You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Sosok Halusinasi



Salina meneguk segelas es teh lemon sambil memandang pemandangan pantai di depan matanya dari balkon rumah. Ia baru saja menyelesaikan tiga bab dari naskah novelnya. Ia mengatur napasnya, dadanya selalu saja sesak karena kerinduan, kekhawatiran, dan ketidakmampuan yang dia miliki untuk sekadar mendapatkan kabar tentang pria yang dia cintai. Salina kembali meneguk habis isi gelasnya hingga hanya menyisakan beberapa kotak es batu dan dua iris lemon.


Ia memutuskan untuk beranjak dari balkon dan berjalan-jalan di sepanjang pantai. Sendirian! Tanpa diikuti oleh pengawal-pengawalnya. Ia hanya ingin melamun, mengenang, dan tenggelam dalam rasa galaunya merindukan suaminya sambil menikmati pasir dibawah kakinya dan angin pantai yang menerpanya.


Ia turun dari lantai dua, dilihatnya pengawalnya berdiri di ujung tangga. Ia mendesah pelan, kenapa orang itu tidak pernah beranjak?


"Apa kau robot?" tanya Salina tiba-tiba pada pengawalnya yang merespon bingung.


"Maaf, Nona, maksudnya?"


"Sejak aku naik ke balkon, dua jam menulis, kau masih berdiri di sini, apa kau robot? Apa tidak ada sistem pencernaan dalam tubuhmu yang mengharuskan kau untuk makan, minum dan ke toilet?"


Pertanyaan sarkas yang hanya dijawab dengan senyuman tak berarti oleh pengawalnya.


"Ah, sudahlah!" Salina mengibaskan tangannya kesal. Semua pengawal di rumah ini sama saja.


"Aku mau ke pantai, tapi aku ingin sendirian!"


"Baik Nona, saya akan-"


"Aku bilang, aku ingin sendirian!"


"Tapi Nona-"


"Apa kau takut kau diomeli oleh Abrisam?"


"Itu-"


"Sudah satu tahun enam bulan sekarang, kita bahkan tidak tahu apakah dia masih ingat aku disini atau tidak! Jadi kau tidak perlu takut!"


"Bukan begitu Nona, tapi-"


"Sudahlah, percuma aku bicara padamu. Pokoknya aku mau menikmati waktuku sendirian di pantai!" Salina mengentakkan kakinya di atas lantai meninggalkan pengawalnya begitu saja.


Ia terus melangkah sambil ngedumel sendirian tanpa melihat lagi ke belakang apakah pengawal itu mengikutinya atau tidak, ia tidak peduli!


Saina tidak mengerti mengapa pulau seindah ini tidak mempunyai banyak penduduk, padahal pemandangan alam yang ada di pulau itu sangat indah. Pantai dengan pasir putihnya yang bersih, air lautnya yang jernih sampai bisa melihat berbagai terumbu karang di bawahnya, pemandangan sekitar yang masih begitu asri. Tapi kini ia tak lagi peduli dengan semua keiindahan disekitarnya. Hidupnya terasa begitu kosong dan hampa walaupun segala keperluan dan kebutuhan hidupnya tidak pernah kekurangan sama sekali selama di pulau itu.


Sesampainya di bibir pantai, Salina membiarkan kakinya disapa oleh air asin yang hangat, membiarkan wajah dan rambutnya yang dibiarkannya tergerai diterpa tiupan angin yang lembab. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, matanya terpejam, tiba-tiba dadanya kembali dipenuhi oleh kerinduan hingga membuat hatinya begitu sakit.


Keindahan pemandangan langit menjelang senja di depan matanya begitu menyiksanya. Ia teringat, ia dan Abrisam hampir tidak memiliki banyak waktu yang indah bersama. Mereka belum pernah menikmati liburan bersama. Belum pernah memiliki banyak waktu untuk memberikan kasih dan sayangnya pada suaminya itu. Sekarang, ia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi pada Abrisam.


Air mata menetes, mulai membasahi pipinya.


"Kau memintaku untuk menunggu. Sampai kapan aku harus menunggumu?" ucapnya getir dan bergetar.


"Kau dimana? Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sehat? Apa kau... masih ingat padaku?" Tak kuasa Salina menjatukan dirinya, duduk di atas pasir, memeluk kedua lututnya. Menangis seorang diri.


