You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Sampai kapan?



Satu tahun sudah berlalu sejak kami dijemput oleh orang-orang suruhan Abrisam, siaga satu, kata mereka. Aku tidak tahu dimana kami, yang aku tahu, kami berada di sebuah pulau, pulau terpencil, yang sepertinya masih wilayah Asia, tapi tidak tahu Asia bagian mana. Para pengawal melarang kami berinteraksi dengan penduduk lokal, atau berjalan-jalan tanpa pengawalan, meski katanya kami aman di pulau ini.


Satu tahu tanpa kabar dari Abrisam atau pun Galih. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Apakah sehat? Apakah baik-baik saja? Atau... ah, tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk, karena pikiran akan menjadi sugesti dan aku tidak mau sugesti burukku menjadi nyata.


Abrisam baik-baik saja! Dia hanya harus menyelesaikan apa pun yang harus ia selesaikan.


Tapi, aku tidak menutupi lagi perasaanku. Iris, Bunda, Ibu bahkan semua pengawal juga pengurus rumah tempat kami tinggal di pulai ini tahu bagaimana aku sangat merindukan Abrisam, suamiku. Aku bahkan merindukan pertengkaran-pertengkaran kami, merindukan perbedaan-perbedaan pendapat kami, merindukan pelukannya, ciumannya, dan setiap sentuhannya. Oh, aku juga sangat merindukan tatapan tajamnya, yang terkadang dalam dan penuh dengan arti, terkadang dingin dan menusuk, terkadang hangat dan membuatku begitu nyaman. Aku merindukan semua hal tentangnya. 


Dan yang paling membuat frustasi, aku baru menyadari, selama pernikahan kami, tidak pernah satu kali pun kami berswafoto bersama. Aku tidak pernah mempunyai potret dirinya. Terkadang aku tergoda untuk menghubunginya dengan ponsel yang diberikan oleh salah satu pengawal. Aku tidak tahu, data siapa yang dipakai untuk membeli ponsel dan nomornya, aku tidak pernah bertanya. Tapi, sebelum aku bisa menghubungi Abrisam, pengawal yang selalu bersama ku sudah mewanti-wanti agar aku tidak nekat menghubungi Abrisam atau pun Galih. Demi kebaikan bersama. Termasuk demi keselamatan Abrisam dan Galih.


Karena itu aku selalu mengurungkan niatku, menarik kembali ibu jariku yang sudah menekan sederet angka nomor handphone Abrisam. Terkadang godaan itu bukan hanya datang untuk mendorongku menghubungi Abrisam melalui panggilan telepon. Godaan lain sering kali aku rasakan untuk menekan tombol darurat yang ada pada cincin pemberian Abrisam, yang kini cincin itu kujadikan liontin, menggantung tepat di dekat jantungku.


Tapi, lagi-lagi rasa takut menahan ego ku. Bukan takut karena kemungkinan aku akan mencelakai diriku, tapi aku takut egoku justru akan mencelakai orang-orang yang aku sayang. Abrisam, Bunda, Iris, Ibu bahkan Galih.


"Nona, sudah waktunya kita kembali." Pengawal mengingatkan Salina, sudah hampir dua jam Salina berada di luar rumah, menikmati secangkir kopi dengan pemandangan pantai di depan mata.


"Apa sudah ada kabar dari Abrisam atau Galih?" tanya Salina sambil membenahi ponsel dan buku catatannya ke dalam tas.


"Maaf, Nona, belum ada."


"Apa kau yakin, aku tidak bisa sekali pun menghubungi Abrisam? Atau kau mungkin bisa membawaku ke luar pulau dulu agar aku bisa menghubunginya, memastikan dia baik-baik saja?"


"Maaf, Nona, tidak bisa."


"Lau bagaimana kita tahu mereka baik-baik saja tanpa kabar sedikit pun selama satu tahun ini?!" Pekik Salina begitu merasa frustasi dengan kekangan juga kerindungan yang sungguh menyiksanya.


