
"Apa-apaan ini?!" Bentak Abrisam merasa dikhianati.
"Abi..." Hadran berada di depannya, dan di belakangnya ada Tuan Jo menempelkan pistol pada kepala Hadran.
"Kenapa kau tidak pernah bilang kalau Tuan Hadran yang terhormat ini adalah ayahmu?" tanya Tuan Jo dengan senyum kelicikkan.
"Bukan urusanmu! Dia ayahku atau bukan, tidak ada urusannya denganmu! Lepaskan dia! Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menjatuhkannya! Dia bahkan bukan lagi pesaing bagi siapa-siapa!"
Tuan Jo tertawa.
"Kukira sudah kesepakatan kita untuk kau tidak mempunyai titik lemahmu dalam misi ini."
"Titik lemah lagi?!" Abrisam melotot tak percaya. "Kau masih mempermasalahkan titik lemah, setelah apa yang sudah kubuktikan padamu."
"Jawab pertanyaanku, apakah Hadran termasuk salah satu dari titik lemahmu?" tanya Tuan Jo. Pertanyaan yang sama sekali tidak Abrisam mengerti apa maksudnya.
"Dia bukan titik lemahku! Sekarang lepaskan dia! Bukan seperti ini kesepakatan kita!"
"Tapi kau peduli padanya!" Bentak Tuan Jo. "Kau bahkan mempersiapkan operasi ginjal untuknya bukan, tapi sayang atau bagusnya, orang tidak tahu diri ini membatalkan jadwal operasinya." Lanjut Tuan Jo yang membuat Abrisam menatap sinis pada Hadran.
"Dan sekarang kau takut aku melukainya, bukan?"
"Aku tidak peduli kau melukainya atau tidak, hanya saja, urusanku dengannya sudah selesai. Jangan memperumit situasi yang tidak jelas ini, Tuan Jo! Apa sebenarnya maumu?!"
"Mauku?" Tuan Jo menatap tajam. "Aku mau kau membunuhnya! Kau yang menghabisi nyawanya!"
"Lalu apa maksud semua misi yang aku dan Galih lakukan selama satu tahun ini jika yang kau mau hanya menghabisinya?"
Tuan Jo kembali terkekeh. "Misi yang kalian jalani dan lakukan hanyalah misi kecil, misi sederhana yang kujadikan alasan untuk mencapai misi puncak hari ini."
"Berengsek!" Maki Abrisam. Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya pada Tuan Jo. Bersamaan dengan itu, tiga orang anak buah Tuan Jo juga mengangkat senaja mereka, namun mengarahkannya pada Abrisam dan Galih.
"Hei, dasar bodoh! Teman-teman kalian dijadikan korban tak bersalah oleh Tuan Jo! Dan kalian masih memihaknya?! Kalian mau gugurnya rekan-rekan kalian itu sia-sia?!" Teriak Galih.
Ketiga orang itu pun seketika terlihat ragu.
"Tidak usah ragu! Kita dikepung habis-habisan. Menerobos masuk ke dalam pertahan yang kita pikir adalah pertahanan musuh dari Tuan yang kalian layani. Tapi, apa yang kalian dapat? Pengkhianatan oleh Tuan kalian! Kalian, rekan-rekan kalian, aku dan Kak Abrisam hanya dijebak oleh Tuan kalian untuk mendapatkan tujuannya sendiri!" Lagi Galih berteriak frustasi.
"Kau tidak akan bisa membeli orang-orangku dengan motivasi rendahan seperti itu, Tuan Galih." kata Tuan Jo dengan meremehkan Galih.
"Dengar, jika kau tidak bisa menghabisinya untukku, maka kita akan habis bersama." Tuan Jo membuka jas hitam yang dikenakan Hadran.
"Kau sakit!" Bentak Abrisam tak percaya.
Hadran sudah terlihat pasrah dengan apa yang terjadi padanya.
"Apa sebenarnya tujuanmu?! Apa sebenarnya masalahmu?!" Teriak Abrisam.
"Kau!" Balas teriak Tuan Jo.
"Aku?"
"Hadran telah menodai wanita yang kucintai, tapi setelah itu wanita itu malah pergi, menghilang dan melahirkan kau dan saudara kembarmu. Wanita itu... ya dia ibumu! Ibumu memilih untuk membesarkan anak-anak dari Hadran! Dan kau tahu apa yang dilakukan ibumu padaku? Dia menolakku ketika aku menawarkan diri menikahinya, aku rela menjadi ayah dari anak-anak musuhku! Tapi, ibumu lebih memilih menikah dengan pria miskin menyedihkan." Jelas Tuan Jo dengan segala emosi yang lepas dari sorot matanya.
Abrisam mengeraskan rahangnya, tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya bahwa kisahnya sejak dulu dipenuhi dengan dendam.
"Bahkan ketika aku menghabisi ayah sambungmu itu, kau memilih bantuan pada dia!" Tuan Jo menyalakan penghintung mundur pada bom yang menempel pada tubuh Hadran.
"Sialan!" Maki Galih melihat penghintung mundur itu mulai berkurang. Waktu mereka kurang dari lima menit.
"Kau... kau membunuh ayahku?" tanya Abrisam dengan nada rendah yang penuh dengan emosi juga amarah.
"Ya! Aku menghabisinya! Jika aku tidak bisa memiliki ibumu, maka tidak ada yang bisa memilikinya. Tapi apa? Kau kembali pada ayahmu yang berengsek ini! Meminta bantuannya! Bahkan menjadi kaki tangannya!"
