
Hujan turun di tengah-tengah keributan masal yang terjadi, petugas polisi datang, menangkap orang-orang yang berhasil ditangkap, serta membubarkan kerisuhan itu. Setelah satu jam berlalu, Abrisam duduk lemah bersandar pada rolling door ruko, darah masih terus keluar dari luka bacok dan luka dari kepalanya, wajahnya sudah pucat meski ia mengatakan pada Salina bahwa dirinya baik-baik saja.
Salina hendak bangkit berdiri, tapi Abrisam menahan tangannya.
“Polisi datang, aku akan minta bantuan.” kata Salina.
“Jangan polisi.” Sahut Abrisam lemah. Sejujurnya kepalanya dan lengannya sudah sangat sakit dan nyeri, pandangannya pun sudah berkunang-kunang. Tapi berkat Salina yang selalu menahan dan memaksa Abrisam untuk tetap membuka matanya, pria itu bertahan dengan segala sisa tenaganya.
“Galih… sebentar lagi datang.”
“Galih? Kenapa harus menunggu lagi kalau memang yang sudah ada bisa membantumu! Kau mau kehilangan banyak darah dan mati ya?!” Bentak Salina karena ia sudah begitu takut juga panik.
Abrisam tersenyum tipis, ibu jarinya bergerak mengusap lembut punggung tangan Salina. “Bukankah… akan lebih baik bagimu jika… aku mati? Kau tidak akan menjadi tawananku… lagi.” Ujar Abrisam lemah. Entah kenapa hati Salina begitu mencelos mendengar ucapan Abrisam.
Salina menggeleng. “Kalau kau… kau… mati, siapa yang akan melindungiku? Jadi kau harus selamat! Jangan berani-beraninya kau-”
“Kakak!” Galih datang sekaligus menginterupsi ucapan Salina.
Galih berlari menerjang hujan.
“Apa yang terjadi?” tanya Galih, ia ikut panik melihat banyaknya darah yang keluar.
“Kena bacok dan pukulan balok! Cepat kita ke rumah sakit!” kata Salina buru-buru.
Galih melihat Abrisam, pria itu hanya mengangguk lemah pada Galih. Dan akhirnya dengan bantuan Salina dan Galih, Abrisam berdiri, melangkah lemah dipapah oleh dua orang itu. Mereka kehujanan, darah itu pun ikut menetes pada genangan air di atas kaki mereka bercampur dengan air hujan. Suara erangan tertahan pada bibir Abrisam.
“Kau harus bertahan! Harus bertahan!” Kali ini Abrisam yang mendapatkan perintah dari Salina.
.
.
.
Hadran, Winda, Liona bergegas menuju ruang tunggu di depan IGD, Galih ada disana sendirian ketika Tuan dari Tuannya datang.
“Dimana Abrisam?” tanya Hadran begitu melihat Galih berdiri dari tempatnya duduk.
“Di dalam, Tuan, sedang ditangani.”
“Lalu Salina? Dia dimana?” Winda bertanya, mengkhawatirkan keponakan mantunya.
“Juga di dalam, Nyonya. Kak Abi kehilangan banyak darah, kebetulan darah Kakak Ipar dan Kak Abi sama, jadi sekarang Kakak Ipar sedang mendonorkan darahnya.” Jelas Galih. Penjelasan itu membuat Liona geram.
“Ini semua pasti gara-gara dia!” Tebak Liona.
“Hei, ada apa denganmu? Kenapa jadi marah-marah begitu?” Winda terheran dengan emosi anaknya yang tiba-tiba meluap.
“Kak Abi tidak pernah seperti ini, dia selalu bisa melawan dan membalas, tapi gara-gara wanita itu, Kak Abi jadi lemah begini!”
“Liona! Jaga bicaramu, Salina adalah kakak iparmu.” Winda menegurnya tanpa ragu.
“Sebenarnya bagaimana kejadiannya, Gal?” Hadran memilih untuk mengabaikan kelakukan putrinya.
Galih pun menjelaskan dengan singkat pada Hadran bagaimana Abrisam bisa kehilangan banyak darah.
“Apa yang sedang dilakukan anak itu di sana?” Hadran mengerutkan dahi, memikirkan kemungkinan alasan apa yang dilakukan Abrisam di luar kota, padahal tidak ada jadwal pekerjaan yang mengharuskan Abrisam ke luar kota, terutama pada kota yang didatangi Abrisam dan Salina.
“Saya tidak tahu, Tuan.”
“Papa, kenapa Papa tidak suruh Kak Abi menceraikan saja wanita itu? Aku yakin, wanita itu pembawa sial.”
“Liona!” Winda menyentak tangan Liona. Tapi gadis itu terlihat sama sekali tidak peduli.
Sementara di luar IGD orang-orang mengkhawatirkan keadaan Abrisam dan Salina, dua orang yang tengah dikhawatirkan itu kini sedang tertidur. Setelah melakukan transfusi darah, Salina merasa begitu lelah dan diijinkan untuk istirahat tepat di brankar sebelah Abrisam, tirai yang memisahkan mereka pun dibuka.
Perlahan, kelopak matanya bergerak terbuka, Salina langsung menengok ke tempat dimana Abrisam masih memejamkan matanya. Darah pada wajahnya sudah dibersihkan, kepalanya sudah diperban, begitu pun dengan tangannya setelah mendapatkan jahitan yang cukup dalam dan banyak.
