You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Kecemasan Salina.



Sudah lewat tengah malam, tapi plot yang diketik Salina pada laptop barunya belum juga rampung, pikirannya terlalu gelisah. Hatinya mengkhawatirkan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Ia mengangkat cangkir kopinya, tapi ternyata isinya sudah kosong. Ia tak menyadarinya.


Matanya kembali melihat pada jam yang tertera pada sudut layar laptopnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tapi tidak ada kabar apa pun dari Abrisam atau pun dari Galih. Ah, bahkan Salina juga tidak mengerti mengapa dirinya begitu gelisah dan merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Abrisam.


“Orang itu bahkan belum minum obat dan tidak bawa obatnya juga. Dasar Dementor!” Sungut Salina, ia bangkit dari kursi, untuk mengisi cangkir kopinya dengan air mineral. Sekalian ia menyomot satu buah pir dan langsung menggigitnya besar-besar.


“Huh, kenapa juga aku harus merasa khawatir? Biar kan saja dia melakukan apa pun yang dia mau. Terserah jahitannya terbuka lagi, atau terasa nyeri atau… hhhh, tapi bagaimana kalau dia terluka lagi? Ah, dia pandai berkelahi pasti. Eh, tapi kan tangannya sedang terluka… oke! Setop Salina! Kau tidak perlu menghawatirkannya!” Salina terus mengoceh sendiri. Kesal, khawatir juga bergelenyar setiap kali ingatan akan ciuman Dementor itu kembali terasa.


Jarinya bergerak menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sentuhan dan pagutan lembut yang Abrisam lakukan sebelumnya.


“Ah, sial! Ada apa dengan diriku!” Omelnya sendiri. “Terserah lah, terserah dia mau melakukan apa pun! Aku tidak akan peduli!”


.


.


.


Sementara di tempat lain, di sebuah bangunan yang belum sepenuhnya jadi, dan gelap, Galih dan Abrisam tengah memantau dan mengintai seseorang dari kejauhan.


“Jadi dia menyembunyikannya disini?” ucap Abrisam pelan.


Galih mengangguk. “Bagaimana, Kak? Kita sergap dia sekarang?” tanya Galih juga dengan suaranya yang pelan.


“Tunggu sebentar lagi, kita harus pastikan, dia tidak tahu kita disini. Setelah itu, aku akan menangkapnya dan kau ambil dokumen itu.” kata Abrisam.


“Bagaimana kalau dia melawan?” tanya Galih mengkhawatirkan kondisi Abrisam.


“Aku akan baik-baik saja, pastikan saja kau mendapatkannya.”


Galih menunjuk ke arah lain. Ada pria lain di sisi yang lain. Orang itu bertemu dengan orang yang diikuti oleh Abrisam dan Galih, mereka terlihat berbicara serius. Saling mengangguk, kemudian pergi ke arah yang berlawanan.


“Aku akan memancing keduanya, kau ambil dokumennya.” Titah Abrisam.


Galih mengangguk.


“Tunggu aku di mobil, jika satu jam aku tak datang, kau harus pergi.”


“Tapi, Kak-”


“Jangan protes seperti Salina, aku tidak mungkin menciummu.” Potong Abrisam.


Galih terkekeh pelan. “Tapi kau akan baik-baik saja, kan, Kak?”


“Sudah berapa kali kita beroperasi seperti ini?”


“Sering, tapi, ini kali pertamanya kau beroperasi dalam keadaan terluka.”


“Lukaku sudah dijahit dan baik-baik saja. Jangan berlebihan. Aku akan baik-baik saja.”


“Jika aku saja begitu khawatir, aku tidak bisa bayangkan seperti apa kekhawatiran Kakak Ipar.”


Abrisam menaikkan sebelah alis matanya. “Menurutmu dia akan khawatir dan menungguku?”


“Tentu saja, Kakak tidak lihat bagaimana Kakak Ipar menahan Kakak untuk pergi. Kalau dia tahu apa yang akan kita lakukan, aku yakin Kakak Ipar pasti akan melakukan hal gila untuk menggagalkan misi ini.”


Abrisam hanya tersenyum. Senyum penuh arti.


“Kau harus kembali, Kak. Kau sudah berjanji pada Kakak Ipar.”


Abrisam mengangguk.


Mereka saling menepuk bahu, kemudian dua pria itu berpisah untuk menjalankan misi mereka masing-masing.


Abrisam menyiapkan pistolnya di tangan, mata tajamnya cukup baik melihat dalam kegelapan, kewaspadaannya dipasang pada level tertinggi. Entah kenapa ia merasa gugup untuk kali pertamanya melakukan misi. Sebelumnya dia tidak pernah merasa gugup dan selalu yakin dalam setiap langkah kakinya, tapi kali ini berbeda. Dia bisa melawan dua belas orang seorang diri bahkan dengan tangan kosong tanpa takut kehilangan apapun, tapi kini entah bagaimana rasanya ada yang memberatkan keberaniannya. Ia takut jika salah langkah.