Setelah hampir satu jam mengasihani diri dan perasaannya yang pilu, Salina kembali berdiri. Langit sudah berubah malam, tidak ada lagi sinar matahari di ujung sana. Ia bergerak untuk pergi dari tempatnya, namun seketika langkahnya berhenti ketika melihat seseorang berdiri beberapa meter di depannya. Sedang memandangnya dengan tatapan rindu yang sama.


Salina ingin berlari dan memeluknya, namun kesadaran kembali menamparnya.


Sudah beberapa bulan ini, ia sering kali berhalusinasi melihat Abrisam. Terkadang Abrisam duduk disebelahnya, bicara padanya, terkadang merentangkan tangannya, tapi ketika Salina menyentuhnya, bayangan Abrisam akan menghilang seperti asap.


"Kau datang lagi?" katanya pada sosok halusinasinya. "Kau tahu, setiap kali kau datang, kau juga selalu menghilang setiap kali aku mencoba untuk menyentuhmu." katanya lagi pada setiap langkahnya mendekati sosok Abrisam. "Kau tahu, itu sangat menyebalkan!"


Kakinya berdiri sejengkal dari sosok Abrisam.


"Ah! Kurasa aku mulai gila. Aku bahkan kini bisa menghirup aromamu, dan wah... halusinasiku sepertinya ada kenaikan level, biasanya kau selalu muncul dengan setelan jas hitammu. Tapi sekarang, kau pakai sweater? Tapi tetap saja hitam. Cih! Apa dalam halusinasi pun kau juga tidak punya warna lain?"


Salina melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak akan mencoba menyentuhmu kali ini. Jika memang dengan begitu kau tidak akan menghilang lagi. Meski pun aku sangat... sangat... sangat ingin sekali memelukmu. Tapi, jika itu kulakukan, kau akan menghilang seperti asap. Dan itu akan menyiksaku!"


"Maaf." kata sosok itu.


Salina mendengkus. "Tumben sekali kau minta maaf, biasanya kau hanya meledekku. Ah, sudahlah. Aku mau kembali pulang."


Sosok Abrisam pun mengangguk. Salina dan sosok halusinasinya berjalan bersamaan menuju rumah. Mereka berjalan dengan tenang. Salina terus melipat kedua tangannya di depan dada, menahan diri untuk tidak memeluk sosok halusinasi yang dia rindukan. Sesampainya di depan pintu rumah, pengawalnya menyapa Salina.


"Lho, kau tidak mengikutiku ke pantai?" tanya Salina terkejut.


"Iya, Nona. Bukan kah tadi Nona ingin sendirian?"


"Wah! Tumben sekali, sejak kapan kau memenuhi permintaanku?" Sindir Salina.


Pengawalnya hanya tersenyum.


"Kalau begitu, aku ada permintaan lain. Ijinkan aku menghubungi Abrisam? Atau biarkan aku pulang, biarkan aku menunggu Abrisam di apartemen kami? Bisa, kan? Boleh, kan?"


"Maaf, Nona, sebaiknya Nona istirahat." kata si pengawal sambil menundukkan kepalanya.


"Ish! Menyebalkan!" Salina mengentakkan kakinya kemudian melangkah masuk. Tanpa ia sadari, ia meninggalkan pengawalnya bersama sosok halusinasinya.


Felix tersenyum penuh haru dan lega melihat orang yang dia segani dan hormati berdiri di depan matanya denganĀ  dalam keadaan sehat.


"Akhirnya Tuan kembali." katanya.


Abrisam mengangguk, menepuk bahu kekar pria yang telah menjadi pengawal istri juga keluarganya.


"Terima kasih kau telah menjaga istri dan keluargaku selama ini. Pasti sangat sulit menghadapi Salina dengan kekeraskepalaannya setiap hari."


Felix hanya tersenyum.


"Bagaimana dengan Ibu, Bunda dan Iris? Apa semuanya baik-baik saja selama ini?"


"Awalnya Nyonya Bunda dan Ibu selalu mempertanyakan Anda, Tuan. Mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Nyonya Ibu juga setiap hari terlihat khawatir, terlihat selalu menunggu kadatangan Tuan atau pun kabar tentang Tuan, seperti Nona Salina. Hanya saja, Nyonya jauh lebih tenang. Nona Iris juga selalu menunggu kabar tentang Tuan dan Tuan Galih. Tapi, semuanya bisa terkendali."


