
Empat mobil hitam menghadang laju mobil Salina. Di antara panik dan tidak panik Salina melihat 16 pria berpakaian serba hitam seperti agen-agen rahasia keluar dari empat mobil itu. Lima belas dari mereka mengamankan dua bodyguard Salina hingga keduanya tak dapat lagi berkutik, setelah babak belur. Melihat kejadian yang brutal di luar mobil, Salina pun langsung gerak cepat untuk menyalakan gps pelacak dari cincin bermatakan berlian yang melingkar cantik pada jari manisnya.
Ketika satu orang membuka pintu dan menarik Salina keluar dari dalam mobil, hal pertama yang kemudian dilakukan orang itu adalah merampas ponsel Salina, melemparnya di atas aspal dan menginjaknya dengan kuat hingga hancur. Tepat seperti yang diprediksikan oleh Salina.
“Ponselku!” Teriak Salina, berakting seolah dia tidak mengira hal itu akan dilakukan.
“Cepat ikut!” Titah pria itu sambil menarik Salina dengan kasar.
“Nona…” Salah seorang bodyguardnya memanggil dengan putus asa.
“Segera katakan padanya, aku sangat menyukai hadiahnya.” Kata Salina yang terdengar seperti pesan terakhir yang begitu putus asa. Namun dua bodyguardnya itu mengerti apa maksud pesan putus as aitu.
Empat mobil itu pusn pergi membawa Salina, meninggalkan dua bodyguard yang sudah babak belur, namun dengan gerak cepat mereka langsung menghubungi seseorang yang berada dalam jarak ribuan kilo meter.
***
Beberapa jam sebelum Salina melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemen, Salina menemukan satu kotak kecil di atas meja nakas, kotak kecil beludru berwarna hitam dengan secarik kertas di bawah kotak itu.
Tekan berliannya untuk mengaktifkan sinyal gpsnya, hanya untuk keadaan darurat. Suka tidak suka, kau harus memakai hadiahmu ini. Begitulah pesan manis yang tertulis pada secarik kertasnya.
Seulas senyuman terulas pada wajah Salina. Ia mengusap lembut cicin itu. Cicin itu terlihat seperti cincin pernikahan sungguhan. Entah kenapa, membayangkan cincin itu adalah cincin pernikahan membuat degupan jantung Salina berdebar.
Lalu ia memastikan kembali penampilan dirinya di depan cermin sebelum keluar dari apartemen. Mengabaikan perintah Abrisam yang melarangnya untuk keluar selama dua hari. Dan saat ini, meski kini dirinya berada dalam bahaya dengan kepalanya yang ditutup kain hitam, tidak membuat Salina menyesal dan takut. Karena, jika
ia tidak keluar hari ini, mungkin sampai saat ini, Salina masih tidak tahu apa-apa tentang Abrisam. Jika pun dia celaka, ia tidak akan menyesali keputusannya.
Tiba-tiba kain hitam yang menutupi kepala Salina dibuka, cahaya seketika menyilaukan penglihatan Salina, namun setelah beradaptasi dengan sekitar, Salina mulai bisa menerka dimana dirinya berada.
Gudang kosong!
Seketika bayangan masa lalu muncul ke permukaan ingatan kelam Salina. Ingatan yang ingin sekali dihapusnya, namun tidak akan pernah bisa. Keringat dingin mulai bermunculan pada pelipisnya, tubuhnya mulai gemetar.
“Tolong! Tolong! Jangan!” Teriak Salina dengan sangat histeris hingga membuat orang-orang yang ada disana kebingungan. Mereka bahkan belum melakukan apa-apa padanya, tapi gadis itu sudah histeris pilu. Bahkan Salina sampai berlari ke ujung gudang dan meringkuk diujung gudang itu dengan tubuhnya yang bergetar hebat.
“Apa yang terjadi padanya?” Mereka saling bertanya-tanya.
***
Setelah menyelesaikan meeting pentingnya bersama Tuan Jo, Abrisam mendapatkan sejumlah informasi yang membuat Abrisam ingin membakar dunia, kepalanya begitu mendidih, hatinya begitu terbakar. Langkahnya yang lebar-lebar, tatapan matanya yang tajam hinggga rasanya orang yang ditatapnya bisa langsung tercabik mematikan.
“Kak!” Galih menghentikan langkah Abrisam begitu dirinya menerima panggilan telepon.
“Apa?!”
“Ada pesan dari kakak ipar.”
“Pesan apa?”
“Kakak ipar menyukai hadiahnya.”
Sejenak Abrisam tidak mengerti. Namun sedetik kemudian, kepanikan melandanya. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka salah satu aplikasi pelacak signal.
“Kita harus pulang saat ini juga!”
Jet pribadi pun mendarat dengan sempurna, Abrisam terus memantau signal yang terlihat pada layar ponselnya. Dia segera melajukan mobilnya bersama Galih dan beberapa anak buahnya.
