
"Kau bisa menangkapnya?" tanya Salina sangat kebingungan.
Abrisam tersenyum. Kemudian melemparkan bantal itu ke atas kasur, pandangan Salina mengikuti kemana bantal itu mendarat, kemudian kembali pada Abrisam.
"Kau juga bisa melemparnya?"
Abrisam berdiri, Ia menghentakkan kakinya di atas lantai.
Salina mengerjapkan matanya melihat bagaimana hentakaan kaki pria itu begitu nyata. Hatinya berdebar. Matanya mulai kembali panas, pandangannya mulai buram karena cairan bening air matanya kembali memenuhi ruang.
"Kau..." Suara Salina seperti menyangkut di ujung tenggorokannya, terlalu takut untuk berkata, terlalu takut kalau halusinasinya kali ini semakin parah karena sosok halusinasinya kini bisa menggerakkan barang.
Abrisam melangkah pelan namun pasti ke arah Salina, semakin dekat, semakin dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Abrisam berdiri tepat di depan Salina, berada dalam jangkauan tangannya jika saja Salina ingin mencakarnya.
"Apa kah kau pernah melihat halusiansi senyata ini?" Suara berat Abrisam begitu menggetarkan hati Salina. "Apakah kau tidak penasaran apakah aku akan menghilang atau tidak jika kau menyentuhku?"
"Bagaimana jika kau menghilang jika aku menyentuhmu?"
"Kalau begitu, biar aku yang menyentuhmu lebih dulu." Tepat setelah Abrisam menyelesaikan kalimatnya, kedua tangannya menarik pinggang Salina dan bibirnya mencium lembut penuh dengan perasaan rindu yang dapat Salina rasakan. Ia melepaskan ciumannya, menatap intens Salina yang memejamkan matanya.
"Kumohon ini bukan mimpi." Gumam Salina. "Kumohon ini bukan halusinasi."
"Apa kau sering berhalusinasi berciuman denganku?" Suara Abrisam menyentak Salina, ia membuka matanya dan mendapati Abrisam masih di depannya, tangan pria itu masih mengunci dirinya menempel pada tubuh kekar dan tingginya.
"Kau... kau nyata?" tanya Salina. Air mata sudah mengalir lancar menuruni pipinya.
Abrisam tersenyum, tangannya bergerak mengusap air mata Salina. Ia menunduk kembali, menempelkan keningnya pada kening Salina.
"Aku kembali, sayang. Aku kembali." Bisiknya.
Tangan Salina bergerak, perlahan menelusuri dada bidang Abrisam di balik sweater hitam itu, hingga pada wajah Abrisam. Ia menyentuh setiap jengkal wajah Abrisam. Kening, pipi, hidung, alis, mata. hingga bibir.
"Kau kembali... kau kembali... kau..." Tangisnya pun pecah, ia menenggelamkan dirinya dalam dekapan Abrisam. Memeluk erat pria yang sangat ia rindukan hingga hatinya begitu sakit. Pria yang telah membuatnya jatuh cinta hingga membuatnya hampir gila. Ia melepaskan segala emosinya dalam dekapan pria itu. Memeluk. Lalu memukul dada Abrisam. Kemudian memeluk lagi, Lalu memukul lagi. Abrisam menerima semua pukulan tak bertenaga itu, Ia pantas mendapatkannya, bahkan jika Salina memukulnya dengan sekuat tenaga, Abrisam hanya akan diam menerimanya.
"Kau jahat! jahat sekali!" Seru Salina. "Tapi aku mencintaimu! Kau menyebalkan! Tapi aku sangat merindukanmu!"
Abrisam mendekap lebih erat wanitanya. Menghidu dalam-dalam aroma harum Salina dalam ceruk lehernya.
"Maafkan aku, Sal. Maafkan aku." Bisiknya.
"Enak saja kau minta maaf!" Salina mendorong tubu Abrisam. "Kau tahu, aku akan meninggalkanmu! Aku akan menjadi biarawati saja!" katany sambil melotot galak pada Abrisam. Tapi detik kemudian, ia kembali berhambur dalam pelukan prianya.
"Tidak! Tidak! Aku tidak akan sanggup. Jangan menghilang! Jangan pergi lagi!" Rengeknya dalam pelukan Abrisam.
Salina mendongak dengan tatapan pilunya ia melihat Abrisam.
"Apa kau akan pergi lagi? Apa kau akan meninggalkanku lagi?"
"Aku tidak akan pergi lagi dan tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Janji?"
"Janji."
"Selamanya?"
"Selamanya."
"Ya. Seutuhnya."
Tanpa aba-aba, Salina menarik leher sweater Abrisam hingga Abrisam lebih menunduk dan Salina dapat dengan mudah mencium bibir Abrisam. Ciumannya penuh dengan emosi rindu juga hasrat yang tak lagi terbendung. Merasakan bagaimana Salina meluapkan segala emosi dalam dirinya melalui ciuman yang bergelora, Abrisam pun membalas ciuman itu dengan emosi yang sama. Saling mendorong, saling menahan, saling mengabsensi, saling menyentuh.
