
Salina mengetuk daun pintu beberapa kali, hingga tak lama kemudian daun pintu di depannya bergerak dibuka dari dalam. Perempuan paruh baya yang berpenampilan sederhana itu pun muncul di hadapan Salina, menatapnya penuh heran.
“Salam, Ibu.” Sapa Salina dengan sopan, dan meraih tangan ibu Abrisam untuk kemudian mencium punggung tangan ibu.
Ibu Abrisam melihat-lihat ke belakang dan kanan kiri Salina, mencari seseorang.
“Abrisam tidak ikut, Bu.” Ucap Salina, seolah bisa mendengar pertanyaan di dalam kepala perempuan paruh baya itu.
“Apa dia mengirimmu?” tanya ibu dengan nada sinis, tapi membuka pintu lebih lebar untuk memberikan jalan Salina melangkah masuk ke dalam rumah. “Siapa orang-orang berbaju hitam di depan sana?”
“Pengawal.” Jawab Salina.
Ibu langsung melihat Salina. “Anak itu rupanya sudah membawa kesulitan padamu, kan?”
“Dari mana Ibu tahu Abrisam membawa kesulitan padaku?”
“Dia mempekerjakan pengawal-pengawal untuk menjagamu, apa lagi kalau bukan karena kau dalam bahaya jika sendirian?”
Salina tersenyum, kemudian mengikuti ibu mertuanya itu berjalan masuk ke dapur untuk membuat kue.
“Ibu sangat mengenal hidup anak yang sangat Ibu benci, ya?”
Perempuan itu berhenti melangkah. Salina pun ikut menghentikan langkahnya tepat di belakang ibu mertuanya. Ibu menggerakkan bahunya naik dan turun, gerakan ketika kau menarik napas dalam dan membuangnya, kemudian berbalik melihat Salina.
“Aku tidak membencinya. Dia anakku. Aku membenci pria itu, yang telah mengunci anakku dan memberikannya kegelapan.”
“Hadran yang Ibu maksud?”
Ibu mengangguk, kemudian menyuruh Salina duduk pada meja kursi meja makan yang sederhana.
“Orang itu adalah monster, dan dia menjebak anakku.”
“Apa yang terjadi sebenarnya pada hidup Abrisam hingga bisa terjebak bersama pria monster itu, Bu?”
Ibu membuatkan dua cangkir teh melati untuk mereka. Salina menerima pemberian cangkir itu dengan senyuman.
“Apa kau ingin tahu masa lalu Abrisam?”
Salina mengangguk.
“Kenapa? Untuk apa? Apakah hanya penasaran? Atau… kau jatuh cinta padanya?”
Salina terdiam. Untuk beberapa saat dia tidak dapat menemukan jawaban untuk pertanyaan Ibu.
Apakah aku jatuh cinta padanya? Apakah aku mencintai Abrisam? Atau aku hanya sekadar ingin tahu saja? Apakah aku…
“Aku akan menceritakan semua tentang kisah kami. Tapi, tergantung bagaimana perasaanmu padanya. Aku memang terlihat membencinya, kecewa padanya, tapi, aku tidak mau anakku hanya menjadi bahan bualan seseorang yang mengorek informasi tentangnya.”
“Aku… sejujurnya, aku pun tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang padanya. Apakah ini cinta? Apakah aku jatuh cinta? Ataukah ini hanya sekadar rasa balas budi atas kebaikannya padaku? Tapi, beberapa waktu belakangan ini, aku takut.”
“Takut? Takut apa?”
“Takut, jika suatu ketika dia menyerah dan melepaskanku. Takut jika dia menyuruhku pergi. Sekali dia pernah menyuruhku untuk pergi, tapi aku takut… aku takut kehilangannya. Aku tidak tahu perasaan apa ini, karena perasaan seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
“Jadi kau tidak akan meninggalkannya? Kau rela menjadi tawanannya? Terjebak dalam penikahan bersamanya?”
“Tawanan…” Salina menatap dalam pada cangkir di tangannya. “Entah sejak kapan aku tidak lagi merasa menjadi tawanannya.”
Mendengar jawaban itu, ibu Abrisam menyulam senyuman pada wajahnya.
“Kau mau kue? Aku baru saja selesai memanggang kue. Kita akan ngobrol panjang.”
***
Di tempat lain, Abrisam tengah bernegosiasi dengan seseorang yang teramat penting dalam dunia yang digeluti Abrisam semenjak dia memutuskan untuk berada di sisi Hadran.
Tuan Jo, begitu mereka menyebutnya.
Segala hal yang berkaitan dengan pergerakan organisasi illegal akan diketahui oleh Tuan Jo. Termasuk penyerangan tiba-tiba yang terjadi pada Abrisam dua minggu yang lalu. Meski sebenarnya segala informasi yang terkait bersifat rahasia, tapi kini Tuan Jo mempertimbangkan tawaran Abrisam.
“Itu kah yang akan kau berikan padaku?” Tuan Jo, kembali memastikan tawaran yang akan diberikan Abrisam padanya. Sebagai gantinya, Tuan Jo harus memberikan nama, motif dan segala hal tentang dalang yang melakukan penyerangan terhadapnya juga terhadap istrinya.
“Ya.” Jawab Abrisam dengan sangat yakin tanpa sedikit pun keraguan.
“Ya, aku tahu. Selama dia aman, aku akan melakukan apapun.” Ujar Abrisam.
“Baiklah,” Tuan Jo berdiri, menjabat tangan Abrisam. “Aku akan memberikan semua informasi yang kau butuhkan, tapi kau harus mempersiapkan dirimu.”
Abrisam menaikkan sebelah alis matanya, “Kenapa aku harus mempersiapkan diriku?”
“Karena setelah ini, kau harus melawan orang yang kau layani selama ini.”
