
Salina merasakan kepalanya sakit luar biasa, begitu pun dengan perutnya yang mual bukan main. Apakah seperti ini rasanya mati? Apakah mati masih bisa merasakan sakit kepala dan perut mual? Perlahan Salina menggerakkan kedua kelopak matanya, samar ia mulai melihat keberadaan dirinya di tempat yang tidak asing.
Satu rak buku besar, satu lemari yang ia ingat pernah mengisinya dengan baju-bajunya, satu meja kerja yang berada di sudut ruangan dengan jendela.
“Aku masih hidup? Atau neraka pun sama seperti ruang kerja Abrisam?” Ucapnya pelan dan lemah. “Akh, kepalaku sakit sekali.” Ia menyentuh kepalanya dan langsung menyadari ada sebuah jarum dan selang yang menempel pada punggung tangannya. Selang yang menghubungkan jarum itu pada sebuah botol infus yang menggantung pada sebuah tiang khusus.
“Apa yang terjadi padaku?” Salina berusaha untuk duduk dan kembali menyadari satu hal lagi. Lantai tempatnya berbaring sangat nyaman dan empuk. “Apa ini?”
Salina menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
“Sofa? Kenapa bisa ada sofa disini? Sofa ini juga bisa diubah jadi tempat tidur? Wah, apa aku berada di surga? Apa aku memerlukan infus di surga?” Salina terus bertanya-tanya seperti orang bodoh.
Belum mendapatkan jawaban atas rasa herannya, pintu ruangan itu terbuka begitu saja tanpa ketukan lebih dulu.
“Kau sudah bangun? Bagus! Kutunggu kau di meja makan.” Cepat, dingin, sinis dan padat kata-kata yang diucapkan Abrisam sebelum pria itu kembali keluar.
“Rupanya aku masih berada dalam neraka dunia.” Keluhnya. Ia menurunkan kakinya, melepaskan perlahan jarum infus dari punggung tangannya, kemudian memaksa diri untuk menyeret kakinya keluar dari ruangan itu. Punggung lebar Abrisam dalam balutan jas hitam sudah menunggunya di meja makan. Pria itu duduk memunggungi Salina, dari belakang Salina mengayun ayunkan tinjunya yang lemah di udara mengarah pada Abrisam.
“Apa kau kurang puas memukuliku semalam?” Suara Abrisam membuat sekujur tubuh Salina membeku.
“Ap-apa? Aku memukulimu?” Salina bergerak dan menarik kursi di sebelah Abrisam. “Kau pasti bercanda!”
“Kau bukan hanya memukuliku tapi juga muntah pada bajuku. Menjijikan sekali!”
“Hah?” Kedua alis Salina bergerak naik, tak percaya dengan apa yang dikatakan Abrisam. Namun dari ekspresi tenang dan dingin itu, sulit menebak apakah pria itu hanya menipunya atau sungguhan.
“Minum obat itu dan air jahenya, itu akan meredakan sakit kepala dan rasa mualmu.” kata Abrisam sambil membaca sesuatu pada ponselnya.
Salina menurut karena memang kepalanya terasa sakit dan perutnya mual.
“Kau pasti membual, aku memang mabuk, tapi aku ingat apa yang terjadi kemarin. Lalu aku mabuk. Aku ingat Galih berusaha mengusir pria-pria yang berdiri di dekatku meski mereka tidak ada niat apa-apa padaku. Aku ingat aku memesan minuman alkohol. Jadi aku ingat kau tidak ada disana.” Salina memijat keningnya.
Abrisam memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Menyeruput teh dalam cangkirnya.
“Kenapa kau mabuk?” tanyanya datar.
“Aku… aku bertemu dengan Bagas. Tidak sengaja. Kau bisa bertanya pada Galih. Dia yang membawaku ke sana dan ternyata aku bertemu dengannya dan…ternyata dia mengkhianatiku. Jadi aku mabuk.”
“Kenapa dia mengkhianatimu?”
“Tidak tahu, aku tidak ingat.” Bohong Salina.
“Padahal kau bilang kau ingat.” Cibir Abrisam.
“Tetap saja aku tidak ingat ada kau kemarin. Jadi jangan mengarang cerita aku muntah di bajumu. Eh, tapi kalau pun memang benar begitu, kurasa aku tidak menyesalinya.”
“Kumpulkan saja dulu potongan ingatanmu itu, baru kau bicara. Ketika kau sudah menyatukan ingatanmu itu, kau harus siap menerima hukuman yang akan aku berikan.” Abrisam bangkit berdiri.
“Eh, tunggu! Hukuman apa?” Kedua alis Salina bertaut.
“Hukuman karena sudah membuatku kha- harus membatalkan pekerjaanku untuk menjemputmu.” Ujar Abrisam agak gugup sedikit lalu mengalihkan pandangannya.
“Tapi kau tidak-”
“Aku akan berangkat ke perusahaan, hari ini kau tidak kuijinkan pergi kemana-mana. Selama aku tidak ada, kau akan ditemani seorang perawat yang sebentar lagi akan datang. Jika ada sesuatu yang penting, Galih standby di lobil bawah.” Potong Abrisam seraya meninggalkan meja makan.
“Kenapa aku harus ditemani perawat segala?”
“Jika sakit kepalamu dan mual mu tak kunjung reda, perawat itu tahu apa yang harus dia lakukan.”
Salina mengerjapkan matanya.
“Makan sarapanmu, diam di sini, jangan membuatku repot.”
Setelah itu Abrisam keluar dari apartemen, meninggalkan Salina yang masih terbengong-bengong di atas kursinya.
“Apa-apaan orang itu?” Sungutnya. Ia menghela napas panjang, memandang nanar sepiring roti panggang berisi daging asap, telur orak-arik, keju dan selada segar.
