
“Kapan aku pernah bilang aku membencimu?” tanya Abrisam. Sorot matanya yang terkesan santai tapi begitu mengena pada hati Salina.
“Eh?”
“Aku tidak pernah bilang aku membencimu. Aku hanya bilang, kau bukan tipeku.”
“Cih, sama saja.” Salina mulai menyendok pastanya.
“Beda.” Sahut Abrisam. “Jika aku membencimu, aku tidak akan menyukaimu meski kau adalah tipeku.”
“Lalu kalau kau tidak membenciku, kau akan menyukaiku walaupun aku bukan tipemu?”
Deg!
Krik! Krik! Krik!
Eh, suara jangkrik dari mana ini?
Kecanggungan tiba-tiba mulai terasa diudara. Keduanya saling terjebak pada ucapannya masing-masing.
Abrisam berdeham, mencairkan kecanggungan yang ada, ia pun ikut menyendok pastanya. “Kau kenapa terlalu banyak pertanyaan? Makan saja! Setelah itu kita pulang.”
Salina mengisi perutnya sampai ia merasa kenyang. Dan merasa jauh lebih baik ketika perutnya sudah penuh. Ia merapatkan jas Abrisam yang menyelimuti tubuhnya, terpaan angin laut meniup helaian-helaian rambutnya. Titik-titik cahaya lampu dari kejauhan yang berada di tepi laut terlihat seperti hamparan bintang yang berguguran. Pantulan bintang sungguhan dan cahaya bulan dari langit pun menjadi pemandangan indah di atas permukaan laut.
Cahaya dari kapal ferry ini menjadi satu-satunya cahaya yang paling nyata dan dekat terlihat.
“Apa ini kapalmu? Atau milik Hadran?”
“Apa kau tidak akan memanggilnya dengan sebutan Om?”
“Tidak.” jawab Salina tanpa ragu.
Abrisam menghela napas. “Milikku.”
Salina mengangguk. “Jadi, kau tidak membenciku?”
“Apa kau akan terus bertanya?”
“Ya. Aku hanya tidak mengerti, kenapa kau tidak membenciku? Kenapa kau membantuku? Apa yang membuatmu peduli padaku? Kenapa kau menyelamatkanku? Bahkan, kenapa kau memasak untukku?”
Abrisam mengulurkan tangan kemudian menyentil kening Salina hingga membuat Salina meringis mengusap keningnya seraya melemparkan tatapan galak.
“Kepalamu terlalu banyak pertanyaan. Terima saja apa yang kau dapatkan, tidak usah banyak bertanya.”
“Tapi kau tidak mungkin menyukaiku, kan? Kau tidak akan jatuh cinta padaku, kan?”
Abrisam mendelik pada Salina.
“Aku memaklumi pertanyaan-pertanyaanmu karena kau seorang penulis. Jadi aku hanya akan menganggap pertanyaanmu itu sebagai imajinasimu saja.”
Salina terus melihat Abrisam dengan tatapannya yang untuk kali pertama tidak ada percikan kebencian.
“Kenapa kau melihat aku terus?”
“Kenapa? Apa aku membuatmu salah tingkah?”
Abrisam menenggak air mineralnya hingga tandas. “Angin laut sepertinya membuatmu oleng.”
Tiba-tiba Salina menahan langkah Abrisam dengan meraih ujung jari kelingking Abrisam, kemudian berkata, “Terima kasih sekali lagi. Kurasa apa yang sudah kau lakukan untukku telah membuktikan padaku.”
“Membuktikan apa?”
“Kau bukan monster. Kau manusia yang mempunyai hati.”
“Kita pulang sekarang. Bantu aku merapikan piring-piring ini.” Abrisam mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuatnya merasa semakin canggung.
.
.
.
Hari semakin larut ketika Salina dan Abrisam sampai di apartemen, Salina melangkah masuk lebih dulu seraya menekan saklar lampu hingga menjadi terang.
“Istirahatlah, hari ini cukup panjang.” kata Abrisam sambil melangkah melewati Salina menuju dan masuk ke dalam kamarnya. Dari tempatnya berdiri, Salina menyunggingkan senyuman pada wajahnya, untuk kali pertama ia tersenyum atas apa yang dilakukan Abrisam untuknya.
Hidup terkadang memang sangat lucu dan tak terduga. Siapa yang akan menyangka, orang yang seharusnya menjadi pengeksekusi hidupnya justru menjadi satu-satunya orang yang memberikan keadilan untuknya, keadilan yang selama ini Salina pikir tidak akan pernah dia dapatkan. Siapa pula orang yang begitu dia benci justru menjadi seseorang yang begitu peduli dan melindunginya.
Kini ia mengerti dengan apa yang pernah di ucapkan Galih.
Salina pun melangkahkan kakinya menuju kamar kerja. Kemudian terpaku di depannya. Kali terakhir yang dia ingat masuk ke dalam kamar itu adalah kejadian saat Abrisam menyentuhnya dengan paksa, ia mengunci diri dan menyeret sofabed untuk menahan pintu.
Sekarang baru terpikir oleh Salina, bagaimana bisa Abrisam mendorong pintu yang dijegal oleh sebuah sofabed?
Salina menghela napas panjang, kemudian membuka pintu. Pemandangan baru membuatnya terkesiap. Untuk sesaat Salina merasa salah kamar, tapi hanya ada dua kamar di apartemen ini, bagaimana mungkin dia salah kamar?