"Bagus." Abrisam mengangguk. "Terima kasih. Kau dan semuanya telah bekerja dengan sangat baik."


Felix begitu terharu mendengar pujian dari Abrisam yang selama ini ia kenal sebagai seorang yang dingin, tegas, keras, dan kejam. Tapi,saat ini, Tuannya begitu berbeda.


"Aku akan menemui Ibuku, dimana Ibu?"


"Kamar Nyonya Bunda dan Ibu ada di sayap kanan, Tuan."


"Iris?"


"Kamar Nona Iris ada di samping balkon lantai dua. Kamar Nona Salina ada di kamar utama."


Abrisam mengangguk. Kemudian meninggalkan Felix dengan perasaanya yang sangat penuh syukur. Ia kemudian menghubungi rekan-rekannya yang lainnya untuk mengabarkan situasi terbaru.


"Elang utama telah kembali."


Begitu menyadari halusinasinya tetap menghilang meski ia tidak menyentuhnya membuat Salina semakin sesak. Jadi, begitu ia masuk ke dalam kamarnya, ia memilih untuk mandi berendam di dalam air hangat dengan aroma terapi yang ia harap bisa menenangkannya. Tapi, bayangan terakhir sosok halusinasinya terus saja bermain dalam pikiran dan benaknya.


"Cih, kenapa dalam halusinasi saja, kau terlalu tampan? Menyebalkan! Kau menyebalkan!" Teriak Salina sambil memukul-mukul permukaan air dan kembali menangis lagi. Lagi. Dan lagi.


Setelah menghabiskan waktu satu jam di dalam kamar mandi sampai ujung-ujung jemarinya keriput kelamaan berendam, Salina akhirnya keluar dari bathtub. Membilas tubuhnya di bawah shower, kemudian membalut tubuhnya dengan bathrobe, dan menggelung rambutnya ke atas dengan handuk.


Begitu keluar dari dalam kamar mandi, ia terkesiap menyentuh dadanya sendiri saking kagetnya melihat kembali sosok halusinasinya sedang duduk di single sofa.


"Kau mengejutkanku. Kupikir kau sudah menghilang, tapi kau datang lagi." kata Salina sambil berlalu di depan Abrisam. Ia duduk di depan meja nakas, sambil terus memperhatikan sosok Abrisam dari pantulan cermin.


"Kau tahu, sebenarnya aku malas mandi, malas makan, malas segalanya, karena tahu kau tidak ada disini. Tapi," Salina menuangkan bodylotion ke tangan, kaki dan sebagian dadanya. "Kupikir, kau bisa saja datang hari ini, atau besok. Tapi, pikiranku selalu mengecewakanku, kau tidak datang. Kau tidak ada kabar. Kau meninggalkanku. Kau..." Salina menghela napas sambil mengolesi lotion itu pada tubuhnya.


Setelah itu dia mulai melakukan skincare pada wajahnya. "Kau lihat ini, wajahku ini sudah berkali-kali muncul jerawat karena stres merindukanmu. Tapi sepertinya, kau melupakan keberadaanku disini. Tapi, aku tetap merawat diriku untukmu. Menyebalkan sekali." Setelah selesai dengan wajahnya, ia beralih pada rambutnya, ia melepaskan handuk yang melilit rambutnya yang masih basah.


"Kau tahu, sudah beberapa kali aku berniat untuk membotaki kepalaku, sebagai bentuk protes, tapi aku sadari, aksi protesku tidak akan digubris oleh para pengawalmu yang sangat patuh dan setia itu. Mereka menyeballkan! Sama sepertimu!"


Suara mesin hairdryer mengisi kamar selama lima menit, setelah itu Salina mengusapkan vitamin rambut untuk rambut panjangnya yang lebat dan hitam.


"Apa kau akan tetap ada disana?" tanya Salina pada sosok halusinainya.


Sosok itu mengangguk.


"Apa kau akan menghilang lagi?"


"Tidak" Sosok itu menjawab.


Salina tersenyum. Tapi kemudian senyumnya menghilang, ia meraih bantal segi empat yang ada di kursi meja nakas dan melemparkannya pada sosok halusinasi itu sambil berseru.


"Kau bohong! Kau selalu menghilang! Eh..." Salina tertegun. Sosok itu tidak menghilang, melainkan menangkap dengan tepat bantal yang dilempar Salina.


"Kau bisa menangkapnya?"


TBC~