"Maaf kan saya, Nona." kata pengawal itu menyesal. "Namun saya hanya menjalankan perintah awal Tuan Abrisam dan Tuan Galih, kami benar-benar bertanggung jawab atas keselamatan Anda dan yang lainnya."


Salina membuang napas kasar. "Lau bagaimana Abrisam tahu kalau aku, Bunda, Iris dan Ibu sampai di pulau ini dengan selamat? Sementara tidak ada yang memberikannya kabar tentang keselamatan kami disini?" Pertanyaan itu bukan hanya sekali diajukan oleh Salina, sudah berkali-kali. Dan sudah berkali-kali juga pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban dari pengawal-pengawal mereka.


Benar-benar membuat frustasi!


Salina berdiri, menegakkan punggungnya, menguatkan mentalnya kali ini. Kemudian dia berkata dengan sangat serius pada pengawal itu. "Aku tidak tahu apa kau bisa menyampaikan pesanku atau tidak, aku tidak tahu apa kau bisa menghubunginya atau tidak, tapi, jika suatu saat salah satu dari dua orang itu menghubungimu, katakan pada mereka, aku beri mereka waktu Tiga bulan lagi dari sekarang. Jika dalam waktu tiga bulan ini tidak ada kabar sama sekali, maka jangan menyalahkanku jika aku tidak lagi menunggunya. Aku tidak bisa menunggu tanpa kepastian seperti ini! Katakan itu dengan lengkap tanpa kau kurangi satu katapun, mengerti?!"


Pengawal itu mengangguk dengan ragu, namun ia mematuhi perintah Salina tanpa membantah sedikit pun.


***


Salina menhampiri Iris yang sedang duduk, sibuk dengan buku sketsanya di beranda rumah. Ditemani dengan segelas jus buah naga yang segar, Iris begitu tenang dan tenggelam dalam kesibukannya.


"Ris?" Suara Salina menyentak dan mengejutkan Iris. Cepat-cepat ia menutup buku sketsanya.


"Eh, Kakak." Iris nyengir.


"Kenapa? Apa yang kau sembunyikan?" tanya Salina penuh curiga.


"T-tidak ada." Iris menggeleng sambil memeluk buku sketsa itu dengan erat..


"Perlihatkan padaku, apa yang kau sembunyikan!" Ujar Salina dengan penuh penekanan. "Jangan membuatku mengambil paksa bukumu." ujar Salina dengan tatapan tajamnya.


"Tapi..."


"Ris, kau tahu, suasana hatiku benar-benar kacau balau, segala sesuatu bisa membuatku curiga. Jadi, kumohon, jangan membuatku mencurigaimu. Apa yang kau gambar di dalam bukumu itu?"


Iris menghela napas, kemudian ia memberikan buku sketsanya pada Salina.


Salina menerimanya seraya duduk pada kursi di sebelah Iris.


Pada halaman-halaman awal buku sketsa itu tidak ada yang mencurigakan, kebanyakan adalah sketsa pemandangan, bangunan, hewan, sampai akhirnya Salina sampai di pertengahan halaman yang membuatnya mengernyitkan dahi kemudian menatap adiknya dengan tatapan bingung.


"Dia? Kau? Kalian mempunyai hubungan?" tanya Salina.


Iris menggeleng.


"Lalu apa maksudnya?" Salina membalik-balik halaman lagi, dan semua halaman hingga ke lukisan terakhir diisi oleh objek lukis yang sama. "Kau tidak mungkin melukisnya hanya karena iseng, kan?"


Iris menggeleng lemah. Kepalanya menunduk, terlalu enggan dan malu untuk melihat kakaknya.


"Jadi apa? Jangan-jangan kau... menyukainya?" Salina menebak dengan hati-hati.


Tidak ada respon dari Iris. Gadis itu hanya terus menundukkan kepalanya.


"Lehermu akan patah jika terus menunduk seperti itu. Jawab pertanyaanku." Titah Salina.


Iris perlahan mengangkat kepalanya, kedua matanya sudah berkaca-kaca, antara ekspresi takut juga tak berdaya terlukis jelas pada wajah adik kesayangannya itu.


"Iris... kau benar menyukainya?" tanya Salina sekali lagi.


