You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Pagi Yang Meneganggkan



Abrisam kembali masuk ke dalam pondok, sementara Paman pamit untuk ke kota, karena ada urusan di pasar, tepat ketika Salina menggeliat merenggangkan otot tubuhnya setelah tidur begitu lelap.


“Kenapa kau selalu bangun pagi-pagi sekali?” tanya Salina sambil mengikat rambutnya.


“Kau sendiri kenapa selalu bangun terlambat?”


“Terlambat? Memangnya kita mau kemana?”


Abrisam hanya mendengkus, enggan mengubris pertanyaan-pertanyaan tidak penting.


“Omong-omong, aku mimpi aneh.” kata Salina, sambil duduk bersila dan malas di atas sofa, wajah bantalnya mampu mencuri perhatian Abrisam. “Kau tahu, awalnya aku bermimpi buruk, seperti biasa, tapi kali ini,” Salina menengok dan melihat Abrisam. “Kau datang menyelamatkan aku tepat waktu.”


“Oh ya?” Abrisam menaikkan kedua alis matanya, terkesan tidak peduli. “Apa di dalam mimpimu, aku berjubah seperti dementor?”


“Tidak juga. Kau tampil dengan penampilanmu saat ini. Celana jins hitam, kaus hitam, jaket kulit hitam. Kau mengatakan pada mereka kalau mulai sekarang tidak akan ada yang bisa menyentuhku, tidak ada yang bisa menyakitiku apa lagi sampai melukaiku, karena kau akan melindungiku.”


Abrisam sebenarnya cukup tertegun, karena kata-kata itu adalah kata-kata yang tepat dia bisikkan pada Salina semalam untuk menenangkan gadis itu dari mimpi buruknya. Tapi dia memilih untuk memalingkan wajahnya dari Salina dan berjalan menuju jendela, ia berdiri di sana, kemudian menyibak tirai hingga cahaya matahari semakin banyak yang masuk tanpa malu-malu.


“Dimana Paman?”


“Pergi ke pasar, ada urusan katanya.”


Salina mengangguk, kemudian ia kembali teringat dengan semua kejadian pada hari sebelumnya. Ketika Abrisam membawanya bertemu kembali dengan Bunda dan Iris, lalu membawanya bersembunyi di pondok di tengah hutan ini.


“Hei, omong-omong lagi, apa kau yang menceritakan semua pada Bunda tentang kita? Tentang alasan pernikahan kita?”


“Bukan, tapi Om Hadran yang menceritakannya sendiri.” Jawab Abrisam asal.


“Kurasa air laut sudah berubah menjadi manis.” Cibir Salina. “Tapi, kenapa kau melakukan itu?”


Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Salina, Abrisam malah tiba-tiba menyuruh Salina untuk diam. Wajahnya berubah tegang, matanya begitu tajam melihat ke luar jendela.


“Pakai sepatumu, kita pergi sekarang!”


“Apa? Kenapa?”


“Mereka datang!”


Abrisam langsung mengeluarkan pistol dari balik punggungnya, Salina mengikutinya tepat di belakang Abrisam. Jantungnya bedebar tegang. Abrisam perlahan berjalan menuju pintu belakang pondok.


“Kita tidak bisa kabur dengan mobil?” bisik Salina.


“Tidak bisa.”


“Ya ampun! Lalu bagaimana caranya kita kabur ditengah hutan seperti ini?”


Abrisam menatap Salina dengan sangat serius. “Dengan menggunakan kakimu untuk berlari. Ayo!”


Abrisam perlahan dan mengandap-endap membuka pintu belakang pondok, dia lebih dulu keluar dari sana, memastikan situasi aman, barulah kemudian ia mengulurkan tangganya yang lain ke belakang, untuk memastikan Salina berada dalam pelindungannya. Salina pun tanpa ragu menyambut uluran tangan itu, tangannya kemudian langsung digenggam erat oleh Abrisam.


Pistol di depan dada sudah siaga untuk melepaskan pelurunya pada siapa pun yang mendekat. Matanya menangkap tiga orang sudah ada di teras, terlihat Bersiap untuk mendobrak pintu, sementara lima orang terlihat berjaga di depan teras, masing-masing mereka memegang pistol.


“Dengar,” katanya pelan pada Salina. “Aku akan mengalihkan mereka.”


“Apa?!” Salina melotot, juga dengan suara pelannya. “Lalu kau bagaimana?”


“Aku akan baik-baik saja, aku hanya akan mengalihkan mereka sementara, kemudian aku akan menyusul tepat di belakangmu.”


“Tapi-”


“Jangan ada protes, aku tidak bisa menciummu sekarang. Lakukan saja!”


Ada tatapan kekhawatiran, ketakutan dan kecemasan dalam sorot mata Salina pada Abrisam. Pria itu menyadari sorot itu, ibu jarinya pun mengusap lembut punggung tangan Salina yang berada dalam genggamannya.


“Aku akan baik-baik saja. Dalam hitungan ketiga, kau harus lari sekuat tenagamu, menuju timur, kau akan menemukan jalan raya setelah melewati padang rumput. Mengerti? Mengerti?!”


“Aku… ak-aku…”


“Sal! Salina! Kau harus berani!”


Salina hanya mampu mengangguk meski pun ia ragu.


“Satu! Dua Tiga! Lari!”


