You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Lembaran Baru



Mereka saling berpelukan di balik selimut yang menutupi - lagi-lagi - tubuh polos mereka. Salina meletakkan kepalanya di atas dada Abrisam, ia memejamkan matanya, mendenngarkan dengan damai degup jantung Abrisam yang kini menjadi suara yang paling menenangkannya.


"Abi..."


"Hem," Sahut Abrisam. Meski kedua matanya terpejam, namun tangannya masih aktif bergerak naik turun disepanjang lengan Salina.


"Terima kasih karena kau sudah membantuku bicara pada Bunda untuk hubungan Iris dan Galih."


"Tentu saja aku akan membantumu dan membantu mereka. Iris dan Galih, tidak ada yang lebih cocok untuk keduanya. Mereka sangat serasi. Aku mengenal Galih sangat baik, dan aku menjamin itu.Tapi, aku juga memahami keraguan Bunda, mengingat apa yang terjadi padamu, kejadian yang terjadi pada kita dan semuanya, wajar jika Bunda mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya."


"Tapi kau telah membuktikan, kau menjaga kami."


Abrisam hanya tersenyum lalu mengecup lama kening Salina.


"Abi..."


"Ya?"


"Apa yang terjadi selama satu tahun kemarin?" tanya Salina. Kembali pertanyaan itu terlontar. Abrisam tersenyum, ia tahu bahwa istrinya akan terus bertanya tentang apa yang terjadi. Dan itu memang sudah menjadi haknya untuk tahu.


Dan akhirnya, Abrisam menceritakan keseluruhan cerita tentang apa yang telah terjadi. Sejak dirinya meninggalkan Hadran dan membuat kesepakatan dengan Tuan Jo, lalu bagaimana dia dan Galih menjatuhkan semua saingan dan musuh-musuh Tuan Jo, termasuk salah satunya adalah Hadran. Ia menjatuhkan semua bisnis ilegal Hadran dan membuatnya tak mempunyai apa-apa kecuali satu usaha yang paling legal, yaitu usaha bengkel. Dulunya bengkel itu hanya sebuah usaha kamuflase untuk menyembunyikan segala pergerakan bisnis ilegalnya. Sampai pada akhir pertarungan, Abrisam menceritakan bagaimana Hadran mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua orang.


Awalnya Abrisam pikir menceritakan kembali apa yang terjadi pada akhir hayat Hadran tidak akan menimbulkan reaksi emosi apa pun. Tapi rupanya ia salah. Ada sebuah kegetiran yang melandanya dengan sangat tiba-tiba.


"Setidaknya ia sudah mengakui semua kesalahannya sebelum ia..." Salina pun tak sampai hati mengucapkannya. Ia juga bisa membayangkan apa yang dirasakan Abrisam melihat bagaimana Hadran hancur berkeping-keping di depan matanya. Sungguh sadis karma yang diterima pria itu.


"Ya." Abrisam mengangguk. "Kau tahu, aku memang membencinya, aku tidak akan pernah menganggapnya apa lagi sampai memanggilnya Papa. Tapi, bukan berarti aku menginginkan kematiannya seperti itu." kata Abrisam penuh sesal.


Salina tidak tahu harus bagaimana, jadi yang dia lakukan hanya mengecup dada Abrisam dan memeluknya erat.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Jo?"


"Pada akhirnya, dia juga tidak selamat."


"Benarkah?" Salina mendongak untuk melihat wajah Abrisam.


"Ya, Sumberku bilang, dia kehabisan banyak darah dan tak tertolong. Pada akhirnya dia pun juga menyusul Hadran. Mungkin sekarang mereka sedang duel."


Salina menggeleng tak percaya. "Apa Ibu tahu siapa yang mencelakai ayahmu dulu?"


"Tidak. Aku... tidak sampai hati memberitahukan pada Ibu. Biar lah Ibu tahu dan mengenang ayah tanpa dendam. Kau tahu, dendam telah membuat banyak korban pada akhirnya."


Salina mengangguk setuju.


"Lalu bagaimana dengan Tante Winda dan anak-anaknya?"


"Mereka kupindahkan ke luar negeri untuk memulai kehidupan mereka yang baru. Lagi pula, itu juga permintaan Tante Winda sendiri. Dirinya terlalu tidak percaya dengan apa yang terjadi. Terlalu sakit dengan segala kebohongan Hadran, dan pada akhirnya dia memintaku untuk memindahkan mereka ke luar negeri."


"Kasihan, mereka pun juga korban dari Hadran." ujar Salina.


"Tapi sekarang semua sudah berakhir. Tidak ada lagi dendam. Tidak ada lagi korban. Semua sudah terjadi dan tertulis pada lembaran lama."


"Kau benar."


Abrisam mengeratkan pelukkannya, menghidu puncak kepala Salina. "Kau tahu," katanya. "Semenjak bom itu meledak, selama berbulan-bulan aku tidak bisa tidur, aku selalu terbangun dengan keringat membanjiri tubuhku. Dan ketika kembali bertemu denganmu kemarin, itu adalah kali pertama aku bisa tidur tanpa terbangun."


"Syukurlah."


"Bagaimana denganmu, selama aku tidak ada, apa kau bisa tidur tanpa mimpi buruk?"


Salina menghela napas panjang. "Aku tetap tidak bisa tidur meski sudah tidak pernah lagi mimpi buruk."


"Kenapa?"


"Kenapa?" Salina mengulangi sambil melotot. "Karena kau yang tidak pernah ada kabar! Dasar menyebalkan!"


Melihat istrinya kesal, Abrisam malah tertawa dan menciumi wajah Salina dengan gemas.


