
Abrisam duduk sendiri menikmati suasana baru yang ia rasakan. Kehangatan.
Kehangatan dari sebuah keluarga yang telah lama tidak ia rasakan. Kerinduan akan kelembutan dan kasih sayang ibunya tiba-tiba saja menyapa relung hatinya. Ia mulai membayangkan bagaimana bahagianya ia jika saja saat ini juga ada ibunya disini, menikmati saat kebersamaan yang indah.
“Nak,” Suara Bunda yang tenang menarik Abrisam dari lamunannya. “Boleh Bunda duduk disini?”
Abrisam mengangguk, kemudian menggeser posisi duduknya, memberikan ruang pada Bunda untuk turut duduk bersama pada bangku besi yang mengisi lantai teras belakang. Di hadapan mereka, di tengah halaman belakang, Salina, Iris dan Galih sibuk memanggang daging, sesekali Abrisam memerhatikan Galih yang mencuri-curi pandang pada Iris.
Bunda menghela napas lega melihat kembali senyuman dan tawa pada wajah Salina juga Iris.
“Bunda mendengar berita tentang ketiga pelaku itu. Terima kasih. Bunda tidak tahu bagaimana cara Bunda harus membalas kebaikanmu. Tapi, Bunda sangat berterima kasih, kau telah memberikan keadilan yang tidak kami dapatkan saat itu.” Ucap tulus Bunda pada Abrisam dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Abrisam menyunggingkan senyumannya, ia ingin menyentuh punggung tangan Bunda, namun ia urungkan.
“Saya hanya melakukan apa yang diinginkan Salina saja.” Jawab Abrisam.
Bunda tersenyum, Bunda meraih tangan Abrisam kemudian menepuk punggungnya. “Jika bukan melaluimu, orang-orang itu masih hidup bebas tanpa menerima hukuman atas perbuatan mereka pada anak-anak Bunda.”
Ada kehangatan yang telah lama hilang. Kehangatan dari sentuhan seorang ibu. Kehangatannya sampai menjalar hingga ke relung hati Abrisam yang sepi.
“Meski pernikahan kalian diawali dengan hal yang tidak semestinya, Bunda harap setidaknya kau bisa menjaga anakku.”
Abrisam hanya mampu mengangguk.
“Boleh saya memberitahukan sesuatu?”
“Tentu saja, apa itu?”
“Mungkin dalam waktu dekat ini, keluarga saya akan mengadakan resepsi, tapi saya rasa, sebaiknya Bunda dan Iris tidak perlu datang, bukan bermaksud tidak sopan atau tidak menghargai, tapi-”
“Tapi, kami sudah terlanjur bilang pada orang itu kalau Bunda sejak awal tidak menyetujui pernikahan kami, jadi untuk menghindari kecurigaan yang membahayakan Bunda dan Iris, sebaiknya memang Bunda dan Iris jangan sampai bertemu mereka.” Potong Salina tiba-tiba tanpa Abrisam sadari kehadirannya.
“Jadi kau tahu siapa orang itu, Sal?” tanya Bunda.
Salina mengangguk. “Tentu saja.”
“Apa ini artinya orang yang kalian maksud itu adalah anggota keluarga Abrisam?”
“Ya.” Jawab Salina tanpa ragu, sampai membuat Abrisam tak habis pikir.
“Siapanya?”
“Sebaiknya Bunda tidak perlu tahu, nanti Bunda bisa stress. Yang penting sekarang adalah keselamatan kita. Aku dan Abrisam hanya perlu menjalani sandiwara ini saja, dan semuanya akan baik-baik saja.”
“Memangnya mau sampai kapan kalian bersandiwara dalam menjalani pernikahan ini? Memangnya masing-masing kalian tidak ingin menikah dan menjalani rumah tangga dengan cinta? Mencintai dan dicintai?”
Keduanya tidak ada yang menjawab. Entah bagaimana keduanya merasa ragu untuk menjalani pernikahan yang lain.
“Misalnya, kau dengan Bagas? Kasihan anak itu, dia juga pasti sama kecewanya seperti Bunda waktu itu? Kau pun juga pastis ama sedihnya.” Kata Bunda pada Salina.
