
Abrisam dan Salina tiba dikediaman Tuan Hadran, sebelum keluar dari dalam mobil, Abrisam memastikan tidak ada sisa air mata pada mata juga pipi Salina.
“Ingat apa yang harus kau lakukan di depan orang lain. Terutama di depan Om Hadran.”
“Ya.” jawab Salina seraya keluar dari dalam mobil. Begitu matahari menyinari wajahnya. Salina tersenyum manis pada Abrisam. Ia langsung menghampiri pria itu dan mengamit manja lengan Abrisam.
“Apakah ini cukup?” ujarnya pelan dengan senyumannya yang masih menghiasi pipi chubby-nya.
“Ya, kita lihat nanti, apakah butuh improvisasi atau tidak.” Sahut Abrisam.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh pengurus rumah.
“Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang tengah, Mas.” kata pengurus rumah itu dengan sopan.
Abrisam hanya mengangguk.
“Baik, terima kasih, ya.” Sahut Salina dengan ramah dan penuh senyuman.
Mereka memasuki rumah lebih dalam menuju ruang tengah yang besar. Pada sofa panjang yang besar berada di tengah ruangan itu, Winda tengah memangku anak balita yang sedang memeluk boneka. Sementara Hadran menikmati secangkir kopinya seraya mengecek sesuatu pada layar sentuh ipad-nya.
“Ah, kalian sudah datang.” Winda menyunggingkan senyuman lebar. Ia berdiri sambil menggendong anaknya, menghampiri Abrisam yang menghindar untuk dipeluk, seperti biasa. Dan Winda beralih pada Salina yang lebih hangat menyambut pelukan wanita itu.
Salina melepaskan tangannya dari lengan Abrisam untuk menggendong anak balita perempuan yang sangat menggemaskan itu sejak kali pertama Salina melihatnya. Hanya saja kemarin suasana hatinya benar-benar buruk.
Dan hari ini pun sebenarnya tidak jauh berbeda, tapi ia harus memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja, mungkin dengan bermain bersama anak kecil tanpa dosa itu, dia bisa sedikit mendapatkan ketenangan.
“Ih, kamu lucu sekali sih.” Salina menciumnya dengan gemas. Winda ikut senang melihat Salina mempunyai karakter yang jauh berbeda dari Abrisam. “Siapa namanya, Tante?”
“Keina.” jawab Winda.
“Halo Keina, aku Salina, kau bisa memanggilku Kakak cantik.” Ucap Salina sambil terkekeh sendiri sambil mencium pipi Keina yang ikut tertawa.
Abrisam nyaris tersihir dengan interaksi Salina dengan Keina, jika saja Abrisam tidak ingat segala sikap ‘baik’ Salina hanya sebuah sandiwara belaka.
“Tante, apa aku boleh bermain dengan Keina di taman samping?”
“Tentu saja, Keina paling senang bermain di taman samping.” Winda mengijinkan.
“Abi, aku ke taman samping, ya.” Ucap Salina lembut pada Abrisam.
Abrisam mengangguk. Sebelum Salina bergerak melangkah, Abrisam menarik pelan tangan Salina dan tiba-tiba mengecup kepala Salina.
“Jangan sampai anak itu membuatmu lelah.” kata Abrisam sangat perhatian sampai-sampai membuat Winda tecengang dan senyum-senyum sendiri melihat fenomena langka itu di depan matanya.
Salina tersenyum. “Mana ada anak selucu ini membuat lelah.”
“Ayo kita ke taman bersama, biarkan para pria ini bersama.” Winda mengajak Salina meninggalkan ruang tengah.
Setelah Salina dan Winda meninggalkan ruang tengah, Abrisam duduk pada sofa, kembali pada mode dinginnya.
“Apa istrimu itu tidak akan menyapaku?”
“Memang apa yang Om harapkan setelah apa yang Om lakukan di depan matanya?”
“Tapi aku telah memberikannya kesempatan. Kalau aku mau, aku bisa saja menyuruh orang lain untuk menggantikan tugasmu.”
“Menyentuhnya sama saja menyentuhku. Om tahu itu.” Abrisam menegaskan setiap katanya.
“Pastikan saja istri penulismu itu tetap menutup rapat mulutnya. Atau aku akan melanggar janjiku sendiri.”
“Aku yang menjamin istriku menepati janjinya.” Ucap Abrisam. “Jadi ada apa Om memanggilku tiba-tiba?”
Kemudian Hadran menunjukkan sebuah rekaman vidio kejadian di kafe yang masih terpatri jelas dalam ingatan Abrisam.
“Apa ini? Siapa pria itu?”
“Kau memata-mataiku?” tanya Abrisam pura-pura tidak tahu dengan jalan pikiran Hadran.