Baru kali ini, seumut hidupnya Abrisam melihat Hadran masih lebih baik ketimbang orang lain. Setidaknya, Hadran mengakui dirinya sebagai ayah dari Abrisam dan Aidar.
"Kau tahu, aku beruntung ibu tidak menerima pria licik seperti kau!" Maki Abrisam. Matanya kemudian beralih menatap Hadran dengan tajam. "Lakukan seperti yang kita lakukan!"
Hadran mengangguk mengerti apa maksud kalimat Abrisam. Begitu pun dengan Galih.
"Kosong Dua!" sebuah kode yang mana telah menjadi pelajaran sejak dulu antara Abrisam, Hadran dan Galih. Ketika berada dalam situasi yang persis seperti ini. Itu artinya, Hadran harus memiringkan posisi kepalanya semaksimal mungkin agar Abrisam bisa memberikan tembakan telak yang akan mendarat ke kepala atau pun leher si penyandera, a.k.a Tuan Jo. Dan jika tembakanya meleset, tidak mengenai leher atau pun kepala, maka Galih pun sudah siap untuk melumpuhkan dengan melepaskan tembakan pada salah satu kaki.
Begitu Tuan Jo dapat dilumpuhkan dengan tembakan yang mendarat pada telinga dari Abrisam. Hadran pun lolos dari cengkraman Tuan Jo. Pistol yang dipegang Tuan Jo pun segera dijauhkan oleh Abrisam.
"Kalian masih mau membelanya?!" Bentak Abrisam pada orang-orang Tuan Jo.
Mereka menurunkan senjata-senjata mereka.
"Gal, cepat kau jinakkan bom itu!" Titah Abrisam.
"Apa?"
"Aku belum pernah melihat bom macam ini."
"Apa maksudmu?" Abrisam melotot.
"Ini bom yang belum pernah kujinakkan. Semua kabelnya sama. Tidak ada warna. Semuanya hitam. Rakitannya pun asing!"
"Berengsek!" Maki Abrisam.
Tuan Jo terkekeh lemah, namun masih jelas kelicikkan dalam nadanya.
"Siapa pun tidak ada yang bisa menjinakkannya. Itu adalah bom rakitanku. Aku menciptakannya bukan untuk bisa dijinakkan. Sekali waktunya bergerak mundur, maka tidak ada yang bisa menghentikannya." Tuan Jo kembali terkekeh dengan suaranya yang parau menahan rasa nyeri pada tubuhnya akibat luka tembakan.
"Abi... Abrisam..." Hadran memanggil Abrisam.
Waktu terus bergerak mundur, kurang dari dua menit lagi bom itu akan menghancurkan apa pun disekitarnya.
"Cepat lepaskan rompinya!" Titah Abrisam sambil ikut turun tangan melepaskan jas Hadran. Mengabaikan suara pria itu yang memanggilnya.
"Diam!" bentak Abrisam pada akhirnya. "Kita harus cepat!"
"Tidak bisa!" Hadran menolak. "Jo menjahit sebagian rompi ini ke kulitku."
"Apa?!" Pekik Handran dan Abrisam bersamaan.
Dan benar saja apa yang dikatakan Hadran. Pada bagian belakang juga bagian depan, pinggiran dari rompi itu rupanya dijahit bukan hanya ke kemeja yang dikenakan Hadran, melainkan juga ke kulit Hadran dengan sadisnya.
"Kau!" Abrisam nyaris saja menghampiri Tuan Jo lagi untuk memberikannya pelajaran, tapi Galih menahannya, mengingatkan Abrisam waktu mereka semakin tipis.
"Abi, kita tidak punya jalan keluar kecuali satu hal." kata Hadran.
"Apa? Cepat katakan!"
"Hanya aku yang bisa membuat bom ini tidak menghancurkan kita semua yang ada disini."
"Bagaimana caranya?"
"Kau akan tahu nanti. Tapi sebelum itu, aku minta satu hal padamu."
"Apa?!"
"Tolong jangan kau abaikan anak-anakku dan Winda. Mereka tidak tahu apa-apa. Kumohon, jaga mereka. Kumohon, berjanjilah padaku!"
Abrisam tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apakah ia bisa menjaga keluarga Hadran setelah apa yang dia lakukan pada ibunya.
"Kak!" Galih menunjuk waktu kurang dari 30 detik lagi.
"Baiklah! Aku janji akan menjaga mereka. Sekarang bagaimana kau menghentikannya?!"
Hadran berdiri, dengan langkah cepat dia menuju jendela.
"Maafkan Papa, Nak. Sampaikan permintaan maaf Papa pada ibumu. Selamat tinggal."
"Apa yang kau-" Belum sempat Abrisam menyelesaikan kalimatnya, Hadran sudah loncat keluar dari jendela, menjatuhkan dirinya dari ketinggian gedung pada lantai 38. Abrisam dan Galih langsung mendekati jendela, berharap bisa menggapai, tapi sia-sia.
"4... 3... 2... 1..."
Bom pun meledak bahkan sebelum tubuh Hadran menyentuh permukaan tanah. Getarannya terasa pada tangan Abrisam yang mencekal pinggiran jendela.
Ledakan itu seketika menghancurkan tubuh Hadran hingga tak berbentuk lagi.
Sebuah kegetiran melanda hatinya.
Dengan tatapannya yang tajam, Abrisam menatap Jo yang semakin lemah karena kehilangan banyak darahnya.
"Apa yang akan kita lakukan padanya, Kak?"
.
.
.
TBC~