
Abrisam membawa Salina ke tengah laut menggunakan kapal ferry milik pribadi Abrisam, meski awalnya Salina sama sekali tidak mengerti mengapa setelah kejadian dimakam, tiba-tiba pria itu membawanya ke tengah lautan. Namun rupanya di luar dugaan, Abrisam tiba-tiba berteriak sekuat tenaganya, hal yang benar-benar membuat Salina terkejut bukan main.
Pria yang selama ini terlihat begitu dingin, menyebalkan, dan memiliki sedikit emosi kecuali amarah, tiba-tiba saja berteriak sekuat tenaganya di tengah laut. Setelah itu ia mengatur napasnya dan melihat Salina dengan tatapan intensnya.
“Kau bisa mencoba apa yang kulakukan barusan, itu bisa membuatmu melepaskan sedikit demi sedikit tekanan yang menyesakkan dadamu.”
Alih-alih melakukan apa yang disarankan Abrisam, gadis itu malah mengajukan pertanyaan pada Abrisam, “Kau juga mempunyai tekanan dalam dadamu?”
Untuk sesaat Abrisam begitu dalam menatap mata Salina, kemudian ia berpaling pada lautan yang mulai memantulkan cahaya matahari senja yang indah. Kemudian ia menjawab, “Semua orang mempunyainya. Lakukanlah, kau akan merasa lebih baik.”
“Apakah aku bisa memakimu juga dalam teriakkanku?”
Salah satu sudut bibir Abrisam naik, tangannya terulur untuk menyentuh puncak kepala Salina dan mengacaknya. “Lakukan apa yang membuatmu merasa lega.” Kemudian pria itu meninggalkan Salina.
Sejenak Salina merasa ragu untuk berteriak, namun kenangan pahit dan pedih dalam hidupnya kembali bermain di depan mata, kejadian empat jam lalu masih begitu hangat dalam ingatan terbarunya. Tiga pria itu akhirnya menerima hukuman yang seharusnya mereka sudah jalani sejak bertahun-tahun lalu. Kabar terbaru sebelum Abrisam membawa Salina ke tengah lautan adalah, tiga orang itu mendapatkan hukuman mati atas kekejaman yang mereka lakukan pada Salina juga pada mendiang Faris pada masa lalu. Keluarga mereka begitu terkejut dan tak percaya dengan kejahatan yang pernah suami mereka lakukan.
Salina tidak tahu, apakah Salina harus kasihan atau menyesal karena sudah menghancurkan keluarga bahagia mereka, tapi dirinya dan mendiang kakaknya pun juga berhak mendapatkan keadilan atas apa yang terjadi, begitu pun dengannya.
“AAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK!” Akhirnya lolongan teriak bernada getir pun terlepas dari mulut Salina dengan segenap tenaga dan emosinya.
Dua kali ia melakukannya sampai akhirnya tak kuasa ia kembali meneteskan air matanya. “Kakak! Mereka akhirnya mendapatkan hukuman yang semestinya. Mereka akhirnya akan menjalani hukumannya. Kakak!” Teriaknya.
“Kakak! Kakak! Kakak…. Hiks… Kakak… aku akan baik-baik saja mulai sekarang… aku janji aku akan baik-baik saja… meski diriku telah kotor dan dirusak, meski kau tetap tidak akan kembali lagi… meski aku akan bertahan seorang diri… aku janji aku akan bertahan… Kakak…”
Hati Abrisam merasakan sayatan dalam yang membuat hatinya begitu nyeri, perih dan pedih. Entah sedalam apa luka dan sakit yang ditahan gadis itu selama ini, tanpa disangka air mata pun meleleh dari mata Abrisam. Air mata yang tak pernah Abrisam duga masih ada pada dirinya. Buru-buru ia mengusapnya.
Kakinya bergerak, mendekati Salina kemudian menarik Salina masuk ke dalam dekapan eratnya. Lagi, Abrisam membiarkan Salina menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya, dalam lingkaran lengan yang mulai saat ini akan menjadi perisai pelindung gadis itu.
“Aku Abrisam, suami dari adikmu. Aku tidak mengelak jika dalam beberapa waktu ini aku telah menambahkan beban dalam hidupnya, mungkin juga menambahkan tekanan pada dadanya yang sudah begitu sesak dan sakit. Aku minta maaf. Tapi, aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak akan melepaskan adikmu. Dia… sudah menuliskan namanya dalam hatiku. Maka itu, di depanmu sekarang, aku berjanji, dengan kedua tanganku ini aku akan melindunginya, akan menjadi perisai untuknya, akan menjadi tempatnya untuk berpegangan disaat dirinya tak mampu berdiri sendiri.”