“Aku ingin makan nasi uduk.” Keluhnya, tapi tangannya tetap terulur untuk meraih sepiring sarapannya.
Oh! Kau! Penyelamatku! My hero!
“Apa barusan itu? Halusinasi, kah? Atau fantasi? Atau imajinasiku?” katanya panik. Buru-buru ia menenggak segela air mineral dan batuk-batuk sebentar.
“Apa dia benar-benar datang ke kelab kemarin?”
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku?Aku sedang menikmati kesengsaraanku, kepedihanku, kesedihanku, kehancuranku. Aku sedang menikmatinya! Hahahah! Bartender! Satu gelas lagi!”
“Jangan bodoh! Kau bisa sakit!”
“Sakit? Hahaha! Aku tidak peduli! Aku akan mabuk sampai pingsan, kalau perlu sampai mati. Bagus, kan? Kau tidak perlu mengabisi keluargaku karena aku akan mati karena keracunan alkohol, kematianku tidak akan dicurigai siapa pun. Semuanya akan aman. Kau, Om-mu, keluargaku, bahkan si bajingan itu…. Hiks… hiks… jahat sekali dia… hiks!”
Ingatan dirinya memukuli dada Abrisam melekat begitu nyata. Ia bahkan dapat merasakan nyamannya tubuhnya meringkuk dalam gendongan pria itu sampai akhirnya dia memuntahi Abrisam.
“Aaaaaakkkkk! Tidaaaakkkk!”
Salina bangkit berdiri, sempoyongan, ia segera menjatukan tubuhnya pada sofa panjang di ruang tengah, meringkuk seperti orang bodoh disana.
“Apa yang telah kulakukan?! Lalu siapa yang mengganti pakaianku semalam? Tidak mungkin Galih, kan? Tidak mungkin juga dia, kan? Atau mungkin dia yang menganntikan seluruh pakaianku? OH TUHAN! TENGGELAMKAN SAJA AKU!” Salina memekik dengan membenamkan wajahnya pada bantal sofa yang ada.
Kakinya menendang-nendang apa pun yang disentuhnya. Mulutnya membunyikan tangisan penuh dengan keluhan.
“Hatiku yang hancur saja belum selesai urusannya, sekarang ditambah lagi dengan urusan ini? Ya ampun! Apa tadi dia bilang, aku akan menerima hukuman ketika aku sudah ingat semua? Astaga! Lebih baik aku pura-pura amnesia saja seumur hidupku!”
Samar-samar Salina mendengar suara dering ponselnya dari dalam kamar, setengah hati ia mengangkat tubuhnya untuk mengangkat panggilan telepon itu. Sesampainya di kamar, dilihatnya layar beda pipih itu, nama Bagas tertera disana.
Sampai empat kali deringan, barulah Salina memutuskan untuk menjawabnya.
“Sal…” Suara Bagas langsung terdengar diseberang sana.
Rasa sakit menahan Salina untuk tidak langsung membalas sapaan pria itu.
“Kemarin… aku… aku bisa jelaskan.” Kata Bagas setelah beberapa detik tidak ada sahutan dari Salina.
“Aku tahu kau pasti sangat marah padaku, kecewa, sakit hati. Tapi kumohon dengar dulu penjelasanku.”
“Kau…” Akhirnya setelah mengumpulkan suaranya Salina bersuara. “telah menikah selama lima tahun. Kau bahkan mempunyai anak. Kau menjadikanku wanita selingkuhanmu. Apa lagi yang mau kau jelaskan, dasar laki-laki berengsek!”
“Ya aku akui aku berengsek, tapi itu tidak menjadikanku salah sepenuhnya dalam hubungan ini. Karena sejak awal pun kau juga hanya mempermainkanku, kau tidak benar-benar mencintaiku. Setidaknya, aku tulus mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu.”
“Wah! Wah! Masih bisa kau membela diri? Lalu bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu? Bagaimana jika aku tidak pernah bertemu Abrisam sebelumnya dan kau adalah pria yang kuanggap paling jujur? Apa yang akan kau jelaskan?!” Teriak Salina.
“Tapi pada kenyataannya kau tidak pernah mencintaiku, tapi aku mencintaimu!”
“Itu tidak menjadikanmu lebih baik dari padaku! Andai saja aku tidak bertemu dengan kalian kemarin, mungkin sampai detik ini aku masih berpikir aku adalah satu-satunya orang jahat disini, padahal… padahal yang kulakukan adalah untuk…” Tahan Sal! Ingat ponselmu disadap T-Rex!
“Untuk apa? Apa yang kau lakukan pada akhirnya juga menyakitiku. Kita sama-sama menyakiti.”
“Lalu untuk apa kau menghubungiku? Mau bersikap seolah kau tetap korban dalam hubungan ini? Cih! Satu penyesalanku saat ini, yaitu menghentikan Abi memukulimu di kafe waktu itu.”
“Salina…”
“Berhenti memanggilku, berhenti menghubungiku, jalani saja rumah tanggamu jangan sampai kau mengkhianati lagi istri dan anakmu!” Salina langsung memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.
Oh, hatinya sungguh sakit. Sungguh berkali-kali lipat.
Sakit dan tidak berdaya untuk menjelaskan situasinya pada Bagas juga pada Bunda dan adiknya.
Dengan tenaganya yang masih belum sepenuhnya terkumpul, Salina melempar ponselnya ke dinding hingga pecah. Tubuhnya mulai bergetar, kedua tangannya menutup wajah. Air mata kembali membasahi pipinya.
Apakah aku akan bertahan? Apakah aku harus bertahan?
.
.
.
TBC~