You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Tempat Bersembunyi



Abrisam membawa Salina ke tempat yang Salina pikir hanya ada di film saja. Hutan yang masih asri, padang rumput yang hijau dan luas lengkap dengan pemandangan perbukitan dan gunung yang memanjakan mata. Hari sudah gelap sebenarnya, tapi tidak menutupi dan mengurangi keindahan yang ada.


Abrisam menghentikan mobilnya di depan sebuah pondok, ada asap yang keluar dari cerobong asap pondok itu. Salina melihat sekeliling, tidak banyak pondok dan pemukiman di sana. Hanya ada beberapa, itu pun dalam jarak yang cukup berjauhan.


Seorang pria paruh baya keluar dari dalam pondok, merapatkan sweter rajut lusuh yang dikenakannya dan terlihat bergitu tak percaya ketika Abrisam menyapanya.


"Salam, Paman." kata Abrisam.


"Abrisam? Itu kau?" tanya pria yang dipanggil paman itu masih tak percaya dengan penglihatannya.


"Iya ini aku, Abrisam."


"Oh Tuhan! Oh Tuhan!" Begitu antusias pria itu mendekati Abrisam kemudian langsung memeluknya erat-erat. Abrisam pun membalas pelukan pria itu dengan hangat.


Salina sering kali dibuat tidak mengerti dengan sikap Abrisam, terkadang dia bersikap begitu dingin, begitu memaksa dan otoriter, tapi disisi lain Abrisam menunjukkan kehangatan hatinya meski dengan sikapnya yang menyebalkan, terkadang juga ucapan dan perbuatannya tidak sejalan, seperti saat ini, bukan kah dia bilang tadi akan membawa Salina bersembunyi ke rumah wanita yang dicintai Abrisam? Tapi apa ini? Yang keluar dari rumah Hobbit itu adalah seorang pria paruh baya dengan rambutnya yang beruban sempurna.


Mereka saling melepaskan pelukan, kemudian Paman melihat Salina yang masih mematung ditempatnya.


"Dia istriku." Abrisam menjelaskan dengan cara tersingkat.


Salina tersenyum canggung ketika menyalami tangan pria itu.


"Kau sudah menikah?"


"Begitulah." jawab Abrisam sambil mengedikkan bahu.


"Ayo, ayo, masuk, jangan sampai kalian kedinginan. Aku akan buatkan teh poci terbaik!" ujar Paman dengan semangat.


Paman itu berjalan lebih dulu di depan Abrisam dan Salina.


"Dia siapa?" tanya Salina sambil berbisik sementara Paman di dapurnya membuat teh poci hangat.


"Kenalanku."


"Usia kalian cukup jauh untuk dikatakan berteman." ujar Salina, kali ini Paman terkekeh, karena rupanya suara Salina cukup terdengar. Sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh poci yang asapnya masih mengepul untuk diberikan pada Salina dan Abrisam.


"Terima kasih." ujar Salina dengan sopan seraya menerima secangkir teh itu.


"Abrisam itu sudah seperti anakku sendiri." kata Paman, ia turut duduk pada sofa. "Sejak kejadian itu, aku merawatnya, tak kusangka ternyata semakin dewasa Abrisam sekarang, eh?" kata Paman dengan cara bicaranya yang menyenangkan dan hangat.


Abrisam hanya menyeruput teh nya perlahan.


"Kejadian apa, Paman?" tanya Salina. Mode kepo nya mulai on. Entah kenapa, sekarang dia ingin tahu banyak tentang Abrisam. Ia hanya merasa, Abrisam menyimpan banyak hal di dalam hatinya, memendamnya disana tanpa membiarkan satu orang pun membuka kotak hitamnya itu.


"Tidak bisa kah kau tidak selalu penasaran?" Abrisam mencibir.


“Tidak.” Sahut Salina cuek.


Abrisam hanya menggelengkan kepala. Kemudian bangkit berdiri. “Aku akan mengambil kayu bakar lagi.” Katanya kemudian.


“Ah, kebetulan sekali kayu bakarnya belum dipotong.” Sahut paman.


Abrisam mengangguk kemudian keluar dari dalam pondok, untuk mengambil dan memotong beberapa balok kayu bakar.


Sementara itu di dalam pondok Salina masih berusaha mencari tahu tentang Abrisam melalui pria yang mengaku telah menganggap Abrisam seperti anaknya sendiri.


“Anak itu, selalu saja terlihat dingin dan kasar di luar, padahal dia mempunyai hati yang hangat dan lembut.”


“Benarkah?” Salina berpura-pura tidak percaya. “Kupikir dia hanya pria yang dingin menyebalkan dan sukanya memerintah saja.”


“Apakah dia menyebalkan?”


Salina mengangguk.


Paman itu malah terkekeh. “Percayalah, dia mungkin bersikap seperti apa yang dia tunjukan untuk menjauh dari orang-orang, menarik diri dari orang-orang yang peduli padanya.”


“Tapi kenapa dia begitu?”


“Karena, dia hanya tidak mau orang-orang yang dia kasihi ikut terjatuh dalam lubang hitamnya.”


“Maaf, Paman, tapi aku tidak mengerti.”


Paman tersenyum. “Jangan pernah memaksanya untuk membuka diri, biarkan dia merasakan dan melihat ketulusanmu, dan dengan begitu kau akan melihat ada berlian yang sangat berharga dalam hatinya, tertutup oleh luka yang selama ini ia pendam sendirian.”


“Luka?”


Paman mengangguk, kemudian dengan serius Paman melihat Salina, “Bisa kah kau berjanji padaku satu hal.”


“Apa itu Paman?”


“Apa dia pernah membawa seorang wanita lain sebelum aku kesini?”


