
Setelah mendapatkan beberapa buku, Salina membayarnya di meja kasir, dilihatnya Galih berdiri tak jauh dari meja kasir, mengawasi sekitar. Mungkin mengawasi jika ada pria yang berada dalam jarak tidak aman meski sebenarnya pria itu tidak ada maksud apa-apa padanya. Galih pasti sudah diperintahkan Abrisam untuk memiting leher pria asing mana pun yang berdiri dekat dengannya.
Menjengkelkan sekali, Salina benar-benar merasa tidak bebas. Sekalian saja masukkan Salina ke dalam asrama khusus perempuan!
“Kakak Ipar mau kemana lagi sekarang? Apa mau langsung balik ke apartemen?”
“Tidak. Aku rasa, aku butuh udara segar. Karena kejadian kemarin, semua ide menulisku lenyap. Aku butuh tempat yang tenang untuk mencari insprirasi.”
“Aku punya rekomendasi tempat yang pas untuk Kakak Ipar mencari inspirasi.”
“Benarkah? Apa Kakakmu itu sudah mengijinkan?” Sindir Salina.
“Kak Abi mengijinkan Kakak Ipar kemana pun selama tetap dalam pantauanku.”
“Aku seperti tahanan bersyarat." Keluh Salina. Baiklah, bawa aku ke tempat itu, aku bisa gila jika terus berada di dalam apartemen itu.”
Dua jam perjalanan menuju tempat yang dimaksud Galih, Salina mengerjapkan mata karena tertidur sepanjang perjalanan.
“Hotel? Kau membawaku ke hotel?” Salina melotot.
“Bukan hotelnya Kak yang kita tuju, tapi restoran di hotel ini mempunyai pemandangan dan suasanya yang sangat cocok untuk Kakak Ipar menulis, percayalah.”
“Apa Abrisam sudah tahu? Aku tidak mau dia salah paham yang nantinya malah mengancam keselamatan keluargaku. Aku sudah muak dengan ancamannya.”
“Sudah, Kak.”
Dan benar saja, restoran bintang lima yang berada pada lantai tiga hotel itu mempunyai pemandangan yang sangat indah, ada bagian balkon yang sangat direkomendasikan. Perbukitan sebagai pemandangan utama begitu memanjakan mata.
Pikiran Salina yang selama beberapa hari terakhir ini begitu kacau balau, hatinya yang begitu sesak dengan segala tekanan yang dia rasakan, kesedihan juga kebencian yang berputar-putar dalam dadanya untuk sesaat mendapatkan ketenangan berkat pemandangan yang Tuhan sajikan, semilir angin di balkon juga membantu menenangkan pikirannya.
Galih membiarkan Salina untuk duduk sendiri. Pria itu memilih untuk tidak menganggu Salina. Tapi ia tetap sigap menunggu sampai waktu yang dia ekspektasikan terjadi. Dan dia benar-benar berharap rencananya berhasil.
Makanan yang disajikan pun sangat lezat. Seketika Salina teringat dengan bunda dan Iris, adiknya. Setiap kali diajak makan di restoran, bunda selalu melarang Iris memesan makanan yang harganya mahal, karena takut uang Salina habis. Sementara Iris suka sekali mencoba makanan-makanan yang unik-unik dan justru kesempatan bagi Iris untuk memesan makanan yang dia mau tak peduli dengan harga.
Perasaan rindu dan sendu langsung menyelubunginya, ia begitu merindukan bunda dan adiknya. Jika Iris dibawa ke tempat ini, adiknya itu pasti langsung sibuk berswafoto, sibuk memotret makanan yang disajikan cantik dan unik.
Tes…
Setetes air mata keluar tanpa peringatan dari sudut matanya.
Salina menyuap makananya dengan air mata yang terus keluar. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dia keluarkan.
“Pa… Pa… kesini!” Seorang anak kecil perempuan bergaun cantik berlari di balkon tanpa melihat ke depannya sampai akhirnya anak perempuan itu menubruk kursi Salina dan terjatuh.
“Akh!” Pekiknya.
Salina segera melap air matanya, dan membantu gadis kecil itu berdiri.
“Erina, hati-hati.” Suara pria yang memanggil anak kecil yang bantu Salina membuat Salina mendongak dan terkejut melihat siapa pria yang langsung dihampiri gadis kecil tadi sambil dipanggil “Papa!”
“Bagas…”
“S-Sa-Salina…”
“Mama!” Gadis kecil dalam gendongan Bagas juga merengek pada seorang wanita anggun yang menyusul Bagas.
“Ada apa sayang?” tanya wanita itu lembut pada gadis kecil itu. “Ada apa Mas? Kenapa Erina nangis?”
“Maaf,” Salina menginterupsi. “Kalian orang tua gadis ini?” tanya Salina.
“Iya. Maaf, apa anak kami mengganggu Anda?” jawab wanita itu dengan sopan.
Deg!
“T-tidak. Anak kalian hanya tidak sengaja terjatuh menubruk kursiku.”
“Oh, maafkan, Erina begitu bersemangat untuk makan di balkon. Maafkan anak kami.”
“Tidak apa-apa.” Sahut Salina. “Kalau boleh tahu, berapa usianya?”
“Empat tahun. Dan hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Makanya kami ingin ajak Erina menginap di hotel dan makan di restoran ini.”
“Kelima?” Salina menggerakkan kedua alis matanya ke atas. Ia melihat Bagas dengan tatapan tak percaya dan sakit hati. Tapi melihat bagaimana sikap diamnya Bagas dan sikap ramahnya wanita itu, Salina dapat menebak apa yang telah terjadi selama ini. Istrinya itu pasti tidak tahu kalau selama dua tahun terakhir suaminya menjalin hubungan dengannya dengan mengaku sebagai bujangan.
