
Salina dan Liona tidur dengan saling memunggungi di atas tempat tidur Abrisam. Ya, untuk kali pertama setelah menikah dengan Abrisam, hari ini adalah kali pertama Salina masuk ke dalam kamar tidur Abrisam yang selama ini menjadi tempat terlarang bagi Salina untuk memasukinya, bahkan hanya untuk sekadar membuka pintunya. Tapi, hari ini justru dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur itu, bersama Liona.
“Aneh sekali, kenapa aku harus disuruh tidur denganmu.” Gerutu Liona.
“Memangnya apa yang kau bayangkan? Kau tidur dengan suamiku? Atau kau tidur di antara kami?” Balas Salina.
“Kenapa kau memakai baju Kak Abi sementara aku harus memakai bajumu? Menyebalkan!” Gerutunya lagi.
Salina tersenyum mendengar gerutuan Liona. “Biasanya malah kami tidak memakai baju.” jawab Salina asal yang sukses membuat Liona terduduk dan memelototi punggung Salina.
“Tidur lah, kau harus menjaga kulit wajahmu itu.” Salina mulai memejamkan mata, meski sebenarnya dia sama sekali tidak nyaman tidur di kamar itu.
Dua jam berlalu, Salina mulai bisa merasakan tidak ada lagi pergerakan dari Liona, dia mengangkat kepalanya, berbalik badan dan melihat Liona sudah terlelap. Akhirnya Salina bisa bernapas. Pelan-pelan ia menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.
Perlahan ia membuka pintu dan keluar.
“Akhirnyaaaa.” Ujarnya pelan. Di tengah cahaya temaram menjelang tengah malam, Salina menuju dapur, mengisi segelas penuh dengan air mineral dingin.
“Sepertinya kau membutuhkan lebih dari sekadar satu gelas.” Suara Abrisam membuat Salina tersedak saking terkejutnya.
“Kau mau membuatku mati kena serangan jantung, ya?!” Salina melotot sambil terbatuk-batuk.
Abrisam hanya tersenyum tipis sambil melangkah melewati Salina untuk melakukan hal yang sama, minum. Tapi di luar dugaan, bukannya mengambil gelasnya sendiri, pria itu malah minum air dari gelas yang dipegang Salina.
“Kenapa harus memakai gelasku, sih?!” Protes Salina.
“Pelankan suaramu, atau adik sepupuku itu bisa bangun dan kau harus terus kembali bersandiwara.”
Salina berdecak sebal.
“Kenapa kau harus bangun juga? Tidak bisa kah aku bernapas hari ini?”
“Tentu saja bisa, jika kau sulit bernapas, aku akan berikan napas buatan khusus untukmu.”
“Menjijikan.” Desis Salina pelan.
Abrisam tersenyum meledek. Kembali mengisi gelas itu dan menenggaknya hingga tandas.
“Aku ingin mengajukan protes padamu.” kata Salina teringat dengan niatnya yang ingin protes pada Abrisam, tapi terhalang oleh kedatangan tamu yang tak diundang.
“Apa aku pernah memberikanmu ijin untuk protes?”
“Aku tidak pernah meminta ijinmu untuk protes.” Balas Salina. “Kenapa kau membuang laptopku yang lama? Dan juga ponselku? Dan kenapa harus kau ganti semuanya?
“Karena ponselmu sudah babak belur, dan laptopmu memang harus kuganti, agar aku bisa mengontrol pesan keluar dan masuk. Dan lagi, pada laptop lamamu itu, terlalu banyak dokumentasi tentang mantanmu yang berengsek itu.”
“Hei, jangan menyebutnya seperti itu.” Lagi, Salina protes.
“Lalu aku harus menyebutnya apa? Bajingan?”
“Kau bahkan jauh lebih busuk. Bisa-bisanya kau mengatai Bagas seperti itu.”
Abrisam meletakkan gelasnya di atas meja dapur. “Benarkah aku lebih busuk?”
“Ya.”
“Apa karena aku mencuri ciuman pertamamu sementara dia hanya membodohimu dengan statusnya?”
Salina mendengkus malas.
“Jadi,” Abrisam meletakkan gelas di atas meja, mendekati Salina dan mengunci tatapannya pada kedua mata bulat gadis itu. Gerakannya membahayakan posisi Salina, dan benar saja, pria itu sudah mengunci Salina. Kedua tangannya mengunci sisi kanan dan kiri Salina, sementara gadis itu tersudut pada meja dapur.
Mata tajam itu membidik tepat pada titik terdalam mata Salina, menguncinya dengan kegelapan yang menenggelamkan yang tak bisa Salina hindari. Tiba-tiba sesuatu menggelitik aliran darahnya. Berdesir. Aneh. Ingatan akan sentuhan lembut bibir pria itu pada bibirnya tiba-tiba membuat sekujur tubuhnya meremang. Refleks, Salina menjilat bibirnya.
