You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Memiliki Secuil Hati Manusia



Mobil Abrisam berhenti di sebuah rumah sederhana yang asri dengan berbagai macam bunga yang tumbuh cantik di dalam pot-pot tanaman pada halaman yang tidak terlalu besar dengan naungan kanopi transparan.


Abrisam hendak membuka pintu, tapi refleks Salina menyentuh lengan Abrisam untuk menahan sebentar pria itu, kemudian melepaskan tangannya begitu saja setelah memberikan sengatan pada kulit Abrisam.


“Beritahu aku satu hal dulu sebelum kita bertemu dengan ibumu.”


“Apa?”


“Apa ibumu tahu bagaimana bejatnya Hadran dan dirimu?”


Abrisam mengernyit, tak habis pikir dengan otak dan ucapan gadis itu.


“Aku bejat?”


“Memangnya tidak?” Salina balas menatapnya dengan tatapan biasa saja.


Abrisam menghela napas, ia harus mengontrol emosinya.


“Ibuku tahu semua tentang kejahatan Hadran dan aku yang memilih untuk berada disisi Om-ku. Puas?”


“Tunggu, satu lagi!”


“Apa lagi? Kau ingin kucium lagi, ya?”


“Eh! Bukan! Tapi aku memang harus tahu tentang beberapa informasi terkait sandiwara.”


Abrisam lagi-lagi hanya bisa menghela napas kesal. “Baiklah, apa yang perlu kau ketahui?”


“Apakah aku perlu bersandiwara juga di depan ibumu jika ia tahu tentang kejahatan kalian? Apakah aku bisa curhat pada ibumu betapa menyebalkannya dirimu?”


“Terserah. Aku tidak pernah menyembunyikan apapun pada ibuku.”


“Jadi, aku juga bisa menceritakan kronologinya pada ibumu bagaimana kita bisa menikah?”


Abrisam diam sesaat, terlihat menimbang sebentar pertanyaan Salina sebelum memberikan jawaban.


“Terserah.”


Salina mengangguk. “Huuf, akhirnya aku bisa menceritakan beban mental dan jiwa ini pada seseorang.” Keluh Salina seraya keluar dari dalam mobil, namun Abrisam masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


Abrisam berjalan lebih dulu di depan Salina, rumah yang berada di sebuah pedesaan itu tidak berpagar, jadi mereka langsung menuju pintu rumah yang berada pada lantai teras yang berlantaikan kayu. Salina langsung merasa nyaman dengan udara dan suasana ketenangan teras itu.


Abrisam mengetuk beberapa kali sampai terdengar suara wanita menyahut dari dalam. Dan tak lama kemudian daun pintu itu bergerak terbuka.


Seorang wanita dengan rambut hitam yang dicepol asal, celemek bermotif kotak-kotak menutupi sebagian daster rumahan yang sopan yang dikenakan wanita itu. Matanya terlihat sendu juga lelah, pipinya tirus namun sangat cantik dalam kesederhanaan dan alami wajahnya yang tanpa sapuan make up.


“Ibu,” Ucap Abrisam sopan, lembut dan sopan.


Salina tertegun dengan nada suara Abrisam yang terdengar dalam gendang telinganya.


“Apa kabar?” lanjut Abrisam.


Ada nada rindu, ada penyesalan, ada sejuta kasih dalam tiga kata yang keluar dari mulutnya.


“Mau apa kau datang?”


Salina kembali tertegun mendengar nada suara wanita yang barusan saja dipanggil ‘Ibu’ oleh pria itu. Begitu dingin.


“Aku…”


Apa ini? Manusia berdarah dingin ini kehilangan kata-katanya? Apa aku tidak salah dengar?


“Aku datang untuk memberitahu Ibu kalau aku…”


“Kau sudah memenjarakan monster itu? Kalau kau sudah tidak lagi menjadi kaki tangannya? Kau sudah tidak lagi menjadi pesuruhnya?”


