya. Ini adalah penentuannya. Resiko yang akan dia ambil akan sangat besar, namun ia tetap melakukannya dengan menceritakan detail kejadian yang terjadi pada hari dimana Salina menyaksikan sebuah kejadian yang seharusnya tidak dia saksikan.


“Apa?” Bunda terkesiap sampai menutup mulutnya dengan tangan. “Kau… kau akan meng-mengeksekusi kami semua?”


“Ya, jika Salina membuka mulutnya pada media, atau polisi, atau pada siapa pun yang berpotensi membantu Salina. Karena itu saya ditugaskan oleh seseorang untuk mengeksekusi Salina dan semua yang berhubungan dengannya.”


“Astaga! Astaga!” Bunda memijat keningnya. “Jadi, jadi Salina sengaja melakukan semua itu demi… demi…”


“Demi menyelamatkan Anda, Iris dan Bagas. Karena orang yang menyuruh saya, tidak akan menyentuh orang-orang yang telah menjadi keluarga saya. Begitu Salina menikah dengan saya, secara otomatis Anda dan Iris menjadi bagian dari keluarga saya. Dan begitu Salina mengakhiri hubungannya dengan Bagas, maka pria itu tidak ada lagi urusan dengan Salina.”


“Lalu kenapa kau memberitahukannya padaku sekarang? Apa kau tidak takut aku bisa saja melaporkan kalian atas tuduhan pemaksaan? Percobaan pembunuhan?”


“Saya yakin Anda akan lebih bijak mengambil langkah. Jika, Anda sampai memberitahukan apa yang Anda ketahui hari ini, maka saya tidak akan lagi bisa melindungi Anda dan anak-anak Anda. Karena, saya dan keluarga saya pun akan menjadi target untuk dieksekusi juga.”


“Ya Tuhan… siapa orang ini? Siapa orang yang kau maksud ini? Mengapa ada orang sejahat itu? Oh Salinaku anakku…” Bunda tak lagi kuasa menahan air matanya.


“Maaf harus membuat keadaan sulit, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kalian. Maaf juga, saya tidak bisa memberitahukan siapa orang ini. Demi kebaikan bersama.”


“Kau pasti menjebak anakku, kan? Iya, kan?! Kau dan orang itu pasti menjebak anakku! Ya Tuhan…. Apa salahku? Apa salah anakku? Apa yang kau inginkan dari Salina-ku?” Bunda menangis sembari memukuli lengan Abrisam, lengannya yang terdapat jahitan. Nyeri yang dia rasakan pada bekas jahitannya itu tak seberapa dibandingkan nyeri dan pedihnya hati seorang Ibu yang telah mengusir anaknya tanpa tahu bahwa apa yang dilakukan anaknya itu adalah untuk menyelamatkannya.


“Lalu… lalu apa tidak bisa dilaporkan saja langsung ke polisi?” tanya Bunda setelah tangisnya reda dan dirinya lebih agak tenang.


Abrisam menggeleng. “Sudah banyak oknum yang bekerja sama dengannya, saya tidak tahu siapa yang bekerja sama dan siapa yang tidak. Karena itu, tidak bisa langsung melaporkannya begitu saja, jika salah langkah, semua usaha akan sia-sia.”


“Mungkin.” Jawab Abrisam dengan keyakinan yang tidak sepenuhnya.


“Ya Tuhan… Ya Tuhan… lalu bagaimana dengan Salina? Apakah dia baik-baik saja? Ya Tuhan, dia pasti begitu kesepian, tertekan, terluka, apa lagi aku juga ikut mengusirnya, membencinya. Oh Tuhanku…”


“Salina… pernah hampir menyerah. Tapi dia kembali, dia bertahan.”


“Oh syukurlah…”


“Saya harap, Anda bisa menjaga informasi ini agar tidak perlu keluar kemana pun, demi kebaikan bersama.”


“Apa pun aku akan lakukan demi anak-anakku, jika memang dengan menutup mulutku dapat menyelamatkan nyawa anak-anakku, aku akan melakukannya.”


Abrisam mengangguk.


“Bagaimana dengan Salina sekarang? Apa dia sehat? Apa dia makan dengan baik? Apa dia masih sering tidak bisa tidur?”


“Apa Salina sering tidak bisa tidur?”


“Ya, sejak kejadian itu, dia sering sekali tidak bisa tidur. Dia sering terbangun, menangis saat tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali. Apa masih seperti itu?”


“Saya… sayatidak tahu. Kami tidak tidur satu kamar.”


Bunda menggelengkan kepalanya, menatap sinis pada Abrisam yang duduk disebelahnya.


“Penikahan macam apa yang dijalani anakku. Ya Tuhan… maafkan Bunda, Nak.”


“Memangnya apa yang terjadi pada Salina sampai membuatnya seperti itu?”


“Oh, anakku yang malang…” Lagi, Bunda mengusap air matanya yang mengalir keluar dari sudut matanya. “Ketika SMA kelas dua, dia pernah dibully karena kelakuan ayahnya yang berzina dan tertangkap razia, kejadian itu masuk dalam berita dan berita itu menjadi awal anak-anakku dibully di sekolah.”


“Anak-anak? Salina dan Iris?”


Bunda menggeleng. “Aku mempunyai anak lelaki, kakaknya Salina dan Iris, namanya Faris. Dia sudah pergi ke surga, meninggalkan kami setelah pengorbanan yang dia lakukan demi adiknya. Demi keluarga ini. Oh, anakku yang malang…”


“Apa yang terjadi?”


“Para pembully itu, tiga orang, mereka membawa Salina ketika pulang sekolah, membawanya ke gudang yang tidak terpakai, mereka… mereka melecehkan Salina, mereka… mereka… mereka merenggut kesucian anak gadisku….” Air mata kembali meleleh. “Saat itu terjadi, Faris akhirnya menemukan Salina, tapi sayangnya Faris tidak selamat, mereka menghajar Faris, mengeroyok anakku hingga Faris merenggang nyawanya digudang itu. Keesokkannya aku dan polisi juga warga baru menemukan mereka dengan keadaan yang… oh Tuhan… kumohon… aku tak sanggup meneruskannya.”


Abrisam mengangguk. Mengerti. Kini, kepala dan hatinya begitu mendidih.


“Bajingan-bajingan itu… apa mereka dihukum?”


Bunda menggeleng lemah. “Hanya tiga bulan, hukuman yang sangat tidak adil. Mereka orang-orang kaya, Nak. Sementara aku sendirian, tanpa uang, tanpa suami, tanpa penghasilan.”


Abrisam semakin mendidih. Setan dalam dirinya terus membisikinya untuk membalaskan dendam atas apa yang pernah menimpa Salina dan atas kematian kakak iparnya yang tragis, juga atas hukuman yang tidak adil.


“Saya mungkin tidak tahu diri, tapi saya ingin meminta sesuatu pada Anda untuk Salina.”


“Tentu saja. Apa itu?”


.


.


.


TBC~