
Salina membuka matanya dipagi hari yang paling dia mimpikan ini, ada Abrisam tepat disampingnya. Masih terlelap dalam damainya. Salina mengukir setiap lekuk wajah tampan suaminya dengan jemari tanpa menyentuh. Ia begitu merindukan pria itu, sampai rasanya ia takut kalau apa yang dia lihat dan rasakan sejak semalam hanyalah sebuah mimpi belaka.
Tak bosannya Salina memandangi Abrisam dengan pencahayaan minim sinar matahari yang mengintip malu-malu dari balik celah tirai yang masih tertutup.
"Apa aku begitu tampan?" Abrisam mengejutkan Salina. Rupanya ia sudah terbangun dan menyadari apa yang sejak tadi dilakukan istrinya itu.
Salina terkekeh pelan.
Abrisam merenggangkan otot-otot tubuhnya kemudian duduk, memaparkan bagian punggungnya yang lebar dan berotot, tapi lagi-lagi ia melihat ada dua bekas jahitan disana, yang sebelumnya tidak ada.
Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Lirih Salina dalam hati.
"Hei, ada apa?" tanya Abrisam lembut begitu menyadari perubahan ekspresi Salina yang menjadi sedih. Abrisam kembali menghadap Salina.
"Aku... hanya memikirkan apa yang sudah kau lalui selama satu tahun belakangan ini? Begitu banyak bekas jahitan pada tubuhmu." ujar Salina seraya menyentuh bekas jahitan pada wajah Abrisam.
Abrisam tersenyum. "Kau tahu, bekas jahitan ini membuatku terlihal lebih tampan kan?" katanya sambil memainkan kedua alis matanya.
"Tidak lucu, ih!" Gerutu Salina. Ia memanyunkan mulutnya sampai membuat gemas lawan bicaranya.
Cup!
"Jangan menggemaskan seperti itu." kata Abrisam setelah mencuri kecupan, "Bisa-bisa kita membuat ronde pagi-pagi."
Salina terkekeh sambil menari selimut sampai ke kepalanya.
"Tidak mau! Yang semalam saja tenagaku masih belum ke-charge full." Salina beralasan. Tapi tiba-tiba dari dalam selimun ia berteriak. "Abi!" Salina menyembulkan kepalanya, menatap Abrisam dengan mata bulatnya yang melebar. "Punyamu sudah..."
Abrisam memainkan kedua alisnya naik turun dengan seringai jahil terpasang pada wajahnya.
"Ah, tidaaaak!" Salina hendak turun dari ranjang, tapi gerakan Abrisam lebih sigap dan lebih cepat untuk menangkap Salina kembali terjebak di bawah kungkungan tubuhnya.
Adegan-adegan panas yang membuaikan kedua manusia di atas ranjang itu pun kembali terjadi sampai keduanya mendapatkan pelepasan atas kenikmatan dan kepuasan yang menagih.
***
Sarapan sudah siap di atas meja, aroma sedap yang menggugah selera menyapa dan menggoda setiap orang yang ada.
Selama satu tahun enam bulan keberadaan mereka di pulau itu, Ibu dan Bunda selalu bekerja sama membuat aneka hidangan di dapur. Dua wanita paruh baya itu mengerti dengan gentingnya situasi dan kecemasan juga kekhawatiran yang melanda setiap harinya, karena itu Ibu dan Bunda memutuskan untuk selalu menenangkan situasi dengan selalu membuat masakan-masakan yang menggugah selera.
Mereka semua berkumpul di meja makan dengan suka cita, bahkan para pengawal pun diminta oleh Bunda untuk ikut bergabung sarapan bersama. Abrisam dan Salina tidak sungkan dan tidak ragu menampakkan kemesraan mereka lewat tindakan dan permainan mata mereka yang membuat semua orang ikut bahagia. Bahkan sesekali Iris ikut meledek bagaimana frustasinya Salina menanti Abrisam. Meski begitu, Salina dapat melihat bagaimana mata Iris selalu menengok ke arah pintu, menanti seseorang.
"Omong-omong, sejak kemarin, aku tidak melihat bestie-mu. Kemana dia?" tanya Salina sambil menyuap sarapannya.
"Galih maksudmu?" tanya Abrisam.
Salina mengangguk. Dari ekor matanya ia dapat memastikan Iris menegakkan tubuhnya, bersiap mendengarkan jawaban Abrisam.
"Dia sedang menyiapkan sesuatu."
"Sesuatu? Jangan bilang kalian akan pergi lagi?" Tanya Salina penuh dengan kecurigaan.