Gerakan ringan itu memancing mata elang pria itu memandangi bibir Salina yang basah. Kembali sebuah hasrat muncul, hasrat yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan pada banyak wanita cantik yang ia sering temui sebelumnya.
“Jika aku menciummu lagi, apa kau akan membenciku?” Suara berat itu berbisik.
“Ya.” Salina mengalihkan pandangannya. “Menyingkir dari hadapanku, atau kau ingin kutendang lagi?”
Salah satu sudut bibir Abrisam bergerak naik, membentuk senyuman tipis. “Tidak bisa. Liona sedang mengintip dari pintu.”
“Apa?” Salina membeliakkan mata. Ia terjebak.
“Jangan berbalik dulu, jangan pergi dulu. Kita harus memberikan pemandangan yang indah untuk adik sepupuku itu.”
“Apa maksudmu?” Salina menatap curiga pada Abrisam.
Tiba-tiba Abrisam mengangkat Salina dan mendudukannya di atas meja dapur hingga kepala mereka kini sejajar. Posisi yang sebenarnya cukup membuat Salina tiba-tiba gugup. Apa agi jika Abrisam sedang dalam mode bersandiwara, terkadang Salina sampai dibuatnya lupa bahwa pria itu adalah monster.
“Sentuh wajahku.”
“Apa?” Salina hampir tidak mempercayai pendengarannya.
“Sentuh wajahku dengan mesra seperti orang jatuh cinta.”
“Tidak mau.”
“Jika tidak, aku akan menciummu lagi. Pilih mana?”
“Kau… benar-benar kutu busuk menyebalkan!” Maki Salina dengan suaranya yang tertahan. Berbanding terbalik dengan makiannya yang penuh kebencian, tangannya bergerak menyentuh lembut dan mesra pipi Abrisam.
Grep!
Salina melotot nyalang. “Apa yang kau lakukan?!” Masih dengan suaranya yang ditahannya
di ujung lidahnya.
Sementara Abrisam dengan santai memeluk pinggang Salina, membuat tubuh mereka saling menempel sempurna. Abrisam kini berdiri tepat di antara kedua paha Salina yang terbuka.
“Berpose, diam lah, dia sedang memotret kita diam-diam.”
“Ugh! Kenapa kalian hidup menjadi orang-orang yang menyebalkan.”
“Jika aku terlahir kembali dan hidup menjadi Abrisam yang berbeda, apa kau mau melihatku? Apa kita akan bersama seperti ini tanpa kebencian?”
Salina menatap sinis sepasang mata elang pria itu, kemudian menjawab, “Dalam kehidupan yang lain pun, aku tidak ingin bertemu denganmu.”
“Bagaimana jika takdir mempertemukan kita lagi.”
“Pertemuan kita bukan takdir, hanya kebetulan yang penuh dengan kesialan.”
Abrisam terkekeh, tangannya bergerak mengusap dengan penuh kelembutan pada lengan Salina, yang memberikan efek kupu-kupu pada perutnya, sementara mata tajamnya menatap intens pada mata Salina.
“Percayalah, ketika kau menubrukku di lobi rumah sakit, itu adalah awal dari takdir pertemuan dan kebersamaan kita. Karena tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Kebetulan hanyalah omong kosong bagi orang-orang yang menyangkal takdir hidup mereka.”
“Lalu, apa kau tidak menyesali takdirmu bertemu denganku? Kau harus hidup bersama seseorang yang tidak kau suka apa lagi cinta.”
“Bagaimana denganmu? Apa kau menyesalinya?”
“Ya, setiap detiknya.” jawab Salina tanpa keraguan sama sekali.
Gerakan lembut usapan tangan Abrisam pada lengan Salina seketika berhenti. Ia bergerak mundur, melepaskan tubuhnya dari Salina. Sorot matanya berubah. Dingin. Dan gelap.
Tidak ada lagi senyuman, meski senyuman sinis pada wajah Abrisam.
Perubahan tiba-tiba pria itu membuat Salina cukup bingung. Kenapa Salina dapat merasakan kekecewaan dari tatapan dingin dan gelap itu? Dan kenapa Salina merasa tidak nyaman dengan kekecewaan yang rasakan Abrisam?
“Tidurlah, besok aku akan membawamu kesuatu tempat.” Ujar Abrisam sambil melangkah keluar dari dapur.
“Eh? Kemana?”
Tapi tidak ada sahutan lagi dari Abrisam yang telah menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Apa dia marah padaku? Apa dia kecewa padaku? AH! Kenapa juga aku harus peduli.
.
.
.
TBC~