"Kau harus berjanji padaku, apa pun yang terjadi, apapun itu kau harus memberitahukanku, jangan membiarkanku jauh darimu tanpa aku tahu apa yang terjadi padamu. Kau harus janji!"


***


Satu bulan berlalu dengan indah, semua orang kini bersuka cita ketika Iris melemparkan bunga dan mendarat pada salah seorang bridesmaid. Alunan musik dan lagu-lagu romantis mengalun mengiringi setiap moment pernikahan Galih dan Iris yang romantis dan sederhana. Dihadiri oleh keluarga terdekat, dan sahabat-sahabat Iris.


Salina duduk mengelus perutnya dalam balutan gaun indah yang manis dan elegan. Ia tersenyum penuh haru melihat bagaimana tawa bahagia adiknya menghiasi wajah cantik itu.


Abrisam datang, mengecup puncak kepala Salina sekilas kemudian duduk disebelahnya, dan memberikan Salina segelas jus buah segar.


"Apa kau juga ingin acara seperti ini?" tanya Abrisam.


"Eh? Untuk apa? Kita sudah akan menjadi orang tua, tidak perlu acara resepsi segala. Aku sudah merasa cukup bahagia dengan apa yang sudah kita lalui." jawab Salina.


"Tapi bagaimana jika aku menginginkannya. Aku ingin melihatmu dalam balutan gaun pengatin yang mewah dan ingin melihatmu sangat bahagia, bukan hanya cukup bahagia. Please, be my bride?"


Salina terkekeh melihat bagaimana ekspresi Abrisam yang memelas memintanya.


"Baiklah, baiklah, tapi dengan syarat, aku tidak mau acara yang mewah. Hanya kita saja."


"Ya, hanya kita saja." jawab Abrisam sambil tersenyum penuh arti.


***


Dua minggu berlalu dengan cepat dan tak terasa, halaman belakang rumah yang telah dibeli Abrisam untuk Salina sudah disulap menjadi sebuah taman yang indah dengan hiasan lampu-lampu dan bunga-bunga seperti taman di negeri dongeng.


Penata rias merias Salina dengan tidak memberikan terlalu banyak sentukan make up, Salina ingin tetap nyaman. Gaun pengantin yang dipilihnya pun melekat sempurna pada tubuhnya, kehamilannya yang masih satu bulan belum terlihat. Rambutnya ditata manis dan tidak berlebihan. Setelah selesai, dibantu penata rias, Salina berdiri, mengenakan sepatunya yang sengaja dipilihnya dengan hak hanya lima cm.


"Aku tidak mengerti, kenapa harus memakai jasa perias segala kalau hanya ada aku dan dia." Gerutu Salina seraya keluar dari kamar.


Perlahan dia turun dari tangga, dengan dua orang perias itu membantu memegangi ekor gaunnya agar tidak membahayakan Salina. Diujung tangga, Abrisam sudah menunggunya dengan balutan tuksedo putih yang mempesona Salina. Ia tak menyangka, Abrisam memberikannya kejutan dengan memakai setelan jas bukan warna hitam.


"Kau memakai warna putih?"


"Ini lembaran baru kita. Kurasa, aku akan mempunyai banyak warna." Jawab Abrisam sambil mengecup punggung tangan Salina. Kemudian ia berlutut untuk berbicara pada calon anak mereka. "Apa kau siap melihat Mama dan Papa mu? Kita akan berdansa semalaman."


"Astaga, mana bisa semalaman." Kekeh Salina.


Salina mengamit lengan Abrisam, mereka berjalan perlahan menuju halaman belakang. "Aku tidak mengerti kenapa kau sampai menyewa MUA segala, mendekor halaman belakang juga kalau hanya kita berdua." ujar Salina.


Tapi tidak perlu Abrisam menjawab pertanyaan Salina, bola matanya seketika membeliak begitu melihat semua orang berada disana menunggu mereka.


Bunda, Ibu, Iris, Galih, semua pengawal yang dulu menjaga mereka semua di pulau, bahkan paman yang dulu memberikan mereka tempat menginap di pondok. Mereka semua ikut berbahagia untuk Salina dan Abrisam.


"Oh, Tuhan..." Salina menatap suaminya penuh haru. "Kau mengumpulkan semua kejutan ini?"


"Ya, untukmu. Hanya untukmu."


"I love you, Abrisam."


"I love you more, Salina."


***


Novel Salina kembali menjadi best seller, dan telah berkali-kali cetak ulang. Bukan hanya itu, novelnya pun diangkat ke layar lebar yang juga sukses menduduki peringkat pertama. Kejutan lainnya sebagai kado ulang tahun baginya, adalah hal yang benar-benar tak pernah terpikirkan oleh Salina akan terjadi, yaitu bukunya diterjemahkan dalam bahasa asing dan diterbitkan di luar negeri, dan rupanya mendapatkan feedback yang cukup baik dan memuaskan.


Rasanya tak akan pernah habis Salina mengucapkan syukur atas hidupnya, kebaikan demi kebaikan terus datang padanya meski tak memungkiri ada satu dua hal yang sulit dan menyandungnya. Tapi, dukungan Abrisam menguatkannya. Hingga novelnya tentang kisah mereka menjadi begitu dicintai dan banyak menginspirasi.


Bahwa terkadang, kita harus melalui banyak sekali hal buruk dalam hidup, hal yang kita pikir kita tidak akan mampu untuk keluar dari lingkarannya dan memutuskan untuk menyerah. Tapi, jika kita membuka lagi mata dan melihat lebih luas, masih banyak hal yang bisa dijadikan alasan kita untuk bertahan dan melawan.


Karena kita semua berhak untuk bahagia.


.


.


.


TAMAT~