Abrisam menggeleng dengan berat hati. “Bukan itu.”


“Maka sebaiknya kau pergi, jangan menemui aku lagi.” Wanita itu hendak menutup pintu tapi dengan refleks Salina maju dan menahan daun pintu itu untuk bergerak.


“Salam, Ibu.” Ujar Salina dengan sangat sopan.


Wanita itu mengernyit, “Kau siapa? Kenapa memanggilku begitu?”


“Aku Salina, aku adalah istri Abrisam.” Aku Salina dengan tenang. Ibu kembali melonggarkan pintu yang hendak ditutupnya.


Abrisam meliriknya.


“Istri? Kau menikahi anak itu?” Ibu menunjuk Abrisam dengan jari telunjuknya yang lentik.


Salina mengangguk.


“Masalahnya,” Salina memotong, “Jika boleh jujur, kami sama-sama tidak mau dan tidak menyukai satu sama lain.”


“Lalu kenapa kau menjadi istrinya? Apa dia mengancammu? Apa anak itu melakukan kejahatan padamu? Apa yang telah dia lakukan padamu?” Wanita itu menatap penuh kebencian dan kekecewaan pada Abrisam yang hanya mampu diam saja.


“Abrisam menikahiku demi menyelamatkanku dari Hadran.” jawab Salina. Jawaban yang membuat ibu mengerjapkan matanya pada Abrisam. Ada rasa tak percaya dengan apa yang didengarnya dari gadis yang mengaku sebagai istri anaknya itu.


“Aku menjadi saksi kejahatan Hadran, dan Abrisam seharusnya menghabisiku, tapi dia memilih untuk menyelamatkanku, dan satu-satunya cara agar aku dan keluargaku tetap hidup adalah menikah dengannya. Dengan begitu Hadran tidak akan menyentuh aku atau pun keluargaku.” Jelas Salina dengan sangat singkat dan pada intinya.


Ibu mendengkus, tidak terpana apa lagi tersentuh dengan penjelasan Salina.


“Dan kau akan selamanya terjebak dalam pernikahan yang tidak kau inginkan, bersama seorang pria yang tidak kau cintai dan menjadi anggota keluarga dari orang yang menginginkan kematianmu. Apa kau tidak sadar, kau hanya keluar dari kandang harimau dan masuk ke kandang buaya.” kata Ibu. Namun berbanding terbaik dengan kata-katanya yang nyelekit dan dingin, wanita itu membuka lebar pintunya dan membiarkan Salina dan Abrisam masuk ke dalam rumahnya yang sangat hangat.


Lantai kayu, sofa-sofa sederhana yang ditutupi selimut-selimut lembut. Perabotan alami yang sederhana.


Jika saja situasinya tidak seperti ini, rumah ini akan menjadi tempat singgah Salina untuk menulis.


“Semua ini tidak akan terjadi, jika pria monster itu dijebloskan ke dalam lubang penjara. Tapi sayangnya, lelaki yang menyelamatkanmu itu malah membela monster itu demi hutang budi. Memalukan.”


Ibu meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam dapur, sementara Abrisam hanya duduk dengan ekspresi wajahnya yang tidak dapat Salina kenali. Namun kedua tangan Abrisam mengepal di atas kedua pahanya.


Hutang budi? Abrisam mempunyai hutang budi pada Hadran? Apakah selama ini dia terpaksa menjadi suruhan Hadran karena untuk balas budi?


Ibu kembali ke ruang dimana Salina dan Abrisam duduk di atas sofa yang begitu nyaman dengan membawa satu baki yang berisi dua cangkir teh dan setopeles kue kering.


“Minumlah,” kata Ibu pada Abrisam. “Aku tidak memberikan racun pada anakku, meski anakku tidak pernah menghargaiku.” Ucapnya begitu menusuk.


