You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Keputusan Abrisam.



Abrisam menatap nanar pada Salina yang masih belum menyadarkan diri, berbaring di atas brankar pasien rumah sakit kamar perawatan VVIP. Penyesalan dalam relung hatinya merangkak naik, memenuhi permukaan yang dia paksa untuk tenang, tapi kali ini tidak bisa. Perasaannya berontak, sebuah rasa yang sekuat tenaga dia abaikan mulai tidak lagi bisa mengalah. Tangan besarnya bergerak, menyentuh tangan mungil Salina, menggenggam tangan itu dalam kehangatan tangannya. Memori akan pertemuannya pertamanya dengan Salina kembali bermain di depan matanya seperti potongan-potongan film yang berputar.


Ketika pagi itu, gadis bermata bulat dan indah langsung memerangkap hatinya, menubruknya dengan ketidaksengajaannya yang menimbulkan sepercik sengatan. Ia berusaha mengabaikan, tapi pada akhirnya dia kembali menengok untuk melihat gadis itu lagi.


Ketika ia mendengar gadis itu bertanya kepada bagian informasi dimana dia bisa menemui Tuan Hadran, perasaan khawatir dan takut akan terjadi sesuatu pada gadis asing itu, membuat Abrisam membatalkan urusannya sendiri. Ketakutannya pun kala itu menjadi nyata, ketika ia melihat salah satu anak buah Hadran begerak untuk menyusul gadis yang belum lama naik ke lantai dimana ruangan Hadran berada.


Ketika Abrisam meminta Galih untuk menahan anak buah Hadran dan menggantikan tugasnya, tepat ketika ia kembali bertemu dengan gadis itu lagi di lift. Mata bulat dan indah itu terlihat begitu ketakutan. Ia sangat ingin membawa kabur gadis itu dan melepaskannya, tapi dia tahu, apa yang akan dilakukan Hadran jika ia menyelamatkan gadis itu dengan melepaskannya.


Ketika ia terpaksa harus bersikap kasar, menunjukkann kesetiaannya pada Hadran agar ia bisa melindungi gadis tak bersalah itu. Sesuai prediksinya, Hadran meminta Abrisam untuk menyingkirkan gadis itu.


Ketika ia menatap gadis itu memejamkan matanya di tengah kebun kosong di belakang rumah sakit, saat itu ingin sekali Abrisam menciumnya, memeluknya, dan membawanya pergi, menghilang bersama. Tapi ia tahu, itu tidak mungkin.


Ketika ia sudah memutuskan untuk menikahinya, apa pun akan dia lakukan untuk melindungi gadis itu, sekali pun nyawanya sendiri menjadi taruhannya.


Ia tidak pernah menyangka bahwa hanya dalam beberapa hari, perasaannya menjadi begitu terikat dengan Salina. Dengan gadis yang selalu menatapnya dengan tatapan sinis, tatapan penuh kebencian, namun gadis itu selalu berhasil membuat jantungnya berdebar setiap kali mereka berdekatan, bersentuhan. Dan setelah bertahun-tahun Abrisam tak merasakan takut akan kehilangan, kini ia berkali-kali merasakan ketakutan yang selama ini ia pikir ia tidak akan pernah merasakan perasaan itu lagi.


Abrisam mendesah lemah, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Salina.


“Apakah seharusnya aku melepaskanmu sejak awal?” Tanyanya lirih.


“Apakah kau akan lebih aman jika aku melepaskanmu? Tapi… apa yang harus aku lakukan tanpamu?”


Drrrtt!


Getaran ponsel Abrisam menyentak pelan Abrisam dari kegalauannya. Ia bangkit, menyempatkan diri untuk menyingkirkan beberapa helai rambut dari kening Salina sebelum beranjak meninggalkan ruangan untuk menjawab panggilan telepon dari Galih.


Tanpa ia sadari, begitu pintu kamar perawatan tertutup, Salina membuka matanya.


***


Abrisam ditemani Galih dan anak-anak buah Tuan Jo mendatangi tempat pertemuan Hadran dengan rekan-rekan bisnisnya. Bisnis ilegalnya yang telah berjalan selama tahunan, yang telah memberikannya kemapanan materi yang tak terhitung.


“Tuan Abrisam? Ada apa ini?” tanya Sekertaris Hadran yang bingung melihat bagaimana Abrisam datang berbondong-bondong.


“Aku mau bertemu dengan Hadran.” Jawab Abrisam, datar dan dingin.


Sekertaris itu pun menyadari, kali ini Abrisam datang tidak seperti biasanya.


“Tuan sedang meeting di dalam.”


Abrisam langsung menyelonong masuk, tak peduli bagaimana sekertaris itu bersuaha menghalangi Abrisam, Galih dan orang-orang bawaan Abrisam.


“Menyingkir, atau aku akan melukaimu.” Abrisam mengingatkan dengan sangat tajam. Melihat bagaimana tatapan Abrisam yang mengerikan, sekertaris itu pun menyingkir.


Pintu ruangan Hadran pun di buka dengan cara di tendang oleh Abrisam, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu tersentak kaget dengan kejutan Abrisam dan kawan-kawan barunya.


“Abrisam? Apa-apaan ini?!” Hadran melotot galak pada Abrisam.


“Keluar! KELUAR!” Teriak Abrisam pada rekan-rekan bisnis Hadran. Ia mengusirnya dengan kasar dan tidak peduli dengan kemurkaan yang terlukis saat ini pada wajah Hadran.


Tamu-tamu Hadran pun akhirnya keluar tanpa berpamitan pada Hadran sebagain tuan rumah.


“Apa kau sudah kehilangan akalmu?!” Maki Hadran.


