
Satu hari lagi telah berlalu, Salina masih termenung di atas hambalan selimut yang dijadikannya sebagai alas tidurnya di kamar barunya dua malam ini. Sangat tidak nyaman, tapi ini cukup untuk Salina dari pada tidur di ruang cuci atau sekamar dengan Abrisam.
Pikirannya masih terpatri pada setiap ekspresi dan sorot mata Abrisam kepada ibunya. Abrisam seperti orang yang benar-benar berbeda dengan orang yang menodongkan senjata api pada kepalanya. Di depan ibunya, Abrisam seperti seorang anak yang merindukan pelukan ibunya, merindukan senyuman ibunya. Seolah Salina dapat merasakan luka yang dirasakan Abrisam.
“Ah!” Salina menggelengkan kepala, entah sudah berapa kali ia menggelengkan kepala setiap kali ia mulai merasa kasihan pada Abrisam. “Bukan urusanku! Bagus kalau dia menderita. Dia sudah membuatku menderita! Dia sudah merebut masa depanku, merebut ciuman pertamaku, membuat bunda dan Iris tidak mau dihubungi dan menghubungiku! Biarkan saja dia mati dengan penyesalan apa pun yang tersimpan dalam hatinya!” ujar Salina dengan kekesalan yang dia lontarkan keras-keras di dalam ruangan itu. Sampai dirinya terlonjak begitu mendengar suara pintu diketuk dari luar.
“Ya ampun! Apa dia mendengarku?” Bisik Salina panik.
Tok! Tok! Tok!
“Salina! Buka pintunya!”
Salina hanya bisa menurut sebelum Abrisam kehilangan kesabarannya yang mengamuk. Setelah kemarin, Salina tidak berani menegur atau bertanya apa pun padanya. Dia cukup tahu diri kalau suasana hati orang itu sangat sangat sangat tidak baik.
“Ada apa pagi-pagi sudah memerintahku?” Salina membuka pintu.
Mata tajam Abrisam dapat melihat hamparan selimut di dalam ruangan kerjanya.
“Ada dokumenku yang tertinggal di dalam laci.” kata pria itu seraya melangkah masuk begitu saja melewati Salina dengan meninggalkan aroma mint yang segar.
“Pagi-pagi begini kau sudah sangat rapi, apa kau akan pergi?”
Abrisam melirik Salina dari tempatnya mengecek dokumen yang diambilnya dari dalam laci meja kerjanya.
“Kenapa kau
terlihat senang?”
“Tentu
saja! Itu artinya aku bisa bebas sejenak dari tekananmu.”
Abrisam tersenyum sinis. Lalu menutup dokumennya, kemudian melangkah mendekati Salina yang masih berdiri di ambang pintu.
“Jika aku pergi, bukan berarti kau sebebas burung Elang, Nona Penulis. Kau tetap harus menjalankan peranmu sebagai istriku. Kau tidak diperbolehkan bertemu dengan laki-laki lain tanpa seijinku meski pun itu adalah rekan kerja atau temanmu, apa lagi mantanmu. Percayalah, setiap gerak-gerikmu, aku akan tahu.”
Salina memberengut sambil membuang napas sekasar-kasarnya.
“Selama aku bekerja, kau kuijinkan untuk keluar apartemen, sebagai seorang penulis kau pasti membutuhkan udara segar.”
“Benarkah?” Seketika kedua mata bulat gadis itu menyorotkan binar kebahagiaan.
“Ya, Galih akan menemanimu.”
“Galih? Kau bilang aku tidak boleh menemui laki-laki lain.”
“Galih pengecualian.”
“Tapi-”
“Kau tidak akan masuk ke kandang buaya jika kau tidak selalu membantahku. Kau bisa mendapatkan kenyamananmu sendiri selama kau menuruti peraturan yang kubuat.”
Huh… apalah daya… apalah daya…
“Baiklah. Aku mungkin hanya akan ke kelab malam, mabuk sampai pingsan untuk melepaskan sesak dadaku. Mungkin satu atau dua orang pria akan mendekatiku, tapi tenang saja, Galih tidak akan membiarkan mereka, bukan?”
Tangan Abrisam seketika mencekal pipi Salina, menatap tajam dan dingin pada gadis itu. “Jangan pernah memancing emosiku, jika sampai kau mabuk di tempat umum dan didekati pria dalam jarak kurang dari tiga meter, aku pastikan, pria itu tidak akan keluar hidup-hidup dari dalam kelab itu, dan jika itu terjadi, kau adalah penyebab kematian mereka.”
