
Salina datang dengan Keina yang tertidur dalam gendongannya, balita itu terlelap sangat nyaman dalam dekapan gendongan Salina. “Kenapa aku harus menurut?” tanyanya kemudian.
Abrisam langsung mengalihkan pandangannya dari Salina yang membuat sesuatu bergetar dalam nadinya.
Apa ini?
“Ah, begini, Nak. Om dan Abi barusan saja membicarakan hal yang semalam Om dan Tante bicarakan.” kata Hadran dalam mode Om-yang-bijak pada Salina.
“Tentang?” Salina mendekat dan ikut duduk di atas sofa panjang berbentuk L itu. Ia duduk tepat di samping Abrisam.
Tak kuasa Abrisam untuk menahan matanya agar tidak menatap Salina yang begitu teduh menggendong Keina.
“Pesta pernikahan.” jawab Hadran. “Tante Winda sangat ingin membuatkan kalian pesta pernikahan yang indah sebagai kado pernikahan untuk kalian.”
“Oh, lalu kenapa aku harus menurut?” Salina masih dalam mode sinis pada Hadran. Ya, jangan harap Hadran mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan sikap sopan dan santun dari Salina.
“Karena menurut Abi, kau pasti tidak akan mau melaksanakan sebuah pesta pernikahan. Tapi, Tante Winda sudah memulai persiapannya, jadi kuharap kau menurut untuk mau melaksanakan pesta pernikahan. Jika kau tidak menghargaiku, setidaknya kau menghargai usaha istriku untuk kalian.” Ujar Hadran, tenang tapi sarat dengan sindiran halus.
Abrisam seketika menatap sinis pada Hadran, entah kenapa dia tidak suka Hadran memojokkan Salina seperti itu.
“Apa kau bilang begitu, sayang?” Tanya Salina pada Abrisam yang membuat bulu pada tengkuknya meremang.
Apa barusan dia memanggilku? Sayang?
“Ya. Aku bilang begitu. Karena sejak awal kau memang tidak mau ada pesta bukan, karena orang tuamu tidak merestui hubungan kita.” jawab Abrisam mengarang bebas, tapi Salina cukup cepat tanggap tanpa menimbulkan kecurigaan pada tatapan Hadran.
Salina menghela napas sebentar, ia mengecup puncak kepala Keina dengan sayang ketika seorang nanny datang untuk membawa Keina ke kamarnya. Ia memberikan Keina dengan sangat hati-hati pada nanny-nya. Lalu kembali pada pembicaraan mereka.
“Aku keberatan sebenarnya. Kau tahu itu. Tapi, kurasa demi menghargai kebaikan hati Tante Winda, aku akan menerima pesta pernikahan yang disiapkan Tante untuk kita, tapi dengan syarat.”
“Apa itu?” tanya Hadran.
“Kuminta tidak perlu membujuk keluargaku untuk datang. Karena sejak awal Bunda tidak pernah menyetujui pernikahan kami. Dan lagi pula, aku tidak mau Anda bertemu dengan keluargaku.” kata Salina tanpa sungkan.
“Sal…” Abrisam menyentuh tangan Salina, memberikannya kode agar Salina berhenti memancing emosi Hadran.
Hadran tersenyum sambil menyuruput kopinya. “Kau tahu, tanpa melalui acara itu, aku bisa saja menemui keluargamu. Tapi, karena aku menjunjung tinggi janjiku, maka aku akan menghargai keputusanmu dan persyaratanmu.”
“Baiklah!” Abrisam segera membuka suara sebelum Salina dengan kesinisannya dan keberaniannya juga kekeraskepalaannya kembali menyahut Om-nya. “Kurasa kita sudah mencapai kesepakatan. Katakan saja kapan acaranya, kami akan mempersiapkan diri.” Abrisam berdiri juga menarik tangan Salina untuk ikut berdiri.
“Jika sudah tidak ada keperluan lagi, kami akan pergi.” kata Abrisam.
“Abi,” Hadran menghentikan langkah kaki Abrisam. “Sebaiknya kau beritahu ibumu, dia berhak tahu kalau anaknya telah menikah. Dan istrimu berhak tahu keluargamu.”
Salina dapat melihat dengan jelas bagaimana Abrisam mengeraskan rahangnya, dan mengeraskan ekspresinya.
“Aku tahu.” kata Salina tiba-tiba. “Apa Anda pikir suamiku tidak akan bercerita tentang hidupnya? Kami saling mencintai, ingat? Dan cinta kami berlandaskan keterbukaan satu sama lain. Tidak ada rahasia diantara kami.”
