
Salina masuk ke dalam kamar kerja Abrisam yang mulai hari ini akan menjadi kamar tidur Salina. Ia duduk pada kursi kerja Abrisam, pikirannya berbenturan tak terarah. Dadanya sesak. Ia ingin teriak tapi ia tidak mampu. Kepalanya bersandar pasrah pada sandaran kursi kerja itu, menengadah menatap kosong langit-langit kamar.
Apakah aku akan bertahan?
Pertanyaan itu terus berputar dalam otaknya. Apakah ia akan bertahan dengan lembaran baru dalam hidupnya yang tidak pernah ia inginkan? Lembaran hitam yang tak bisa ia kembalikan lagi. Mampukah ia bertahan berjalan dalam lorong gelap tak berujung dengan kedua kakinya yang terluka dan terikat?
Air mata tak terasa mengalir dari sudut-sudut matanya.
Malam ini seharusnya menjadi malam paling romantis antara dia dan Bagas. Karena beberapa hari sebelumnya Bagas telah meminta Salina untuk makan malam disebuah restoran yang sudah ia pesan untuk makan malam hari ini. Mungkin saja malam ini Bagas akan melamarnya, menyematkan cincin pada jemarinya. Tapi apa yang terjadi pada hari yang panjang ini?
Salina menyaksikan sebuah kejadian paling mengerikan dalam hidupnya, hampir kehilangan nyawa dengan sebuah peluru di kepalanya, diusir oleh Bunda yang paling ia cintai di dunia ini, dan tiba-tiba ia sudah menyandang status sebagai seorang istri dari pria yang seharusnya menghabisi nyawanya, istri dari seorang pria berdarah dingin yang bahkan nama belakang pria itu saja Salina tidak tahu.
Saat ijab qobul di KUA Salina sama sekali tidak mendengarkan apa yang diucapkan Abrisam dan petugas yang berwenang menikahkan mereka. Pikirannya terlalu semerawut memikirkan langkah yang mungkin bisa ia lakukan kelak untuk bisa terlepas dari belenggu ini. Tapi rupanya, belenggu ini selamanya akan memenjarakan Salina.
Drrrt!
Drrrt!
Ponselnya bergetar di dalam saku celananya, ia merogoh saku celana dan mengeluarkan benda pipih itu. Nama Bagas tertera di sana.
Hatinya seketika teremas sakit dan perih. Bagaimana ia bisa menjelaskan semuanya pada Bagas? Bagaimana dia bisa menatap mata Bagas nantinya? Bagaimana dia bisa meninggalkan pria yang telah menemani perjuangannya selama ini?
Drrrt!
Drrrt!
Ponselnya masih bergetar tanpa nada dering.
Salina menarik napas panjang, menenangkan hatinya dan menegarkan hatinya.
“Ya?”
“Sal? Kau dimana? Tidak lupa dengan janji kita, bukan? Aku sudah menunggumu hampir satu jam? Apa kau terjebak macet? Apa mau kujemput?”
Suara Bagas yang lembut membuat hatinya semakin pilu. Salina menangis tanpa suara.
Oh Tuhan…
Oh Tuhan…
“Aku… akurasa aku tidak akan bisa datang.” jawab Salina.
“Kenapa?Apa kau sakit?”
“Aku… tidaksakit. Aku hanya tidak bisa datang.” Kali ini Salina tidak mampu menunjukkangetar dalam suaranya.
“Sal, kaubaik-baik saja?”
Tidak! Akutidak baik-baik saja. Tolong aku! Tolong selamatkan aku!
“Akubaik-baik saja.” jawab Salina.
“Tapikenapa kau terdengar seperti sedang menangis? Jangan bohong padaku, Sal. Akusangat mengenali suaramu.”
“Aku… Aku baik-baik saja. Dan, aku perlu memberitahukanmu sesuatu.” kata Salina. Sebelah tangannya mengepal menahan keinginan untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tapi ia harus ingat, ponsel ini sudah disadap oleh Abrisam. Ia yakin, saat ini Abrisam tengah mendengarkan perbincangan mereka.
“Apa yang ingin kau beritahukan?”
“Kita tidak lagi bisa bersama. Mulai hari ini, hubungan kita berakhir. Maafkan aku.” Maafkan aku… sungguh maafkan aku…
“Ap-apa? Apa maksudmu, Sal? Kau kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau ingin kita putus? Apakah aku ada salah padamu? Bukankah kita baik-baik saja?”
Tidak ada yang salah padamu, Gas. Kita memang baik-baik saja. Kita sempurna. Tapi…
“Tidak adayang salah padamu, semuanya salahku.”
“Aku tidakmengerti. Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Aku… akusudah menikah hari ini dengan seorang pria yang aku cintai sebelum aku kenaldenganmu.”
Lima detikyang hening, sampai terdengar tawa tak percaya dari seberang.
“Janganbercanda, Sal. Aku tahu kau suka mengerjaiku, tapi kali ini leluconmu samasekali tidak lucu.”
“Aku tidaksedang bercanda, Gas. Aku sudah menikah siang tadi. Tidak ada acara, tidak adapesta memang,karena… karena semua serba mendadak. Kami… hanya tidak mau membuang waktu lagi. Tidak mau saling kehilangan lagi. Aku mencintainya jauh sebelum aku bertemu denganmu, dan dia pun demikian. Maafkan aku jika selama ini kau hanya menjadi tempat persinggahanku sementara.”