Salina dapat merasakan kekecewaan dalam sorot mata ibu. Dia juga dapat melihat ketidakmampuan Abrisam untuk membela diri atau pun melawan setiap kata-kata pedas ibunya.


Apakah ini pria yang sama dengan pria yang selalu mengancamku? Batin Salina bertanya-tanya.


Abrisam bergerak, mengulurkan tangan untuk menerima pemberian cangkir itu dari baki yang dibawa ibunya. Kemudian menyeruputnya tanpa suara.


“Apa keluargamu tahu apa yang terjadi padamu?” tanya ibu, kini suaranya jauh lebih tenang.


Salina menggeleng. “Aku tidak bisa memberitahu apa-apa pada keluargaku. Kami bahkan menikah tanpa restu dari bundaku.” keluh Salina.


Tatapan tajam ibu mengarah pada Abrisam. Kemudian berkata, “Manusia seperti itu kah yang kau bela? Entah apa yang salah dalam jaringan sel otakmu.”


“Ibu, Om Hadran mungkin memang tidak baik, aku akui dia kejam, tapi aku juga tidak bisa


menghilangkan apa yang sudah dia lakukan untuk kita. Jika bukan karena dia, saat itu aku pasti sudah mati.” Akhirnya Abrisam membuka suaranya.


“Dari pada hidup menjadi kaki tangan penjahat itu, aku lebih rela kau-”


“Ibu maaf,” Sela Salina buru-buru, ia tahu apa yang akan dikatakan ibu Abrisam dalam keadaan emosinya itu. “Aku tidak tahu apa yang pernah terjadi di masa lalu, aku juga tidak membela Abrisam apa lagi Hadran. Tapi, kurasa apa pun yang telah terjadi pada masa lalu tidak perlu disesali lagi. Dan masa kini yang terjadi adalah, Abrisam membuktikan dirinya ternyata masih manusia yang mempunyai simpatik, jika tidak, mungkin saat itu dia sudah menembakku tak peduli dengan permohonanku. Jujur sulit bagiku mengakuinya, tapi Abrisam bukan hanya menyelamatkan nyawaku, tapi juga nyawa bunda dan adikku.”


Abrisam menengok menatap Salina dalam.


Sementara ibu mengela napas, membuang wajahnya dari Abrisam.


“Tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa anakku lebih memilih membela monster dan ikut menjadi monster dari pada menguak kejahatan yang monster itu lakukan.”


Abrisam kembali menyeruput tehnya dengan tenang.


“Katakan padaku dengan jujur, setelah Abrisam menyelamatkanmu, apakah kau bisa melaporkan kejahatan Hadran yang kau saksikan?”


Salina menggigit bibirnya, ia melirik Abrisam, kemudian menggeleng lesu.


Ibu tersenyum sinis. “Biar aku menebak, Abrisam menikahimu, menyelamatkan nyawamu dan keluargamu, tapi pasti dengan syarat kau tidak boleh melaporkan kejahatan Om-nya, bukan?”


Salina membuang napas lesu, kemudian mengangguk.


Ibu menggelengkan kepalanya, menatap anaknya dengan tatapan kekecewaan.


“Aku sudah tidak tahu bagaimana menggambarkan kekecewaanku padamu.” kata ibu kemudian bangkit berdiri. “Sebaiknya sekarang kalian pergi, tidak ada yang bisa kau lakukan disini.”


Abrisam mengangguk. Salina pun tidak banyak yang bisa dia lakukan lagi. Malah sejujurnya, Salina tidak tahu apa yang sedang berusaha ia lakukan. Apakah sedang membela Abrisam? Membuktikan kalau pria itu masih punya secuil hati manusia? Tapi untuk apa?


“Apa Ibu akan datang jika kami mengadakan pesta pernikahan?” tanya Abrisam pada akhirnya.


“Aku akan datang jika monster itu sudah berada di balik jeruji besi dan menunggu hukuman matinya.” jawab ibu dengan tegas dan dingin.


.


.


.


TBC~