
"Aku akan kembali, tunggu aku di atas ranjang nanti malam." ujar Abrisam sambil dibantu mengenakan jasnya oleh Salina.
"Apakah aku harus memakai yang seksi-seksi?" Goda Salina.
Abrisam memutar tubuhnya, melingkarkan lengannya pada pinggang berisi Salina dan menatap dalam penuh kasih pada istrinya itu.
"Lebih oke tidak usah memakai apa-apa." Cengirnya.
"Abi! Ih, mesum sekali!"
Abrisam tertawa lalu mencium lama Salina sampai Galih harus mengetuk pintu untuk melepaskan pagutan bibir mereka.
"Maaf Kak, mengganggu. Hehehehe." Kekehnya. "Tapi sudah waktunya kita harus berangkat."
"Ish, kau mengganggu saja." Cibir Salina pada Galih.
"Maaf, ya, Kakak Ipar, nanti bisa lanjut part dua kok, setelah urusan kami selesai."
Abrisam hanya bisa memberikan senyuman lebar melihat Salina yang tak rela melepaskannya.
"Kumohon, kali ini diam lah di dalam rumah. Oke?"
"Oke!"
Kecupan sekali lagi mendarat pada kening Salina, kemudian dua pria itu pun meninggalkan unit apartemen.
Seiring dengan menghilangnya bahu kedua pria itu, senyuman pada wajah Salina pun perlahan memudar, dia menyentuh dadanya, sebuah perasaan tiba-tiba perlahan merayapi hatinya. Perasaan gelisah yang tak beralasan. Sebuah perasaan tak enak yang membuatnya sangat tidak nyaman.
"Semua akan baik-baik saja." katanya menenangkan dirinya sendiri. "Abi hanya sebentar, dia akan kembali. Aku akan menunggunya."
Salina pun mengesampingkan perasaan anehnya, mulai menyibukkan dirinya dengan berbenah, memasak, olahraga, dan diakhiri dengan menuliskan sebuah naskah baru, ide yang melintas dalam kepalanya ini sebenarnya sudah berhari-hari bertengger dalam kepalanya, namun karena hal-hal di luar kendali selalu saja terjadi, ide itu harus terjebak di dalam sana tanpa tersentuh.
Sallina menyiapkan secangkir kopi instan, setoples camilan, membuat dirinya nyaman di atas meja makan yang kembali menjadi meja kerjanya kali ini. Sebenarnya bisa saja dia menjadikan kamar kerja Abrisam dulu sebagai kamar kerjanya juga, namun pemandangan dari meja makan yang langsung menuju jendela besar itu sungguh membantunya untuk menemukan kata demi kata untuk membuat novelnya.
Kali ini, ia akan menuliskan sebuah kisah, kisahnya. Yang akan dia berikan judul: 'You Are My Romance Story'
***
Di tempat lain, di dalam mobilnya, Abrisam tersenyum membaca pesan yang barusan saja dia terima dari Salina. Gadis itu baru saja memberitahukannya bahwa ia akan menuliskan kisah romantis tentang mereka. Tak lupa Salina memberitahukan bahwa hal-hal lain yang menyangkut kejahatan real tidak akan secara gamblang Salina tulis. Ia akan merekayasa kisahnya agar menjadi kisah fiksi romantis berdasarkan kisah dirinya dan Abrisam.
Salina: Apa kau setuju? Apa kau keberatan jika kisah kita, aku jadikan landasan ideku?
Abrisam tersenyum. Galih melihatnya pun ikut tersenyum. Hatinya begitu hangat melihat bagaimana senyuman Abrisam kali ini sungguh berbeda dari senyum-senyumnya sebelum Abrisam bertemu dengan Salina. Senyuman pria itu kali ini begitu penuh dengan rasa, penuh dengan kehangatan.
Terima kasih, Kakak Ipar, kau telah membawa Kak Abi kembali.
Abrisam: Tentu saja aku tidak keberatan\, asalkan aku mendapatkan bagianku dari hasil penjualan kisahku. *LOL*
Salina: Astaga!
Salina: Bagaimana kalau... kau akan mendapatkan jatah dariku secara pribadi.
Abrisam: Setiap malam?
Salina: Hei! Otak Anda benar-benar harus dicuci!
Abrisam: Lol
Abrisam: Aku tidak keberatan sama sekali, lakukan lah apa yang membuatmu bahagia. Aku akan selalu mendukungmu.
Salina: Duh, manisnya!
Salina: Makin lope lope deh!
Abrisam tersenyum lebar, kelewat lebar malah. Ia bahkan sampai menempelkan ponselnya itu pada dadanya.
"Senangnya melihat orang yang jatuh cinta." Celetuk Galih.
Abrisam hanya menggaruk tengkuknya, merasa malu, tapi juga bahagia.
Perjalanan mereka pun akhirnya sampai tujuan. Sebuah gedung tinggi, dan beberapa pria-pria berjas hitam sudah menunggu kedatangannya di depan lobi.
"Wah, aku tidak tahu kalau kita ditunggu sampai seperti ini." Galih berujar.
Instingnya pun merasakan ketidaknyamanan. Ekspresi nyaman dan santainya serta senyumnya yang sumeringah sejak keluar dari unit apartemennya, mendadak sirna seketika.
"Hubungi orang-orang untuk berjaga dan siaga satu untuk Salina, Bunda, Iris juga Ibu." Titah Abrisam dengan sangat tiba-tiba hingga membuat Galih bingung.
