
Dua minggu berlalu sudah setelah serangan penembakan di pondok Paman, Abrisam pun sudah kembali pulih dan beraktifitas seperti sedia kala. Bekerja dan meninggalkan Salina sendiri di apartemen dengan penjagaan bodyguard di depan pintu. Sampai sekarang pun Salina tidak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaan Abrisam, bagaimana pria itu bisa menghasilkan uang, bisa membeli rumah untuknya, membayar orang-orang untuk menjaga dirinya dan keluarganya, dan segala macamnya. Salina tidak pernah bertanya, juga tidak pernah ingin tahu.
Omong-omong soal rumah, sampai dua minggu pun, Abrisam selalu memberikan jawaban yang sama atas pertanyaan Salina soal rumah.
“Supaya kau tidak kabur.” Selalu begitu jawaban pria itu, hingga Salina sudah malas untuk bertanya lagi padanya.
“Sal, aku akan keluar kota dua hari.” Katanya pada Salina yang tengah menulis pada laptopnya, kaca mata bacanya sampai melorot hingga ke ujung hidung ketika dia menengok pada Abrisam.
Sekejap Abrisam terpesona. Sial! Kenapa dia begitu imut sekali.
“Dua hari?”
“Ya.”
“Lalu aku?”
“Kau tetaplah di dalam apartemen, jangan keluar.”
“Apa?” Salina melepaskan kaca matanya, menampilkan pelototan matanya yang menunjukkan aksi tidak setuju. “Kau mau mengurungku?”
“Bukan mengurungmu, tapi untuk keselamatanmu. Menurutlah, kali ini.”
“Lalu untuk apa kau membayar bodyguard kalau tidak bisa mempercayai mereka dapat melindungiku?”
“Dengar, aku sudah sangat terlambat. Hanya dua hari, diam lah di dalam apartemen, menulislah dengan tenang sambil ngopi, ngemil atau sambil menonton drama kesukaanmu. Tapi jangan keluar dari pintu unit apartemen kita. Bisa?”
“Apartemen kita?” Salina menyadari keceplosannya Abrisam. Pria itu pun segera mengalihkan pandangan matanya.
“Kabari aku begitu kau merasakan ada yang mencurigakan.” Katanya kemudian mengalihkan pikiran Salina dari kalimat ‘apartemen kita.’
“Kau akan langsung datang?”
Abrisam sempat diam, berpikir, tapi kemudian dia menjawab, “Ya, aku akan langsung datang.”
“Kalau aku meminta kau untuk tidak pergi, apakah kau bisa tidak pergi?”
“Tidak bisa. Aku harus pergi.” Jawab Abrisam meski terdengar ragu sesaat.
“Apakah aku bisa tahu apa yang akan kau lakukan di luar kota?”
“Mengejar dalang dibalik penyerangan itu.”
“Kau masih tidak percaya padaku kalau dalang itu adalah Om mu itu?”
“Bisa tidak memulai perdebatan ini lagi? Dua minggu kita memperdebatkan ini. Aku sudah benar-benar terlambat.” Kemudian Abrisam melengos begitu saja dari hadapan Salina.
“Baiklah, terserah kau saja! Entah apa yang membutakanmu dari Om-mu itu!”
BLAM!
Ruangan pun menjadi sunyi begitu Abrisam keluar dari sana, membawa kekesalannya, dan meninggalkan Salina yang juga setengah mati dongkol padanya.
“Aku harus mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa dia begitu membela orang jahat itu? Tapi, kepada siapa aku bisa mengorek informasi? Galih? Ah, itu sama saja mengisi air pada ember bolong. Siapa ya?” Salina mengusap-usap keningnya, sampai sebuah ide muncul.
“Ah! Aku tahu!”
.
.
.
Di dalam jet pribadi, Abrisam sedang menyusun strategi dengan Galih untuk menangkap dalang di balik penyerangan itu dan mengorek informasi yang mereka simpan, sampai diskusi mereka tiba-tiba terhenti ketika Galih menginterupsi dengan memberikan pertanyaan pada Abrisam,
“Apa Kak Abi yakin, Kakak Ipar tidak akan keluar dari apartemen selama dua hari ini?”
“Tidak.” Jawab Abrisam. “Dia pasti akan mencari cara untuk keluar. Kau tahu, dia tidak pernah betah di dalam apartemen itu.”
Kemudian Abrisam menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi yang menampilkan hasil tangkapan CCTV tersembunyi dari apartemennya. Terlihat Salina sedang membuat kopi sambil bersenandung dan sesekali bernyanyi dalam bahasa Korea yang sama sekali tidak Abrisam mengerti.
Abrisam mungkin tidak menyadarinya, tapi Galih jelas melihat bagaimana bibir Abrisam melengkung membentuk sebuah senyuman rindu.
“Kangen ya, Kak sama Kakak Ipar?”
“Ya.” Jawab Abrisam tanpa sadar bahkan tanpa berpaling dari layar ponselnya.
“Cieeee.”
Seketika itu juga Abrisam sadar, dan kembali pada mode dinginnya yang cool. Lalu berdeham, mencoba untuk kembali fokus pada diskusi awal mereka. Namun sepertinya Galih masih ingin memancing ikan.
“Apa Kakak Ipar tahu kalau Kak Abi memasang CCTV?”
“Tidak.”
“Kenapa tidak diberi tahu? Ah, aku tahu, Kak Abi ingin leluasa memperhatikan Kakak Ipar, ya, kan? Kalau rindu seperti ini bisa melihat CCTV, bisa senyum-senyum sendiri, bisa-”
“Kau ingin merasakan terjun bebas dari pesawat, Gal?” potong Abrisam membuat Galih tergelak.