Abrisam terkekeh sambil mencubit gemas pipi Salina. "Tidak. Aku tidak akan pergi kemana-mana lagi tanpa dirimu. Puas?"
"Lalu apa yang dikerjakan Galih?"
"Hem, ketika kami menjalankan misi kami setahun kemarin, Galih menyadari dia mencintai seseorang, dia begitu menyemangatiku agar kami bisa menyelesaikan misi dalam keadaan selamat, agar dia bisa melamar seseorang yang dia cintai itu." jelas Abrisam dengan sangat santai. Dia tidak menyadari ada satu orang yang begitu patah hati disana.
"Jadi," Iris berdeham sebentar membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. "Kak Galih sudah mempunyai calon dan sudah melamarnya?" Iris bertanya dengan gaya santai. Tapi Salina tahu dan dapat merasakan kesedihannya.
"Calon? Ya, bisa dikatakan begitu. Tapi kalau sudah melamar? Belum, kupikir saat ini dia masih menyiapkan segalanya agar semuanya berjalan sukses."
"Oh." hanya Oh singkat dan getir yang menjadi jawaban Iris. Kemudian ia memutuskan untuk tidak menyelesaikan sarapannya, tiba-tiba dia tidak bisa menelan apa pun yang masuk ke mulutnya.
"Kau mau kemana?" tanya Bunda.
"Eh, mau ke lapangan, Bun. Kemarin aku membuat mural di sana dengan anak-anak kecil, kami memutuskan akan melanjutkan menyelesaikan mural kami hari ini."
"Ah, ya, aku melihatnya kemarin." ujar Abrisam sambil mengunyah.
"Kau melihatnya?" tanya Salina.
"Ya, sebelum ke pantai, aku sempat melihat Iris dengan anak-anak kecil membuat mural. Bagus sekali."
"Tunggu dulu, jadi kau sudah menemuiku sejak di pantai?" tanya Salina lagi.
"Tentu saja. Tunggu, jangan bilang sampai sekarang kau masih berpikir kalau yang kau lihat di pantai itu adalah halusinasimu?" Goda Abrisam.
Semua orang jadi tertawa melihat bagaimana Salina memukul kesal lengan Abrisam yang menggodanya. Termasuk Iris sebelum gadis itu meninggalkan rumah dengan hatinya yang lesu dan patah hati berkeping-keping. Lalu ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa pengawalnya tidak mengikutinya? Biasanya pengawalnya selalu ketat melarang Iris berbicara pada penduduk lokal, bahkan saat sedang membuat mural bersama anak-anak, Iris hanya bisa senyum dan tertawa, tidak bisa berbicara seperti orang bisu saja. Tapi kali ini ia dibiarkan berjalan sendiri ke lapangan yang biasa dipakai oleh anak-anak bermain.
Tapi, karena hatinya sedang terlalu patah untuk memikirkan pengawalnya yang memberikannya kelonggaran, Iris memilih untuk tidak peduli. Meski sebenarnya ia memang akan menyelesaikan mural hari ini, tapi ia memilih untuk menyendiri lebih dulu di pantai. Ia berbelok alih-alih berjalan lurus menuju lapangan. Ia mengambil jalan setapak menuju pantai.
Sama halnya seperti Salina, Iris tidak mengerti dimana mereka, pulau apa yang mereka tinggali, kenapa hanya sedikit penduduk lokal yang ada disana, tidak ada sama sekali turis terlihat meski pemandangan yang disajikan di pulau itu sangat indah dan menawan.
Iris memilih duduk pada pagar pembatas, di bawah naungan pohon waru laut yang teduh, Iris menumpahkan air matanya. Ia menangis melepaskan sesak hatinya, patah hatinya dan kesedihannya seorang diri. Sangat tidak mudah menjalani cinta sendiri. Menggumi sendirian. Merindukan tanpa disadari. Berharap dalam angan. Meski pertemuannya dengan Galih cukup singat jelas dan padat, namun setiap pertemuan mereka selalu bermakna, meninggalkan kesan dan kenangan istimewa tersendiri dalam hati Iris.
"Orang bilang, pantai memang tempat yang sangat pas untuk melepaskan kesedihan." Seseorang menyentak Iris dari tangisnya.
"Kak... Kak Galih?" Iris mengerjapkan matanya yang basah, ia mengusap asal pipinya yang basah dengan tangannya yang berpasir.
Galih tersenyum melihat akibat ulah tangannya, wajah Iris kini ditempeli pasir. Galih mengulurkan tangan, mengusap pipi Iris, membersihkan pipi gadis itu dari pasir.