Mereka melepaskan untuk saling mengambil napas, mengisi paru-paru sejenak dengan udara seraya Abrisam melepaskan sweaternya, menyisakan kaus hitam yang dibantu Salina untuk dilepaskan juga meninggalkan tubuh Abrisam.
Perlahan Salina menyentuh permukaan dada Abrisam dengan jemarinya, merasakan sentuhannya yang begitu nyata. Tidak ada lagi halusinasi.
Abrisam mengangkat tubuh Salina, membawa dan membaringkannya di atas ranjang dengan perlahan, ia kembali mengunci tubuh mungil berisi itu di bawah tubuhnya, mencumbu setiap inci wajah hingga leher wanitanya, memberikan tanda-tanda disana, menggigit pelan hingga menimbulkan suara erangan dari bibir Salina.
Tangan Abrisam bergerak turun, menangkup sesuatu di balik bathrobe, sesuatu yang begitu pas pada tangannya, meremasnya lembut, kemudian Salina mendorong Abrisam, hingga membuat tubuh pria itu yang kini terlentang di atas ranjang dan Salina dengan perlahan namun penuh kesensualitasan membantu Abrisam melepaskan sisa pakaian yang masih melekat.
Seringai pada wajah chubby Salina mengihiasi wajahnya begitu melihat milik Abrisam yang telah siap untuk menerobos milik Salina. Tapi Salina tidak langsung menaikinya seperti apa yang ada dalam pikiran Abrisam yang sudah berkabut. Tapi hal di luar dugaan yang tak terlintas dalam pikiran Abrisam. Salina memberikan kepuasan pada pria itu dengan menggunakan alat indranya yang lain. Hingga membuat Abrisam kali ini yang mengerang sambil melihat apa yang dilakukan wanitanya yang sungguh di luar kendali.
Setelah puas memainkan milik Abrisam, gantian Abrisam yang membuat Salina berbaring, dengan sekali gerakan, Abrisam melepaskan tali bathrobe dan menyingkap mantel itu hingga menunjukkan apa pun yang tersembunyi di baliknya. Setelah mendapatkan kepuasan tak terduga dari istrinya, ia pun melakukan hal yang sama, dimulai dari leher, turun hingga ke puncak dua bu4h da da Salina, menyesap hingga membuat desah-desah kelewatan yang semakin membangkitkan gelora diantara keduanya, setelah puas memainkan kedua puncak itu, ia turun semakin ke bawah... bawah... bawah... hingga sampai pada pusat inti bumi dan menyentuhnya disana. Ya, tepat disana ketika tubuh Salina berkali-kali menggeliat dan menghentak pelan.
Pelepasan pertamanya.
Abrisam tersenyum puas atas permainannya. Ia tak berheti begitu saja. Permainannya masih berlanjut, semakin panas.
"Kau siap?" Bisik Abrisam.
Salina mengangguk penuh damba.
Penyatuan pun terjadi di dalam kamar yang selama satu tahu enam bulan itu selalu sepi dan dingin. Kini yang terjadi adalah gelora panas yang memenuhi setiap inci sudut ruang. Suara derit per ranjang. Suara-suara yang keluar dari bibir masing-masing, hingga suara-suara yang berasal dari apa yang mereka tengah lakukan.
Hingga pelepasan terjadi pada keduanya. Mereka sama-sama mencapai kepuasan bersama yang penuh dengan cinta.
Abrisam masih memeluk tubuh Salina, dengan napasnya yang sama-sama terenggah, dengan tubuh yang sama-sama berkeringat. Salina membalas dekapan Abrisam. Hingga Abrisam ambruk di sebelah Salina, menatap istrinya dengan senyum yang sangat lebar. Ia mengusap wajah Salina, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel pada wajah chubby Salina yang menggemaskan, manis dan cantik dimatanya.
"Kenapa kau selalu cantik seperti ini?" kata Abrisam.
Salina hanya tersenyum menanggapi pujian suaminya. Tangannya terulur menyentuh wajah Abrisam, ia baru menyadari sesuatu ketika itu, ada sebuah bekas jahitan pada pelipis kiri Abrisam, juga pada bagian bawah rahang sebelah kanannya.
"Ini bekas apa? Seingatku, kau tidak mempunyai bekas jahitan disini?"
Abrisam tersenyum, ia menarik tubuh Salina ke dalam dekapannya, lalu menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh polos mereka. Ia mengecup lama kening Salina.
"Panjang sekali ceritanya. Tapi, aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu apa yang terjadi padamu selama satu tahun enam bulan ini." kata Abrisam pelan dan lirih.
"Benar?"
"Hem." Abrisam sudah memejamkan matanya sambil menganggukkan matanya.
"Sekarang, ayo kita tidur, kau tahu, selama ini aku tidak pernah bisa tidur nyenyak, aku bahkan tidak merasa mengantuk sama sekali. Tapi sekarang, aku benar-benar mengantuk."
Salina mengangguk. Dia membenamkan kepalanya dalam dekapan dada Abrisam, mendengarkan debaran teratur jantung suaminya yang memberikannya ketenangan pada akhirnya.
.
.
.
TBC~