
Beberapa waktu sebelum Abrisam bertemu dengan Tuan Jo, semua anak buah yang dihubungi Galih langsung bergerak dengan cepat, siaga satu telah diberikan, itu artinya mereka kini bertanggung jawab atas keselamatan orang-orang yang mereka jaga.
Seseorang menekan bel, Salina bergegas untuk membuka pintu, seorang pengawal yang wajahnya tak asing berdiri di depan Salina dengan gelisah.
"Apa yang terjadi?" tanya Salina tenang. Ini bukan kali pertama Salina dihadapkan pada situasi yang mendadak tegang.
"Tuan memerintahkan siaga satu, Nona. Kita harus bergegas sekarang!" kata pengawal itu.
"Siaga satu? Apa artinya?"
"Saya akan jelaskan dalam perjalanan, Nona. Saat ini, bawa saja barang-barang yang paling penting, Nona. Kita tidak mempunyai banyak waktu."
"Lalu bagaimana dengan Abrisam? Dengan Galih?"
"Maaf, Nona, saya tidak bisa memastikan. Yang terpenting saat ini adalah, mengamankan Nona, Nyonya Bunda, Nona Iris dan Nyonya Ibu."
"Baiklah, aku ambil laptop dan ponselku dulu."
"Nona," Pengawal itu menahan. "Kalau bisa, apa pun yang bisa memancarkan signal, ditinggal saja. Jangan dibawa."
"Begitukah?"
Pengawal itu mengangguk.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku ambil tasku dulu."
Tidak sampai lima menit, Salina sudah beranjak dari apartemen melalui pintu belakang, meninggalkan gedung itu menuju tempat yang Salina tidak tahu. Dalam perjalanan dia berharap dan berdoa semoga Abrisam dan Galih baik-baik saja.
"Bagaimana dengan keluargaku? Bunda? Iris? Dan Ibunya Abi?"
"Semuanya dalam penjemputan, Nona. Kita akan bertemu dititik pertemuan." jawab pengawal itu.
Abi... apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Kau bilang hanya sebentar. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kumohon cepatlah kembali, cepat temui aku lagi.
.
.
.
Jika terlambat satu menit saja, bisa jadi saat ini Salina dan keluarganya bukan berada dalam penjagaan siaga satu yang diperintahkan Abrisam, karena anak-anak buah Tuan Jo langsung menghubungi bos mereka dengan memberikan kabar bahwa apartemen dan rumah telah kosong, bahkan di kampus pun Iris tidak terlihat dimana pun.
"Apa?!" Tuan Jo berdiri dari kursinya. "Bagaimana bisa kalian kehilangan mereka?! Dasar tidak berguna!" Maki Tuan Jo.
Dari tempatnya masing-masing, Abrisam dan Galih menyunggingkan seringaian tipis.
"Apa kau mengkhianatiku?!" Tuan Jo menatap nyalang pada Abrisam.
Abrisam terlihat jauh lebih tenang, air wajahnya tak setegang sebelumnya. Ia mengendurkan kepalan pada kedua tangannya.
"Dalam ingatanku yang tak pernah salah, Anda tidak pernah menyebutkan bahwa Anda akan mengamankan apa yang menjadi titik lemahku."
"Kau harus menyingkirkan titik lemahmu, Abrisam!"
"Yang aku ingat, saat kita menandatangani kesepakatan kita, Anda hanya mengatakan bahwa aku harus bisa mengatasi titik lemahku. Jadi, aku sudah mengatasinya. Kuharap, Anda tidak lagi repot untuk mengamankan apa yang telah menjadi tanggung jawabku."
"Kau..."
"Seperti yang aku katakan, aku tidak akan mengkhianatimu, jika bukan Anda yang mengkhianatiku lebih dulu. Kurasa apa yang terjadi antara aku dan Hadran bisa Anda ambil pelajarannya."
Tuan Jo menahan rasa gusarnya pada setiap perkataan Abrisam. Ia tidak bisa mengelak, karena sebenarnya ia mengakui kebenaran dari perkataan Abrisam. Dirinya terlalu egois untuk memiliki apa yang dimiliki Abrisam, sehingga ia berusaha untuk memanipulasi dengan dalih mengamankan.
Ah! Sialan sekali. Abrisam tidak segampang yang kupikir. Gumam Tuan Jo dalam hati.
"Aku akan menyelesaikan apa yang telah tertulis dalam kontrak, menjatuhkan lawan-lawanmu, termasuk Hadran. Dan setelah itu, sesuai kembali dengan kesepakatan, tidak akan ada ikatan apa-apa lagi. Dan aku tak lagi terikat pada siapa pun."
"Baiklah." kata Tuan Jo. "Maafkan aku, sepertinya aku terlalu menyepelekanmu dan terlalu gegabah untuk mengambil tindakan." Tuan Jo melanjutkan.
