
“Maaf Tuan Abrisam, sesuai instruksi Tuan Hadran, kalian tidak bisa keluar dari sini.”
Abrisam menatap tajam orang yang berbicara padanya itu, kemudian berkata, “Minggir, atau kau akan menyesal.”
“Maafkan kami, Tuan. Tapi Tuan Hadran telah memerintahkan kami agar Tuan beserta yang lainnya tidak keluar dari gedung ini.”
“Kenapa?”
“Karena aku menginginkannya demikian.” Hadran menjawab pertanyaan Galih.
Pria itu muncul, berjalan dengan tenang mendekati Abrisam yang sudah mengeraskan rahangnya, menahan amarah yang sudah memuncak pada pria itu.
“Apa yang kau inginkan lagi?” tanya Abrisam dingin.
“Kau tetap berada disisiku, seperti dulu. Lepaskan wanita itu, dan kita kembali bangun dan meraih kejayaan kita.”
Abrisam mendengkus.
“Dengar, aku bahkan tidak lagi peduli dengan apa yang mungkin akan dilaporkan gadis itu pada polisi atau media. Asalkan kau kembali padaku. Bagaimana pun kau adalah darah dagingku, Abi.”
“Kau membuatku muak.” Ucap Abrisam dengan nada rendahnya yang menintimidasi. “Pertama kau ingin membuangku, lalu kau menjebakku dengan hutang budi yang kau berikan, lalu kau ingin mencelakaiku dan juga istriku, dan sekarang apa? Kau ingin aku tetap berada disisimu?”
“Benar, aku tahu, aku salah, aku-”
“Kesalahan terbesarku adalah, aku menerima bantuan darimu saat dulu. Dan penyesalan itu akan aku bawa hingga aku mati. Jadi, kali ini, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.” Potong Abrisam.
“Dan sampai matipun, kau tidak akan bisa mengabaikan kenyataan bahwa aku adalah Papamu, dan salah satu ginjalku ada dalam tubuh ibumu.”
Abrisam terkekeh sinis. “Aku tidak akan terpengaruh dengan kalimat itu lagi.” Ujar Abrisam dingin. “Karena kau sendiri yang telah membuka jalanku untuk mengambil keputusan. Sekarang, minggir, atau aku akan keluar dengan caraku.”
“Silahkan lakukan dengan caramu.”
Abrisam pun langsung mengeluarkan pistolnya, dan saat itu juga suasana menjadi menegangkan dan mencekam, karena kini kedua kubu saling mengarahkan pistol-pistol mereka. Abrisam mengarahkannya pada Hadran.
“Kau akan membunuhku?” tanya Hadran. “Lakukanlah, jika itu bisa menjadikanmu sebagai anakku seutuhnya.”
“Cih, kau sedang berhalusinasi?”
Dengan gerakan cepat, Abrisam mengarahkan pistol ke arah belakangnya, pada pintu kaca yang menunjukkan seseorang baru saja keluar dari dalam mobil.
“Lihat siapa yang datang.” Abrisam menggerakkan kepalanya.
Hadran bergerak, melihat kearah yang ditunjukkan Abrisam. Matanya seketika membulat sempurna.
“Kau tidak akan mungkin menembak anak dan istriku, bukan?”
“Kenapa tidak mungkin? Bukan kah kau sendiri sudah membayar orang untuk menghabisiku dan istriku?” Abrisam menaikkan sebelah alis matanya.
“Jangan lakukan, mereka tidak tahu apa-apa.”
“Mungkin sudah waktunya dia tahu siapa pria yang menjadi suaminya.”
“Baiklah, aku akan membiarkanmu pergi, tapi jangan kau sentuh anak dan istriku.”
Abrisam mendengkus.
“Turunkan pistol kalian, dan bubar!” Semua anak buah Hadran pun segera membubarkan diri. Anak buah Tuan Jo pun menurunkan pistol mereka, menyembunyikannya kembali di balik jas hitam mereka. Begitu pun juga dengan Abrisam dan Galih. Tepat saat itu Winda masuk setelah pintu kaca gedung itu terbuka secara otomatis.
“Eh, Abrisam? Kau ada disini?”
Abrisam pun bergerak melewati Hadran. “Ya.” Katanya sambil menjawab Winda.
“Bagaimana kabarmu dan Salina. Sudah lama tidak ke rumah. Oh, ya, untuk resepsi kalian, Tante sudah menjadwalkan-”
“Aku berubah pikiran.” Potong Abrisam dengan segera. “Tidak perlu ada resepsi.”
“Tapi…”
“Tante bisa siapkan saja resepsi untuk anak Tante sendiri.” Katanya datar kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Winda yang kebingungan dengan banyaknya orang berjas hitam yang berjalan di belakang Abrisam dan Galih.
“Kenapa mereka beraura seperti gangster saja.” Gerutunya.
***
Abrisam kembali ke rumah sakit, setelah semua anak buah Tuan Jo diminta untuk bubar juga olehnya. Meski pada akhirnya tidak terjadi apa-apa di gedung pertemuan Hadran, setidaknya, Abrisam sudah melakukan penjagaan maksimal.
Ia tertegun begitu menyadari tidak ada satu orang pun yang berjaga di depan kamar perawatan Salina. Seketika ia langsung berlari dan membuka pintu, kamar itu kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Salina dimana pun. Segera ia menuju tempat jaga, dan suster-suster disana pun menjelaskan bahwa Salina memaksa untuk keluar dari rumah sakit sore tadi, dan saat ini langit sudah gelap. Kemana Salina pergi?
Sebuah notif muncul pada layar ponselnya, notif dari aplikasi yang belum ia matikan. Notif dari aplikasi penangkap sinyal darurat yang berasal dari cincin Salina.
