
Meski sambil cemberut, Salina tetap membantu Abrisam mengganti perban yang sudah ternoda oleh rembesan darah dengan perban putih yang baru dan bersih. Selama melakukan aktifitasnya, Abrisam menikmati moment dengan memandangi wajah jutek Salina dengan tatapan yang intens.
Helaian poni yang jatuh pada kening, bulu mata yang lentik, matanya yang bulat, hidungnya yang tidak terlalu mancung, bibirnya yang mungil namun penuh sempurna, pipinya yang chubby bahkan kini Abrisam mempelajari satu hal, yaitu daun telinga Salina akan memerah ketika ia merasa canggung, gugup dan salah tingkah. Seperti... saat ini.
“Apa aku membuatmu salah tingkah?” tanya Abrisam.
“Kenapa kau harus membuatku salah tingkah?” Salina balas bertanya dengan nadanya yang cuek.
“Kenapa kau selalu galak padaku? Apa kau tidak pernah takut padaku?”
“Kali pertama, ya aku takut padamu, tapi makin kesini kau makin menyebalkan, kau tidak lagi membuatku takut, tapi membuatku benci.”
“Apa yang membuatmu tidak lagi takut padaku?”
“Karena kau pun bisa berdarah dan mati.” Jawab Salina sambil menguraikan gulungan perban dan melilitkannya pada lengan Abrisam.
“Jadi, kau merasa bisa melawanku? Apa kau akan menusukku saat aku tidur dan membiarkanku mati kehabisan darah?”
“Jika memang itu yang aku inginkan, untuk apa aku memberikan banyak darahku untukmu sampai aku kelaparan seperti beruang grizzly yang sudah tidak makan berhari-hari.”
Abrisam tersenyum. Ia kemudian menelengkan kepalanya. “Hei, aku rasa kau patut mendapatkan hadiah dariku.”
“Aku tidak membutuhkan hadiah darimu.” Ucap Salina dengan sangat ketus.
“Yakin?”
“Ya.”
“Padahal hadiahku adalah kau bisa memberitahukan pada keluargamu tentang alasan sebenarnya kau menikah denganku.”
Tangan Salina berhenti seketika. Mata bulatnya menatap lekat pada Abrisam. “Apa?” ucapnya kemudian.
“Yakin tidak mau menerima hadiahku?”
“Kau pasti hanya menjebakku, kau pasti mempunyai tujuan lain, ya kan?”
“Aku tidak pernah suka konsep menjebak seseorang. Jika aku tidak suka, aku akan mengatakannya dan memberinya pelajaran secara langsung. Jadi, aku sama sekali tidak menjebakmu. Tapi, ya, aku mempunyai tujuan.”
“Sudah kuduga. Apa balasan yang kau inginkan atas hadiah yang kau berikan untukku itu?”
“Jangan pernah terpikirkan untuk mencoba mengakhiri hidupmu lagi.”
Deg!
Seperti ada sebuah selimut bulu angsa yang lembut dan hangat menyelimuti hati Salina setelah berhari-hari ini dia begitu merasakan kedinginan dan sendirian.
Salina berdiri setelah selesai mengganti perban, tanpa mengatakan apa-apa, Salina hendak pergi begitu saja.
“Sal, aku serius dengan tawaran hadiahku. Kau bisa memikirkannya, dan kau bisa katakan padaku kau menerimanya atau tidak.”
“Jika…” Salina kembali melihat Abrisam. “Aku menerimanya, apa resikonya?”
Abrisam menarik napas dan menghembuskannya perlahan seraya menyederkan kepalanya pada headboard tempat tidur. “Keselamatan kita. Kau, keluargamu, aku dan ibuku.” Jelas Abrisam.
“Aku tidak mengerti. Selama ini kau yang selalu mengancamku dan keluargaku.”
“Aku mengancammu, jika kau melaporkannya pada polisi, media atau seseorang untuk membantumu melaporkan apa yang kau lihat. Karena itu, aku harus memastikan kau tetap menutup mulutmu, karena kau tahu apa yang bisa kulakukan.”
“Lalu apa bedanya jika sekarang kau mengijinkanku mengatakan yang sesungguhnya pada keluargaku? Mereka pasti akan mendorongku untuk melaporkannya atau Bunda pasti akan melaporkannya.”
“Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh merindukan Bunda dan adikku. Aku tidak ingin selamanya mereka salah paham padaku.”