“Sal! Hentikan omong kosong ini! Kau pikir aku akan percaya? Kita harus bertemu! Kau dimana? Bia raku yang menemuimu.”
“Tidak bisa, aku berada di rumah suamiku.”
“Sal! Tidak ada yang akan menjadi suamimu kecuali aku!”
“Maafkan aku.”
“Baiklah, kita akan bertemu. Besok siang, di kafe biasa, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Kuharap kau bisa menerima apa yang sudah terjadi.” Ujar Salina sebelum mengakhiri panggilan telepon itu tanpa harus menunggu sahutan dari Bagas.
Detik berikutnya Bagas menghubunginya lagi, tapi Salina tidak mampu lagi berkata, jadi yang dilakukannya hanya menggeser tombol merah sampai akhirnya ia terpaksa menonaktifkan ponselnya.
Ia menangkat kedua kakinya ke atas kursi, memeluk kedua lututnya dan menangis sesegukan disana dalam kesunyian yang menusuknya.
Setelah menguras habis air matanya, dan menenangkan dirinya, Salina melangkah gontai keluar dari kamar bertepatan dengan Abrisam yang juga keluar dari kamarnya.
Tatapan mereka saling beradu.
“Puas?” Ucap Salina.
“Good job.”
Salina melengos menuju dapur untuk menuangkan segelas air minum. Abrisam kembali duduk di meja makan dengan ekspresi datar.
Salina hendak melewati pria itu ketika ingin kembali mengurung dirinya di dalam kamar.
“Duduk.”
“Kau bicara padaku?”
“Ya, jika kau merasa sebagai manusia.”
Salina memberengut sambil menarik kursi dan menempatinya setengah hati.
“Sebelum bertemu dengan pria itu, pastikan kau sudah berlatih untuk mengatur ekspresimu, aku tidak mau ada ekspresi atau pun tatapan sendu apa lagi rindu atau kode-kode yang aku tidak tahu yang kau berikan pada pria itu. Kalau itu sampai terjadi, kau tahu konsekuensinya.”
“Kau akan mengancam keselamatan keluargaku lagi?”
“Lebih dari itu, pengkhianatan yang kau lakukan akan mendapat ganjaran yang berat. Aku akan membuatmu tetap hidup namun dalam penyesalan akan kehilangan orang-orang yang kau sayang. Dan aku akan melakukannya tepat di depan matamu, seperti apa yang kau lihat pagi ini di ruang kerja Om ku.” Ujar Abrisam dengan intonasi nada yang rendah dan mencekam.
Tak lagi mampu menahan emosinya yang memuncak Salina menyiramkan air minum dalam gelas yang dipegangnya kepada wajah Abrisam.
“Kau bukan manusia! Kau dengar?! Kau bukan manusia! Tidak ada manusia yang mampu sepertimu! Kau monster!” Teriak Salina di depan wajah Abrisam yang basah kuyup.
Dengan gerakan cepat tangan kekar dan panjang Abrisam mencekal kedua pipi Salina dengan kuat. Tatapan tajamnya menghunus sorot mata Salina yang menatapnya penuh kebencian.
“Karena itu jangan terlintas dalam otakmu untuk mengkhianatiku. Selama kau patuh, maka aku akan terus cosplay menjadi manusia. Jadi jangan pernah menguji monster sepertiku.”
.
.
.
Salina mengenakan kaca mata menulisnya demi menutupi kelopak matanya yang bengkak akibat semalaman menangis sampai kepalanya pusing.
“Ingat, dibalik pintu ini, kau dan aku adalah suami istri yang saling mencintai.” Ujar Abrisam mengingatkan Salina sebelum mereka melangkah keluar apartemen.
Salina hanya bisa mendengkus kasar.
“Aku hanya perlu melingkarkan tanganku pada lenganmu saja, bukan?”
“Mungkin sesekali kau juga harus menciumku.”
Salina menyipitkan matanya, “Jangan membuatku memuntahi wajahmu didepan mata-mata Hadran.”
Abrisam tersenyum sinis menanggapi sarkasme Salina.
Mereka akhirnya melangkah keluar dari apartemen.
Abrisam terlihat tenang dan dingin. Salina terlihat agak sedikit gelisah. Ia setengah hati melingkarkan tangannya pada lengan kekar Abrisam yang berotot dengan sikap kaku.
Abrisam mendekatkan bibirnya pada telinga Salina, “Bersikap yang manja dan normal, jangan kaku seperti patung. Tersenyum setelah aku mengangkat wajahku. Mereka memperhatikan kita.”
Salina meremas lengan jas Abrisam dengan senyuman yang menghiasi wajahnya sesuai instruksi Abrisam. Ia semakin melekatkan tubuhnya pada tubuh Abrisam, berjalan dengan gaya manja yang memuakkan batin dan jiwa Salina, hingga mereka sama-sama masuk ke dalam mobil.
“Ingatkan aku untuk membeli cairan disinfektan untuk berendam.” Ujar Salina.
“Aku akan membelikannya untukmu sebagai kado pernikahan kita.” Sahut Abrisam.
Mobil pun melaju meninggalkan area apartemen.
.
.
.
TBC~