You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Luka Lama.



“Lepaskan!” Salina berusaha melepaskan diri dari kungkungan Abrisam, pria itu bahkan berusaha untuk menciumi Salina dengan barbar. Pipi, bibir, hingga leher tak luput dari sapuan bibir Abrisam yang seperti kehilangan akal dan kelaparan. Tak hanya bibir, tangannya pun ikut bertualang pada tubuh Salina.


“Lepaskan!” Tak peduli seberapa kuat Salina memberontak, menendang, memukul juga mencakar, ia tetap tidak bisa mengalahkan tenaga Abrisam yang berkali-kali lebih besar darinya. Hingga terdengar suara sobekan pada pakaian yang dipakai Salina.


Saat itu lah ketakutan menenggelamkan Salina, bayangan akan masa lalunya yang paling menyakitkan kembali berputar di depan matanya.


Kaus bagian depannya sobek, lebih tepatnya disobek oleh Abrisam.


“TIDAK! TOLONG! TOLOOOONG! AAAAKKKKK!” Teriakan Salina yang kini jauh lebih terdengar pilu dari pada marah menyadarkan Abrisam. Kabut yang menutupi mata, akal juga hatinya tersingkap, mengembalikannya lagi pada kenyataan yang terjadi di depan matanya.


Abrisam mengerjapkan matanya, melihat bagaimana Salina menangis dan begitu ketakutan, tubuh Salina bahkan gemetar hebat, ia terlihat lebih ketakutan dibandingkan ketika Salina ditodongkan pistol olehnya atau bahkan ketika Salina terjebak di tengah-tengah tawuran.


“Sal… Salina… aku… aku…”


“Lepas…. Kumohon lepas…” Isak Salina yang begitu tak berdaya dan putus asa membuat hati Abrisam seperti diremas. Ia – entah bagaimana – merasakan ketakutan dan kesakitan yang dirasakan oleh Salina.


Abrisam bangkit, melepaskan Salina dari kungkungannya. Lalu, Salina segera bangkit dan berlari keluar dari kamar Abrisam untuk bersembunyi di dalam kamar kerja Abrisam. Mengunci pintu kamar itu hingga dua kali dan mendorong sofa bed untuk menahan pintu jika Abrisam tiba-tiba membuka pintu dengan kunci cadangan. Lalu ia mundur dengan ketakutan dan meringkuk di bawah meja kerja.


.


.


.


Tiga jam berlalu, tanpa ada suara atau pun pergerakan dari dalam kamar kerja Abrisam. Ia mulai khawatir dan merasa bersalah. Respon yang ditunjukkan Salina adalah hal


baru, biasanya gadis itu akan mengomel sepanjang hari atau mengatai Abrisam dengan


berbagai kata-kata sarkasmenya. Tapi kali ini berbeda.


Ketakutan Salina adalah hal baru yang dilihat Abrisam. Sama seperti ketika Salina begitu panik dan cemas ketika melihat Abrisam berdarah.


Abrisam memutar otak, menganalisa apa yang terjadi pada Salina. Sampai akhirnya tiga jam ini ia menemukan sebuah kemungkinan, sebuah alasan yang membuat Salina merespon dengan ketakutan yang begitu hebat.


Abrisam menghampiri kamar kerjanya, ia mengetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Abrisam merasa frustasi karena ia tidak bisa mengetahui apa yang dilakukan Salina di dalam sana. Ia menyesal tidak memasang CCTV di kamar itu.


“Sal! Salina, buka pintunya. Ini sudah tiga jam, mau sampai kapan kau di dalam sana?”


Tetap tidak ada suara apa-apa.


“Jika kau tidak membuka pintu dalam lima menit, aku akan mendobrak pintu ini dan menyeretmu keluar.”


Ancamannya tidak berpengaruh.


“Sal… jangan menguji kesabaranku. Cepat buka pintunya!”


Abrisam terus menggedor pintu, tapi sepertinya Salina sudah bertekad tidak akan membukanya hingga hari kiamat. Akhirnya Abrisam mengambil kunci cadangan untuk membukanya, ia tidak mau ambil resiko lagi membiarkan Salina tanpa pengawasan. Kekhawatiran akan kenekatan Salina untuk mencoba mengakhiri hidupnya lagi membuat Abrisam tidak lagi bisa membiarkan Salina lebih lama sendirian di dalam kamar itu tanpa respon apa pun.


Setelah berhasil memutar anak kunci, Abrisam tertegun begitu hendak membuka pintu, tapi pintu itu begitu berat dan sulit untuk dibuka atau pun di dorong. Tapi ia terus mendorong pintu itu hingga terbuka celah untuk tubuhnya bisa masuk.


“Sofabed? Kenapa aku tidak kaget.” Gumam Abrisam. Keningnya berkerut melihat kamar itu yang gelap dan tidak ada Salina disana.


“Sal?” Tapi tidak ada jawaban. “Kemana dia? Kamar ini tidak ada jendela, tidak mungkin dia pergi.” Abrisam langsung menuju meja kerjanya dan benar saja, kekhawatirannya terjadi. Di bawah meja itu tergeletak Salina yang sudah tidk sadarkan diri.


“SAL!”


.


.


.


Abrisam menunggu Salina yang masih terbaring di atas brankar pasien dengan sabar, meski dalam hati ia sungguh menyesali dan mengutuk dirinya yang tidak dapat menguasai diri dan hasratnya. Entah apa yang merasukinya, ia begitu ingin merasakan setiap inci tubuh Salina. Tidak terpikir olehnya bahwa apa yang dilakukannya membuat gadis itu pingsan.