Mendengar nama itu, Salina tertawa sinis, kemudian berkata, “Untuk hal itu, mungkin aku harus kembali berterima kasih lagi pada Abrisam, jika bukan karena Abrisam, aku tidak akan sanggup menghajarnya hingga babak belur.”
“Apa maksudmu?” tanya Bunda tidak mengerti.
Tanpa penjelasan panjang, Abrisam langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Bunda, vidio juga poto-poto Bagas bersama keluarga kecilnya yang bahagia yang sebelumnya sudah dikirimkan oleh Galih.
“Apa ini? Bagas dengan siapa ini?” tanya Bunda.
“Dengan anak dan istrinya. Dan mereka baru saja merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka ke lima.” Jelas Abrisam singkat, jelas dan padat.
“Ya Tuhan!” Bunda menutup mulutnya. Ia menatap sesal pada Salina. “Dia membohongi kita selama ini?”
Salina mengangguk.
“Jahat sekali!”
“Jadi, aku rasa, untuk kali ini, aku akan menjalani sandiwara ini saja dulu.”
“Sampai kapan?”
“Selamanya.” Abrisam yang menjawab. Ekspresi wajahnya serius. Tidak ada keraguan.
“Maksudmu?”
“Tidak akan ada perceraian dalam pernikahan ini. Karena jika itu terjadi, kalian semua akan berada dalam bahaya.”
“Oh… malangnya nasibmu, Nak.” Bunda memeluk Salina.
“Sal baik-baik saja, Bun. Lagi pula,” Salina berbisik kemudian. “Abrisam meskipun menyebalkan, tapi dia cukup baik pada Sal.”
Bunda pun melepaskan pelukannya, kemudian bertanya pada keduanya, “Jadi, apa kalian akan baik-baik saja menjalani rumah tangga tanpa cinta?”
“Kakak! Ayo! Dagingnya sudah matang!” Iris menginterupsi. Memenggal percakapan soal pernikahan yang kemungkinan tidak bisa dijawab oleh Salina pun Abrisam.
.
.
.
Salina melambaikan tangan mereka pada Bunda dan Iris, ketika mobil yang mereka tumpangi disupiri oleh Galih bergerak mulai meninggalkan depan rumah. Sementara di belakang Salina, Abrisam berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, namun bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
Setelah mobil pergi keluar dari area perumahan, Abrisam memutar tubuhnya, untuk kembali masuk ke dalam rumah, tapi bagian belakang kaus hitamnya ditarik pelan oleh Salina.
"Terima kasih." ujar Salina dengan seulas senyuman manis pada wajahnya.
Abrisam menelengkan kepalanya, sambil mengernyitkan dahinya sedikit, lalu berkata, "Sejak kemarin kau selalu mengucapkan terima kasih padaku, kau juga tersenyum padaku, telingamu memerah karenaku, kau tidur lelap dalam pelukanku, dan sekarang kau lagi berterima kasih sembil tersenyum manis seperti itu. Hati-hati kau bisa jatuh cinta padaku."
"Jadi, senyumku manis?"
Abrisam memutar bola matanya, "Lupakan, kutarik lagi kata-kataku, senyummu aneh." jawab Abrisam lalu meneruskan langkah kakinya ke dalam rumah. Meski begitu, bibirnya menahan senyuman.
Salina mengikutinya dari belakang.
"Omong-omong, ini rumah siapa?" tanya gadis itu.
"Kenapa kau selalu ingin tahu?"
"Malu bertanya sesat dijalanan." Salina berkilah.
"Rumah seseorang."
"Seseorang siapa?"
"Orang yang penting."
"Penting? Lalu, apa tidak apa-apa kau mengajak keluargaku barbeque-an di sini?" tanya Salina heran.
"Hm."
"Hm? Jawaban macam apa itu?"
"Bisakah kau berhenti bertanya dan bantu aku merapihkan piring-piring? Aku mau merapihkan halaman belakang." Abrisam langsung meloyor pergi begitu saja ke halaman belakang, sementara Salina hanya bisa menduga-duga tanpa menemukan jawaban sambil memasukkan piring-piring yang sudah dicuci tadi olehnya dan Iris, ke dalam rak piring.
