You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Tempat Tinggal



“Nah, ini adalah kamar Abi.” Ujar Winda ketika mereka sampai di kamar pada lantai tiga rumah itu. Satu-satunya ruangan yang berada di lantai tiga hanya kamar Abrisam, padahal di lantai dua, begitu banyak kamar kosong, tapi pria itu mempunyai kamar yang menyendiri.


“Apa Abi tinggal disini juga?” Bukan kah dia punya apartemen?


“Ya, terkadang dia menginap disini beberapa hari, lalu tinggal di apartemennya, kadang tidak tidur disini, tidak juga di apartemennya, aku tidak pernah bertanya apa-apa padanya. Kau pasti tahu, anak itu sikapnya sangat dingin, juga misterius, tidak banyak bicara, sekalinya bicara membuat semua orang merinding.”


Salina hanya tersenyum tipis.


“Apa kalian akan menginap disini? Atau langsung ke apartemen?”


“Tidak tahu, terserah Abi saja.”


“Baiklah, aku akan meminta Bik Muti mengganti seprai jika kalian menginap disini.”


Salina hanya mengangguk. Ia tidak peduli.


Mereka kembali ke lantai utama, menurut Salina, rumah ini terlalu besar dan dihuni dengan terlalu sedikit manusia. Tidak banyak yang tinggal di rumah sebesar itu. Hanya ada beberapa pengurus rumah, bodyguard – yang Salina yakin tidak pernah tidur – di luar, Liona, Hadran dan Winda saja, ditambah Abrisam sebagai penghuni tidak tetap.


Salina hanya mengela napas singkat begitu kembali bertemu dengan Liona. Ketika Winda memperkenalkan Salina sebagai istri Abrisam, gadis muda itu langsung memasang ekspersi terjuteknya. Sebagai seorang penulis, Salina tahu apa arti tatapan mata Liona ketika melihatnya, yaitu tatapan persaingan yang tidak suka.


Abrisam, Hadran dan Galih pun datang, dan ikut duduk di ruang keluarga. Abrisam seperti biasa, dengan wajah sedingin es balok. Hadran dengan ekspresi pria berwibawa dan bijaksana, sementara Galih dengan senyum ramahnya.


“Abi, apa kalian akan menginap disini malam ini?” tanya Winda.


“Tidak, kami akan langsung ke apartemen.”


“Kenapa begitu? Tradisinya kan, setelah pernikahan, paling tidak pengantin harus tinggal di rumah orang tuanya selama beberapa hari.” Winda berkata sambil mengangkat cangkir tehnya.


“Tradisi siapa yang kau bicarakan?” tanya Abrisam dengan nada dingin, sampai membuat Salina melirik.


“Biarkan mereka menentukan sendiri, Sayang.” Hadran dengan nada bijaknya menengahi. “Mereka anak-anak muda, tradisi bukan hal yang wajib lagi bagi mereka.”


Salina menggeleng tak percaya, Hadran bicara begitu pengertian dan bijaksana, padahal Salina sendiri masih belum bisa melupakan tatapan mata tajam dan sadis pria itu ketika membunuh seorang pria dan ketika ia menyuruh Abrisam membunuhnya.


“Kami akan pergi sekarang.” Abrisam bangkit berdiri, begitu pun dengan Salina.


Galih pun membungkuk sebentar pada Hadran, lalu ikut menyusul Abrisam dan Salina yang melangkah keluar rumah.


“Kau bisa pulang sekarang, Gal.” ujar Abrisam kepada Galih.


“Baik, Kak.” jawab Galih. “Selamat untuk pernikahan kalian.” Cengiran lebar menghiasi wajahnya. Dan sebelum Abrisam menyemprotnya dengan hujaman anak panah, Galih sudah langsung ngibrit menuju mobilnya sendiri dan pergi meninggalkan rumah.


“Masuk.” Titah Abrisam pada Salina menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Salina menurut tanpa bicara.


Ia tidak tahu dimana yang lebih baik. Berdua dengan si darah dingin di apartemen, atau tinggal seatap dengan Hadran dan keluarganya yang sepertinya tidak tahu kemunafikan suaminya.


“Apa Winda dan Liona dan semua orang di rumah itu tahu apa yang Hadran lakukan? Misalnya seperti membunuh orang atau menyuruh keponakannya untuk membunuh seorang gadis beserta keluarganya?” tanya Salina tiba-tiba, karena dia memang penasaran, tapi dia juga tidak bisa menahan untuk tidak menyindir Abrisam.


“Apa kau diijinkan untuk bertanya?”


“Aku sedang tidak meminta ijinmu. Aku sedang bertanya, karena jawabanmu akan menentukan sikapku pada Winda dan Liona.”


“Apa maksudmu?”


“Maksudku, jika istri dan anaknya tahu apa yang dilakukan Hadran sesungguhnya, aku tidak perlu berpura-pura baik pada mereka. Tapi jika mereka tidak tahu apa-apa, maka aku akan berpura menganggap suaminya adalah orang suci.”


Abrisam terlihat berpikir, ia menengok Salina sebentar lalu fokus kembali menyetir seraya menjawab, “Mereka tidak tahu. Tidak ada yang tahu kecuali aku dan Galih.”


Salina menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


“Baiklah, kalau begitu aku akan berpura-pura, tapi kau harus menepati janjimu, kau atau siapa pun tidak ada yang boleh mencelakai keluargaku.”


“Kau bisa bisa memegang janjiku.”


