
“Tembak saja!”
DOR!
Salina seketika terkejut karena tepat teriakan orang-orang itu, tembakan pun terlepas, Salina terjatuh, kakinya terasa lemas, ia jatuh tepat di samping Abrisam.
DOR! DOR! DOR!
Bunyi tembakan terdengar banyak dan cepat, Salina refleks memeluk Abrisam, melindungi pria itu dari hujan peluru. Pikirannya telah melayang. Salina berpikir, jika ia mati, maka ia akan mati karena melindungi pria itu. Salina memejamkan kedua matanya seraya membisikkan terus kata-kata, “Bertahanlah. Bertahanlah.” Sampai akhirnya, suara tembakan-tembakan yang membuat jantungnya seperti diguncang-guncang pun berhenti.
Suasana tiba-tiba senyap, Salina membuka mata, “Apakah aku sudah mati?” tanyanya pada diri sendiri. Namun dia masih di tempat yang sama. Di hutan yang sama. Ia duduk kemudian, meraba tubuhnya, memeriksa dimana dia tertembak, tapi pada kenyataannya, tidak ada lubang peluru pada tubuhnya, lalu siapa tadi yang menembaki orang-orang itu hingga mereka akhirnya pergi?
Suara langkah kaki di atas daun kering dan tanah hutan itu, mendekati tempat di mana Abrisam dan Salina berada.
Salina pun segera waspada, menggenggam batu-batu kecil dalam genggamannya untuk dia jadikan senjata dengan melemparkannya ke wajah siapa pun orang yang akan mencelakai mereka lagi.
“Salina! Abrisam!” Suara Paman membuat Salina tertegun, melepaskan genggaman batu-batu kecil tadi dan menengok ke arah belakangnya.
“Paman?!” Ia cukup tercengang, bagaimana mungkin pria paruh baya yang beruban lebat itu membawa senapan laras panjang.
“Bagaimana kondisi Abrisam?” tanya Paman.
“Dia… dia…” Salina berusaha mengumpulkan kesadarannya dan konsentrasinya untuk memeriksa Abrisam dan sejenak mengesampingkan fakta di depan matanya bahwa yang mengusir orang-orang tadi adalah Paman yang terihat sepuh dan rapuh.
Salina menekan denyut nadi pada leher dan pergelangan tangan Abrisam. “Kita harus secepatnya membawa Abrisam ke rumah sakit, Paman!”
“Ayo!”
Paman dan Salina saling bekerja sama memapah Abrisam yang tubuhnya dua kali lipat tubuh Salina. Begitu sampai di mobil Paman, Salina dan Abrisam duduk pada jok belakang mobil itu, segera Paman melajukan mobil meninggalkan lokasi menuju rumah sakit paling dekat.
Abrisam bergerak lemah dan mengerang pelan dalam pelukan Salina.
“Ssshh, jangan banyak bergerak dan jangan bersuara, simpan tenagamu.” Ujar Salina.
“Kenapa… kau tidak… pergi?” tanya Abrisam lemah.
“Karena kau juga tidak pergi waktu itu. Kita impas.” Jawab Salina.
Abrisam lagi-lagi mengerang.
“Bertahanlah.” Ucap Salina seraya menggenggam tangan Abrisam.
“Dimana handphonemu? Aku harus mengabari keluargamu.”
“Saku… jaket…”
Dengan tangannya yang lain, Salina merogoh saku jaket Abrisam dan membuka layar handphone Abrisam yang tidak mempunyai gambar layar belakang, hanya hitam.
“Apa passwordnya?”
“Tanggal…ketemu… awal…”
“Hah?” Salina mengerutkan kening. “Ketemu awal? Ketemu apa? Ketemu siapa?”
“Aku… kau…” jawab Abrisam, matanya setengah terpejam.
Salina tertegun. Ibu jarinya membeku di udara, biji matanya melirik pada Abrisam, kemudian kembali fokus pada handphone. Kemudian ia menekan tanggal yang selama ini dia anggap tanggal tersebut adalah tanggal tersialnya, tapi tanggal itu justru dijadikan tanggal password untuk mengakses handphone bagi Abrisam.
“Aku akan menghubungi keluargamu.”
.
.
.
Tidak sampai satu jam, Salina, Abrisam dan Paman sampai di rumah sakit, Abrisam pun langsung ditangani oleh pihak rumah sakit, sementara Salina dan Paman hanya bisa menunggu Abrisam di luar kamar operasi.
Sisa darah Abrisam yang menempel pada tangan dan baju Salina yang telah mengering mengingatkan Salina pada kejadian kelam masa lalunya, saat itu Faris pun berlumuran darah demi menyelamatkannya. Sama seperti apa yang dilakukan Abrisam. Dua kali pria itu berlumuran darah untuk melindungi Salina. Dulu, Salina tidak bisa menyelamatkan Faris. Tapi kali ini, dia tidak mau mengulang kelemahannya dulu. Itu sebabnya Salina mendonorkan darahnya pada Abrisam. Itu sebabnya Salina nekat memeluk dan melindungi Abrisam dari hujan peluru tadi di hutan. Ia tidak mau lagi kehilangan orang yang telah menyelamatkannya.
“Sal,” Paman bersuara. “Apa kau tahu siapa orang-orang itu?”
Salina menggelengkan kepalanya.
“Omong-omong, bagaimana Paman bisa menembak seperti tadi?” tanya Salina.
“Aku mantan penembak jitu, dan Abrisam pernah menjadi anak buahku.”