“Maka jadi tugasmu untuk mencari cara agar keluargamu tetap tutup mulut.”
Salina membuang napas kasar.
“Aku tidak mengerti kenapa kau melindungi Hadran, kau tahu orang itu bahkan bisa mencelakaimu dan ibumu juga, tapi kau masih saja…. Ah sudah lah! Aku akan memikirkan tawaran hadiahmu.”
Salina berjalan menuju pintu seraya menarik kursi yang menjadi penjaga pintu kamar, Salina berkata sambil lalu, “Cepat pakai baju, lalu makan.”
Abrisam tersenyum getir, ia menatap punggung Salina dengan tatapan nanar.
Kau tidak tahu, Sal, betapa aku ingin terbebas darinya.
.
.
.
Setelah selesai menyantap sarapannya, Salina memberikan obat pada Abrisam yang diterimanya dengan tatapan curiga.
“Oh, aku sangat berharap obat ini beracun, tenang saja.” Ujar Salina dengan sarkasmenya yang mulai terasa lucu.
“Aku akan menantikan kau akan melakukan CPR padaku jika aku tiba-tiba berhenti bernapas.” Abrisam menelan obatnya tanpa hambatan. “Seperti yang pernah kulakukan padamu.”
“Diam dan tidur saja. Aku mau menulis.” Sahut Salina cuek sambil berlalu meninggalkan Abrisam yang sudah kembali berbaring di dalam kamarnya.
Setelah Salina keluar dari kamar, menutup pintu kamar itu rapat-rapat, Abrisam langsung mengambil ponselnya, ia menghubungi Galih, meminta tangan kanannya itu untuk mengirimkan poto-poto serta vidio-vidio seseorang. Setelah itu, ia membuka aplikasi dari CCTV dan microphone yang tersembunyi. Menikmati tontonan live aktifitas yang dilakukan Salina sampai akhirnya Abrisam malah ketiduran dengan layar ponselnya yang terbalik di atas dadanya.
Berjam-jam Salina duduk, mengerjakan tulisannya pada laptopnya, akhirnya dia berhasil menyelesaikan plot untuk keseluruhan novel yang akan segera ia mulai. Ia merentangkan tangannya ke atas, merenggangkan otot-otot tangannya.
“Ah, sudah waktunya makan siang. Masak apa ya, enaknya?” Salina melihat pintu kamar Abrisam yang masih tertutup rapat, pria itu sama sekali tidak keluar dari dalam kamarnya. Rasa penasaran membuat Salina bangkit dari kursi dan mendekati pintu kamar Abrisam, perlahan ia membuka pintu, mengintip sedikit-sedikit untuk memastikan keadaan lebih dulu.
Rupanya Abrisam masih terlelap di atas kasurnya. Dengan perlahan lagi Salina membuka pintu lebih lebar hingga cukup untuk tubuhnya menyelinap masuk. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi ia sungguh ingin melihat wajah tenang Abrisam yang tertidur seperti kemarin.
Pelan-pelan Salina membungkukkan tubuhnya untuk memperhatikan wajah tampan itu. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel yang ada di atas dada Abrisam untuk ia pindahkan, tapi tiba-tiba tangannya dicekal kuat dan dengan tanpa aba-aba, Abrisam sudah menarik Salina hingga posisi mereka kini saling berhadapan dengan situasi yang berbeda. Salina yang kini berbaring di atas kasur sementara Abrisam menguncinya di atas tubuh Salina.
“Apa yang mau kau lakukan? Kenapa kau menyelinap masuk ke dalam kamarku?” Suara rendah dan dingin itu membuat tubuh Salina menegang seketika. Ia masih takut pada Abrisam jika pria itu kembali dalam mode monster berdarah dingin seperti ini, tapi Salina berusaha mengontrol rasa takutnya dengan menatap balik Abrisam.
“Mungkin aku ingin membekapmu dengan bantal hingga kau kehabisan napas.” jawab Salina dengan nada penuh keberanian, berbanding terbalik dengan degup jantungnya yang siap meledak.
“Kau ingin membuatku kehabisan napas?”
“Ya!”
“Baiklah, akan aku tunjukkan padamu bagaimana jika kita sama-sama kehabisan napas.”
“Eh, ap-apa maksudmu? Ap… lepas! Lepaskan!”
.
.
.
TBC~