"Kalau begitu, kita mulai hari ini. Berikan padaku daftar nama-nama mereka yang ingin kau hancurkan. Aku akan menghancurkannya untukmu."
.
.
.
"Apa kau yakin semuanya baik-baik saja, Nak?" tanya Bunda. "Apa orang-orang ini benar-benar orang-orang kepercayaan Abrisam?"
"Iya, Bun."
"Sebenarnya apa pekerjaan Kak Abrisam, Kak? Sampai punya pesawat pribadi seperti ini?" tanya Iris.
"Pekerjaan rahasia yang tidak bisa semua orang tahu." jawab Salina sekadarnya.
"Apa Kak Abrisam adalah mata-mata? Agen rahasia?" Iris kembali bertanya.
Ibu terihat kembali duduk setelah membagikan sekotak kue pada para pengawal di dalam pesawat itu begitu mendengar pertanyaan Iris.
"Adikmu sangat polos, Sal." Celetuk Ibu.
"Aku tidak terlalu polos, kok, Tante. Hanya saja terkadang aku menduga-duga apa pekerjaan Kak Abrisam. Karena waktu itu aku pernah mengantarkan baju ganti untuk Kak Sal di rumah sakit, dan Kak Abrisam saat itu ternyata barus saja menjalani operasi karena luka tembak."
"Iris!" Salina melotot, mendengar bagaimana Iris nyerocos lancar sekali.
"Luka tembak?" Bunda melebarkan mata. Sementara Ibu terlihat pias. "Bagaimana bisa? Siapa yang melakukan itu? Kau dimana? Apa kau juga terluka saat itu? Kenapa Bunda tidak tahu?"
Iris menggigit bibirnya merasa bersalah karena sudah sangat keceplosan.
"Apa Anda tahu apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bunda pada Ibu. "Apa sebenarnya pekerjaan Nak Abrisam? Apakah pekerjaan Nak Abrisam akan membawa Salina dalam bahaya?"
"Tidak Bunda." Salina buru-buru menjawab. "Aku baik-baik saja. Saat itu, kami hanya kurang beruntung. Kami berada dalam situasi tawuran, dan rupanya ada orang yang membawa sejata api." Salina mengarang cerita. Seperti keahliannya.
"Apa benar begitu?" Bunda kembali pada Salina.
Salina mengangguk.
"Lantas apa sebenarnya pekerjaan Abrisam? Kenapa dia sampai mengirimkan orang-orang ini untuk menjemput kita dan membawa kita pergi dengan sangat tergesa-gesa? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Karena pekerjaan anakku adalah kaki tangan seorang mafia." jawab Ibu. Satu deret kalimat yang mempu membuat Bunda dan Iris melebarkan kelopak matanya hingga bola mata mereka bisa saja menggelinding keluar.
"Ap-apa? Kaki tangan seorang... mafia?" Bunda mengalihkan pandangannya pada Salina. "Apa kau tahu itu?"
Di saat seperti ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Salina, tidak ada lagi karangan bebas yang bisa menyelamatkan reputasi Abrisam, karena Ibunya sendiri sudah mengungkapkan siapa sebenarnya Abrisam pada Bunda yang selalu juara satu dalam hal overthinking.
Pada akhirnya yang bisa dilakukan Salina adalah mengangguk, dan menjawab, "Sal tahu, Bun."
"Ya Tuhan! Ya Tuhan! Bagaimana bisa kau bertahan dengannya? Apa dia menyakitimu?" tanya Bunda.
"Tidak, Bunda." jawab Salina dengan sabar. "Bunda tahu sendiri, kan, apa yang telah Abrisam lakukan untukku, kan."
"Tapi dia kaki tangan mafia! Apa dia memiliki niat tertentu padamu atas apa yang ia berikan pada kita?"
"Apa seperti itu kah Anda melihat anakku?" Ibu ikut bersuara. Nada tak suka terdengar dalam suaranya.
"Maaf, saya hanya mengkhawatirkan anak saya." ujar Bunda.
"Dan anak Anda terlihat baik-baik saja. Setahu saya, Salina memilih bertahan bersama Abrisam disaat Abrisam menyuruhnya pergi." kata Ibu.
"Benar begitu, Sal?" Bunda kembali pada Salina.
"Ya." jawab Salina jujur.
"Tapi kenapa? Bukan kah pernikahan kalian hanya sekadar sandiwara?"
Salina menarik napas panjang, membuangnya perlahan. Sepertinya dia harus menyiapkan dirinya untuk menceritakan kisahnya bersama Abrisam dalam ribuan mil jauhnya di atas permukaan air.
"Baiklah, aku akan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya."
.
.
.
TBC~