Dokter jaga datang untuk memeriksa keadaan Abrisam dan Salina.
“Kondisinya sudah stabil, syukurlah pasien mempunyai tubuh yang kuat. Jika tidak, dengan kondisi luka dan banyaknya darah yang keluar, mungkin saja saat ini keadaannya tengah kritis.”
Salina menghela napas lega.
“Anda beruntung, suami Anda sangat hebat. Begitu pun juga Anda. Kita tunggu satu sampai dua jam lagi, untuk melihat kembali perkembangan kondisi pasien. Setelah itu, kita lihat apakah pasien perlu opname atau bisa rawat jalan.”
“Baik Dok, terima kasih. Apa saya masih boleh di dalam disini menunggu hingga su… suami saya sadar?”
“Tentu saja. Saya permisi, saya akan kembali lagi.”
Salina mengangguk seraya menyunggingkan senyuman terima kasih.
Setelah kepergian dokter jaga tadi, Salina turun dari brankarnya untuk mendekati brankar Abrisam, panggulnya bersandar pada kerangka brankar, tangannya terulur menyentuh perban yang melilit tangan Abrisam.
Suami… Apakah sekarang aku sudah mengakuinya sebagai suamiku? Pria ini?
Salina menyentuh dadanya, merasakan degupan jantungnya yang mulai stabil setelah berdegup dengan sangat cepat karena rasa takut, panik, cemas dan khawatir yang menjadi satu.
Bukankah… akan lebih baik bagimu jika… aku mati? Kau tidak akan menjadi tawananku… lagi.
Kalimat yang sebelumnya diucapkan Abrisam cukup mengganggu perasaan Salina. Kenapa perkataan Abrisam itu membuatnya takut, benar-benar takut jika pria itu benar-benar mati meninggalkannya? Bukankah seharusnya, Salina membiarkan saja Abrisam kehabisan darah, atau tertawa penuh kemenangan bagaimana pria itusekarat karena kehabisan darah? Dengan begitu tidak akan ada yang mengancam dirinya dan keluarganya lagi. Dia bisa hidup bebas kembali. Tapi kenapa Salina tidak rela dan tidak mau Abrisam pergi begitu saja setelah pria itu menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindunginya. Dirinya yang selalu diancam oleh Abrisam, justru menjadi orang yang membuat Abrisam mengorbankan dirinya tanpa takut.
“Hei…” Suara serak Abrisam menyadarkan Salina dari lamunannya.
“Eh, kau sudah sadar?” Salina melebarkan kedua matanya.
“Kenapa? Kau tidak senang aku sadar?” tanya Abrisam dengan suaranya yang lemah.
“Dasar bodoh!” Ucap Salina sambil memukul perut Abrisam. Tidak kuat, tapi karena tubuhnya masih lemah, pukulan ringan itu cukup membuat Abrisam meringis.
“Apa kau mau menambah luka pada tubuhku ini?”
Salina hanya berdecak. “Aku akan panggil Dokter.”
“Tunggu,” tangannya meraih tangan Salina, menahan gadis itu di tepi brankarnya. “Kenapa kau ada di dalam sini? Apa kau juga terluka?”
“Tidak. Aku… hanya ingin tahu apakah kau masih hidup atau tidak.” Jawab Salina sambil melepaskan tangannya dari Abrisam dan melangkah keluar dari dalam bilik untuk mencari dokter. Tak lama kemudian dokter datang dengan perawat. Mereka mengecek keadaan Abrisam. Sementara dokter memeriksa dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang dirasakan Abrisam, pria itu tak mengalihkan perhatiannya dari Salina yang menunggu di luar bilik. Setelah selesai, dokter menemui Salina di luar bilik, Abrisam dapat melihat bagaimana Salina mundur beberapa langkah dari si dokter laki-laki itu.
“Kau boleh pulang, kata dokter tadi. Keadaanmu cukup stabil. Hanya perlu istirahat total, tidak boleh menggunakan tangan kananmu dulu sampai jahitanmu kering. Banyak makan, minum obat dan vitamin penambah darah, maka kau akan kembali menjadi dirimu yang menyebalkan lagi.” Jelas Salina.
“Jangan khawatir, aku cukup kuat, luka seperti ini tidak akan menjatuhkanku.”
“Kau memang orang sombong yang menyebalkan.” Ketus Salina.
“Apa kau merindukan diriku yang menyebalkan atau lebih suka diriku yang lemah begini?”
Salina menelengkan kepala, melihat Abrisam dengan sepasang mata bulatnya yang dinaungi bulu mata yang lentik alami.
“Aku lebih suka jika aku tidak pernah bertemu denganmu.”
“Lalu menikah dengan pria yang sudah menipumu habis-habisan?” Sindir Abrisam.
Salina mendengkus, kemudian berkata, “Meski tidak berdaya, kau tetap menyebalkan tak ada obat!”
Kak Abi adalah orang yang sangat peduli pada orang-orang yang dia pilih untuk dia jaga. Penggalan ucapan Galih beberapa hari lalu sempat membuat Salina galau ketika sedang menunggu proses transfusi darah. Apakah benar Abrisam benar-benar peduli padanya?
Tapi melihat bagaimana pria itu masih saja menyebalkan bahkan ketika tidak berdaya, membuat Salina mengabaikan rasa galaunya.
.
.
.
TBC~