Dan kali ini, bersamaan dengan air matanya yang jatuh, kepalanya juga ikut mengangguk.


"Aku... takut..."


"Apa yang kau takutkan?" tanya Salina dengan sangat lembut.


"Aku takut Kakak tidak memperbolehkanku menyukainya."


Salina menghela napas, "Kenapa aku tidak memperbolehkanmu menyukainya? Dengar, kau berhak menyukai siapa pun yang membuatmu jatuh hati."


"Lalu bagaimana dengan Bunda, apa Bunda juga akan memperbolehkanku menyukainya?"


"Memang kenapa?"


"Saat Bunda tahu apa pekerjaan Kak Abrisam saja, Bunda langsung panik. Bagaimana jika Bunda tahu kalau aku menyukai dia." Iris menunjuk sketsa wajah pria itu.


"Maka sudah menjadi tugasmu untuk meyakinkan Bunda bahwa ia adalah pria yang tepat." jawab Salina.


"Tapi..."


"Apa?"


"Bagaimana aku tahu dia pria yang tepat atau bukan, jika sampai saat ini saja aku tidak pernah menyatakan perasaanku? Bagaimana jika ternyata perasaanku tidak terbalas?"


"Aku tidak bisa memberikanmu jawaban. Jawaban hanya bisa kau dapatkan dengan bicara langsung padanya."


"Tapi masalahnya, sampai kapan aku harus menantinya, Kak? Mereka bahkan tidak ada kabar."


Mereka melepaskan pelukan. Salina mengusap lembut pipi Iris yang basah.


"Entahlah..." Salina membuang napas lesu. "Aku pun tidak tahu harus seberapa lama lagi aku menunggunya."


.


.


.


DOR! DOR!


Suara tembakan demi tembakan terus menderu. Salah satu peluru sudah mengenai lengan Abrisam, tidak sampai dalam, peluru itu hanya menyerempet lengan kekarnya, tapi cukup perih dan panas.


"Kau tidak apa-apa, Kak?" tanya Galih. Ia pun sudah penuh dengan luka.


"Aku tidak apa-apa!" Abrisam dan Galih kembali bangkit. "Ini misi terakhir kita, Gal! Ayo kita selesaikan!"


Galih mengangguk.


Hanya tinggal selangkah lagi, Abrisam dalam melumpuhkan musuh terakhir Tuan Jo. Semua dokumen rahasia yang paling dibutuhkan Tuan Jo untuk menjatuhkan musuhnya ada di dalam sebuah ruangan di depan mereka. Tapi, terjangan peluru berlaras panjang lengkap dengan sinar laser dari penjaga membuat Abrisam dan Galih terjebak.


"Huh, percuma sekali anak-anak buah Tuan Jo ikut dalam aksi ini? Mereka tidak ada yang mampu bertahan!" Keluh Galih dengan sangat kesal. Dari empat belas orang yang ikut dalam misi terakhir, hanya tersisa tiga orang.


"Bagaimana mungkin kita berpihak padanya, Kak!" Lagi, Galih berkeluh sambil melepaskan tembakan ke aras lawan.


"Kita akan minta kompensasi pada Tuan Jo, nanti. Sekarang, lindungi aku, aku akan masuk ke sana!"


"Kau yakin, Kak?"


Abrisam mengangguk.


"Baiklah." Galih kemudian memberikan masker pada Abrisam dan untuk dirinya sendiri, kemudian mengeluarkan gas air mata.


"Kau membawa gas air mata?" tanya Abrisam tak percaya.


"Untuk keadaan yang paling tersudut. Dan kita sudah sangat tersudut. Ayo, Kak!" Begitu asap putih memenuhi lorong, tembakan dari lawan perlahan berkurang dan berhenti sejenak, saat itu lah dijadikan kesempatan untuk Abrisam dan Galih melumpuhkan penjaga di depan pintu yang kesakitan mata juga pernapasannya.


Mereka berhasil masuk ke dalam ruangan itu, tapi apa yang mereka jumpa benar-benar di luar nalar.


"Apa-apaan ini?!"


.


.


.


TBC~