***
Salina hampir tidak bisa bernapas mendengarkan kisah tentang pria yang sejauh ini Salina kenal sebagai pria yang luar biasa hebat dan kuat. Kisahnya pun pilu menyayat hati.
Bertahun-tahun silam, Ibu Abrisam dan Hadran adalah sepasang kekasih, sayangnya hubungan mereka tak direstui sementara Ibu Abrisam tengah mengandung anak dari Hadran. Tapi, bukannya memperjuangkan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya, Hadran malah meminta Ibu Abrisam menggugurkan kandungannya dengan memberikannya sejumlah uang.
Alih-alih digunakan untuk menggugurkan kandungannya, uang itu dipakai untuk menghilang, dan memutuskan untuk melahirkan hasil hubungannya dengan Hadran, yang ternyata Ibu melahirkan anak kembar, laki-laki. Ia menjadi orang tua tunggal, merawat dan membesarkan anak-anaknya seorang diri hingga ketika usia Abrisam dan Aidar empat tahun, Ibu bertemu dengan seorang pria yang tulus mencintai ibu, juga anak-anaknya seperti darah dagingnya sendiri.
Mereka hidup sederhana dan bahagia dalam kesederhanaan hidup mereka di desa. Hingga Abrisam dan Aidar tumbuh menjadi remaja-remaja yang tampan dengan karakter yang berbeda. Aidar begitu kalem dan pendiam, sementara Abrisam lebih terbuka dan berani. Mereka dua saudara yang saling menyayangi dan saling melengkapi.
Hingga suatu hari, Hadran mengetahui hidup mereka yang bahagia dan penuh cinta, sementara dirinya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dia cintai. Hadran pun menemui Abrisam dan Aidar, secara terang-terangan Hadran menceritakan masa lalu ibu kedua anak itu, dan mmeberitahukan bahwa ia adalah ayah kandung mereka.
Tidak seperti Abrisam yang menganggap omongan Hadran adalah omong kosong, sekali pun benar, ia tidak peduli. Aidar lebih terbawa perasaan. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya dan Abrisam selama ini adalah anak haram. Anak-anak yang tidak diinginkan sejak dalam kandungan. Bahkan sosok ayah yang selama ini begitu dia banggakan pun nyatanya bukan ayah kandungnya. Dan Ibunya pun menutupi semua kebenaran itu.
Sampai akhirnya, Aidar memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan seutas tali yang dia ikatkan pada ventilasi. Dan hanya meninggalkan sepucuk surat perpisahan juga permintaan maaf.
Ibu begitu terpukul, begitu pun dengan Abrisam. Ia kehilangan sebelah sayapnya.
Ibu menemui Hadran kemudian, meminta penjelasan pada pria itu kenapa ia harus menerangkan siapa dirinya? Bukan kah dulu dia tidak menginginkannya.
Sebuah penyesalan terucap dari bibir Hadran, penyesalan yang tidak memberikan getaran apa pun dalam hati Ibu. Ia sudah terlanjur membencinya.
Hadran pun meminta Ibu untuk kembali padanya, menikah siri dengannya dan meminta ibu untuk
meninggalkan suaminya. Kekayaan pun akan diberikan untuk Ibu. Tapi Ibu menolak
mentah-mentah.
Namun, kehilangan pun harus terjadi lagi, suatu ketika, ayah sambung Abrisam pun mengalami kecelakaan dan menghembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tak lama setelah itu, Ibu pun jatuh sakit, gagal ginjal akut yang harus segera ditindak, jika tidak, mungkin Abrisam juga akan kehilangan ibunya.
Namun, ia tidak mempunyai biaya sebagai anak dari keluarga seorang guru dan pembuat kue jajanan. Hadran pun datang bak seorang pahlawan. Ia menawarkan bantuan untuk menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat.
Tapi, ini adalah Hadran, dia tidak menawarkan bantuan dengan cuma-cuma, ada harga yang harus dibayar, yaitu, Abrisam harus bersedia tinggal bersamanya dan memanggilnya Papa. Abrisam harus mengakui bahwa mereka adalah keluarga.
Ibu tentu saja tidak menyetujuinya, Ibu memilih untuk menjemput ajalnya dari pada harus menerima bantuan bersyarat manusia tanpa hati seperti Hadran.
Tapi, Abrisam tidak bisa kehilangan lagi. Jadi, yang dilakukan Abrisam remaja saat itu adalah menyetujui persyaratan Hadran, meski tidak sepenuhnya. Karena sampai kapan pun, bagi Abrisam, Hadran bukan lah ayahnya. Ayahnya sudah berpulang dengan tenang. Jadi, Abrisam setuju untuk tinggal bersama Hadran, setuju mengakui bahwa Hadran adalah bagian dari keluarganya, tapi bukan sebagai Papanya, melainkan sebagai Om-nya.
Tentu saja Ibu sangat marah ketika sadar setelah operasi, bahwa yang menjadi pendonor ginjal untuknya juga yang membiayai seluruh operasinya adalah Hadran.
Salina menghembuskan napasnya, entah sudah keberapa kalinya ia melepaskan napas berat. Kisah hidupnya pilu. Kisah hidup Abrisam pun juga sama pilunya. Mereka sama-sama kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Abrisam harus melawan semua rasa kebencian dalam hatinya pada Hadran, karena pria itu lah yang menjadi penyelamat ibunya.
Salina pun dapat merasakan kedilemaan yang dirasakan Abrisam remaja ketika itu.
Ciiiiiitttt!
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak hingga membuat Salina tersentak.
“Ada apa?” tanya Salina pada pengawal yang menyupirinya.
“Mobil kita dihadang, Nona.”
“Dihadang?!”
.
.
.
TBC~