Setelah memastikan keadaan rumah sudah rapih kembali, mereka pun meninggalkan rumah, beberapa kali Salina terlihat menguap, mungkin karena lelah, hari ini emosi gadis itu pasti terkuras. Dari menangis, tertawa, menangis lagi tertawa lagi. Tapi setidaknya tangis yang keluar hari ini adalah tangisan bahagia.
Abrisam tidak banyak bicara, dan membiarkan Salina akhirnya tertidur. Ia mulai menyetel lagu selow yang menenangkan untuk menemaninya menyetir mobil, menikmati moment, menikmati jalanan, hal sepele yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tapi sesuatu menganggunya. Alisnya bertaut melihat sejak keluar dari perumahan, ada sebuah mini van hitam dengan kaca gelap yang mengikutinya. Abrisam mencoba untuk tenang, dia berputar arah, untuk melihat apakah mobil yang ia curigai itu memang mengikutinya atau tidak. Tapi ternyata mobil itu terus mengikutinya.
"Tidak beres." Gumamnya. Sebelah tangannya langsung memastikan seat belt yang dikenakan Salina sudah terkunci dengan benar, lalu dia mulai menancapkan gasnya untuk kabur dari jangkauan si pengikut tak dikenal itu.
Dengan keahlian menyetir Abrisam yang tak diragukan lagi, menyalip sana sini seperti adegan di film-film, akhirnya ia bisa lolos dari kejaran si pengikut itu tepat ketika lampu hijau berubah merah. Abrisam melaju, sementara si pengikut itu terjebak pada jejeran mobil yang berhenti karena tidak adanya akses.
Beberapa menit kemudian Abrisam telah membawa mobilnya ke luar kota.
Dug!
"Aw!" Salina mengaduh ketika kepalanya terpentok pada jendela. Ia mengusap kemudian memicingkan mata. "Kita mau kemana?"
"Bersembunyi." jawab satu-satunya pria di sampingnya itu.
"Dari siapa?"
"Dari seseorang yang sepertinya disuruh untuk membuntuti kita."
"Kita diikuti? Kapan? Kok aku tidak tahu?"
"Tentu saja, kau tidur seperti orang dimantrai."
Salina memanyunkan bibirnya, bertingkah merajuk, tapi tidak mengelak. Ia benar-benar pulas bahkan tidak bermimpi sama sekali.
"Apa kau tahu siapa yang mengikuti kita?"
"Tidak." jawab Abrisam yang sebenarnya tidak dia yakini 100 persen. Dia mempunyai dugaan, tapi ia tidak yakin pasti dengan dugaannya.
"Apa mungkin itu orang suruhan Hadran?" Pertanyaan yang sesungguhnya Abrisam harap tidak tercetus dari mulut Salina. "Karena kau pernah bilang kalau orang itu mengirimkan orang-orangnya untuk memata-matai kita, bukan?"
Sebenarnya Abrisam tahu, Hadran sudah menarik kembali orang-orangnya semenjak kejadian dokumen palsu itu. Tapi, ia sengaja tidak memberitahukan pada Salina agar gadis itu tetap bertingkah manjah setiap kali keluar dari unit apartemen. Jadi, Abrisam pun tidak yakin, apakah orang yang mengikuti mereka adalah suruhan Hadran, atau orang lain yang mempunyai dendam pribadi padanya.
"Astaga!Bunda dan Iris? Bagaimana kalau mereka diikuti juga?" Salina mulai cemas.
"Tenang, aku sudah menghubungi Galih, keluargamu aman. Aku juga sudah menyuruh orang-orangku berjaga di rumah keluargamu."
"Ah, syukurlah." Salina mengusap dada.
"Lalu sekarang kita akan bersembunyi dimana?"
"Dirumah kenalanku?"
"Kenalanmu? Apakah gadis yang kau cintai itu?" Salina memicing curiga.
"Kalau iya, apa kau cemburu?"
"Ap-apa? Aku cemburu? Ha-ha! Lebih baik aku menelan biji salak dari pada cemburu padamu dan wanita itu. Aneh!"
.
.
.
TBC~