You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Keraguan Atas Sebuah Rasa.



Berbagai pemikiran berkecamuk dalam kepala dan benak Salina. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Abrisam membeli rumah untuknya. Kenapa Abrisam selalu menyelamatkannya. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Terlalu banyak pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawabannya. Sementara orang yang bisa menjawab masih terpejam di atas brankar itu.


Salina membuang napas pelan. Ia mendekati brankar, menyandarkan pinggulnya pada sisi besi brankar itu, memandangi wajah Abrisam yang sebenarnya terlihat cukup mendamaikan ketika pria bermata tajam itu sedang tertidur.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” Lirih Salina bertanya dalam kesunyian. “Kenapa kau selalu melindungiku? Kenapa kau membantuku? Kenapa kau menjagaku? Dan sekarang kau memberikanku rumah? Untuk apa? Apa tujuanmu?” Salina menundukkan kepalanya, memandangi ujung sepatunya yang kotor bekas tanah. “Apa yang akan dikatakan Kak Faris jika ia mengenalmu? Apa dia akan merestuimu sebagai adik iparnya? Apa dia akan mempercayakan aku untuk kau jaga? Kurasa tidak, Kak Faris tidak akan melepaskanku pada seseorang yang tidak mencintaikku, bukan? Kau… tidak mungkin mencintaiku, bukan? Lantas untuk apa semua yang kau lakukan padaku?”


“Agar kau… tidak kabur…” Suara serak dan lemah Abrisam menyentak kepala Salina hingga kedua matanya melebar dan biji matanya hampir menggelinding keluar dari rumahnya.


“Kau sudah sadar?” Dengan cepat Salina berlari keluar kamar untuk memanggil perawatan padahal ada alat yang bisa digunakan untuk memanggil perawat hanya dengan sekali tekan. Tak lama dia kembali dengan kesal karena tidak menemukan perawat di sepanjang lorong.


“Aku tidak memenukan perawat! Kau jangan bergerak dulu, aku akan ke tempat jaga-”


“Sal, aku sudah memanggil perawat.” Potong Abrisam.


“Eh, bagaimana bisa?”


“Ini.” Abrisam menunjukkan alat tombol yang digunakan untuk memanggil perawat dalam keadaan emergency.


“Ah!” Salina ber-Ah dengan merasa begitu bodoh. “Benar juga, aku lupa.”


Tak lama kemudian, seorang perawat datang dan memeriksa keadaan Abrisam. Perawat itu pun menjelaskan kondisi Abrisam yang stabil dan cukup baik. Setelah itu dia meninggalkan ruangan kembali setelah meninggalkan pesan untuk Abrisam apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pria itu.


“Kupikir kau akan menghubungi keluargaku?” tanya Abrisam.


“Yah, tadinya aku mau menghubungi Tante Winda, tapi aku mengurungkannya, aku juga tadinya mau menghubungi ibumu, tapi aku juga mengurungkannya. Akhirnya aku malah menghubungi Galih.”


“Kenapa kau mengurungkannya?”


Salina menggedikkan bahu. “Entahlah, firasatku mengatakan demikian.”


“Firasatmu bagus. Kedatangan Om Hadran dan istrinya hanya akan membuat kepalaku pusing dengan berbagai pertanyaan Om Hadran dan kekhawatiran istrinya yang berlebihan. Dan jika kau menghubungi ibuku, ibu hanya akan terus menyalahkan aku karena aku hidup bersama Om Hadran.”


“Jika aku menjadi ibumu, aku juga akan melakukan hal yang sama.”


Abrisam hanya mendengkus. “Bagaimana denganmu?”


“Aku?”


“Apa kau terluka?”


“Tidak. Aku baik-baik saja.”


“Kurasa aktingmu menjadi orang kesurupan cukup membantu.”


“Kau ingat?”


“Tentu saja, kau berbisik memintaku untuk bertahan.”


Salina hanya mengedikkan bahu.


“Kenapa kau tidak pergi?” tanya Abrisam. “Aku telah membebaskanmu untuk pergi, bahkan jika kau pergi membawa serta keluargamu dan menghilang.”


“Benarkah?” Salina bersikap seolah menyesali keputusannya.


“Ya.” Jawab Abrisam.


“Tapi kupikir tidak ada salahnya aku tidak pergi, karena jika aku pergi, mungkin aku tidak akan mendapatkan ini.” Salina mengambil dokumen yang sebelumnya diberikan oleh Galih.


“Ah, anak itu sudah memberikannya padamu.”


Salina mengangguk. “Jadi, kau berhutang banyak sekali penjelasan padaku.”


“Memang apa yang harus aku jelaskan padamu?”


