
Tidak sampai satu jam, Salina sudah keluar dari dalam kamar sambil memegangi perutnya yang terasa perih. Aroma masakan dirasakan pada indra penciumannya. Dilihatnya Abrisam di dapur kemudian keluar dari dapur membawa dua buah piring berisi makanan yang masih hangat.
Salina berusaha berjalan tegak, melepaskan tangannya dari perutnya yang terasa semakin perih.
“Duduk.” Titah Abrisam.
Salina patuh tanpa membantah. Energinya tidak cukup untuk membantah pria itu.
Abrisam menyadari wajah Salina yang agak pucat dan tangannya yang sesekali memegangi perutnya. Ia kemudian meninggalkan Salina yang sudah duduk pada salah satu kursi, tak lama kemudian kembali dan menyodorkan Salina sebuah obat.
“Kunyah obat ini dulu, lima belas menit lagi kau baru isi perutmu.” kata Abrisam membuat Salina tercengang.
“Cepat makan obatmu, aku perlu bicara dengan manusia dalam keadaan sehat.” Lanjut Abrisam dengan suaranya yang datar dan dingin.
Salina menurut, maagnya kambuh, lambungnya terasa perih, kepalanya juga pusing, dan pria di depannya itu bukan tipe pria gentleman yang akan memberikan Salina waktu istirahat dengan tenang. Pria itu memberikannya obat pereda maag hanya agar Salina bisa berkonsentrasi saat diajak bicara dengannya.
Sambil menunggu waktu lima belas menit, Abrisam sudah lebih dulu menghabiskan makanannya. Ia tidak repot repot menunggu Salina.
“Kau sudah bisa makan sekarang.” kata Abrisam seraya bangkit dari kursi dan membawa piring kosongnya ke dapur. “Makan dengan cepat, aku tidak suka menunggu lama.”
Salina hanya bisa memberengut. Ia menatapi sepiring pasta di depannya dengan ragu dan curiga.
“Aku tidak akan menyelamatkanmu dan bersandiwara di depan Om-ku dan ibumu jika aku ingin meracunimu sekarang.” Ujar Abrisam seolah bisa mendengar dengan jelas prasangka buruk yang ada di dalam otak Salina saat itu.
“Yah, siapa tahu kau berubah pikiran.”
“Berubah pikiran setelah aku memberikanmu obat pereda maag? Jika mau, aku sudah mengubur jasadmu sejak pagi tadi. Cepat makan!”
Abrisam meninggalkan Salina seorang diri di meja makan, pria itu duduk pada sofa di ruang tengah yang menghadap sebuah perangkat televisi berlayar datar yang besar. Ia duduk dengan tenang, tanpa berbicara apa-apa lagi sambil mengecek sesuatu pada ponselnya.
Salina mulai menyuap suapan pertama pasta buatan Abrisam. Begitu makanan itu menyentuh lidahnya, kedua alis mata Salina bergerak naik kemudian bola matanya bergerak melirik pada Abrisam.
Ini enak sekali!
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Salina menghampiri Abrisam di ruang tengah, duduk pada sofa terjauh dari Abrisam. Sikap defensif terlihat begitu terang-terangan dilakukan Salina dengan merapatkan kaki dan kedua tangannya memeluk bantal sofa.
“Jadi, apa yang mau kau bicarakan?” Pertanyaan Salina membuka percakapan panjang yang akan terjadi di ruang tengah itu.
Abrisam meletakkan ponselnya, ia menyadari sikap Salina yang takut pada Abrisam tapi jelas menutupi dengan belagak menantan. Tapi Abrisam tidak akan membahas sikap gadis itu. Wajar jika Salina merasa takut, mereka hanya berduaan di apartemen itu, gadis itu mungkin berpikiran bahwa Abrisam bisa saja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Tapi Abrisam tidak akan melakukannya. Atau mungkin, belum akan melakukannya.
“Tentang pernikahan ini.” Sahut Abrisam, menatap lurus pada Salina.
“Baik, aku mendengarkan.”
“Pertama, jangan pernah berpikir untuk kabur atau bercerai dariku, karena itu tidak akan terjadi.”
“Oh, aku baru saja berpikiran untuk menyewa pengacara untuk menggugatmu.”
Abrisam tersenyum sinis, kemudian berkata, “Jika kau tidak memerdulikan nyawamu, setidaknya kau harus memperdulikan nyawa ibu, saudara dan mantan kekasihmu itu.”
Salina mengepalkan tangan, menahan kekesalan yang menggerogotinya seperti kuman.
“Kau harus ingat, keselamatan kau dan keluargamu ada di tanganku, dan apa yang akan aku lakukan pada kalian berdasarkan kepatuhanmu padaku.”