"Siaga satu?"
Abrisam melirik Galih, dan di balas dengan sebuah anggukan tipis. Mereka pun meneruskan langkah mereka dengan diikuti orang-orang yang berjaga di belakang mereka.
Apa ini? Kenapa perasaanku sangat tidak beres! Ujar Abrisam dalam hatinya, bertanya-tanya.
Mata elangnya menyapu sekitar seraya tetap melangkah. Semua penjaga bersiap pada setiap titik keluar. Galih pun meningkatkan kewaspadaannya. Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan utama di dalam gedung itu. Ruangan besar yang hanya diisi beberapa perabot minimalis. Seorang pria duduk pada kursi kerja besarnya di balik meja.
"Selamat datang, Abrisam." Tuan Jo menyambut Abrisam sambil berdiri dari tempatnya. Abrisam mendekati meja Tuan Jo, sementara Galih berjaga tak jauh dari belakang Abrisam.
"Apa kabar, Tuan Jo?" Abrisam menjabat tangan Tuan Jo.
"Sangat baik, seperti yang kau lihat."
"Mau kusiapkan minum apa?" tanya Tuan Jo.
"Tidak perlu, terima kasih." Tolak Abrisam. "Aku yakin, kedatangan Anda ke kota ini, mengundangku datang bukan untuk minum teh bersama."
Tuan Jo terkekeh. "Itu lah yang aku suka darinya." kata Tuan Jo pada pria yang berdiri di sebelahnya. Pria berwajah sangar yang Abrisam tahu pria itu adalah tangan kanan Tuan Jo.
"Kau selalu to the point." Kekeh Tuan Jo lagi. Namun kemudian kekehan pria itu pun menghilang. Ekspresi seriusnya muncul, tidak ada senyuman. Ia kembali duduk, dan Abrisam pun dipersilakan untuk duduk.
"Kau pasti masih ingat dengan kesepakatan kita, bukan?" tanya Tuan Jo.
"Ya, aku akan berada disisimu, dipihakmu untuk menjatuhkan musuh-musuhmu."
"Ingatkan aku lagi, mengapa kau mengkhianatinya?"
"Karena dia mengkhianatiku lebih dulu."
Tuan Jo mengangguk. "Apakah aku bisa menjamin kau tidak akan melakukan hal yang sama padaku?"
"Ya, kau bisa menjaminnya. Selama kau juga tidak mengkhianatiku."
"Tentu saja. Aku orang yang bisa kau pegang kata-katanya."
Abrisam tidak menyahut. Ia terlihat cukup tenang, meski sebenarnya kewaspadaannya meningkat berkali-kali lipat.
"Tapi aku ingin tahu, apa kau masih ingat persyaratan kesepakatan kita?"
"Aku harus melepaskan titik lemahku."
"Apa kau sudah menyadari apa titik lemahmu?"
Abrisam terdiam. Ia tidak yakin dengan jawaban yang menggema di dalam kepalanya. Tapi sepertinya sejak awal, Tuan Jo sudah menyadarinya. Titik lemah Abrisam bisa menjadi panghalangnya. Abrisam harus sekuat karang, tidak bisa dan tidak boleh ada yang bisa mendistraknya. Abrisam bisa menjadi prajurit terhebatnya ketika ia melepaskan titik lemahnya itu. Masalahnya adalah, Tuan Jo tahu, Abrisam tidak bisa melepaskannya. Karena itu dia mengambil langkah lebih dulu untuk menghilangkan tali yang mengikat kebuasan Abrisam.
"Titik lemahku, aku pastikan tidak akan mempengaruhi diriku." jawab Abrisam.
Tuan Jo menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa mengambil resiko."
"Apa maksud Anda?"
Tuan Jo kemudian mengubungi beberapa orang sekaligus dan mengatur tampilan panggilan itu pada layar datar pesawat televisi di ruangan itu. Layar itu terbagi menjadi tiga. Dan masing-masing layar menampilkan wajah-wajah pria.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Tuan Jo.
"Siap Tuan. Kapan pun perintah Anda." jawab salah satu dari ketiga orang itu.
"Bagus, sekarang arahkan kamera kalian pada target kita."
Seketika itu juga kedua mata Abrisam membeliak sempurna, begitu pun dengan Galih, dia refleks bergerak namun anak buah Tuan Jo lebih kuat menahan Galih. Sementara Abrisam mengeraskan rahangnya, mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya.
"Aku akan membawa titik-titik lemahmu sampai kau menyelesaikan kesepakatan kita. Pastikan misi yang kuberikan kau selesaikan, jangan beraninya kau menikamku dari belakang, karena kau harus ingat siapa yang ada dalam genggamanku."
"Jika kau menyakiti mereka-"
"Aku tidak akan menyentuh apa lagi sampai menyakiti mereka, selama kau melakukan tugasmu sebagaimana mestinya. Pastikan saja kontrak dan kesepakatan kita kau jalani dengan sempurna. Aku tidak mau ada kesalahan. Entah nyawamu atau nyawa mereka yang akan kau pertaruhkan. Setelah selesai, kau bisa kembali pada mereka. Itu pun jika kau selamat. Nah, pastikan saja dirimu selamat."
Salina.... Ibu... Bunda... Iris....
Salina... tunggu aku... aku akan kembali.
.
.
.
TBC~