“Pernah, Ibunya. Selain pada ibunya, dia tidak pernah benar-benar peduli pada yang lainnya. Jika kau sampai dibawanya kesini, itu artinya kau adalah orang yang dia sangat pedulikan setelah ibunya.”


Salina terdiam. Entah apa yang berkecamuk dalam isi kepala dan isi hati Salina saat ini, ia memandang Abrisam memotong-motong beberapa balok kayu bakar.


Benarkah pria yang selalu menatap dengan sepasang mata tajamnya yang dingin itu mempunyai luka? Benarkah pria yang pernah hampir membunuhnya mempunyai hati yang hangat?


.


.


.


Di dalam pondok itu hanya ada satu kamar, tadinya Paman menyuruh Salina dan Abrisam untuk tidur di dalam kamar, tapi Salina dengan cepat menolak. Pada akhirnya, Salina dan Abrisam tidur di ruang tengah. Salina di atas sofa, sementara Abrisam di atas karpet.


Tapi, Abrisam memilih untuk terjaga, dia harus berjaga-jaga, ia yakin, siapa pun yang menyuruh dirinya diikuti tidak akan menyerah begitu saja. Lewat tengah malam ia melihat Salina mulai gelisah dalam tidurnya, keringat dingin mulai bermunculan pada kening gadis itu.


Abrisam mendekati Salina, berlutut tepat di sampingnya, mengusap peluh gadis itu, mengusap lembut rambut dan pelan menepuk-nepuk punggung Salina seraya membisikkan kata-kata yang menenangkan Salina. Siapa yang menyangka, bisikan lembutnya membuat Salina kembali terlelap tanpa lagi gelisah.


Setelah gadis itu kembali tenang, Abrisam memandangi wajah Salina yang terlelap,menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi kening dan pipi.


Apa yang harus aku lakukan padamu? Apa yang telah kau lakukan padaku? Bagaimana jika aku menempatkan kau dalam bahaya? Bagaimana jika aku tidak bisa melindungimu? Bagaimana jika aku tidak dapat memenuhi janjiku di depan pusara kakakmu?


Abrisam membuang napas berat, dia duduk, bersandar pada kaki sofa yang ditempati Salina. Kejadian-kejadian pada masa lalu kembali berputar dalam memorinya. Seketika ia merasa takut. Bagaimana jika kali ini ia harus merasakan rasa kehilangan yang sama? Kehilangan yang perih.


Berjam-jam Abrisam hanya merenungi hidupnya, masa lalunya, masa depannya, namun dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Abrisam bangkit berdiri begitu sinar matahari mulai menyongsong, sinarnya menembus tirai tipis yang menutup kaca jendela pondok. Pintu kamar Paman bergerak terbuka, tampak Paman sudah rapi.


“Kau tidak tidur?” tanya Paman dengan suara pelan melihat Salina yang masih terlelap.


“Tidak bisa tidur. Aku harus berjaga.” Jawab Abrisam.


“Baiklah, kau harus isi perutmu dengan yang hangat. Mau kubuatkan sarapan serabi? Serabi buatanku masih sehebat dulu.” Paman keluar pondok diikuti Abrisam setelah pria itu membenarkan posisi selimut Salina.


“Kopi saja, Paman. Aku rasa aku butuh kopi yang pahit.”


“Ah, rupanya kau sudah sangat dewasa.” Ujar Paman seraya terkekeh.


Abrisam menunggu di teras berlantaikan kayu, mata elangnya terus memantau sekitar. Pistol siap pada bagian belakang punggungnya bersembunyi dibalik kaus dan jaket kulit hitamnya. Tak lama kemudian Paman datang, membawa dua cangkir. Yang satu beraroma kopi, yang satu beraroma teh melati.


“Terima kasih.” Abrisam menerima cangkir beraroma kopi dari tangan paman.


“Jadi,” Paman ikut duduk di atas lantai bersama Abrisam sembali menikmati pemandangan alam yang mempesona. “Bagaimana kau bisa menikah? Kuingat bagaimana dulu kau bilang tidak ingin terikat hubungan apa pun.”


Abrisam menyeruput kopinya, merasakan cairan kafein yang kuat itu mengalir masuk ke dalam tubuhnya.


“Terpaksa.” Jawab Abrisam. “Orang itu menyuruhku untuk membunuhnya dan keluarganya.” Jawab


Abrisam dengan nada datar.


“Lalu kau malah menikahinya untuk menyelamatkannya?”


“Yah, begitulah.”


Paman terkekeh hingga membuat Abrisam bingung.


“Apa yang lucu?”


“Kau menunjukkan ekspresi datarmu, menunjukkan tatapan dinginmu, tapi kau lupa bagaimana aku telah mengenalmu? Jika kau tidak peduli padanya, jika kau tidak menempatkan Salina dalam hatimu, kau tidak akan melindunginya. Kuharap kau tidak menarik dirimu, kuharap kau tidak mengelak dan menghindari, kuharap kali ini, kau memberikan hatimu hak untuk dicintai dan mencintai.”


“Aku…” Abrisam kembali membuang napas berat. “Aku hanya takut menempatkannya dalam bahaya.”


“Kalau begitu, biarkan dia yang memilihnya sendiri.”


“Memilihnya sendiri? Dia tidak akan memilihku, kurasa. Dia tidak menyukai.” Abrisam menyesap kopinya. “Siapa yang akan menyukai seseorang seperti aku?”


Paman kembali terkekeh. “Kau akan tahu jika kau melihat langsung ke dalam matanya.”


Abrisam hanya menggeleng. Enggan mengisi hatinya dengan harapan-harapan yang dia rasa dia tak berhak mendapatkannya.


.


.


.


TBC~