Salina melepaskan cekalan tangan Abrisam dari wajahnya, ia menatap penuh kebencian pada pria di depannya. Sungguh salah dia sempat mengira masih ada kemanusiaan dalam hati pria itu.
“Dasar kau monster berdarah dingin!”
“Bagus kalau kau sadar siapa aku, jadi bersikaplah yang patut.” Ujar Abrisam kemudian meninggalkan Salina yang masih memupuk kebencian dalam hatinya untuk pria itu.
.
.
.
Abrisam menemui Galih di lobi apartemen sebelum pergi.
“Pastikan dia ada dalam jarak pandangmu. Temani dia kemana pun dia mau termasuk jika dia ingin mabuk sampai pingsan di kelab. Pastikan saja tidak ada pria lain yang menyentuhnya, termasuk kau.” Abrisam memberikan titah pada Galih.
“Siap Kak.”
“Bagaimana dengan penyelidikanmu tentang orang itu?” Tanya Abrisam seraya mengenakan kaca mata hitamnya.
“Ini Kak. Mereka sedang menginap disana.” Galih memberikan poto-poto tentang informasi seseorang melalui ponselnya pada Abrisam.
Abrisam tersenyum sinis dan tipis.
“Apa mau dilakukan hari ini, Kak?”
“Ya, lebih cepat lebih baik.”
Galih mengangguk mengerti dengan tugasnya hari ini. Dan Abrisam pun melangkah dengan pasti meninggalkan gedung apartemen itu.
.
.
.
Salina memutuskan untuk keluar dari apartemen itu, meski ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghubungi Galih dan terlalu malas untuk menghubungi Abrisam hanya untuk bertanya apakah dia boleh ke toko buku?
“Ah sudah lah, yang penting tidak perlu berdekatan dengan kaum lelaki, kan?” kata Salina pada dirinya sendiri.
Ia melangkah menuju lobi setelah keluar dari dalam lift.
“Kakak ipar!”
Salina tersentak kaget mendengar suara seseorang yang memanggilnya seraya mendekatinya. Hanya ada satu orang yang memanggilnya seperti itu.
“Galih? Kau ada disini?”
“Sejak kapan?”
“Sejak Kak Abi berangkat kerja.”
“Lalu apa yang kau lakukan selama menungguku?”
“Ya menunggu.”
“Huh, baiklah. Aku mau ke toko buku.”
Galih menyopiri Salina menuju toko buku yang Salina mau. Pria itu sangat jauh bertolak belakang dengan Abrisam. Tapi ada satu hal yang membuatnya begitu penasaran dengan hubungan mereka selain menjadi bos dan tangan kanan.
“Apa aku bisa bertanya-tanya padamu?”
Galih melirik kepada Salina melalui kaca spion tengah.
“Tentu saja, Kakak ipar.”
“Apa hubunganmu dengan Abrisam? Kenapa dia tidak mengijinkanku dekat dengan pria lain kecuali kau? Kenapa dia begitu percaya padamu? Kenapa kau mau jadi tangan kanannya? Apa dia tidak membuatmu tertekan?”
“Wah… begitu banyak pertanyaan dalam kepala Kaka Ipar ternyata.”
“Yeah, ini hanya sebagian. Masih banyak lagi. Tapi untuk saat ini, jawab saja dulu pertanyaan permulaan tadi.”
“Baiklah.” Galih menyopir dengan kalem dan tenang, karakter pemuda itu yang santai membuat Salina dapat bernapas sejenak. “Hubunganku dengan Kak Abi cukup dekat, dia adalah orang yang menyelamatkanku ketika kami pernah menjalani tiga tahun di sel. Jika bukan karena Kak Abi, para napi itu pasti sudah menghabisi nyawaku.”
“Sel? Napi? Kalian pernah masuk penjara?”
“Dulu aku dan Kak Abi bertemu di sel, dia menyelamatkan nyawaku dan bertarung melawan napi-napi itu. Aku tidak akan pernah melupakan itu.”
Salina menaikkan kedua alis matanya, ia memandang ke luar, otaknya mulai menyusun kata demi kata, kemungkinan demi kemungkinan.
“Apakah dia selalu begitu?”
“Maksud Kakak Ipar?”
“Dia menyelamatkan nyawa orang lain untuk kemudian dia kekang? Dia jadikan orang itu berhutang budi padanya dan tidak bisa melawannya? Seperti kau? Seperti aku?”
Galih terkekeh. Ia membawa mobil mereka belok kiri setelah melewati perempatan lampu merah.