“Lalu apakah kau sudah dibawanya bertemu dengan ibu mertuamu?”
“Hari ini, kami akan menemui beliau. Jangan khawatir.” Salina bergerak mendahului Abrisam meninggalkan ruang tengah. Ia benar-benar sudah muak dengan wajah Hadran yang sok alim, sok bijak, sok baik padahal dibalik semua itu berdiri sesosok iblis.
.
.
.
Tidak ada yang bicara selama perjalanan, tidak ada pujian yang diberikan Abrisam pada Salina untuk bakat aktingnya yang patut mendapatkan penghargaan sebagai aktris pendatang terbaru. Sampai kesunyian itu terpecahkan ketika Salina menyadari mereka melewati pintu tol yang seharusnya mereka masuki untuk menuju apartemen.
“Mau kemana kita?”
Tidak ada jawaban.
“Apa kau akan membawaku ke tempat peristirahatan terakhirku lagi?” Pertanyaan sindirian yang mampu membuat Abrisam melirik sebentar pada Salina.
“Apa kau tidak bisa diam saja kemana pun aku membawamu?”
“Tidak bisa. Aku perlu tahu. Jika kau tidak menjawabku sekarang, persiapkan telingamu untuk mendengarkan pertanyaan yang sama sepanjang jalan.”
Abrisam menggeleng.
“Mau kemana kita?”
Satu menit kemudian.
Satu menit kemudian lagi.
“Kemana kau membawaku?”
Satu menit lebih dua detik kemudian.
“Kau mau membawaku kemana?”
Satu menit kemudian.
“Kemana kita?”
Satu menit lagi.
“Kema-”
“Cukup atau aku akan membuangmu di jalan!”
“Oh, itu yang aku harapkan!” Kedua mata Salina melebar. “Jadi kemana kita?”
Abrisam membuang napas kasar dan menatap sebentar pada Salina dengan tatapan kesal.
“Ke rumah ibuku. Jangan bertanya lagi. Tutup mulutmu atau aku akan menutup mulutmu dengan mulutku.” Ancaman Abrisam langsung membuat Salina tertawa sinis.
“Kau tidak akan melakukannya. Aku lebih percaya dengan ancamanmu yang akan membuangku dari pada menciumku.” Ujar Salina meremehkan ancaman terbaru Abrisam.
“Begitukah. Mau kau buktikan? Coba saja ajukan pertanyaan lagi, dan kita lihat apa yang akan aku lakukan, membuangmu atau menciummu.” Tantang Abrisam. “Tapi aku yakin, kau tidak berani.”
“Siapa bilang aku takut. Aku yakin kau tidak akan menciumku.” Salina berdeham. “Jadi, kenapa kau terlihat kesal ketika Hadran menyuruhmu menemui ibumu?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Salina, Abrisam langsung menyalakan lampu sein kiri dan menepikan mobilnya di pinggir tol. Menarik rem tangan setelah memindahkan tuas perseneling pada mode netral dan ia langsung melepaskan seat belt, mengulurkan tangan pada pipi Salina, mencekalnya kemudian mencondongkan tubuhnya pada Salina seraya menarik Salina lebih dekat dan…
CUP!
Semuanya dilakukan dengan gerakan super kilat dan ekspres sampai-sampai Salina tidak dapat mengantisipasi situasi dan kondisi.
“Aaaaaakkk! APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Salina mendorong kuat tubuh Abrisam, menatap nyalang pada Abrisam yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
Salina buru-buru menyambar banyak tisu untuk melap bibirnya yang ternoda oleh kecupan maut.
“Bagaimana? Apa kau masih mau menantangku? Aku siap menutup bibirmu lebih dalam. Mumpung kita sedang menepi.”
“Kau menjijikan! Aku lebih baik dicium Gollum! Aaaaakk! Bundaaaa…. Hiks!” Salina mulai menangis saking kesalnya.
“Apa kau selalu menangis? Ck!” Abrisam kembali melajukan mobilnya.
“Dasar kau Dementor! Kau sudah mencuri masa depanku, kebahagiaanku dan sekarang ciuman pertamaku!”
“Ciuman pertama? Mantanmu yang payah itu tidak pernah menciummu?”
“Bagas adalah pria terhormat yang menjaga kehormatanku! Tidak seperti kau!”
“Tapi setidaknya kau mengakui yang tadi itu adalah sebuah ciuman, bukan?”
“Kau menyebalkan! Dasar kau kecoak terbang!”
Alih-alih marah dengan makian Salina yang murka, Abrisam malah terkekeh. Merasa puas mengerjai gadis itu.
.
.
.
TBC~