Salina memutar bola matanya, dia benar-benar muak dengan ancaman itu.
“Aku tidak mengancammu dengan omong kosong, kau tahu apa yang benar-benar bisa ku lakukan, dan aku bisa menghilangkan semua jejak tanpa tersisa sedikit pun.”
“Ya aku percaya, aku bahkan percaya kau bisa menembak kepala seseorang setelah itu kau bisa makan pasta dengan nyaman tanpa terganggu dan merasa berdosa.”
“Tepat sekali.” Abrisam merubah posisi duduknya dengan lebih santai dan nyaman. Ia meluruskan kakinya dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dadanya yang bidang. “Jadi, suka atau tidak, kau akan menjadi istriku yang setia hingga maut memisahkan kita.”
“Kau membuatku mual!”
Abrisam lagi-lagi menyunggingkan senyuman sinis pada bibir tipisnya.
“Apa kau sudah mengerti dengan poin pertama?”
Salina membuang napas kasar, kemudian mengangguk.
“Bagus!” Abrisam ikut mengangguk. “Poin kedua, karena sandiwara yang kita lakukan demi keselamatan kau dan keluargamu, kau harus bersikap baik dan kalau perlu kau harus bersikap romantis dan manja padaku ketika di depan Om Hadran, Tante Winda juga Liona.”
“Apa? Apa kau sudah gila?! Oke, aku tahu kau memang gila, tapi aku harus bersikap romantis dan manja padamu? Yang benar saja! Lebih baik aku dicapit kepiting dari pada harus bergelendotan manja padamu!” kata Salina dengan kesal dan keki setengah mati.
“Aku tahu kau tidak mau, aku pun juga tidak sudi. Lagi pula, kau bukan tipeku. Tapi, perlu kau tahu, jika Om Hadran sampai tahu kalau pernikahan ini hanya sandiwara, maka aku tidak lagi bisa melindungimu dan keluargamu. Om Hadran akan mengutus orang lain untuk melakukan tugas yang seharusnya tadi pagi aku lakukan.”
“Tapi… bermanjaan denganmu di depan orang lain? Astaga! Bahkan dengan Bagas saja aku tidak pernah bermanja-manjaan.”
“Itu karena kalian belum menikah.” Ledek Abrisam membuat Salina semakin ingin membekap pria itu hingga kehabisan napas.
“Pikirkan saja, jika ketahuan oleh Om Hadran, semua pengorbananmu demi menyelamatkan keluargamu akan sia sia.”
Salina berdiri, berjalan bolak balik sembari beberapa kali mengusap wajah hingga menyisir rambut panjangnya dengan jemari. Membuat helaian rambut panjang itu terurai dan berantakan. Sialnya, pemandangan itu malah membuat Abrisam terpukau.
Cepat-cepat Abrisam memalingkan wajahnya dari pemandangan yang tak terduga akan memberikan sensasi aneh.
“Baiklah!” kata Salina akhirnya. “Tapi kau harus benar-benar menjamin kalau Om mu itu tidak akan menyentuh keluargaku.”
“Kita hanya perlu berpura-pura di depan Hadran dan keluarganya saja, kan?”
Abrisam menggeleng. “Setiap kali kau dan aku keluar dari apartemen ini, saat itu juga kau dan aku adalah pasangan suami istri yang saling mencintai.”
“Apa? Kenapa begitu?” Salina melotot.
“Om Hadran mempunyai mata dan telinga dimana saja. Aku yakin, saat ini dia sudah menempatkan orang-orang untuk memata-matai kita.”
Salina menggeleng tak percaya. “Bagaimana mungkin kau bisa bertahan hidup dengan monster berkedok manusia seperti dia?”
“Kau tidak perlu repot-repot mencari tahu bagaimana aku bisa bertahan. Pikirkan saja bagaimana caramu untuk bertahan hidup mulai sekarang.” kata Abrisam datar.
Salina menghela napas, mencoba mengumpulkan kembali serpihan kesabarannya. “Baiklah. Aku akan lakukan poin kedua.”
“Selanjutnya, poin ketiga. Kau tidak lagi boleh berhubungan dengan pria lain, terutama dengan mantanmu, aku tidak peduli seberapa besar cinta kalian, karena sekarang
statusmu adalah istriku.”
“Apa? Tapi… tapi… Bagas sekarang pasti sedang bingung, dia pasti khawatir dengan diriku sekarang, dan aku rasa, dia berhak mendapatkan penjelasan dan juga perpisahan yang layak. Tidak seperti ini.” Tidak seperti tadi yang penuh dengan kekesalan, kali ini, Salina menunjukkan emosi yang berbeda.