“Oh, banyak sekali, Tuan Muda.” Sahut Salina. “Tapi, aku akan mengerucutkan semuanya dengan satu pertanyaan saja.”


“Apa?”


“Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya?”


Abrisam terdiam, alih-alih menjawab dia malah kembali memejamkan matanya.


“Kau bisa memejamkan matamu sekarang, tapi aku akan mengajukan pertanyaan ini lain kali.”


.


.


.


“Apa yang terjadi, Kak?” tanya Iris begitu khawatir pada keadaan Abrisam juga Salina yang bajunya terdapat bekas darah yang sudah mengering.


Salina melirik galak pada Galih, tapi pemuda itu hanya menampilkan senyuman permohonan maaf.


“Panjang ceritanya, tapi aku tidak apa-apa.” Jawab Salina. “Hanya Abrisam yang terluka.”


“Bagaimana bisa, Kak?” tanya Iris pada Abrisam yang sedang menikmati makan malamnya dari rumah sakit.


“Bisa. Aku juga tidak mengerti, banyak orang yang menginginkanku, kecuali Kakakmu.”


“Aku ganti baju dulu.” Salina meloyor pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih.


“Apa Bunda tahu?” tanya Abrisam pada Iris.


“Tidak.” Iris menggeleng. “Apakah benar orang-orang yang melakukan ini memang mau mencelakai Kak Sal dan Kak Abrisam?”


“Ya, melihat apa yang mereka hadiahkan pada tubuhku ini.”


“Apa Kakak tidak tahu siapa mereka atau siapa yang menyuruh mereka?”


“Entahlah, penggemarku terlalu banyak.”


“Apa ada kemungkinan orang itu adalah orang yang sama yang menyuruh Kakak untuk mencelakai kami waktu dulu?”


“Aku akan menyelidikinya.” Sahut Abrisam.


“Apa tidak perlu melapor polisi?” tanya Iris.


“Belum perlu. Aku harus mencari tahu dulu siapa dalang dibalik penyerangan ini, setelah itu aku akan mengambil keputusan. Kau dan Bunda tidak perlu khawatir, aku menempatkan orang-orang terbaikku untuk menjaga kalian. Kejadian ini juga akan membuatku mempekerjakan orang-orangku untuk menjaga Kakakmu selagi aku tidak ada.”


“Terima kasih, Kak.” Ucap Iris dengan tulus. “Kuharap suatu hari nanti, kalian bisa saling melengkapi dan mencintai.”


“Apa? Siapa?” tanya Salina tepat ketika Iris mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya, Salina keluar dari kamar mandi.


“Kakak dan Kak Abrisam.” Jawab Iris dengan jujurnya.


Salina melirik Abrisam yang tengah menyingkirkan meja beroda dari depannya setelah menyelesaikan makan malamnya.


“Lebih baik sekarang kau pulang, Ris, jangan sampai Bunda curiga.” Kata Salina.


Baiklah, kalau Kakak butuh sesuatu, Kakak bisa langsung telepon aku, ya.”


Salina mengangguk.


Kemudian Galih dan Iris pun pergi, kembali meninggalkan Salina dan Abrisam berdua di dalam kamar itu. Tidak banyak kata yang keluar dari bibir mungil Salina. Gadis itu hanya merapatkan bibirnya dan menghindari tatapan Abrisam.


“Kenapa kau diam saja dari tadi?”


“Aku hanya sedang berpikir.” Jawab Salina sambil menyiapkan bantal dan selimut tipis di atas sofa yang ada di dalam kamar perawatan VVIP itu.


“Apa yang kau pikirkan?”


“Keraguanku dan semua yang aku rasakan.”


“Atas apa?”


“Kita. Kau. Pernikahan ini. Awalnya kupikir hidupku akan seperti dalam neraka, bersama orang yang akan aku benci sampai mati. Tapi, kau menyelamatkanku. Kau memberikanku keadilan yang tidak aku dapatkan dulu. Kau membuatku tertidur pulas untuk kali pertama semenjak kejadian itu. Kau…” kata-kata Salina menggantung di udara. “Kau membuatku ragu kemudian. Apakah aku benar-benar membencimu? Apakah aku bisa pergi darimu? Apakah aku bisa bertahan denganmu?”


Abrisam hanya diam mendengarkan, tidak menginterupsi.


Karena sesungguhnya, Abrisam pun pernah mempunyai keraguan yang sama. Juga mempunyai pertanyaan dalam hatinya, yang ragu untuk dia ucapkan jawabannya. Bukan karena tidak yakin, hanya terlalu takut, jawabannya akan membawa luka.


.


.


.


TBC~