Genggaman tangan mereka pun akhirnya terlepas. Salina pun berlari menuju ke dalam hutan dengan setengah hati meninggalkan Abrisam disana. Dalam hati ia mengutuk kebodohannya tidak terpikir untuk membawa ponselnya, padahal selama ini dia tidak pernah terlepas dari benda pipih itu, tapi sekarang disaat paling genting, dia melupakan ponselnya.


DOR!


Suara tembakan terlepas ke udara. Salina kaget bukan main, tapi ia terus berlari, namun kepalanya menengok kebelakang, dilihatnya Abrisam tengah berlari menyusulnya.


DOR! DOR!


Tembakan-tembakan kembali terdengar, entah siapa yang menembaki. Bisa jadi orang-orang itu yang berusaha menembaki Abrisam dan Salina, atau bisa jadi Abrisam yang menembaki mereka untuk melindungi diri. Atau antara Abrisam dan orang-orang itu saling menembaki.


DOR!


DOR! DOR!


DOR! DOR!


DOR!


“Aaakkhhh!” Suara erangan itu pun seketika menghentikan kaki Salina yang berlari. Ia menengok dan melihat bagaimana tubuh tinggi Abrisam tumbang, terjerembab di atas tanah hutan itu.


“ABRISAM!”


“LARI!” Namun Abrisam masih menyuruhnya untuk berlari.


Salina terserang dilema, antara melarikan diri atau menyelamatkan Abrisam. Meski ia sadar, saat ini adalah saat yang paling tepat untuknya melepaskan diri dari Abrisam dan keluarganya untuk selamanya. Ini adalah saat yang tepat untuk melepaskan diri dari jeratan ancaman Hadran.


“Lari…” Titah Abrisam dengan suaranya yang setengah mengerang. Dengan sisa tenaganya, Abrisam masih berupaya melindungi Salina dengan memberikan tembakan balasan pada orang-orang suruhan itu. Salina berlari, tapi tidak menjauh, di bersembunyi dengan berjongkok serendah mungkin di balik batang pohon yang besar.


*Tuhan… tolong, tolong aku… tolong Abrisa*m…


Entah apa yang membuat Salina akhirnya bangkit berdiri, ia memutari jalur, menghindari jalur utama tempatnya berlari tadi, sambil melihat-lihat barangkali ada sesuatu yang bisa dia pakai untuk dijadikannya sebagai senjata. Meskipun secara logika itu terdengar sangat bodoh. Apa yang bisa dia gunakan untuk melawan orang bersenjatakan senjata api?


Tuhan kumohon, kali ini berikan aku kekuatan untuk melawan, berikan aku pertolonganMu untuk melawan mereka yang jahat.


Matanya menangkap sebongkah batu lumayan besar, sebesar helm untuk anak-anak, Salina mengambilnya dengan kedua tangannya yang cukup gemetar. Ia berlari dipinggiran hutan, entah apa yang akan dilakukannya dengan batu seukuran helm anak-anak itu, tapi yang jelas dia hanya perlu kembali ke pondok untuk mengambil ponselnya.


Tapi sayangnya, rencananya untuk kembali ke pondok tidak sesuai apa yang ada dalam pikirannya, karena begitu Salina menengok kembali kearah Abrisam yang tergeletak, satu orang dari delapan orang itu menghampiri Abrisam, menodongkan pistolnya tepat di depan dada Abrisam yang sudah tak berdaya.


“Apa perintahnya?” tanya orang itu pada rekannya yang lain.


“Habisi.” Jawab rekannya yang memegang ponsel.


Tepat sebelum orang itu menarik pelatuknya, Salina melemparkan batu di tangannya itu dengan sekuat tenaga yang dia punya. Beruntungnya, Salina pernah menjadi juara lomba olahraga tolak peluru, segala teknik yang sudah dia kuasai langsung dipraktekkannya pada situasi yang menegangkan seperti ini.


BUG!


Hantaman keras batu pada tubuh orang itu membuatnya langsung terjatuh. Rekan-rekan yang lainnya langsung mencari sumber yang melakukan pelemparan batu tersebut.


Salina pun keluar sambil berteriak seperti orang kesurupan. Sambil membawa dua batang ranting pohon yang panjang dan tajam, Salina berlari dan berteriak, tak lupa dia bebicara dalam bahasa aneh dengan ekspresi yang dibuat segila mungkin.


“Apa itu?”


“Siapa itu?”


“Apa-apaan?! Tembak saja!”


“Bagaimana kalau dia kesurupan penunggu hutan?”


Salina pun kemudian menggeram seperti singa, pupil matanya ke atas hingga menyisakan bagian putihnya saja, dia berlari dengan brutal, melayang-layangkan ranting-ranting pohon yang dibawanya.


“AAARRRRGGGGHHHH!” Eramnya lagi membuat beberapa orang bersenjata itu memundurkan langkahnya.


“Tembak saja!” Teriak yang lain.


“Bagaimana kalau nanti malah kita yang kesurupan?”


Kemudian langkah Salina terhenti, dia membungkuk tepat pada Abrisam yang tak berdaya namun masih membuka setengah matanya.


“Bertahanlah.” Bisik Salina sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan perannya sebagai orang yang kesurupan!


“Tembak saja! TEMBAK!”


DOR!


.


.


.


TBC~