“Seperti janjimu yang juga akan membunuhku dan keluargaku jika aku membocorkan bejatnya kalian ke polisi?”


“Ya.”


.


.


.


Salina melangkah mengikuti Abrisam di belakangnya ketika mereka memasuki apartemen yang tadi sempat Salina singgahi untuk mengganti pakaian. Kali ini, Salina membawa serta kopor, ransel dan tas laptopnya sendiri. Tidak ada adegan pria gentleman mebawakan kopor dan tas wanitanya.


Nasib!


“Disini hanya ada satu kamar, dan satu tempat tidur.” kata Abirsam seraya melepaskan sepatunya.


“Sampai kapanpun aku tidak akan tidur satu ranjang denganmu.” Ujar Salina tegas.


“Bagus! Kalau begitu kau bisa tidur di sofa atau di lantai. Terserah kau.” Sahut Abrisam seraya meninggalkan Salina yang masih berdiri di tengah ruangan dengan segala macam atributnya.


Lalu dimana aku harus menyimpan semua barang-barangku ini?


Setelah mengecek sekeliling ruang apartemen itu, kecuali kamar Abrisam dan satu ruangan lagi dengan pintunya yang terkunci, akhirnya Salina memutuskan untuk meletakkan segala harta bendanya di ruang cuci.


Menyedihkan sekali nasibku ini! Apakah aku akan selamanya seperti ini? Tidak!


Salina berjongkok di depan kopornya sendiri, kedua lengannya memeluk lututnya, ia menguatkan diri agar tidak menangis. Tidak, dia tidak boleh menangis.


Pagi tadi, bisa saja nyawanya sudah melayang menuju dunia lain, dan keluarganya juga bisa menyusulnya. Tapi, siapa yang menyangka, nyawanya masih berada di dalam raganya, keluarganya aman tak disentuh, meski kini kenyataan sungguh perih dan menyakitkan untuknya.


Bundanya marah, mengusirnya pula, ia bahkan belum sempat bertemu dengan adik kesayangannya, cintanya dengan Bagas harus kandas dan berakhir begitu saja, kini ia menjadi tawanan hidup seseorang yang berhati dingin. Entah sampai kapan.


“Hei! Apa yang kau lakukan berjongkok disana?” Suara berat Abrisam menyentak dan mengejutkan Salina.


“Meratapi nasibku. Apa lagi?”


“Aku tidak peduli dengan nasibmu. Yang kutanya, kenapa kau berjongkok disana dan kenapa semua barangmu ada disana?”


“Lalu aku harus menyimpan barang-barangku dimana? Di dalam kulkas?” Salina berdiri, sedikit terhuyung karena kepalanya pusing, mungkin karena belum makan juga minum sejak pagi.


“Apa kau sadar, kau mungkin membawaku ke apartemenmu yang mewah, tapi sejatinya sekarang aku adalah seorang gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal dan keluarga.” Salina menatap tajam dan berani pada Abrisam.


Pria itu menatapnya balik, ia sudah mengganti pakaiannya lebih kasual meski tetap dengan warna hitam dan hitam.


“Kau bisa tempati ruang kerjaku.”


“Aku tidak butuh belas kasihanmu.”


“Aku sedang tidak berbelas kasih padamu. Aku tidak suka tempat tinggalku berantakan dengan barang-barang yang tidak ditempat yang semestinya.”


“Lalu ruang kerjamu adalah tempat yang semestinya?”


“Tidak juga, tapi setidaknya, ruang kerja itu ruangan yang tertutup, barang-barangmu yang berantakan itu tidak akan terlihat oleh pandangan mataku.”


“Tapi-”


“Jangan membantah. Atau aku akan membuang semua barangmu, dan selamanya kau hanya mempunyai satu pakaian yang kau pakai saja.”


Hanya mendengkus kesal yang bisa dilakukan Salina, ia tahu, setiap ancaman yang dilontarkan Abrisam bukanlah ancaman kosong, pria itu akan benar-benar melakukannya.


“Baiklah!”


“Ikut aku sekarang. Dan bawa barang-barangmu.”


Salina hanya bisa bersungut ria mengikuti langkah panjang Abrisam menuju ruangan yang tadi pintunya terkunci seraya menyeret kopornya dan memanggul dua ransel pada punggungnya.


Abrisam membuka pintu ruangan itu, menyalakan lampu dengan saklar yang berada tepat di sebelah pintu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambil beberapa barang dari meja kerjanya, dokumen dari dalam laci mejanya dan beberapa dokumen lainnya dari dalam lemari buku di belakang meja kerjanya. Ia keluar dari kamar kemudian datang lagi, tanpa mengucapkan apa-apa, Abrisam kemudian mengosongkan sebuah lemari yang ukurannya tidak terlalu besar, isi dari lemari itu ia masukkan ke dalam kardus kosong yang dibawanya.


“Kau bisa masukkan barang-barangmu di dalam lemari itu.” katanya pada Salina.


Salina hanya mengangguk. Tidak yakin apakah ia harus berterima kasih pada pria itu apa tidak.


“Setelah selesai, kutunggu kau makan malam.” ujar Abrisam.


“Aku tidak-”


“Jangan membantah, banyak hal yang harus kita bicarakan. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Kuberi kau waktu satu jam.” Abrisam keluar dari ruangan itu meninggalkan Salina yang masih terpaku berdiri di tempatnya.


Apa dia tidak akan meracuniku?


.


.


.


TBC