“Aku tidak peduli.”
“Tapi kau harus peduli, karena tanpa penjelasan, dia akan terus berusaha mendekatiku, mencarikku, dan menuntut penjelasan dariku. Dan itu… itu akan sangat menyakitkan untukku, juga untuknya, dan akan terlalu sulit untuk menghindarinya.”
“Memang penjelasan apa yang akan kau katakan padanya? Bahwa kau terpaksa?”
“Oh seandainya memang aku bisa mengatakannya seperti itu. Tapi, aku yakin kau akan mengancam keluargaku, bukan?”
“Tentu!”
“Aku akan memberikannya penjelasan seperti yang kujelaskan pada Bunda. Itu pasti akan menyakitkan untuknya, tapi aku juga akan terluka, tapi jika itu bisa membuatmu tidak menyentuhnya, akan aku lakukan.”
Abrisam terlihat berpikir, menimbang perkataan Salina yang tidak sepenuhnya salah. Hubungan Salina denan Bagas yang menggantung akan menyulitkan sandiwara mereka.
“Baiklah. Kau boleh bertemu dengannya untuk menjelaskan pernikahan ini. Tapi pertemuan itu akan menjadi pertemuan terakhir kalian. Tidak ada sentuhan fisik dan yang pasti kau tidak boleh sendirian menemuinya.”
“Oke, kau bisa menyuruh Galih untuk memantauku.”
“Galih? Untuk apa aku menyuruh Galih kalau aku bisa menemanimu menemui pria itu. Bukan kah akan lebih meyakinkan jika ada aku di sampingmu?”
“Tidak bisakah aku berbicara berdua dengan Bagas? Privasi pada pertemuan terakhir kami?”
“Tidak.” jawab Abrisam tanpa perlu repot mempertimbangkan pertanyaan dan permintaan Salina.
Salina terduduk lemas, wajahnya dan tatapannya sendu. Tidak ada sikap defensif seperti awal dia duduk di ujung sofa terjauh dari tempat Abrisam duduk.
“Aku akan memberikanmu reward jika kau bisa menjaga poin-poin tadi.” kata Abrisam kemudian.
“Reward?” Salina mendengkus tak percaya. Ia tidak juga repot-repot untuk melihat Abrisam.
“Ya. Satu bulan sekali, aku akan memberikamu kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan teman temanmu. Dan setiap dua minggu sekali kau juga bisa mengunjungi keluargamu.”
Salina menegakkan tubuhnya. Akhirnya ia menatap Abrisam dengan sorot mata menunjukkan adanya secercah harapan.
“Benarkah? Apa tidak bisa sebulan dua kali aku bertemu dengan teman-temanku? Dan seminggu dua kali aku menengok keluargaku?”
“Ternyata selain keras kepala, kau juga cepat melunjak, ya?”
Setelah menyetujui poin-poin yang diberikan oleh Abrisam. Kini, giliran Salina yang memberikan poin-poinnya, walaupun sebenarnya dia sedang tidak dalam posisi bisa memberikan penawaran dan memberikan ancaman pada Abrisam. Tapi, gadis itu tetap melakukannya dengan mengesampingkan rasa takutnya.
“Aku juga mempunyai poin-poin yang harus kau dan aku jaga.”
Abrisam menaikkan sebelah alis matanya. “Apa itu?”
“Poin satu, kau tidak akan pernah dan tidak boleh menyentuhku. Poin dua, aku tetap bisa menulis seperti biasa dengan laptopku. Poin tiga, tidak ada hak dan kewajiban suami istri. Di luar apartemen ini mungkin kita menjadi suami istri yang romantis, tapi di dalam tempat ini, kau dan aku mempunyai jarak aman. Apa kau bisa menyetujui poin-poinku?”
“Apa reward yang akan aku terima?”
“Kesetiaanku.”
Abrisam mendengkus. “Kau tahu, aku bisa mendapatkan kesetiaanmu tanpa harus mematuhi poin-poin itu, karena kau tahu apa yang bisa kulakukan jika kau tidak setia padaku.” Ujar Abrisam sangat datar, nada suaranya rendah dan menusuk.
Glek!
“Tapi aku setuju, dengan semua poin itu.” Jawab Abrisam pada akhirnya. “Kau juga tetap bisa meneruskan karirmu dengan syarat, laptopmu harus aku sita. Kau akan aku berikan laptop baru yang semua data bisa terpantau olehku.”
“Kau benar-benar tidak memberikan celah padaku, ya?”
“Tidak sedikit pun.”
.
.
.
TBC~