Bukan karena faktor tangan dan kepalanya yang baru saja dijahit, tapi yang dia takutkan adalah pikiran jika dia tidak selamat dan itu artinya keselamatan Salina pun akan berada di tangan Hadran, yang artinya, Hardan tidak akan segan untuk menghabisi Salina hingga keakar-akarnya.


Abrisam menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan, menenangkan dirinya, meyakinkan dirinya bahwa dirinya akan kembali berdiri di depan pintu apartemennya untuk melihat lagi tatapan sinis gadis itu.


Abrisam melihat punggung orang yang diincarnya sejak tadi, ia melangkah seringan angin, mendekati pria itu yang sepertinya juga tengah berjaga, pria itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Abrisam di belakangnya, hingga cukup mudah bagi Abrisam untuk menempelkan pistol pada kepalanya.


“Sial!” Gerutu pria yang ditodongkan pistol oleh Abrisam.


“Kenapa kau menyembunyikannya? Kenapa kau mengkhianati Hadran? Apa tujuanmu?”


“Om-mu itu tidak sebanding lagi dengan seseorang yang akan membayar kami puluhan kali lipat untuk bisa mendapatkan dokumen itu.” Pistol yang dipegang pria itu diangkat ke atas.


Pendengarannya yang tajam menangkap suara ketukan sol sepatu, langkah itu bukan langkah kaki milik Galih. Ia tahu bagaimana cara Galih berjalan. Abrisam tanpa kentara mengubah posisi kakinya dengan sikap yang siap.


“Siapa yang akan membayarmu?” tanya Abrisam dengan nada rendah dan dingin.


“Bukan urusanmu siapa yang akan membayarku, lagi pula, kau tidak akan selamat.” Pria itu mendengkus pada Abrisam, tepat ketika satu pria lain muncul dengan menodongkan pistol pada Abrisam dalam jarak lebih dari dua meter. Merasa dirinya berada pada posisi yang baik, pria itu menurunkan lagi pistolnya dan diarahkannya pada Abrisam.


Abrisam meliriknya, melihat jarak dan posisi pria itu.


“Kau tahu, seseorang pernah menjuluki aku sebagai Dementor, tokoh fiktif dalam sebuah novel yang mempunyai kemampuan menghisap kebahagiaan orang-orang disekitarnya. Tapi, aku rasa, aku lebih dari itu.”


Lalu dengan gerakan sangat cepat dan tak terduga, Abrisam memutar tubuhnya seraya menendang pistol pria yang berdiri lebih dekat dengannya, kemudian berlutut seraya melepaskan peluru pada pria yang berada lebih jauh. Pria itu pun juga melepaskan pelurunya. Hanya saja, peluru itu tidak mengenai Abrisam melainkan mengenai rekannya sendiri. Sementara peluru yang dilepaskan Abrisam mendarat sempurna pada kaki orang itu.


Abrisam memeriksa denyut nadi orang itu, masih berdenyut. Kemudian Abrisam berdiri


menghampiri pria yang melepaskan tembakannya, dan memungut pistolnya.


“Akkkh!” Orang itu mengerang kesakitan memegangi kakinya yang tertembak.


Abrisam mengarahkan pistol itu pada kepala pria yang tengah mengerang itu.


“Lihat apa yang kau lakukan? Kau lebih memilih membunuh rekanmu dari pada memberitahu aku siapa yang membayar kalian?”


Pria itu tetap mengerang.


“Katakan atau kau akan bernasib sama seperti rekanmu itu. Atau lebih buruk.”


“B-baiklah… akh! Seseorang menyebutkan nama kalau aku tidak salah… akh! Namanya Salina. Ya, katanya dia yang akan membayar kami, jika kami… jika kami berhasil membawa dokumen-dokumen semua tentang pekerjaan yang dilakukan Tuan Hadran.”


“Siapa yang mengatakan itu padamu?” tanya Abrisam dengan nada suaranya yang begitu dingin.


“Aku tidak tahu! Akh! Dia bicara melalui telepon dengan suara yang disamarkan… akh!”


Abrisam mencekal pegangan pistol itu dengan sangat kuat, sorot matanya begitu gelap, dia akan menembak orang itu jika saja Galih tidak datang tepat pada waktunya.


“Kakak!” Galih segera menghampiri Abrisam, menurunkan tangan Abrisam dan mencoba mengalihkan tatapan Abrisam dari pria yang sudah mengerang kesakitan.


“Jangan lakukan, Kak!”


“Berengsek!” Teriak Abrisam begitu frustasi. Ia menendang sebilah kayu dengan kuat.


“Apa yang terjadi, Kak?”


“Mana dokumennya?”


Galih memberikan dokumen itu dengan ragu-ragu.


“Kenapa?” tanya Abrisam kesal.


“Dokumen ini bukan dokumen yang menuliskan bisnis-bisnis illegal Tuan Hadran, Kak. Ini hanya dokumen palsu. Sepertinya seseorang sengaja memancing kita kesini.”


“Sialan!”


“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Kak?”


“Bereskan dua orang ini. Sebelum mereka mati dan menambah urusanku.”


“Baik Kak. Kakak mau kemana?”


“Aku harus menemui seseorang.”


.


.


.


TBC~