“Apa?” Salina menaikkan kedua alis matanya. “Abrisam mantan tentara?”
Paman mengangguk. “Dia salah satu anak buah terbaikku. Dalam pertarungan tangan kosong atau pun dengan menggunakan senjata.”
Fakta baru lagi tentang Abrisam yang membuat Salina hampir tidak percaya.
“Apa Paman tahu tentang… tentang…” Salina tiba-tiba meragu untuk bertanya apakah Paman ini tahu tentang hubungan Abrisam dengan Hadran?
“Tentang apa?”
“Kakak Ipar! Paman!” Galih datang, menginterupsi perbincangan antara Salina dan Paman.
“Galih!”
“Apa yang terjadi?” Galih bertanya dengan begitu khawatir.
“Kita harus cari tahu siapa mereka, Gal.” kata Paman. “Apa Abrisam mempunyai musuh?”
“Bisa dikatakan, banyak, Paman. Mereka hanya tidak menunjukkan diri mereka saja.” Jelas Galih.
“Dimana keluarganya yang lain?” tanya Paman. “Bukankah kau bilang akan menghubungi keluarga Abrisam?”
“Ya tadinya, tapi, aku pikir, aku tidak terlalu tahu bagaimana hubungan Abrisam dengan seluruh keluarganya. Jadi, aku putuskan menghubungi Galih saja. Atau kurasa, lebih baik keluarganya tidak perlu tahu?”
“Entahlah Kak. Selama ini memang Kak Abi jika berada dalam kondisi seperti ini tidak pernah menghubungi keluarga.”
“Selama ini? Maksudmu?” tanya Salina. “Ini bukan kali pertama Abrisam tertembak?”
“Ya, begitulah.”
Salina semakin tertegun. Ia melangkah mundur, membiarkan Galih dan Paman saling berbicara, mendiskusikan apa yang harus mereka lakukan untuk menemukan pelakunya. Sementara Salina, dia duduk termenung. Begitu banyak hal tentang Abrisam yang tidak Salina tahu. Hubungan Abrisam dengan ibunya, hubungan dengan Hadran dan keluarganya, masa lalu Abrisam dengan Paman, bagaimana Abrisam bisa masuk penjara dan mungkin akan masih banyak kejutan tentang Abrisam yang Salina tidak tahu.
Semestinya Salina tidak perlu tergugah dengan masa lalu pria yang katanya dia benci. Namun sekarang Salina mulai meragukan kebenciannya pada Abrisam. Benarkah dia masih membencinya? Benarkah dia membenci Abrisam? Benarkah Salina akan terus membenci Abrisam?
Beberapa jam berlalu, akhirnya operasi Abrisam selesai dengan baik, semua berjalan sebagaimana mestinya. Setelah kondisinya lebih baik, Abrisam dipindahkan ke kamar perawatan dari ruang pemulihan. Meski Abrisam masih belum sadarkan diri dari efek bius.
“Apa Kakak tidak lelah? Tidak mau pulang dan istirahat?” Galih menawarkan.
Salina menggeleng. Salina kembali menatap tangannya, tangan yang dia gunakan untuk membantu menekan luka tembak Abrisam. Meski sudah dia bersihkan dari sisa darah bekas Abrisam, tapi Salina seolah masih bisa melihat darah itu di tangannya.
“Aku tidak akan meninggalkannya.” Jawab Salina. “Tapi, bolehkah aku minta tolong padamu?”
“Ap aitu Kak?”
“Bisakah kau ambilkan tas dan ponselku di pondok Paman?”
“Bisa. Aku akan segera kembali. Apa Kakak perlu baju ganti?”
“Kurasa perlu. Tapi apa kira-kira kau diijinkan oleh Abrisam untuk mengambil pakaianku?”
Galih melihat Abrisam yang masih terpejam di atas brankar. “Tidak. Kak Abi tidak akan mengijinkan siapa pun, termasuk aku.”
“Tapi, kurasa tidak masalah, Abrisam lagi pula tidak akan tahu.”
Galih menggeleng cepat. “Aku tidak mau melanggar kepercayaan Kak Abi padaku.”
“Wah, kau sangat setia. Lalu bagaimana kau bisa membawakanku pakaian ganti?”
“Aku akan minta tolong pada Iris.”
“Iris? Iris adikku?”
Galih mengangguk.
“Kalian sudah akrab?”
“Yeah… kurasa Iris cukup ekstrovert.”
Salina terkekeh pelan. “Yah, adikku itu memang mudah sekali bergaul. Baiklah, tapi bisa kah kau jangan menceritakan pada Iris apa yang terjadi, kau bisa mengarang apa pun.”
“Baik, Kak, tidak masalah.”
Galih hendak keluar dari kamar sebelum ia kembali menghadap Abrisam.
“Oh, ya, Kak, ada satu hal yang harus aku sampaikan.”
“Apa itu?”
“Amanah dari Kak Abi untuk diberikan pada Kakak Ipar.”
“Amanah?” Salina mengernyit.
“Kak Abi menitipkan sesuatu padaku, dan ia memintaku untuk memberikannya pada Kakak Ipar jika sesuatu terjadi padanya.”
“Apa itu?”
Galih mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tas ransel yang dibawanya, kemudian diberikannya pada Salina.
“Dokumen apa ini, Gal?”
“Rumah.”
“Rumah? Rumah apa?”
“Rumah yang dibeli Kak Abi untuk Kakak Ipar.”
“Apa?!”
.
.
.
TBC~