"Kulihat hasil muralmu sangat bagus." kata Galih, menatap dalam mata Iris. "Kau bisa menjadi seniman yang sangat berbakat."
"T-terima kasih." kata Iris malu-malu.
Hatinya berdebar, tapi juga patah. Perasaannya bercampur tak karuan. Pria yang telah membuatnya jatuh hati dan bertepuk sebelah tangan kini duduk disebelahnya, memeregokinya menangis seorang diri dengan menyedihkan di bawah pohon, ia ingin memeluknya, tapi tidak bisa. Galih bukan miliknya. Galih tidak pernah juga melihatnya.
"Kak Galih, sedang apa disini?" tanya Iris seraya mengalihkan wajahnya dari tatapan dalam mata Galih.
"Menikmati laut. Dan..."
"Dan?"
"Dan ternyata melihatmu sendang menangis sendirian di sini. Ada apa?"
Iris merasa sangat ceroboh dan malu bersamaan, kenapa disaat wajahnya pasti sedang terlihat kacau, justru dilihat oleh Galih?
"Tidak apa-apa. Aku hanya... hanya kangen rumah." jawab Iris berbohong.
Galih mengangguk.
Iris menimbang rasa apakah dia perlu memberikan semangat untuk Galih atas rencana lamarannya pada gadis yang dicintai Galih. Namun disisi lain, ia tidak ingin membuatnya terlihat dan merasa lebih menyedihkan. Namun pada akhirnya, bibirnya bergerak, mengucapkan kalimat yang bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan hatinya.
"Oh, ya, Kak, aku dengar Kak Galih sedang menyiapkan acara untuk melamar kekasih Kak Galih, ya? Semangat ya, Kak!" ujar Iris, dengan memaksakan seulas senyum yang lapang dada.
"Kau tahu dari mana?" Galih menaikkan kedua alis matanya.
"Kak Abrisam."
"Sebenarnya, dia bukan kekasihku juga." jawab Galih.
"Tapi, Kak Abrisam bilang Kak Galih mencintainya."
"Ya, memang. Aku baru menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya ketika aku dan Kak Abi berada dalam misi kami. Jadi, aku ingin langsung melamarnya."
"Oh... begitu."
"Tapi aku sebenarnya takut."
"Takut kenapa?"
"Aku tidak tahu dengan perasaannya, apakah dia juga memiliki perasaan yang sama padaku. Aku takut, cintaku ditolak. Aku takut dia malah menjauh dariku."
"Apa dia punya kekasih?"
"Setahuku dia tidak mempunyai kekasih."
"Kalau begitu, katakan saja yang sejujurnya, Kak. Yang penting Kakak sudah mengutarakan perasaan Kakak. Perkara dia menerima atau tidak, itu masalah belakangan. Yang penting dia tahu bagaimana perasaan Kakak padanya."
"Begitu, kah?" Galih menunjukkan ekspresinya berpikir dan menimbang saran dari Iris. "Kurasa kau benar juga, setidaknya aku berusaha."
"Ya, dari pada tidak sama sekali, nantinya malah menyesal karena perasaan Kakak tidak tersampaikan."
"Kau sepertinya berpengalaman. Apakah kau pernah merasakan seperti itu?"
"Pernah?" Iris terkekeh getir. "Aku sedang mengalaminya hari ini." senyum masam terpasang pada wajah manis Iris.
"Oh, ya? Karena itu kau menangis? Jadi bukan karena kangen rumah?"
Iris tersenyum kecut, menyadari dirinya keceplosan. "Jangan bilang siapa-siapa ya, Kak."
Galih menggerakkan jarinya di depan bibirnya yang rapat, dan bergerak seolah ia membuang kunci ke laut.
Iris tersenyum melihatnya.
"Baiklah, ayo jangan menangis lagi." Galih berdiri, mengulurkan tangannya pada Iris untuk membantu gadis itu bangkit berdiri.
Iris menerima uluran tangan itu dengan merelakan pria itu dalam hatinya. Mereka berjalan meninggalkan bawah pohon waru, menelusuri pinggir pantai yang hangat.
"Ris, kau mau menjadi partnerku untuk latihan?" tanya Galih tiba-tiba.
"Latihan apa, Kak?"
"Melamar gadis itu."
"Oh." Sakit sekali hatiku. "Boleh."
"Baiklah, aku akan mengucapkan beberapa kalimat pembuka."
Iris mengangguk dengan senyum mengiringi.