“Ya! Sudah kukatakan bukan? Jangan menyentuh istriku! Jangan menyentuh Salina.” Tatap Abrisam tajam dengan nada rendah ia mengucapkan setiap katanya.


“Apa maksudmu! Aku tidak mengerti!” Elak Hadran tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Abrisam.


Abrisam mendengus, lalu ia menyuruh Galih menunjukkan hasil rekaman dari pimpinan penculikan terhadap Salina, dimana orang itu membongkar bahwa Hadran lah yang selama ini telah membayarnya untuk memberikan kejutan untuk Salina, dan bahkan untuk Abrisam sendiri. Dimulai dari orang yang mengikuti Abrisam dan Salina di


perumahan sore itu. Kemudian penyerangan di pondok, dan kali ini penculikan Salina.


“Apa ini?!” Hadran membentak. “Kau pikir aku akan mencelakaimu? Aku memang tidak menyukai istrimu itu, tapi aku sudah berjanji tidak akan menyentuhnya. Aku memegang janjiku!”


“Aku sudah tidak mempercayai ucapanmu ketika kau memalsukan dokumen dan memfitnah Salina agar aku sendiri yang menyakitinya!”


“Itu… baiklah, aku akui itu kelewat batas, lagi pula kulakukan itu karena aku melihat kau menjadi lemah karena gadis itu. Tapi, itu sudah berlalu, aku memegang janjiku sekarang!”


“Apakah kau berharap aku percaya padamu sekarang?”


“Dan sekarang, orang ini tengah mengadu kita, karena dia tahu, kau dan aku menjadi kuat ketika bersama!” Lanjutnya.


“Kau dan aku?” Abrisam mendengkus. “Tidak ada lagi kau dan aku.”


“Ap-apa maksudmu?”


Abrisam melangkah lebih dekat, menusuk dengan tatapan matanya. Ia memutar kembali satu vidio yang menunjukkan hasil dari tangkapan CCTV di dalam sebuah ruangan, dimana sosok Hadran tengah membawa tas berisi sejumlah uang dengan jumlah yang tidak sedikit, mematahkan semua sanggahan Hadran atas tuduhan yang ditujukan Abrisam padanya.


“Ah sial.” Gumam pria itu, namun cukup terdengar oleh Abrisam.


“Ya, sial sekali, bukan?” Abrisam menaikkan sebelah alis matanya.


Ekspresi kebingunan dan innocent Hadran pun langsung lenyap begitu saja, tanpa tersisa sedikit pun.


“Sudah kukatakan, jika kau menyentuhnya, aku tidak akan tinggal diam. Dan kau telah mengingkari janjimu.”


“Begitu pun denganmu, bukan? Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian? Kalian tidak pernah bertemu dan berkenalan di Bali. Kau hanya mengarang cerita, menikahi gadis itu karena-”


“Karena aku jatuh cinta padanya!” Potong Abrisam dengan tegas dan tanpa ragu. “Aku mencintainya.”


Jawaban Abrisam bukan hanya membuat Hadran tertegun, Galih pun ikut tertegun mendengar bagaimana Abrisam mengatakannya dengan penuh kejujuran.


“Kami memang tidak pernah bertemu di Bali, tapi tidakkah kau berpikir mengapa aku sangat melindunginya jika aku tidak mempunyai rasa padanya?”


“Kau… benar-benar mencintainya?”


“Ya! Sudah berkali-kali aku mengatakannya padamu!”


“Kupikir itu hanya akal-akalan kalian saja untuk…”


“Tidak usah banyak beralasan lagi.” Lagi, Abrisam memotong Hadran. “Mulai kali ini, tidak ada kau dan aku. Jadi, bersiaplah untuk menerima kejutan-kejutan dariku.”


“Kau tahu, kau dan aku tidak akan terpisah! Kau tahu itu. Ada darah yang mengikat kita. Dan hutang yang tidak akan pernah bisa kau lunasi.”


Abrisam menyeringai. “Kau bukan siapa-siapa lagi. Aku membuangmu, sama seperti ketika dulu kau membuang kami.”


“Abi…”


“Dan hutangku padamu, tenang saja, minggu depan, sudah ku jadwalkan operasi transfer ginjal untumu, Paman. Kau akan memiliki dua ginjal lagi.”


“Apa… Tapi…”


“Jika kau masih saja mengusik istriku, aku sendiri yang akan membongkar semua kejahatanmu. Kau tahu bukan, aku memegang semua kuncimu.” Abrisam menatapnya sinis. “Jadi sekarang, persiapkan dirimu untuk operasi minggu depan.”


“Tapi Abi, kau tidak bisa meninggalkan Papa begitu saja, aku-”


“Kau bukan Papaku.” Abrisam menekan setiap kata dengan nada rendah yang menakutkan. Bahkan untuk seorang Hadran. “Sampai matipun, kau bukan orang tuaku.”


Hadran kehabisan kata-katanya. Penyesalan mulai muncul pada kedua manik matanya.


“Abi… kumohon, jangan seperti ini…”


“Sayang sekali, kau sendiri yang membuatnya seperti ini. Tapi apa kau tahu? Aku sangat bersyukur, pada akhirnya aku bisa menendangmu seperti kau menendang kami dulu sekali.”


Setelah mengucapkan kata-katanya yang menohok hati Hadran, Abrisam pun meninggalkan Hardan seorang diri. Namun apa kalian tahu apa yang terjadi begitu Abrisam dan kawan-kawannya turun daru ruangan Hadran? Seluruh anak buah Hadran telah mengepung mereka.


“Maaf Tuan Abrisam, sesuai instruksi Tuan Hadran, kalian tidak bisa keluar dari sini.”


.


.


.


TBC~