Abrisam semakin mempererat dekapannya.
“Menangislah, menangislah sampai kau tidak mampu lagi mengeluarkan air matamu.” Ujar lembut Abrisam.
.
.
.
Setelah puas menumpahkan air matanya, Salina dan Abrisam duduk saling berhadapan, jas hitam milik Abrisam sudah betengger manis pada bahu Salina yang kecil, membuat Salina terlihat seperti akan tenggelam dan terhisap ke dalam balutan jas Abrisam.
“Makan lah, tenagamu pasti habis setelah meluapkan emosimu.” kata Abrisam.
Salina hanya mengangguk dengan kedua matanya yang bengkak.
“Setelah itu kau kompres matamu, mereka sudah seperti habis tersengat sekelompok lebah.”
“Itu gara-gara kau, kau membuatku menangis sejak kemarin.” Sungut Salina, tapi tidak sambil melihat Abrisam. Tangannya sudah mengaduk-aduk pasta yang dibuat Abrisam pada piringnya.
“Kalau begitu, kenapa aku tidak mendengarmu memakiku tadi?”
“Aku… lupa. Aku terlalu fokus untuk menangis.” Salina menyentuh kedua matanya dan merasakan matanya yang bengkak. “Aku akan melakukannya nanti setelah makan.”
“Kenapa?” Salina bertanya tiba-tiba.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Pertanyaanku itu belum kau jawab.”
Abrisam mengalihkan pandangannya dari wajah Salina, ia memilih untuk melihat hamparan laut yang mulai gelap.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku…” kata Abrisam menggantung diudara. Ia mengusap wajahnya, kemudian kembali melihat Salina. “Tidak bisa kah kau ucapkan terima kasih saja?”
“Bisa. Tentu saja bisa. Aku bisa mengucapkan beribu terima kasih padamu. Tapi aku juga perlu tahu apa yang menjadi alasanmu melakukan semua ini padaku? Kenapa kau membantuku? Setelah bertahun-tahun keadilan tak pernah kudapatkan, dan kau pada akhirnya memberikannya padaku. Kenapa? Apa tujuanmu? Apa yang kau inginkan dariku?”
“Tujuan? Tidak, aku tidak ada tujuan apa-apa padamu. Aku hanya tidak bisa melihat bagaimana para biadab itu bisa hidup berkeluarga, hidup bahagia dengan istri-istri dan anak-anak mereka sementara mereka telah menghancurkan hidup seorang anak perempuan yang tidak tahu apa-apa, membunuh seorang kakak yang
berusaha menyelamatkan adiknya. Kurasa, orang lain pun juga akan melakukan hal yang sama sepertiku.” Jawab Abrisam beralasan.
“Tidak. Orang lain tidak akan melakukan hal yang sama. Orang lain mungkin bisa bersimpatik, bisa menunjukkan empatinya padaku, tapi hanya kau yang bisa melakukan semua itu.”
“Aku hanya-”
“Terima kasih.” Potong Salina. “Aku dengan tulus berterima kasih padamu. Meski aku tidak menyangkal kau adalah orang yang menyebalkan dan semena-mena, tapi aku sungguh berterima kasih padamu. Akhirnya kami mendapatkan keadilan yang kami cari selama ini. Meski hal itu kudapatkan darimu.”
Abrisam hanya mengangguk, bingung menanggapi ucapan tulus seseorang yang berterima kasih padanya. Selama ini tidak ada orang yang berterima kasih dengan tulus padanya, kebanyakan mereka berterima kasih karena rasa takut, dan karena terpaksa. Tapi kali ini, ucapan tulus Salina begitu menghangatkan hatinya.
“Meski aku masih tidak mengerti kenapa kau membantuku. Kenapa kau membantu orang yang kau benci.”
“Orang yang aku benci?” Abrisam menaikkan kedua alis matanya.
“Ya. Kau dan aku, kita saling membenci, bukan?”
Pertanyaan Salina entah bagaimana membuat Abrisam tersenyum getir.
Benci? Apakah aku pernah membenci Salina?
“Apa kau membenciku?” Abrisam balik bertanya.
“Sebesar kau membenciku.” Sahut Salina.
“Kapan aku pernah bilang aku membencimu?”
“Eh?”
.
.
.
TBC~