“Vidio ini tersebar media sosial, tidak sulit bagiku untuk mendapatkannya.” jawab Hadran, berbohong, tapi tetap masuk akal. Abrisam tentu saja tidak bisa ditipunya. Ia mengenal semua gerak-gerik orang-orang suruhan Hadran, tapi tidak membantah jawaban Hadran, agar membuat sandiwaranya tetap terlihat natural tanpa kecurigaan.
“Pria itu adalah mantannya Sal, ia tidak terima dengan pernikahan kami yang sangat tiba-tiba.”
“Salina memiliki kekasih ketika menikah denganmu?”
“Ya.”
“Dan kalian tetap menikah?”
“Ya.”
“Kami saling mencintai.”
“Apa kau yakin dia tidak akan mengkhianatimu?”
“Yakin.”
“Apa kau tidak perlu menimbang kembali pertanyaanku sebelum menjawabnya dengan cepat dan yakin?”
“Aku tidak perlu menimbang apa-apa lagi. Aku percaya padanya, dia percaya padaku. Kami saling mencintai. Itu sudah cukup.”
Hadran menatap tajam Abrisam, aura kesadisannya muncul ke permukaan. “Dengar, sebentar lagi pilkada, aku tidak mau cinta butamu pada gadis itu menghancurkan reputasiku dan mengalahkan voting atas namaku. Jika dia mengkhianati kepercayaanku, kau tahu apa yang bisa kuhancurkan.”
Abrisam menegakkan posisi duduknya, sorot matanya sama tajam seperti Hadran. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit untuk memperdalam tatapan matanya. “Aku menjamin Salina tidak akan mengkhianatiku, itu artinya dia juga tidak akan mengkhianatimu.”
“Apa kau tidak berpikir, dia bisa mengkhianati kekasihnya dan menikah denganmu. Itu bisa saja dia lakukan juga padamu.”
“Tidak akan.” jawab Abrisam cepat.
“Apa ada yang kau sembunyikan dariku?” Hadran menatap curiga pada Abrisam.
“Tidak ada.” jawab Abrisam cepat dan tegas. “Om sendiri, apa ada yang Om sembunyikan dariku?”
“Tidak ada.” jawab Hadran.
Keheningan tercipta beberapa saat dan hanya ada saling melempar tatapan curiga satu sama lain.
Akhirnya Hadran mengalah. Ia memang mempercayai Abrisam sebagai keponakan, tangan kanan sekaligus orang yang dapat dia andalkan dalam segala tugas yang diberikan. Tapi, bukan berarti Hadran percaya pada Salina seratus persen. Namun demi kepercayaannya pada Abrisam, ia melepaskan gadis itu.
“Baiklah, kita sudahi topik tentang gadis itu. Kuharap semua akan baik-baik saja dan pernikahan kalian membawa kebahagiaan untuk kita semua.”
Abrisam hanya mengangguk.
“Karena pernikahan kalian yang sangat sederhana, aku dan Winda berdiskusi semalam dan ingin memberikan kalian pesta pernikahan yang layak.”
“Tidak perlu. Aku dan Sal sudah cukup dengan akad sederhana di KUA.”
“Tapi tidak cukup bagiku sebagai calon kepala daerah. Tidak mungkin aku membiarkan keponakanku hanya melakukan akad pernikahan sederhana di KUA. Citraku akan buruk di mata media.”
“Salina tidak akan menyetujuinya.”
“Dia harus menyetujuinya, kau harus membuatnya mau menerima pesta ini.”
“Aku akan menyampaikan paksaanmu padanya nanti.”
“Bagus. Winda berinisiatif menjadikan pesta ini sebagai kado pernikahan untuk kalian, jadi kalian tidak perlu memusingkan segala persiapan, cukup persiapkan diri dan keluarga Salina saja. Semuanya akan diatur oleh Winda.”
“Keluarga Salina tidak akan bisa datang.”
Hadran menaikkan kedua alis matanya.
“Orang tuanya tidak merestui hubungan kami. Kemungkinan adiknya marah karena tidak bisa dihubungi dan tidak menghubunginya balik.”
“Dan gadis itu tetap memilihmu? Tetap menikah denganmu dan meninggalkan keluarganya?”
“Apa Om mau membahas soal cinta kami lagi?”
Hadran menghela napas. Ia tahu, keponakannya itu orang yang cukup keras kepala. Percuma berdebat dengannya. Percuma memberikannya ancaman. Karena ia tahu Abrisam pun bisa melakukan ancaman yang sama terhadapnya.
“Baiklah, terserah. Dengan atau tanpa keluarga gadis itu, pesta pernikahan tetap akan terjadi. Jadi, pastikan saja istrimu mau menurut.”
“Kenapa aku harus menurut?” Suara Salina yang tiba-tiba muncul di ruangan tengah membuat dua pria itu menengok.
Abrisam tertegun begitu melihat Salina datang. Ada sebuah rasa yang tiba-tiba mampir sekejap.
.
.
.
TBC~