Salina mengerjapkan matanya, mungkin saja efek angin laut membuatnya berhalusinasi. Tapi setelah berkali-kali mengerjapkan kelopak matanya dan juga menguceknya, pemandangan baru itu lah yang terpampang nyata di depan matanya.
Tidak ada lagi seperangkat meja kerja Abrisam di dalam kamar itu. Tidak ada lemari buku disana, bahkan lemari kecil yang menjadi tempat pakaian Salina pun ikut lenyap dari sana, juga sofabed yang mulai nyaman ia tempati sebagai tempat tidurnya pun menghilang. Ruangan itu kosong! Kosong total!
Ketika Salina berbalik badan, ia cukup dikejutnya dengan keberadaan Abrisam yang sudah berdiri tepat di ambang pintu kamarnya, yang mana, kamar tidur Abrisam dan kamar kerja itu saling berseberangan.
“Aku lupa memberitahumu, mulai hari ini, kau dan aku akan tidur di kamar yang sama.”
“APA?” Bola mata Salina bisa saja menggelinding saking lebarnya ia membelalakan mata. “Tap-tapi kenapa?Kenapa tiba-tiba?”
“Kau pikir kenapa lagi? Coba kau pikir, sudah berapa kali kau pingsan di dalam kamar itu?”
“Tapi-”
“Peraturan satu protes satu ciuman masih berlaku. Kau ingin protes?” Abrisam menelengkan kepalanya.
Segera Salina mengatupkan kedua bibirnya dan menggelengkan kepala.
“Bagus.” Ujar Abrisam. “Semua barang-barangmu sudah kupindahkan ke dalam kamar.”
“Lemari pakaianku?”
“Lemarinya tidak, tapi pakaianmu sudah ada di dalam lemariku juga.”
“Apa?”
“Sudahlah, sana bersihkan dirimu, jangan banyak tanya. Kepalaku pusing mendengar pertanyaan-pertanyaan darimu hari ini.” Abrisam berlalu begitu saja menuju dapur.
“Aku boleh mandi di kamar mandimu?”
“Terserah!”
“Boleh apa tidak? Jawab yang pasti?”
“Boleh! Bawel sekali.”
Lagi, bibir Salina menyunggingkan senyuman untuk Abrisam. Begitu pun pada wajah Abrisam, pria itu tersenyum di balik gelas yang dia pakai untuk minum air mineral dingin.
Malam itu menjadi malam pertama bagi mereka untuk tidur bersama dalam satu kamar. Sungguh situasi yang sangat canggung. Abrisam merebahkan dirinya, berusaha memejamkan matanya di atas sofabed yang sudah pindah dari kamar kerja menjadi di dalam kamar tidur, sementara Salina merasa tidak enak hati melihat Abrisam yang kaki panjangnya menggantung, sementara dirinya begitu nyaman di atas ranjang.
“Hei,” Panggil Salina.
“Hm?”
“Kau sudah tidur?”
“Kau pikir aku akan menyahut jika sudah tidur?”
“Kupikir sebaiknya kita bertukar tempat? Kakimu bisa kesemutan jika menggantung sepanjang malam seperti itu.”
Abrisam membuka mata, memikirkan kata-kata Salina.
“Tubuhku lebih pas untuk tidur di atas sofabed itu dari pada tubuhmu.”
“Baiklah.” Abrisam bangkit, begitu pun dengan Salina yang juga bangkit hendak bertukar tempat. Tapi Abrisam malah menariknya lagi hingga Salina kembali terjerembab di atas tempat tidur.
“Tidur! Kau juga perlu tidur dengan nyaman.” Titah Abrisam.
“Eh, tapi aku cukup nyaman di sofabed, aku akan-”
“Apa kau ingin ciuman pengantar tidur?”
“Tidak!” jawab Salina dengan sangat cepat. “Aku akan tidur di kasur ini dengan sangat nyaman dan pulas, mohon untuk tidak melewati batas guling di antara kita ini. Terima kasih!” Salina langsung mengurung dirinya di dalam selimut, memunggungi Abrisam, begitu pun dengan Abrisam.
Punggung mereka saling berhadapan dengan tenang, tapi tidak dengan jantung mereka yang berdebar aneh. Mata mereka yang menolak untuk terpejam. Otak mereka memerintahkan tubuh mereka untuk bergerak dan berbalik arah hingga akhirnya punggung mereka tidak lagi saling berhadapan, berganti dengan wajah mereka kini yang saling berhadapan.
Menyadari Salina yang juga belum tidur, Abrisam langsung bergerak lagi dan memposisikan tubuhnya dengan terlentang menghadap langit-langit.
“Abrisam…” Panggil Salina pelan.
“Tidur! Apa kau tidak lelah?”
“Apa kau tidur juga dengan pakaian rapi seperti itu?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Abrisam mendengkus, ia menoleh, melihat Salina, kemudian berkata, “Berjaga jika tiba-tiba kau pingsan lagi, aku bisa langsung membawamu ke rumah sakit tanpa harus berganti pakaian.”
“Apa kau begitu mengkhawatirkanku?”
“Apa aku harus menambah peraturan baru? Satu protes satu ciuman, dan per tiga pertanyaan satu ciuman juga?”
Salina langsung menggerakkan jarinya seolah mengunci bibirnya dan membuang kuncinya lalu langsung memejamkan matanya.
Bibir Abrisam melengkung ke atas membentuk senyuman. Ia pun ikut memejamkan matanya.
.
.
.
TBC~