Abrisam menaikkan sebelah alis matanya melihat Galih.
“Jangan sok tahu.”
“Bukannya sok tahu, tapi fakta membuktikan, Kakak ipar bisa saja meninggalkan Kak Abi ketika ditengah tawuran itu, tapi dia tetap disana menemani Kakak.”
“Dia hanya merasa tidak enak karena sudah kutolong.”
“Kakak ipar bisa saja tidak mendonorkan darahnya, tapi dia mendonorkannya.”
“Itu karena dia merasa hutang budi saja.”
“Kakak Ipar bisa saja meninggalkan Kak Abi di tengah hutan, tapi dia malah meminta Kak Abi untuk bertahan dan malah apa? Berlaga kesurupan? Itu kan luar biasa. Padahal dia bisa saja tertembak juga.”
Kali ini Abrisam tidak mengelak.
“Kurasa kalian sudah saling jatuh cinta, hanya terlalu takut untuk mengungkapkannya.” Kata Galih sambil menggeleng. “Atau mungkin terlalu gengsi untuk mengakuinya.”
“Tidak bisa kah kita fokus saja pada misi kita? Aku tidak ingin perjalanan ini menjadi sia-sia karena tidak fokus.”
.
.
.
Keesokan harinya, Salina sudah bersiap dengan pakaiannya yang sopan tapi santai, tas selempang mini tersampir menyilang di depan dadanya. Sekali lagi Salina memastikan tampilannya baik. Dia kemudian dengan percaya diri membuka pitu apartemen dan saat itu juga dia langsung panik atau lebih tepatnya berakting panik seperti orang kebakaran kumis.
“Aku harus pergi! Aku harus pergi!” katanya pada dua orang pria bertubuh besar yang berjaga di depan pintu dengan pakaiannya yang serba hitam.
“Maaf, Nona, tapi-”
“Tidak bisa! Tidak bisa tidak! Kalian pun akan kena pecut Abrisam jika tidak mengantarku! Ibunya Abrisam meneleponku, dia dalam kesulitan sekarang dan segera butuh bantuan.”
“Tenang Nona, jangan panik, kami akan menghubungi Tuan Abrisam dan-”
“Ini masalah perempuan! Kau pikir Ibu Abrisam mau ditolong jika tahu Abrisam mengirimkan orang untuk menolongnya? Ibu Abrisam menghubungiku langsung, bukan menghubung Abrisam! Artinya beliau membutuhkanku! Cepat antar aku kesana sekarang!”
Dua orang pria itu saling bertukar pandangan ragu.
“Baikalah aku akan pergi sendiri!”
“Tunggu Nona! Kami akan antar!”
Salina menyeringai tipis.
Dia tidak tahu, puluhan kilo meter dari tempatnya, seseorang tengah memperhatikan apa yang terjadi di depan pintu unitnya. Ketika CCTV tidak lagi bisa membantu, alat pelacak GPS pun dinyalakan oleh Abrisam. Tapi betapa terkejutnya Abrisam begitu melihat aplikasi itu tidak bisa berfungsi. Rupanya, salah satu dari perangkat telah memblokir sistem kerja perangkat pelacak tersebut.
“Apa-apaan ini?!” Abrisam menahan kekesalannya. “Sal! Apa yang kau lakukan!” Sementara
dirinya berada di tengah misi.
“Kak!” Galih menyenggol Abrisam yang mulai tidak fokus, padahal meeting peting untuk mengungkap dalang penyerangan itu akan segera dimulai.
“Eh, ya.” Abrisam kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku bagian dalam jasnya. Pikirannya mulai bercabang. Kepada keselamatan Salina, dan kepada misi yang sudah disusunnya dengan matang bersama Galih.
“Gal, apa bisa jika-” Bisik Abrisam.
“Jangan aneh-aneh, Kak.” Potong Galih, ia tahu apa yang ada dalam pikiran Abrisam saat ini. “Serahkan dan percayakan Kakak Ipar pada orang-orang kita.”
Abrisam mendengkus.
“Tidak mudah membuatnya keluar untuk pertemuan ini.” Ujar Galih lagi sambil mereka berdua melihat seorang pria bertubuh pendek, dengan perutnya yang tambun tersembunyi di balik kemeja, vest dan setelan jas mahalnya, berjalan dengan dikelilingi oleh pengawalan yang ketat. “Kita membutuhkan informasi dan bantuannya.”
“Oke!” Keluh Abrisam. Baru kali ini dia merasa tidak fokus pada misi yang sudah dia tunggu. Hanya karena apa? Perempuan!
Sementara perempuan yang dikhawatirkannya itu sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, lebih tepatnya menuju sebuah rumah yang pernah dia datangi sebelumnya.Beberapa waktu kemudian, Salina pun sampai ditempat tujuan.
Rumah yang dikelilingi tanaman pada halaman yang sederhana yang membuat teras berlantai kayu itu semakin terasa teduh.
“Kalian tunggu saja disini, tidak perlu ikut masuk. Oke?”
“Baik Nona. Tapi, Nona tidak akan pergi tanpa sepengetahuan kami, kan?”
Salina menatap tak percaya. “Kalau iya, kalian pikir aku akan mengatakannya pada kalian?” Salina menggeleng. “Tenang saja, aku tidak akan menyulitkan kalian. Aku hanya akan ada di dalam rumah itu. Jika Abrisam atau Galih menghubungi kalian, bilang saja, aku sedang membuat kue bersama ibu mertua.” Kemudian Salina melenggang meninggalkan dua orang bodyguardnya.
.
.
.
TBC~