Sementara Abrisam melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, Galih mencari tahu siapa yang telah menculik Nonanya, hingga membuat pria disebelahnya itu mampu untuk membakar apa pun hanya dengan tatapannya.
Galih menatap Abrisam dengan khawatir juga takut, takut akan kemurkaan pria itu jika tahu siapa yang menculik Salina.
“Siapa yang menculiknya?” tanya Abrisam.
“Mereka orang-orang bayaran, Kak.” Jawab Galih.
“Siapa yang beraninya membayar orang untuk mengusik Salina?!”
“Dia…”
“Ya. Dia orangnya.”
Seketika Abrisam teriak melepaskan amarahnya, pedal gas pun semakin dalam diinjaknya. “Aku akan menghabisi hidupnya! Aku akan menghabisinya!”
“Tenang, Kak, yang terutama sekarang adalah menyelamatkan Kakak Ipar.”
“Berengsek!”
Beberapa menit kemudian, mobil mereka tiba di area pergudangan sepi yang terbengkalai, orang-orangnya berpencar untuk memberikan kejutan pada orang-orang yang berjaga. Abrisam dan Galih pun menyiagakan senjata mereka di depan dada.
Tembakan pun mulai dilepaskan ketika pihak lawan memulainya duluan. Pihak Abrisam berhasil melumpuhkan setengah dari orang-orang yang berjaga di gudang itu, sampai ia terpaksa mengangkat tangannya dan menghentikan semua anak buahnya untuk melawan, ketika pimpinan mereka membawa Salina yang pucat dan gemetar dalam cekalannya dan pistol menempel pada pelipis Salina.
“Hentikan, atau kau akan melihat lubang pada kepalanya.” Titah pimpinan mereka yang Abrisam tahu bernama Ogey.
“Ogey? Apa yang kau lakukan?!” Abrisam begitu terkejut melihat pria yang dulu pernah menjadi rekan satu timnya semasa mereka menjadi anggota tentara.
“Aku melakukan apa yang harus aku lakukan sesuai dengan bayaranku.”
“Apa kau tahu siapa gadis yang kau tawan itu?”
“Tidak, tapi aku tidak peduli.”
“Dia istriku, bajingan!” Teriak Abrisam penuh dengan amarah.
“Oh, begitu, kah? Kupikir, orang-orang seperti kita seharusnya tidak terlibat pada hal-hal yang membuat kita memiliki titik lemah.”
“Lepaskan dia! Urusanmu denganku.”
“Tidak. Perintah yang aku terima bukan begitu bunyinya. Kalian adalah urusanku, karena itu aku menerima bayaran yang tinggi.”
“Aku akan membayarkan dua kali lipat, lepaskan dia!”
Ogey berpikir, kemudian menyeringai licik. “Kalau begitu aku akan meminta bayaran tiga kali lipat dari orang yang meminta kematian kalian.”
“Berengsek!” Umpat Abrisam.
“Ah, ayo, sekarang berlutut lah, ucapkan kalimat perpisahan kalian sebelum kalian mengembuskan napas terakhir kalian.”
“Tunggu dulu,” Galih memotong, “Dari mana kau begitu yakin kami yang akan mengembuskan napas terakhir kami?”
“Karena kami yang memegang pistolnya!”
“Oh, ya?” Galih melirik Abrisam. Kemudian dengan kode mengedipkan mata, Abrisam dan Galih menjatuhkan dirinya, tiarap tepat tembakan-tembakan misterius menumbangkan anak-anak buah Ogey, dan menyisakan Ogey sendirian dengan titik-titik merah pada sekujur tubuhnya.
Ekspresi Ogey begitu jelas terkejut dan panik. Ia tersudut, tidak bisa berkutik kecuali menyerah kali ini. Galih dan Abrisam kembali berdiri dengan penuh percaya diri.
“Lepaskan istriku!” ujar Abrisam dengan nada rendah yang membuat merinding. “Atau bukan hanya satu lubang yang akan melubangi tubuhmu.”
“Sial!” Umpatnya, dan pada akhirnya menyerahkan Salina pada Abrisam dengan dorongan yang kasar. Dengan sigap dan cepat, Abrisam menangkap tubuh Salina yang lunglai dan lemah. Badannya berkeringat namun terasa panas suhunya.
“Urus dia, buat dia buka mulut, setelah itu kita buat bajingan itu membayar semuanya!”
“Siap, Kak!”
Abrisam meninggalkan lokasi dengan Salina yang berada dalam gendongannya dan pelukannya, kakinya melangkah cepat menuju mobil, membawa Salina keluar dari sana untuk segera dibawanya ke rumah sakit.
“Bertahanlah.” Ujarnya kali ini begitu sangat ketakutan.
.
.
.
TBC~