“Selamat. Semoga kalian menjadi keluarga yang berbahagia.” Ujar Salina, menahan segala gejolak emosi yang begitu menyesakkan dadanya. Kedua tangannya mengepal mengepal meremas kulot yang dikenakannya.
Miris sekali nasibku…
“Kaka Ipar…” Galih melihat Salina ketika Salina meninggalkan restoran begitu saja dengan ekspresinya yang tidak dapat Galih gambarkan. Ia membayarkan pesanan Salina juga dirinya ke kasir, setelah itu segera menyusul Salina.
Sempat khawatir Salina menghilang dari pantauannya, tapi rupanya Salina tengah berjongkok di depan pintu lift. Tatapan matanya kosong menatap lantai.
“Kak… apa kau baik-baik saja?”
Salina menegok, melihat Galih dengan tatapan sendu. “Apa mabuk bisa membuat pikiranmu tenang dan terlepas dari semua hal yang menyakitkanmu?”
“Bisa, tapi hanya sesaat. Karena esoknya, Kakak akan sakit kepala dan mual.”
“Bagus. Bisa kau bawa aku ke tempat yang bisa membuatku mabuk? Mabuk berat, kalau perlu sampai mati.”
.
.
.
Musik Dj yang berdetum-detum, pencahayaan yang tidak stabil dan keramaian yang tidak disukai Salina, tapi ditempat itu lah kini Salina berada, duduk pada salah satu bar stool, menenggak minuman berarkohol untuk gelas ke limanya. Sesekali ia tertawa mencemooh jika melihat sepasang wanita dan pria yang bergaya mesra ditempat umum. Kemudian ia meratapi kembali nasibnya. Entah sudah berapa kali Galih menjadi perisai Salina setiap kali ada pria asing yang berdiri dekat dengan Salina, entah karena sengaja atau pun tidak sengaja.
Salina sudah tak lagi peduli.
Hatinya saat ini begitu hancur. Hancur berkeping-keping. Dalam beberapa hari ini ia begitu menyalahkan dirinya, menyesali semua kesedihan yang dia berikan untuk orang-orang yang dia kasihi. Begitu terluka ketika dia harus berpura-pura tidak mencintai Bagas demi menyelamatkan juga nyawa Bagas, berpura-pura mengkhianati pria yang selalu mengisi setiap rongga hatinya. Tapi kenyataan menusuknya bertubi-tubi.
Bagas, pria yang selama ini ia yakini dapat memberikannya kebahagiaan, pria yang mematahkan pemikirannya bahwa semua pria itu berengsek, ternyata menjadi pria yang telah menusuknya begitu kejam.
Bukan hanya sekadar pengkhianatan atas perselingkuhan yang dilakukan Bagas terhadapnya, tapi justru Bagas menjadikan Salina sebagai wanita simpanannya selama dua tahun hubungan mereka. Rupanya selama ini Bagas adalah pria yang telah menikah, telah mempunyai anak, dan pernikahan mereka bahagia terbukti dengan perayaan hari jadi pernikahan mereka yang ke lima.
“Bodoh sekali aku!” Salina mengutuk dirinya sendiri. Ia terus memesan minuman, tidak peduli bagaimana Galih berusaha mencegahnya, ia tetap menenggak minuman itu.
Tangannya bergerak hendak mengangkat gelas ke enamnya tepat ketika sebuah tangan lain menahannya.
“Eh! Lepas! Siapa kau?!” Salina menepis lemah tangan yang mencekal tangannya dan dengan kasar merebut gelas itu dari tangan Salina. “Oh! Kau! Penyelamatku! My hero!” Salina merentangkan tangannya kemudian bertepuk tangan sambil tertawa-tawa tidak jelas.
"Hei, hei, lihat! Ini suamiku! Pelindungku! Penyelamatku!" Racau Salina pada orang-orang yang melewati mereka dan tidak menghiraukan ocehan Salina yang mabuk berat.
“Apa yang
kau lakukan?” tanya Abrisam dengan suara datarnya.
“Aku? Aku sedang menikmati kesengsaraanku, kepedihanku, kesedihanku, kehancuranku. Aku sedang menikmatinya! Hahahah! Bartender! Satu gelas lagi!”
“Jangan bodoh! Kau bisa sakit!” Abrisam menurunkan tangan Salina yang memanggil bartender dan menyuruh pergi bartender yang datang karena panggilan Salina barusan.
“Sakit? Hahaha! Aku tidak peduli! Aku akan mabuk sampai pingsan, kalau perlu sampai mati. Bagus, kan? Kau tidak perlu mengabisi keluargaku karena aku akan mati karena keracunan alkohol, kematianku tidak akan dicurigai siapa pun. Semuanya akan aman. Kau, Om-mu, keluargaku, bahkan si bajingan itu…. Hiks… hiks… jahat sekali dia… hiks!” Dari emosi berubah menjadi tangis yang tersedu-sedu sambil memukuli lemah dada Abrisam dengan tinjunya yang tidak terasa apa-apa.
Abrisam tidak berusaha menepis omongan Salina yang melantur, lagi pula tidak ada yang memperhatikan dan menganggap serius omongan seorang gadis yang mabuk.
“Siapkan mobil.” Titahnya pada Galih. Kemudian dengan sekali gerakan, Abrisam menangkap kedua tangan Salina yang memukuli dadanya lalu mengangkat tubuh gadis itu di depan dadanya, membawanya keluar dari kelab yang telah membuat gadis itu kehilangan akalnya.
Setibanya di depan kelab, Salina berbisik pada Abrisam.
“Abi…”
“Hem?”
“Aku… ingin…”
“Ingin apa?”
“Muntah…. Hooooeeekkkk!”
.
.
.
TBC~