"Aku tahu, aku bukan siapa-siapa, aku tidak memiliki apa-apa untuk bisa kau banggakan sebagai pasangan ideal. Tapi, aku adalah pria yang pekerja keras, aku memiliki berbagai keahlian yang bisa membuat CIA, FBI dan agen-agen rahasia dunia berlomba ingin merekrutku." Galih mempromosikan dirinya sampai membuat Iris terkekeh juga terharu.
"Beberapa bulan terakhir dalam hidupku, aku bertemu seorang gadis. Dia sangat manis dan cantik. Meski dia selalu mengeluh kalau dirinya tidak cantik, tidak tinggi, tidak langsing, tidak glowing, tidak bisa membuat seorang pria menyukainya."
Kalimat Galih sejenak membuat Iris tertegun. Ia ingat bagaimana dia sering mengeluhkan tentang dirinya, namun Galih selalu melihatnya dari sisi yang berbeda.
"Mungkin kau tidak bisa membuat semua orang menyukaimu, tapi kau tahu, kau berhasil membuat satu orang pria yang pernah menutup diri jatuh cinta padamu. Selalu memikirkanmu. Dan takut kehilanganmu. Dan orang itu adalah aku."
Iris merasa tenggorokannya kering dan telapak tangannya dingin, ketika tiba-tiba Galih berlutut di depannya.
"Ap-apa yang Kakak lakukan?"
"Melakukan apa yang kau sarankan." Galih mengeluarkan sebuah kotak beludru dan membukanya. Sebuah cincin manis bertengger di dalam sana dengan sangat indah.
"Iris, mau kah kau menerimaku sebagai priamu? Mau kah kau menjadi wanitaku? Mau kah kau menua bersamaku?"
"Kak Galih...." Iris kehilangan kata-katanya. Air matanya sudah bercucuran.
"Gadis itu kau. Gadis yang paling sempurna yang pernah ada dalam hidupku. Apakah aku akan mendapatkan jawaban atas lamaranku?" Namun Iris mematung. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab. Hatinya terlalu berdebar kencang.
Karena melihat bagaimana Iris yang hanya diam, Galih pun mengangguk mengerti dan memaklumi jika Iris tidak menerimanya. Sejak awal dia sudah mengatakan pada Abrisam, bahwa kemungkinan perasaannya akan ditolak oleh Iris. Tapi, Abrisam yang menyemangatinya agar Galih langsung melamar Iris.
Galih menelan kepahitan rasa bertepuk sebelah tangan atas penolakan yang dia terima dengan hati lapang.
"Kak..."
"Tidak apa-apa, Ris. Aku tidak mau memaksa. Setidaknya, aku sudah menyatakan perasaanku. Seperti katamu, diterima atau tidak, itu masalah belakangan." Galih tersenyum. Kemudian memutar tubuh melanjutkan langkahnya, tapi baru beberapa langkah kakinya bergerak di atas pasir, dari belakang seseorang memeluknya erat.
"Aku mau. Aku bersedia, Kak." jawab Iris.
Galih melepaskan tangan Iris, bergerak kembali menghadap Iris dengan senyum sumeringah dan secerah matahari.
"Kau... menerima lamaranku?" tanya Galih tak percaya.
Iris mengangguk dengan wajahnya yang telah dialiri air mata kebahagiaan. "Aku juga mencintai Kak Galih. Sampai rasanya sakit sekali mendengar Kak Galih akan melamar seseorang."
"Oh ya ampun, jadi tadi di pohon sana kau menangisiku?"
Iris mengangguk malu-malu.
"Oh Tuhan!" Galih langsung mengangkat Iris, memeluknya dan membawanya berputar dengan tawa bahagia mereka.
Disisi lain, di balik batang pohon kelapa tak jauh dari lokasi Galih dan Iris berputar, sepasang sejoli sedang mengintip.
"Jadi, kau sudah tahu kalau Iris menyukai Galih?" tanya Salina.
Abrisam mengangguk.
"Dari mana kau tahu?"
Abrisam mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat dari dalam saku sweaternya. Kemudian membukanya, lalu berkata, "Sepertinya Iris menjatuhkan salah satu sketsanya di lapangan."
Salina tersenyum melihat bagaimana sketsa wajah Galih dan dua baris kalimat tersemat pada ujung kertas.
[Untuk setiap waktu singkat yang pernah kita lalui bersama. Mungkinkah kau akan mencintaiku seperti aku jatuh cinta padamu? - Iris.]
.
.
.
TBC~