“Apartement?” Abrisam mengerutkan dahi.
Dengan cepat ia melangkah keluar dan pergi dari rumah sakit, menuju langsung apartemennya. Tidak sampai tiga puluh menit Abrisam telah sampai pada tempat parkir basement, dengan langkah cepat ia langsung menuju lift dan langsung menuju unit apartemennya.
Ada yang berbeda kali ini, Salina terlihat hanya mengenakan kaus oversize tanpa terlihat mengenakan celana panjang seperti biasanya. Betisnya tidak ramping rupanya, terlihat berisi begitu juga dengan setengah paha yang tidak sampai tertutup kaus kebesaran itu. Rambut panjangnya dicepol asal hingga menunjukkan leher jenjangnya dari belakang. Melihat Salina bergerak random dari belakang memunculkan sebuah hasrat dalam diri Abrisam. Hasrat yang selama ini mati-matian dia tahan.
“Kau menekan tombol darurat hanya untuk menunjukkan kau sedang memasak?” Suara Abrisam benar-benar mengejutkan Salina hingga membuat gadis itu tak sengaja menyenggol panci panas.
“Aaakkhh!” Ia meringis.
“Dasar ceroboh!” Abrisam langsung menarik tangan Salina, membawanya ke wastafel dan mengalirkan air keran pada kulit tangan Salina yang terkena panci panas tadi.
“Kenapa kau ada disini?” tanya Salina melihat Abrisam lekat-lekat.
“Kau sendiri kenapa ada disini? Kenapa memaksa untuk pulang?” Abrisam fokus pada kulit tangan Salina. Ia takut, jika ia menatap mata gadis itu dengan penampilannya yang luar biasa cantik di matanya, kemungkinan 100 persen, Abrisam tidak akan bisa menahan hasratnya untuk menerkam Salina.
“Aku tidak betah, lagi pula aku sudah merasa lebih baik.” Jawab Salina. “Lagi pula, kenapa kau meninggalkanku di rumah sakit? Apa kau ada niatan untuk meninggalkanku?”
Abrisam diam saja.
“Makanya, aku memutuskan untuk pulang saja, karena kupikir, kau tidak akan kembali, kau pasti sudah meninggalkanku, jadi untuk apa aku menunggumu di rumah sakit. Lebih baik aku pulang dan memasak makanan yang aku suka.”
“Kau menungguku?” tanya Abrisam. Akhirnya, ia mengangkat wajahnya untuk menatap mata Salina.
Salina mengangguk.
Sesuatu memberontak di bagian bawah tubuh Abrisam. Buru-buru ia melepaskan tangan Salina, dan melangkah mundur. Ia harus menjaga jarak aman. “Lalu untuk apa kau menekan tombol darurat di sini? Kupikir terjadi sesuatu lagi padamu.”
“Maaf, sepertinya tidak sengaja kepencet.” Jawab Salina santai sambil mengedikkan bahu. “Kau sudah makan? Mau kumasakkan sesuatu?”
“Belum. Aku mau mandi dulu, setelah itu, aku akan makan.”
“Mau kubuatkan masakan yang kau mau?”
“Aku akan makan apa pun yang kau masak sekarang.”
Abrisam mengguyur kepalanya dengan air dingin, meredakan hasrat yang sudah memuncak dalam dirinya. Bayangan Salina yang bergerak random dengan kaus kebesaran, rambut yang dicepol asal, betis, paha,
lehernya yang terekspos terus saja menari-nari dalam kepalanya.
Setelah berusaha sekuat tenaga meredakan hasrat yang sempat membuncah, akhirnya Abrisam keluar dari dalam kamar, dengan penampilannya yang lebih segar, meski dengan kaus dan celana yang berwarna hitam seperti biasanya.
Tapi, setelah usahanya di kamar mandi tadi, tiba-tiba kini di depan matanya, ia melihat Salina sedang membungkuk di meja makan sambil merapikan meja makan dari peralatan menulisnya. Laptop, buku, dan beberapa kertas catatan. Sialnya, pinggul Salina rupanya terlihat berisi dari sudut pengambilan pandangan mata Abrisam, pahanya pun semakin terekspos. Abrisam menelan salivanya. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian berdeham.
“Eh, kau sudah selesai? Sebentar, aku rapihkan dulu meja makannya, tadi aku masih sempat menulis disini. Kau sih, pulang tidak kasih kabar, jadi masih berantakan.” Salina terus melanjutkan aktifitasnya.
“Apa kau sengaja?”
“Eh? Sengaja apa?” Salina mengangkat tubuhnya, menatap Abrisam dengan tatapan bingung.
“Sengaja menggodaku dengan pakaian seperti itu.”
“Kaus kebesaran? Bau asap makanan? Rambut acak-acakan? Kau anggap aku sedang menggodamu?”
“Ya.”
“Memangnya kau tergoda dengan penampilanku seperti ini?” tanya Salina tak percaya.
Abrisam pun mendekat perlahan, memojokkan
Salina yang terbentur sisi meja makan. Salina mencari jalan keluar, tapi
Abrisam menguncinya.
“Ya… aku tergoda…”
“T-tapi… bukannya kau bilang aku… aku bukan tipemu?”
“Memang, tapi… bukan berarti aku tidak akan tergoda.”
“Tapi... kau tidak mencintaiku, bukan? Kau hanya akan menyentuh wanita yang kau cinta, bukan?”
“Benar…”
Dan detik berikutnya ketika Salina hendak membuka mulutnya lagi untuk bicara, saat itu juga Abrisam menutupnya dengan bibirnya. Mengunci bibir gadis itu dengan bibirnya. Mengunci tubuh gadis itu dengan tubuhnya.
.
.
.
TBC~