“Mungkin saat ini Kakak Ipar belum melihat bagaimana sebenarnya hati Kak Abi.”
Salina mendengkus. “Memangnya si darah dingin itu punya hati? Apa kau tahu? Setiap punya kesempatan, dia selalu mengancamku, menjadikan keselamatan keluargaku untuk mencucuk hidungku.”
Lagi-lagi Galih terkekeh. “Percayalah Kak, apa yang dilakukan Kak Abi memang demi keselamatan Kakak ipar juga keluarga Kakak Ipar, mungkin memang cara yang dilakukan Kak Abi terbilang ekstrem, kasar dan terkesan memaksa dan tidak peduli, tapi Kakak Ipar bisa ingat kata-kataku nih, bahwa Kak Abi adalah orang yang sangat peduli pada orang-orang yang dia pilih untuk dia jaga.”
Salina terdiam. Kemudian ia berkata, “Otakmu pasti sudah keracunan.”
Kali ini Galih tergelak.
“Lalu jawaban untuk pertanyaan selanjutnya.” kata Salina.
“Kenapa hanya aku yang diijinkan dekat dengan Kakak Ipar?”
“Ya. Kenapa?”
“Karena kami saling percaya. Aku sepenuhnya percaya padanya, begitu pun dengan Kak Abi. Tidak ada yang bisa memperngaruhiku untuk mengkhianatinya. Dan kenapa Kak Abi percaya padaku? Karena aku percaya padanya.”
“Sesederhana itu jawabanmu?”
“Ya, Kak. Memang sesederhana itu.”
“Lalu kenapa kau mau jadi tangan kanannya? Kau pasti tahu apa yang dikerjakannya dengan Hadran, kau bisa mencari pekerjaan lain tanpa harus mengotori tanganmu untuk menjadi tangan kanan pria itu.”
Kali ini Galih tidak terkekeh, hanya menyunggingkan senyuman penuh arti. “Awalnya Kak Abi menolakku, dia tidak mau membawaku terlibat dalam apa yang dia kerjakan untuk hidupnya, tapi aku yang menginginkannya, aku yang ingin menjadi tangan kanannya, bukan sebagai balas budi hanya saja, aku merasa tidak lagi sebatang kara. Kak Abi sudah seperti seorang kakak yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.”
“Jadi kau tidak pernah tertekan berada disisinya?”
“Tidak pernah sama sekali. Kak Abi justru mengajarkanku banyak hal yang kupikir aku tak mampu ternyata aku lebih dari sekadar mampu.”
“Termasuk menembak dan melenyapkan nyawa seseorang?” Kali ini Salina tidak dapat menyembunyikan nada sinis dalam suaranya.
“Percayalah, Kak. Pistol yang selalu dibawanya bukan untuk menembak seseorang, tapi justru untuk berjaga diri. Karena sebenarnya begitu banyak yang mengincar nyawanya.”
“Omong kosong, buktinya pada hari aku melihat Hadran di rumah sakit, dia tidak menolak ketika disuruh untuk membunuhku, dia bahkan menodongkan pistolnya pada kepalaku.”
“Tapi pada akhirnya Kak Abi menyelamatkanmu, bukan?”
“Ya, itu karena aku memohon padanya.”
“Kalau memang Kak Abi berdarah dingin dan tidak berhati, dia tidak akan peduli dengan permohonanmu, Kak. Dia akan tetap menghabisimu dan keluargamu. Tapi tidak dia lakukan, dia malah mengambil resiko untuk menyelamatkanmu dan kelurgamu dengan cara menikahimu. Padahal bisa saja kau mengkhianatinya dan melaporkan Hadran, tapi Kak Abi tetap menyelamatkanmu dengan caranya.”
Salina tidak menginterupsi penjelasan Galih.
“Padahal, ia tahu, jika Tuan Hadran tahu cerita kalian yang di Bali itu adalah sebuah kebohongan, maka nyawanya juga akan terancam, begitu pun juga dengan nyawa ibunya.” Galih mengakhiri penjelasannya sekaligus jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Salina padanya.
“Apa ada pertanyaan lagi, Kak?” Mereka memasuki area parkir sebuah gedung toko buku yang besar.
Salina mendengkus. “Mungkin bagimu dia adalah orang yang telah berjasa. Tapi bagiku, dia tak lebih dari seseorang yang telah merenggut kebahagiaan dan masa depanku.” Kemudian dia keluar dari dalam mobil begitu mereka berhenti.
Galih hanya bisa menggeleng, tersenyum dengan bibirnya.
Suatu hari kau akan melihatnya, Kak.
.
.
.
TBC~