Setelah beberapa jam, Salina menggerakkan kepala dan membuka kedua matanya perlahan. Abrisam langsung mendekati brankar dan seketika itu juga Salina beringsut menjauh dan meringkukkan tubuhnya.


“Salina… aku…” Sorot penyesalan terpancar nyata pada mata tajam Abrisam.


“Jangan mendekat!” Tegas Salina.


“Oke.” Abrisam menurut dan melangkah mundur. Ia Kembali duduk pada kursi didekat brankar.


Salina memalingkan wajahnya dari tatapan Abrisam.


“Aku membencimu. Aku akan terus membencimu sampai kau mati.”


“Maaf.” Begitu akhirnya satu kata ajaib itu terlontar pada bibir tipisnya, mengucapkan satu kata yang ia pikir begitu sulit ia ucapkan. Tapi pada akhirnya, penyesalan membuatnya luluh pada kekerasan hatinya sendiri. Untuk kali pertama sejak bertahun-tahun lamanya, Abrisam kembali meminta maaf pada seseorang.


“Maafkan aku.” Ucapnya lagi.


Salina menggerakkan kepalanya kearah Abrisam yang sedang melihatnya dengan sorot mata tajam penuh sesal. Fenomena alam yang Salina pikir tidak akan terjadi pada monster berdarah dingin blasteran dementor gila itu.


Untuk sesaat Salina terenyuh dengan tatapan itu, tapi ia tidak akan terperangkap padanya.


“Aku salah. Aku minta maaf. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Aku akan memakluminya. Tapi, ijinkan aku mengetahui satu hal, siapa yang melakukannya padamu? Siapa dia?”


Pertanyaan itu berhasil membuat Salina kembali melihat Abrisam. Ia kemudian tersenyum getir.


“Bukan urusanmu. Lagi pula apa pedulimu?”


“Aku tidak akan bertanya jika aku tidak peduli.”


“Cih, lucu sekali, saat ini kau adalah orang yang paling menyakitiku, bisa-bisanya kau mengaku peduli padaku.”


“Dengar, kau pasti tahu, tidak mudah bagiku untuk meminta maaf pada seseorang.”


“Kau tidak waras jika tidak meminta maaf padaku.” Gerutu Salina.


“Tapi, kali ini kau berhasil membuatku menurunkan egoku dan membuatku meminta maaf padamu. Meski semua ini tidak akan terjadi jika saja kau tidak memancingku.”


“Apa? Aku memancingmu?” Salina melotot galak.


“Kau menyelinap masuk ke dalam kamarku ketika aku sedang tidur.”


“Aku hanya mau membangunkanmu untuk makan siang dan memindahkan ponselmu dari dadamu. Bunda bilang, bahaya jika kau tidur berdekatan dengan ponsel, radiasinya akan melukai otakmu. Apa lagi sel otakmu itu sudah terganggu!”


Abrisam tersenyum. Ia merasa sedikit lega melihat bagaimana gadis itu sudah kembali pada moodnya. Galak dan marah-marah.


“Jadi, siapa pelakunya?”


“Dia tukang bully di sekolah!” teriak Salina kesal. Kemudian ia menyesali bibirnya yang keceplosan. Salina mengalihkan wajahnya.


“Tukang bully? Kau pernah dibully?” Sebelah alis mata Abrisam bergerak naik.


“Bukan urusanmu.”


“Sekarang menjadi urusanku. Dimana pembully itu sekarang? Apa dia hidup normal setelah apa yang dia lakukan padamu?”


“Memangnya kau mau apa?”


“Balas dendam.”


Salina langsung mendelik galak. “Jangan aneh-aneh!”


“Baiklah, kalau begitu ceritakan padaku apa yang pernah terjadi padamu? Atau aku akan meminta Galih untuk mencari tahu. Dan aku pastikan aku akan membuat perhitungan dengannya.”


“Memang apa untungnya untukmu jika aku menceritakan kisah pahitku? Apa juga urusannya kau membalas dendam untukku? Memangnya kau siapa? Memangnya kau apa? Status kita memang suami istri, tapi pernikahan ini… kau tahu, hanya alat untuk menghindari eksekusi Hadran padaku dan keluargaku. Tidak ada cinta dalam hubungan ini, jadi… kau tidak perlu terlalu dalam mencari tahu tentang diriku.”


Entah kenapa rasanya sakit mendengar perkataan Salina. Ia merasa tidak terima mendengar dari bibir Salina yang menyatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah alat. Karena… karena bagi Abrisam pernikahan mereka bukanlah sebuah alat.


“Baiklah, aku akan meminta Galih untuk mencari tahu.”


“Coba saja, lagi pula itu hanya masa lalu yang tidak penting.”


“Masa lalu yang tidak penting, kau bilang?” Abrisam menegakkan tubuhnya. “Masa lalu itu meninggalkan trauma pada dirimu, apa kau tidak menyadarinya?”


“Lalu kenapa memangnya? Apa kau tidak menyadari juga? Kau yang paling melukaiku sekarang! Kau yang membuat luka lamaku kembali muncul! Kau yang membuat ketakutanku kembali! Dan sekarang apa? Kau mau berlagak seperti pahlawan? Apa kau tidak terdengar aneh?” Teriak Salina saking kesalnya.


Abrisam tidak mengelak, tidak membela diri, tidak juga menjawab. Ia hanya diam dengan rahangnya yang mengeras dan kedua tangannya yang mengepal kuat. Dan tanpa kata-kata lagi, pria itu meninggalkan ruangan, meninggalkan Salina yang diliputi emosi.


.


.


.


TBC~